Angelstory – Just an ordinary angel – Part IX

No comment 3416 views

“Udah, jangan nangis terus, doain aja”, kata Arya sambil menggenggam erat tangan Angel. Tangisan yang begitu pilu memecah keheningan malam di sebuah bangku yang terletak di depan ruang ICCU sebuah Rumah Sakit. Angel benar-benar tak tega melihat sahabatnya bersimbah darah dengan banyak alat bantu kesehatan di tubuhnya.

Seorang lelaki mengenakan setelan jas duduk di bangku yang letaknya agak jauh dengan Arya dan Angel, ia tampak begitu sedih, menutup wajahnya dengan kedua tangan, terlihat berkali-kali menarik nafas begitu dalam. Ya, dia adalah lelaki yang menabrak Dira. Sesekali ia berdiri, melihat ke pintu ruang ICCU, berharap ada seseorang yang keluar dan memberi kabar.

Arya begitu sibuk menenangkan hati Angel yang benar-benar sedih, lalu bagaimana dengan Arya? Sudah tentu, hatinya bergejolak, ia benar-benar merasa bersalah, kalau saja ia meladeni perbuatan Dira saat itu, maka tidak akan terjadi hal seperti ini.

Kreeeeeekkk, pintu ICCU pun dibuka, seketika Angel, Arya dan lelaki tadi berdiri secara serempak, mendekati ruangan itu, harap-harap cemas, hingga akhirnya beberapa orang perawat menderek sebuah tandu beroda. “Diraaaa”, kata Angel sambil berlari mendekati tubuh sahabatnya itu, ia ikut mendorong tandu tersebut bersama dengan beberapa perawat dan juga ibunya Dira. Sementara itu ayahnya menemui lelaki tadi dan mulai berbicara.

Arya hanya diam melihat apa yang mereka lakukan, ia membiarkan Angel mengikuti sahabatnya dan kemudian kembali duduk di bangku tadi. “Iya om, anak om seperti orang linglung, dia jalan sendirian, kehujanan dan tiba-tiba …. hmmmm …. entah bagaimana …. ehhhh … tiba-tiba dia ada di depan mobilku”, kata lelaki tadi begitu terbata-bata dan gugup. Mereka berdua pun berjalan, entah kemana, namun sepertinya akan menuju ke tempat dimana Dira dibawa.

Serame apapun keadaan Rumah Sakit, suasananya tetap mencekam, karena pada hakikatnya, rumah sakit adalah tempat bagi mereka yang sedang “sakit”, tidak ada kebahagiaan di sini, termasuk di hati Arya. Lenguhan di pada saat menarik nafas pertanda bahwa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Sebuah beban di hati yang begitu berat, sebuah penyesalan tiada tara. “Seandainya saja aku meladeni ciuman darinya, pasti ceritanya akan lain”, kata Arya di dalam hati. Tapi, keputusannya bukannya tanpa alasan, perasaan cinta pada Angel yang mulai tumbuh, membuatnya bersikap dingin pada lawan jenis selain Angel.

Semakin dipikir, semakin sesak dadanya, hahhhhhh, tarikan nafas yang begitu berat membuat Arya menengadah ke atas dan tanpa disadari ternyata Angel telah berada di sudut lain sedang memperhatikan gerak-geriknya. “Kamu kenapa sayang?”, tanya Angel, sontak mengejutkan Arya yang secara tiba-tiba menghentakkan pundaknya. “Ehhh, kamu kapan keluarnya? Kok aku gak liat”, kata Arya, “Beberapa menit yang lalu, kamu kenapa?”, tanya Angel kembali. “Ahh … mmm… anu … ehh, gk ada kok, sini duduk”, kata Arya dengan terbata-bata. “Kok gugup sih? Ada apa? Soal Dira ya?”, tanya Angel kembali. Degggg… pertanyaan dari Angel makin membuat jantung Arya seolah-olah berhenti sesaat, “Maksud kamu?”, tanya Arya, “Kamu lagi sedih mikirin Dira atau ada yang lain?”, tanya Angel kembali. Pertanyaan yang begitu bertubi-tubi.

