Aku Dan Duniaku Part 4 – Shinta dan Rahwana

No comment 2278 views

Barcelona, 18 Juni 2018

Ku tinggalkan Barcelona dengan sedikit kecewa karena hingga seri ke 6 belum memberikan 1 kemenanganpun bagi Yamaha. Podium ke 3 di Barcelona aja juga bisa dibilang hadiah karena dovi yang sudah jauh di depan crash. Sial baginya tapi berkah bagiku. Musim ini berjalan tidak begitu mulus, bahkan kalau aku bisa bilang masalah yang dihadapi adalah masalah yang sama. Berkali-kali aku bilang ke tim jika tidak segera dibenahi pasti semakin runyam. Makanya biar nggak terlalu stress aku langsung pulang ke Indonesia malam itu juga. malas rasanya ikut tes ke esokan harinya jika tidak ada perubahan.

Ketika transit di Amsterdam ku buka ponsel yang ternyata banyak notifikasi instagram yang kebanyakan merupakan mention fans atau tag foto. Sewaktu akan ku masukan hpku kembali, ada panggilan Video Call line dari kinal.

“selamat ya champ buat podium 3 nya… kami tadi beberapa nonton lho. Cuman kamu jarang masuk kamera aja… hehehehe”

“kampret nal… 6 seri belum juara ini. Masih aja diledekin.” Gerutuku sambil membuang muka

“kak valen kok pulang?” tanya angel yang tiba-tiba nongol

“capek… stress aku… makanya aku pulang. Emang kalo aku pulang mau njemput aku?”

“idih kok angel yang suruh jemput… kan angel cewek…iiiih kak kinal kenapa sih?!” angel lalu diusir kinal

“udah ntar gw jemput… mau?”

“gak usah… aku besok mau pulang ke solo. nenangin diri. Lagian di Jakarta brapa jam doank transitnya. Gak usah repot nah.”

“ehm… ya udah… eh elu putus?”

“…..”

“kalo diem berarti iya. Kenapa lagi kalo ini??”

“semenjak aku mulai gak pernah pulang akhir musim lalu dia mulai sulit dihubungi. Bahkan pas aku pulang sebelum tes di Malaysia kemarin, di temui aja dia gak mau. Sebelumnya juga aku pernah berantem di misano gara-gara Naomi yang sering jadi umbrella girls. Daripada di paddock runyam makanya acel tak usir pulang. Gitu ceritanya…”

“ooh Naomi. Kinal kalo jadi acel juga cemburu kok…”

“udah ya… aku mau boarding.” Kataku sambil menggendong tas ransel. Dan melangkah menuju pesawat yang akan membawaku pulang.

Beberapa hari makin tak karuan setelah menginjakkan kaki dirumah. Beban pikiran, pekerjaan dan perasaan membuatku tidak bisa tidur selama 2 hari. Kembali aku di tinggalkan oleh pacarku karena alasan berbeda mimpi dan tidak bisa mengikuti apa yang aku kerjakan. Aku dan acel sempat merencanakan akan menikah di akhir musim balap tahun ini. “Ah sudahlah. Memang aku harus bernasib seperti ini. Selalu di tinggal di saat yang tidak tepat” pikirku dalam hati. Jumat sore, ku keluarkan Mx King hitam milikku yang lama tak aku pakai. Sedikit udara segar gunung lawu mungkin bisa mengendurkan ketegangan pikiran yang selalu terbayang. Ku pacu pelan menuju candi cetho yang kulihat dari kejauhan sudah tertutup awan. Kata filmore dari film cars, terkadang kita harus mengendurkan gas dan berjalan pelan. Tidak melulu harus kencang. Kalau kata mbak via vallen, stel kendo wae mas. Skip skip skip jam 3.40 sore aku sudah sampai di candi cetho. Awan sudah turun dan hawa dingin mulai terasa menusuk, cocok untuk meditasi atau sekedar memikirkan masalah masalah yang menghampiri akhir-akhir ini. Karena candi ini masih digunakan untuk beribadat, aku cuma duduk di depan patung siwa. Aku duduk bersila di dalam rumah-rumahan dari kayu yang ada di depan patung siwa kemudian memejamkan mataku. Dinginnya udara sekitar bahkan sampai tak tak dapat kurasakan ketika kembali kuingat acel. Rambut panjang dan suara serta nada bicaranya yang keras tak dapat ku lupakan.

