Angelstory – Just an ordinary angel – Part V

No comment 4019 views

Pagi ini agak sedikit berawan, suasananya memang tak seindah biasanya. Langit yang biasanya berwarna biru kini agak sedikit kelabu, tertutup oleh gumpalan awan yang menjajar dan hanya menyisakan sedikit celah bagi sinar matahari agar tetap menghangatkan seisi bumi. Suasana yang begitu sendu semakin disempurnakan oleh wajah para siswa dan siswi yang terlihat lesu, tak semangat akibat cuaca yang tak mendukung.

“Hoooiii, nyet, sini lhoo”, kata Dennis dengan suara sedikit keras ketika melihat Arya berjalan lewat di depan hadapannya menuju kelas. Arya hanya menoleh sesaat, ia melihat Reno, Leo dan salah seorang lagi yang ia tak tau namanya. “Woooiii sini lhoo banci”, teriak Reno kembali karena merasa Arya tak menggubrisnya. Mendengar teriakan yang sangat menjatuhkan harga dirinya, Arya pun kembali menoleh, melihat sesaat kemudian berjalan menuju mereka.

Tampak wajah kesal dari Arya yang sedang melangkah dengan begitu tegas mendekati mereka, “Ehh udah-udah, masuk kelas yuk”, tiba-tiba langkah Arya terhenti ketika Dira menarik tangannya. “Udah jangan diladeni, mereka emang gitu”, kata Dira, “Tapi mereka harus dikasi pelajaran”, kata Arya, “Udah deh, gak ada untungnya juga berantem ama mereka”, jawab Dira hingga akhirnya mereka berdua tiba di kelas.

Dira: Mereka emang doyan berantem
Arya: Aku gak takut
Dira: Yaaa, tapi konyol juga sih, mereka tuh terkenal premannya sekolah ini, apalagi kalo lagi kumpul
Arya: Ohh gtu
Dira: Btw, gimana sama Angel?
Arya: Maksudnya? Gimana apanya?
Dira: Yaa, akhir-akhir ini gw liat lo makin deket ama Angel
Arya: Nggak ahh, biasa aja
Dira: Tapi seminggu ini lo anter Angel pulang terus kan?
Arya: Yaaa, rumahnya kan searah ama tempat tinggalku, jadi kebetulan aja sih
Dira: Hmmm, iya juga sih, kirain lo jadian ama dia
Arya: Nggak ahh, btw kalo aku jadian ama dia, emang kenapa?
Dira: Gak ada sih, udah deh, omongin yg lain aja
Arya: Hayooo cemburu yaaa (Sambil tertawa)
Dira: Ihhh apaan, emang lo siapa pake cemburu segala
Arya: Ohhh kirain cemburu

Ya, memang tanpa di sadari, Dira agak sedikit cemburu akibat kedekatan Arya dengan sahabatnya tersebut, meskipun ia sendiri tak ada ikatan apapun dengan Arya. “Eh, hari ini lo duduk di sini atau belakang?”, tanya Dira, “Di belakang aja, biar Angel di sini”, jawab Arya, “Hmmm, moga-moga aja Angel gak masuk”, Dira menggumam, namun suaranya masih tetap terdengar oleh Arya, “Lohh kok gitu?”, tanya Arya yang bingung mendengar gumaman Dira, “Ehh, becanda ahh, mana tuh anak, gak dateng-dateng”, Dira mencoba berkelit.

Braaak, pintu kelas ditendang secara tiba, Reno dan Leo masuk ke dalam kelas, melangkah mendekati Arya kemudian berdiri di hadapannya. Arya merasa di intimidasi hingga akhirnya ia pun mengambil sikap, berdiri dan menatap mata Reno, “Apaa looo”, kata Reno kemudian mendorong Arya, “Apaa loo”, kata Arya berusaha mendorong Reno, namun Anto, salah seorang siswa di kelas itu dengan sigap menarik tubuh Arya, “Udah-udah”, kata Anto yang kemudian diikuti oleh siswa-siswa lainnya. “Udah donk, kalian juga gak ada kerjaan banget sih”, kata Dira marah kepada Reno dan Leo. “Hahahahaha”, keduanya pun kembali berjalan menuju bangkunya sambil tertawa terbahak-bahak, entah apa yang ditertawakan oleh mereka berdua.

Bruk bruk bruk, “Heiii kenapa? Pagi-pagi kok cemberut banget sih?”, tanya Angel yang baru saja tiba. Arya hanya tersenyum ke arah Angel lalu berlalu ke bangku paling belakang. “Arya kenapa sih?”, tanya Angel kembali kepada Dira, “Biasa, tuh si Reno ama Leo gangguin dia”, jawab Dira. Angel pun menoleh ke arah Reno sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah Arya. Arya pun membalas senyuman dari Angel.