“Udah donk, jangan nanya terus deh”, kata Arya sedikit membentak, membuat Angel sedikit terkejut kemudian duduk di samping Arya, menengadah ke atas dan melamun. “Maaf ya sayang, pikiranku lagi kacau banget”, kata Arya kembali, “Aku cuma nanya, kamu kenapa, tapi kalo gak mau jawab juga gpp kok”, kata Angel dengan suara yang memelas.

Tiba-tiba tangan Arya meraih tangan Angel, menggenggamnya dengan erat dan penuh arti. Sempat diciumnya sebentar, kemudian diletakkan kembali di atas paha Angel. “Sayang … aku .. mau ….”, kata Arya dengan terbata-bata, “Mau apa?”, tanya Angel keheranan, “Aku mau ngomong sesuatu”, kata Arya kembali.

Arya: Aku merasa bersalah dengan kejadian ini
Angel: Kenapa?
Arya: Dira kecelakaan gara-gara aku … (Hmmmmm)
Angel: Maksudmu apa sih?
Arya: hmmmm (berkali-kali menghela nafas)
Angel: Cerita, ada apa sebenarnya?
Arya: Tadi sebelum kamu tiba di apartment, Dira lebih dulu tiba
Angel: Iya, aku tau itu, trus?
Arya: Aku …. hmmm … dia …. mmmm
Angel: Kalian kenapa ??? (dengan suara agak keras)
Arya: Maafin aku … tapi aku … aku gak bermaksud ….
Angel: Ahhhh udah deh, gak perlu dilanjut, aku udah tau

Angel pun berdiri dan melangkah menjauhi Arya, “Sayang, aku belum selesai bicara, aku mau jelasin dulu”, kata Arya yang ikutan berdiri dan berusaha mengejar Angel. Angel pun membalikkan badannya, menghadap ke arah Arya, “Udah, tolong, aku gak mau dengar lagi”, kata Angel dengan wajah yang muram dan mata berkaca-kaca. “Sayang, ini gak seperti yang kamu bayangkan, aku mau jelasin dulu, tolong dengerin”, kata Arya memelas, “Aku gak mau dengar, kamu begitu bernafsu ama aku, tapi ternyata bukan cuma sama aku aja”, kata Angel yang kemudian kembali membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit.

“Heiii sayang, aku sudah menolak, ini bukan mauku, sayaaaang ….. Angeeel”, Arya berteriak, namun Angel tak memperdulikannya dan menghilang di balik pintu Rumah Sakit. “Ahhh fuck, shit, goblok kenapa harus terbata-bata gitu sih ngomongnya?”, Arya terus meracau dalam hatinya, mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh dalam mencoba untuk bicara jujur. Tutur kata yang tidak teratur malah menjadi blunder bagi dirinya. “Arrrgggghhhhh”, tiba-tiba Arya berteriak menyesali perbuatannya. Ia bukannya menyesali apa yang telah terjadi dengan Dira, namun ia menyesal berkata jujur pada Angel di saat yang tidak tepat.

“Mas, maaf, ini rumah sakit, jangan teriak-teriak ya”, kata seorang Security yang menghampiri Arya sesaat setelah ia berteriak. Arya pun minta maaf pada security tersebut kemudian mengambil HP dari saku celananya, mencoba menelpon Angel. Berkali-kali panggilannya di reject, chatnya pun tak di read. Makin lama Arya pun makin kesal, hingga akhirnya iapun menyusul Angel, masuk ke dalam Rumah Sakit, sempat berhenti di meja Informasi, bertanya tentang Dira. Setelah mengetahui ruangannya, Arya pun kembali melangkah menuju ruangan tersebut.

Setiba di ruangan itu, Arya melihat dari jendela, ternyata Dira sudah siuman, terlihat ayah dan ibunya sedang memeluk Dira, sementara itu Angel … Eh … Angel mana ya? Lohhh, kok gak ada? Aku mencoba menghubunginya, Tuuuuut .. tuuuuutt … Telponku tak dijawab olehnya. Tok tok tok, permisi, aku coba masuk ke ruangan Dira, “Eh iya nak, sini masuk”, kata ayah Dira. Aku sempat bersalaman dengan kedua orang tuanya.