“len kita putus aja. Aku udah capek. Keliatannya kita emang gak bisa bersama selamanya. Aku tak mundur ae. Dewe kekancan juga gapapa. Maaf nek aku kemaren ndiemin kamu. Aku mau memikirkan kebahagiaan aku dan kamu. Yo maaf kalo selama aku sama kamu ada salah baik yang sengaja atau ngga. Makasih”

Lelaki mana yang tidak hancur hatinya ketika mendapat pernyataan seperti itu ketika menemui orang yang di cintai selama 3 tahun terakhir. Seperti sebuah pengulangan yang sama ketika kalimat itu muncul dari mulut jesica veranda tepat di tanggal yang sama 4 tahun yang lalu. Masalah yang sama juga timbul, kuliahku jadi tak terurus. Masalah dengan tim Yamaha stuck di titik yang sama. “Tuhan mengapa selalu aku di tinggal di waktu yang tidak tepat! Aku salah apa ha!” sebuah ungkapan yang hanya dapat ku keluarkan di dalam hati.

“gong… ngopo nangis?” suara laki-laki tiba-tiba memecah kegelisahanku. Ternyata wisnu, temanku semenjak kecil datang menyusulku

“ora nangis yo… kok tekan kene?”

“lha kowe di hubungi raiso kat mau. Makane tak susul. Ono le nggoleki kowe ko Jakarta nah.” Katanya lagi

“sopo?”

“shinta… wah kowe ki ceweke kakehan. Makane di tinggali lunga wae… hehehe”

“shinta? Shinta sopo sih? Perasaan aku gak duwe konco women jenenge shinta je…” aku masih bingung siapa yang di maksud wisnu. Wisnu kemudian memanggil orang yang dimaksud. Tak lama kemudian muculah orang yang di maksud.

“iki lho gong…” sambil menarik shinta. Shinta yang dimaksud ternyata Naomi.

“oalah… lakon rahwana nyolong shinta to?”

“pengenku yo indrajit lan patih, tapi malah njedul shinta. Wes ya… wes sah tak terke tekan kene.”

“shap lah…”

“ndi kunci mx mu? Kowe nggowo innova wae. Mesake wes adem.” Wisnu menyodorkan kunci mobilnya dan mengambil kuci motorku.

10 menit kami duduk bersama di tempat yang sama tak satupun kalimat muncul dari mulut kami berdua, seolah olah ada kunci yang menutup mulut kami rapat-rapat. Ingin rasanya kumulai dulu, tapi aku bingung mau berkata apa. Mungkin Naomi merasakan yang kurasakan sehingga tak satupun kalimat melncur dari mulutnya.

“anu..eh…” kalimat pertama keluar dari kami berdua muncul hampir bersamaan memecah kebuntuan sore itu.

“udah kamu duluan len…” Naomi tampak gugup dan pura-pura membenahi rambutnya

“yakin? Kamu keliatannya mau ngomong duluan… lanjutin gih” ujarku sambil membenahi posisi tas kamera ku.

“sebelumnya maaf… ini soal kamu sama acel. Semua salahku.”

“bukan salahmmu kok. Aku yang salah. Kenapa selalu jatuh di lubang yang sama. Selalu saja berakhir kaya gini. Kamu gak usah nyalahin dirimu sendiri.”

“len… aku serius. Aku jauh-jauh nyusul kesini gak buat liat orang gak ada harapan kaya gitu!” Naomi menampar pipi kiriku lumayan keras. Lumayan juga mengembalikan kesadaranku. “aku tau kamu seperti apa! Jangan kaya gitu! Aku tahu aku juga salah makanya aku minta maaf langsung! Aku udah di maki-maki acel, aku terima karena aku merasa salah. Sekarang aku minta maaf ke kamu, malah kamunya kaya gitu. Laki bukan sih kamu?!”