Suasana hati Arya yang sedang panas terbakar oleh emosi seolah-olah padam secara tiba-tiba karena terhapus oleh sejuknya senyuman dari gadis hitam manis tersebut. Sreeekkk, Angel pun menaruh tas ranselnya dan kemudian ia menemukan secarik kertas di bawah bangkunya. Angel mengambilnya kemudian melihat dan membaca isi kertas tersebut.

“Hai Angel, sejak pertama ku melihatmu, hatiku serasa bergetar, aku begitu terpana melihat wajah manismu”, Angel pun tersenyum membaca bait pertama dari surat tersebut. “Sejak saat itu, aku tak bisa tidur, aku selalu membayangkan dirimu, entah mengapa, wajahmu selalu hadir dalam mimpiku”, Angel makin tersipu, membaca surat itu, “Kenapa sih lo? Senyum-senyum sendiri”, tanya Dira yang bingung melihat teman sebangkunya tersebut tersenyum tanpa sebab, “Surat dari siapa tuh?”, tanya Dira kembali, namun tetap tak dijawab oleh Angel.

Angel mengambil air mineral gelasan yang ada di depannya, kemudian menyeruput lalu melanjutkan membaca kembali surat tersebut, “Setiap pejaman mataku, selalu muncul tubuhmu yang seksi”, membaca baris ini, Angel agak mengernyitkan dahinya, “Apalagi toketmu yang begitu besar, membuatku coli setiap saat, oh Angel, aku benar-benar ingin menikmati tubuhmu, ingin rasanya kumasukkan kontolku ke lubang kenikmatanmu sambil melihatmu memejamkan mata sambil mendesah”, tiba-tiba raut wajah Angel berubah drastis, dari yang tersenyum menjadi murung dan terlihat sangat marah, “Dari seseorang yang mengagumi kamu …. Arya”, Angel meremas surat itu, kekecewaan di wajahnya sudah tidak dapat disembunyikan lagi, Angel menarik nafas begitu dalam, “Eh lo kenapa?”, tanya Dira kebingungan.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Dira, Angel pun berdiri dari bangkunya, membawa air mineral gelasan tadi yang telah dibuka penutup plastik pada bagian atasnya, kemudian ia berjalan ke belakang. Byuuurrrrr, “Ehhh apa-apaan nih? Angel kamu kenapa?”, tanya Arya kebingungan, “Apa-apaan kamu tulis kyk gini hah?”, bentak Angel sambil melemparkan kertas yang telah diremas tadi. Angel pun kembali ke bangkunya, kemudian Arya mengambil kertas tersebut kemudian membacanya.

“Eh, lo kenapa sih?”, tanya Dira kembali. Kali ini Angel menceritakannya, “Hmmm, emang lo yakin itu bikinan Arya? Bisa jadi dia difitnah”, kata Dira ingin menenangkan hati Angel yang sangat kecewa, “Hmmm, gak tau deh”, kata Angel. Braaaaakkkk, tiba-tiba Angel dan Dira terkejut, mendengar suara meja dibanting, ternyata itu Arya, ia berjalan menuju ke depan kelas, kemudian berputar kembali menuju ke arah Reno dan Leo. Arya melangkah dengan pasti. Reno pun berdiri, memasang badan seperti seorang yang menantang. “Apa Loo ….. Aawwwww”, Braaakkk. Belum sempat bertanya, tendangan Arya tepat mendarat ke dada Reno, membuatnya tersungkur hingga mengakibatkan meja di belakangnya ikut terjatuh. Melihat hal itu, Leo pun berdiri dan melihat ke arah Arya, braaaakkk, kembali Arya melayangkan tendangan yang begitu keras dan mengenai wajah Leo. Ia pun ikutan terjatuh, “Kalian berdua kalo mau nantang aku silahkan, tapi jangan bikin fitnah kyk gini”, kata Arya kemudian melempar kertas tadi ke wajah Reno yang masih dalam posisi tersungkur menahan rasa sakit di dadanya.

“Udah-udah, udah Arya”, kata Angel, entah kapan ia datang, namun tiba-tiba Angel sudah berada di samping Arya sambil menarik lengannya, “Ahhhhh”, kata Arya menepis tangan Angel yang memegang lengannya kemudian melangkah kembali menuju bangkunya. Angel terlihat begitu sedih karena reaksi Arya terhadap dirinya seperti itu. Reno dan Leo terlihat kembali memperbaiki posisi bangku dan mejanya sambil dibantu oleh teman-teman lainnya.