Dira menoleh ke arah Arya, menatapnya dengan wajah sendu dan parau. Walau tatapannya begitu nanar tetapi ia tetap mencoba fokus memandang mata Arya hingga membuatnya menunduk. Entah kenapa, tapi Arya merasa bersalah, padahal ada seseorang yang lebih merasa bersalah, yaitu lelaki yang menabraknya. Akan tetapi, jika dirunut ke belakang, ciuman di bibir dari Dira kepada Arya lah penyebab semuanya. Kalau saja Arya meladeni ciuman itu, Dira tidak akan terbaring di Rumah Sakit saat ini.

“Arya .. kepala lo gimana?”, tanya Dira dengan suara yang agak sengau, “A .. aku gpp kok”, jawab Arya dengan terbata-bata, “Loh kepalanya kenapa Nak?”, tanya Ibunya Dira. Arya pun menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya, dan … air mata pun menetes di pipi Arya, karena itulah cikal bakal musibah yang terjadi pada diri Dira. Emosi Arya yang memuncak membuatnya terkena musibah, dan bukan hanya Arya, Dira yang datang tepat waktu untuk menolongnya pun ikut terkena musibah.

Dira kembali menatap mata Arya, tatapannya begitu dalam kali ini. Perban yang melingkar di kepala, jahitan di tangan, serta banyak luka lecet dan memar di wajahnya membuat Arya menjadi iba. Tanpa sadar Arya mendekati Dira, memeluknya dengan erat dan kemudian menangis, “Ahhh aaaa sakit”, kata Dira mengeluh karena tanpa sengaja Arya mengenai bekas luka, “Ehhh maaf, maaf”, kata Arya, kedua orang tua Dira pun menjadi terharu melihat tingkah laku keduanya.

“Aku pulang dulu ya”, kata Arya berpamitan pada semua yang ada di ruangan itu, “Dira, gws ya, aku kesepian gak ada temen duduk di kelas”, kata Arya, disambut dengan tawa oleh kedua orang tuanya. “Ati-ati Arya, jaga Angel yahh, jangan sampe kabur”, kata Dira dengan sedikit senyum di bibirnya.

Sementara itu, tangisan pun pecah, air mata menetes di pipi Angel, ketika ia melihat Arya memeluk tubuh Dira begitu erat dan hangat. Ia pun tak kuasa menahan pedih di hatinya dan kemudian berlalu pergi. Kisah romansa anak SMA, yang begitu mudah terbakar api cemburu, yang lebih mengedepankan ego dan emosi. Angel terus melangkah, dengan pipi yang basah, berjalan keluar dari Rumah Sakit, entah kemana. Pikirannya melayang, hatinya begitu terbakar, walaupun Dira adalah sahabatnya, tapi untuk urusan cinta, tak peduli siapapun itu. Ohhh .. Masa SMA.

Angel terus menyusuri jalanan malam ibu kota, ia belum tau kemana harus melangkah. “Neng sendiri aje, sini abang anter”, beberapa godaan dari ojek-ojek pangkalan sedikit mengganggunya. “Neng tengah malem sendirian aja, awas bahaya lo”, kata seorang driver gojek mengingatkannya. Tiba-tiba peringatan dari abang gojek tadi mengingatkannya bahwa ini sudah tengah malam. Ia melihat jam tangan yang dikenakannya, dan tatapannya menjadi begitu silau ketika sebuah lampu mobil begitu terang menyorot ke arahnya. Angel menutup matanya dengan lengannya, matanya tak kuat melihat silaunya lampu tersebut.