“ya aku tau… tau banget maksudmu apa. Lagian salah gitu aku kalau tiap kali balapan ditemeni kamu, oshi aku? orang dia aku ajak gak pernah mau. Sekalinya mau dia marah-marah di paddock. Gak inget apa di misano kemaren? Cuma aku gak pernah bawa perasaan kalo kamu temenin. Ya kalo aku jadi acel emang akan merasa tersaingi, apalagi kamu lebih cantik dari dia. Wajar kalo marah. Tapi kalo kamu jadi aku, perasaanmu gimana coba? aku punya rencana menikah akhir tahun ini dan sekarang semuanya berantakan. Belom lagi pekerjaan dan semuanya juga berantakan. Sapa yang gak bingung ha?” tanpa aku sadari keluar air mata dari kedua air mataku. Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula diriku. Dibalik sosokku yang dipandang kuat, tetapi menyimpan banyak kelemahan. Apalagi ketika semuanya tak sesuai apa yang aku harapkan. Naomi kemudian memelukku dan berusaha menenagkanku. “sekarang semua ninggalin aku. selalu ketika aku sangat utuh bantuan orang disekitarku. Apalagi acel!” suaraku semakin parau. Aku di dekapnya untuk menyembunyikan suara tangisanku. “hei len… masih ada aku. gak sendirian juga kali.” Naomi menenagkanku sambil menepuk-nepuk pundakku. “aku capek. Lagian kamu siapaku? Kamu cuma idolaku yang kebetulan ada kontrak sponsor. Gak lebih.” Tambahku. “sssstttt… jangan ngomong kaya gitu. Semua gak tau jalan hidup manusia. Inget sama kak ve? Kehilangan kak ve, kamu ketemu acel. Sekarang acel ninggalin kamu, nanti ada siapa lagi juga belum tau. Jangan ngomong gitu to.”

“ayo pulang… awannya turun tambah banyak…” ku usap air mata dari wajahku lalu menggendong tas kameraku lalu menggandeng tangan Naomi

“hei… bentar… kita belom selesai ngomongnya!”

“ini ntar tambah dingin. Kaga liat tu awan tambah turun? Ngomong dimobil bisa kan?”

Naomi menganggukan kepalanya dan mengikutiku sambil melihat keadaan di sekitar. “dingin juga ya…” katanya pelan. “siapa suruh pake baju gituan. Udah tau mau naik gunung bawa jaket kek.” Ku timpali dengan sedikit kesal.

Jika tadi aku naik pake motor, kini aku turun menggunakan mobil milik wisnu. Biar gak kedinginan katanya.

“di pake nggak sabuknya?” Naomi tampak kikuk memundurkan jok mobil yang terlalu maju

“gak dipake gak masalah. Tapi terserah sih”

Jam menunjukan jam 18.10 ketika kami turun. Jalanan sangat sepi, bahkan tak satupun ada kendaraan melintas. Jalanan menurun berkelok ditambah minimnya penerangan membuat Naomi beberapa kali takut dan mencakar lenganku. Barulah ketika sudah di karanganyar kunyalakan radio mobil untuk mengusir suasana sepi.

“You know I want you
It’s not a secret I try to hide
I know you want me
So don’t keep saying our hands are tied
You claim it’s not in the cards
Fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you’re here in my heart
So who can stop me if I decide
That you’re my destiny?

What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You’d be the one I was meant to find
It’s up to you, and it’s up to me
No one can say what we get to be
So why don’t we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours
Tonight”

Mungkin bisa dibilang aku itu cowok sial. Berkali-kali disergap kesepian ditengah keramaian. Di sergap kesedirian kala banyak orang. Berkali-kali aku berpikir, kalau aku boleh memilih aku akan menjadi orang biasa tetapi betul-betul di cintai. Aku tak ingin di cintai karena apa yang aku dapat, tetapi di cintai karena betul aku pantas dicintai. Dari berbagai cewek yang aku temui, ini memang paling menyakitkan. Hidup harus terus berjalan dan waktu tak mengijinkan ku untuk meratap. Menangis dihaapan Naomi memang membuatku begitu malu, tetapi aku manusia bukan?

Silahkan Rate Cerita ini

Penunggang hitam dari kelamnya Middle Earth yang meluruskan hidup di atas panasnya aspal.

author
Author: 
    Penunggang hitam dari kelamnya Middle Earth yang meluruskan hidup di atas panasnya aspal.