Bruuuk, pintu mobil pun terdengar telah dibuka dan tiba-tiba sebuah dekapan yang begitu erat benar-benar mengejutkan Angel. Hampir saja ia berteriak, namun tidak jadi ketika ia menyadari ternyata yang memeluknya adalah Arya. Angel sempat terlarut dalam pelukan itu hingga kemudian ia menggeliat, melepasnya dan menatap tajam ke arah Arya. “Ayo masuk”, kata Arya menarik tangan Angel, “Ngapain? Jangan perintah-perintah aku”, kata Angel begitu marah. “Tolong jangan emosi dulu, ayo masuk, aku jelasin di mobil, setelah itu kamu mau marah atau apa itu terserah kamu”, kata Arya sambil kembali menarik lengan Angel. Akhirnya keduanya pun berjalan dan masuk ke dalam mobil.

“Oke, aku mau ngomong sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya”, kata Arya memulai pembicaraan. “Kemarin, aku berantem ama anjing-anjing sialan itu, dan tiba-tiba Dira dateng sama seorang tentara”, kata Arya menjelaskan, “Dia bantuin aku, trus anter aku sampe obatin aku di Apartment”, kata Arya kembali, “Udah cukup, aku gak mau dengar”, kata Angel memotong pembicaraan, “Denger dulu, aku belum selesai”, kata Arya protes.

“Setelah semua selesai, tiba-tiba … (hmmmmmmm)”, tiba-tiba saja penjelasan Arya terputus. Ia menghela nafas dan entah mengapa, timbul di benaknya bahwa ia tak ingin merusak hubungan persahabatan antara Dira dan Angel. “Tiba-tiba kenapa?”, tanya Angel, “Yang pasti aku tidak pernah melakukan apapun seperti yang kamu bayangkan”, kata Arya kembali. “Ahhhh udah deh, aku gak percaya”, kata Angel. Kemudian keduanya pun terdiam.

“Ehh mau kemana nih? Anter aku pulang”, kata Angel setelah menyadari ternyata jalanan yang dilalui adalah jalan menuju Apartment Arya. Arya tak menghiraukannya dan tetap tancap gas menuju apartmentnya. Angel hanya terdiam setelah protesnya tak digubris. Perjalanan terus dilanjutkan hingga akhirnya tibalah mereka di parkiran apartment.

Braaaaak, Angel membanting pintu mobil, kemudian berjalan melangkah menuju lobby apartment, masuk ke dalam lift dan kemudian bersamaan masuk ke dalam kamar. Sebenarnya dalam hati, Arya sedikit tersenyum melihat tingkah laku Angel, ia marah namun tetap berjalan menuju kamarnya. Bruuuk, tiba-tiba Angel membuang dirinya di sofa dan kembali cemberut. Arya pun duduk di samping Angel, menggerakkan tangannya, dan kemudian merangkul Angel, “Ihhh lepas, apaan sih”, kata Angel. “Jangan marah donk sayang”, bujuk Arya, “Gimana gak marah, kamu kasi penjelasan cuma setengah-setengah, aku gak percaya sama kammmm …. mmmmhhhh”, sebuah serangan datang secara tiba-tiba, ciuman mendarat di bibir Angel, begitu lembut, hingga Angel memejamkan mata.

Setelah beberapa lama mengecup bibirnya, kemudian Arya melepas ciuman itu, memandang wajah Angel yang secara perlahan membuka matanya. “Ihhhh lepasin, aku gak mau”, kata Angel dengan suara yang sedikit melemah. “Aku sange liat kamu marah sayang”, kata Arya yang kembali mendekatkan wajahnya. Mmmpphhhh mmmmhhhh, ciuman kembali mendarat di bibir Angel. Kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Tanpa intruksi lidah mereka pun saling bertemu, tangan Arya menyelinap masuk di antara sela-sela paha Angel, mengelusnya sesaat dan kemudian menyentuh tepat liang senggamanya yang masih ditutupi oleh cd itu. “Ahhhhh”, lenguhan yang tertahan mulai terdengar dari mulut Angel. Ia mulai larut dalam nafsu birahi. Angel pun mengangkangkan kedua kakinya, seolah-olah memberi ijin pada tangan Arya untuk segera menjamah bagian bawah tubuhnya itu.

Setelah puas berciuman, setelah air liur bercampur menjadi satu, setelah tetesan saliva mengental, Arya pun menyudahi ciumannya. Ia pun menunduk dan jongkok tepat di depan selangkangan Angel. Pemandangan indah tampak di depan wajah Arya, sebuah pemandangan yang tak dapat dilukiskan dan tak dapat dibandingkan dengan keindahan apapun di dunia ini. Secara perlahan Arya menggapai cd Angel, kemudian menariknya turun. Angel sempat mengangkat kakinya agar cdnya terlepas secara sempurna. Arya pun mulai menyingkap dress Angel hingga sepinggul. Angel hanya memejamkan mata dan tampak pasrah menerima apa yang akan terjadi.

Arya menarik bokong Angel agar posisi kemaluannya lebih dekat dengan wajah Arya. Ia merenggangkan kedua paha Angel, dan “Ahhhhhhh”, lenguhan panjang keluar dari mulut Angel ketika sebuah jilatan menyapu tepi kemaluan Angel. Sluurrrpppp, sebuah jilatan yang begitu nakal, mengeksplorasi tepian-tepian liang senggama, menghasilkan desiran-desiran kenikmatan yang menyerang secara membabi buta. Angel menggeliat hingga secara tak sengaja ia menggenggam kepala Arya. Menekannya seakan-akan ingin membenamkan wajahnya ke selangkangannya. “Ahhhhhhh, mmhhhhh”, desahan yang begitu indah terdengar saat jilatan Arya menyentuh sela-sela memek Angel yang sudah becek itu. Sebuah aroma yang begitu khas semerbak tercium oleh Arya, menambah nafsunya untuk segera menikmati tubuh gadis cantik ini.

Jilatan yang mengenai klitoris Angel membuatnya mengangkat kedua kakinya, menekuknya dan bertumpu pada dudukan sofa. Memek Angel benar-benar terbuka untuk diserang oleh Arya. Kini tak hanya klitoris yang mendapatkan serangan kenikmatan itu. Lidah Arya yang nakal berusaha masuk menembus lubang sempit di memek Angel. “Ahhhhhh, Aryaaaa, ehhhhh”, Angel terus meracau, kini ia tak canggung lagi mendesah. Desahannya begitu lepas. “Ahhhhhh jilatin sayang, ahhhhh yang keras”, kata Angel terus meracau. Lidah Arya terus menyapu seluruh organ kenikmatan Angel, membuatnya ikut menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama jilatan nakal Arya. “Ahhhhh aku mau keluar sayang”, kata Angel yang kemudian tak lagi memejamkan mata. Ia menatap memeknya sendiri, melihat Arya sedang memanjakan organ intimnya. “Sayaaang, ahhhhh aaaarrghhhhh”, teriakan Angel makin kencang, bagian atas memeknya agak berdenyut, dan akhirnya “Srrrrrrrrr, ahhhhhhhh sayaaaaanggg”, air kencing bercampur cairan kenikmatan menyembur keluar membasahi wajah Arya dan membuat tubuh Angel bergetar hebat. Kepalanya mendongak ke atas, menahan kenikmatan yang tiada tara.

Melihat kekasihnya masih merasakan kenikmatan itu, Arya pun berdiri, memelorotkan celananya, dan “blesssss, ahhhhhh”, Angel sedikit terkejut ketika memeknya kembali mendapatkan serangan, kali ini dari kontol Arya yang sudah benar-benar tegang. Plak plak plak, serangan tanpa ampun dari Arya membuat Angel kembali mendesah, Arya tak memberi kesempatan bagi Angel untuk beristirahat merasakan sisa kenikmatan dari orgasmenya. Plak plak plak, Arya menggenjot Angel dengan tempo yang begitu cepat, menghasilkan suara tamparan yang begitu khas.

Entah berapa lama menggenjot, tiba-tiba Arya mencabut kontolnya dari memek Angel. Kemudian membuka bajunya, sementara itu Angel ikut melepas dress dan BH yang dikenakannya hingga keduanya kini telanjang bulat. Masih dengan posisi yang sama, Arya kembali menancapkan batang kontolnya ke dalam memek Angel. “Ahhhhhhhh”, lenguhan yang panjang saat rudal milik Arya menggesek dengan kasar dinding vagina Angel. Plak plak plak, dentuman yang begitu keras kembali terdengar. Keduanya benar-benar bersemangat dalam bekerjasama mencapai puncak kenikmatan.

Angel masih tetap di posisi yang sama, bersandar pada sofa dengan posisi kaki menekuk dan mengangkang, sementara itu Arya menindih tubuh Angel dengan posisi kaki berada di lantai. Sudah hampir 20 menit liang kewanitaan Angel digenjot dengan kasar. “Ahhhhh sayaaangg, jangan dicabut”, kata Angel protes ketika Arya mencabut kontolnya dan kemudian merebahkan dirinya di sofa, tepat di samping tubuh Angel. Ia tiduran dengan posisi kontol tegang ke atas. Melihat hal itu Angel berinisiatif naik ke atas tubuh Arya, ia jongkok tepat di atas kontol Arya dan blessss, “Ahhhhhh”, keduanya mendesah ketika Angel menduduki kontol Arya. Plak plak plak, Angel menggenjot kontol Arya naik turun. Payudaranya bergoyang seiring dengan gerakan naik turunnya.

“Ahhhhhhh”, tubuh Angel agak sedikit goyah, ia pun tiduran menindih dada Arya. Mereka tetap menggoyang tubuh bagian bawah mereka sementara itu tubuh bagian atas mereka saling berpelukan. Tatapan mata penuh nafsu dan begitu buas terpancar dari sorot mata Angel yang makin lama mendesah makin liar, “Ahhhhhh ahhhhhh ahhhh”, desahan yang begitu keras dan panjang keluar dari mulut Angel, “Ahhhhh sayaaang, aku mauuu ahhhhh keluaarrr”, kata Arya makin mempercepat goyangannya.

Plak plak plak arrggghhhhh sayyyaaanggg ahhhhh, Angel pun mendesah makin keras, aahhhhhhh, diikuti oleh Arya. Desahan mereka saling bersahutan, goyangan pantat Angel makin cepat, plak plak plak, ahhhhh sayyyaaaangggg, ahhhh Angel menekan pantatnya, kemudian menahan agar kontol Arya menancap makin dalam di lubang memeknya, Ahhhhh … Angel menggeliat, tubuhnya terduduk dan menekan pantatnya. Srrrrr, Angel mengalami orgasme untuk kedua kalinya. Melihat Angel masih menikmati sisa-sisa kenikmatan, Arya dengan tanpa ampun kembali menghentakkan pinggulnya, “Ahhhhhhhh”, Angel menggeliat ketika kontol Arya menyentuh dinding rahimnya, plak plak plak, Arya balik menggenjot memek Angel yang sedang terdiam, namun memeknya mencengkeram kuat batang penis Arya.

“Ahhhhh sayyyaaang, ahhhh”, Arya makin meracau, goyangannya makin kasar, “Sayyyaaannggg …. ehhhhhhh”, tubuh Arya menjadi tegang dan dengan sigap Arya mengangkat tubuh Angel agar kontolnya terlepas dari cengkeraman memeknya. “Ahhhh kocokin sayaaangg”, kata Arya meracau. Angel dengan cekatan meraih kontol Arya, menggenggamnya dan mengocoknya dengan cepat, “Ahhhhhhh ….”, croooot crooot crooot, berkali-kali Arya menyemburkan pejunya mengenai tangan Angel yang masih mengocoknya dengan begitu kasar. “Ahhhhhh sayaannggg …” Kata Arya dengan suara sedikit manja.

Setelah melihat Arya begitu terpuaskan, Angel pun mengambil tissue yang terletak di sudut sofa, membersihkan tumpahan sperma di tubuh Arya dan juga di tangannya. Hmmmm, helaan nafas yang panjang dari Arya setelah merasa terpuaskan. “Sini sayang ..”, kata Arya sambil menyodorkan tangannya. Angel pun mendekati tubuh Arya dan kemudian tiduran di sampingnya. Mereka pun berpelukan mesra, sambil sesekali berciuman, sambil telanjang.

Hmmmm … enak banget kamu Angel

BERSAMBUNG

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!