Angel berjalan dengan begitu lesu, namun ia kembali melangkah mendekati tempat duduk Arya di belakang, “Arya, maafin aku ya, tadi aku kebawa emosi”, kata Angel sambil memasang wajah cemberut, “Udah lupain”, jawab Arya singkat dan begitu cuek tanpa melihat wajah Angel. “Kamu marah ya?”, tanya Angel kembali, “Aku bilang lupain ya lupain, udah deh”, jawab Arya kembali, kali ini agak sedikit membentak. Angel menunduk, kemudian balik arah dan kembali ke bangkunya, kembali dengan langkah yang begitu lemas.

Arya kembali menoleh ke arah Reno, ia benar-benar dendam padanya kali ini. Kemudian Arya melihat ke depan, tepatnya ke arah Angel, ia melihat Dira mengelus-elus punggung Angel, dan terlihat juga Angel berkali-kali menghentakkan lengannya. Rupanya ia sedang menangis, entah karena menyesal telah berbuat seperti itu atau karena merasa telah dibentak oleh Arya. Huffftttttt, Arya mencoba menenangkan dirinya, ia menghela nafas yang begitu panjang, kemudian bersandar di bangku.

1 JAM KEMUDIAN

Arya benar-benar tak bisa fokus mendengar penjelasan dari Pak Arman, guru pelajaran Bahasa Indonesia. Tiba-tiba Pak Arman melihat deretan bangku paling ujung di barisan tengah, ya itu adalah deretan bangku dimana Angel duduk. Ia kemudian melangkah mendekatinya, entah apa yang dibicarakannya, namun Pak Arman terlihat bicara begitu pelan dan intim dengan Angel. Ia terlihat seperti orang berbisik. Arya penasaran, apa yang dibicarakannya. Beberapa menit kemudian, Dira merangkul Angel, berjalan keluar kelas. Sempat terdengar pak Arman menyebut kata-kata UKS. “Wah, masak Angel sakit?”, kata Arya dalam hatinya. Saat Angel dan Dira berdiri, matanya sempat menoleh ke belakang. Mata Arya dan Angel sempat saling bertemu sesaat, dan dari situlah Arya baru tau ternyata Angel masih menangis sejak tadi.

“Okeee, anak-anak pelajaran dilanjutkan”, kata Pak Arman kembali. Kali ini pikiran Arya makin kacau, tadinya ia tak bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran dari Pak Arman, kali ini ia sudah benar-benar blank karena kepikiran Angel. 30 menit kemudian, “Maaf Pak, saya ijin ke belakang”, kata Arya yang tiba-tiba berdiri, minta ijin kepada Pak Arman, kemudian keluar, “Jangan lama-lama ya”, kata Pak Arman, “Ya elah, padahal dia juga sering telat masuk kelas”, kata Arya menggerutu dalam hatinya.

Rupanya Arya hanya berasalan ingin ke kamar kecil, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat dirasa aman, Arya pun berbalik arah menuju ke UKS. Memang terpisah sih, tapi saat itu suasana sedang sepi, karena masih jam pelajaran. Arya mengendap masuk, dan kemudian, sreeeekkkk, Arya membuka korden penutup, “Ehhhh, ngapain kamu di sini?”, tanya Dira yang begitu terkejut melihat kedatangan Arya, “Kamu sakit?”, tanya Arya kepada Angel. Ia hanya menggelengkan kepala. Arya terus berjalan mendekati Angel hingga akhirnya berdiri di sampingnya, tepatnya di sudut atas kepala Angel, “Yakin kamu gpp?”, tanya Arya kembali. Ia merasa khawatir karena melihat mata Angel yang masih sembab. “Eh aku balik dulu yah, ntar ditegur ama Pak Arman”, kata Dira, “Eh jangan bilang aku di sini yah”, kata Arya, Dira pun mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

“Kamu jahat banget sih, aku takut, aku gak pernah dibentak”, kata Angel yang kemudian tiba-tiba kembali menangis, “Ehh, maafin aku ya, aku lagi emosi, maaf ya”, kata Arya yang kemudian duduk di sebuah kursi yang terletak di samping Angel, “huuuuuu”, Angel masih menangis sambil sesekali mengusap matanya dengan tangan kirinya. “Jangan nangis donk, aku minta maaf ya”, kata Arya sambil menyeka pipi Angel yang basah karena air mata. “Udah, jangan nangis lagi donk, aku janji gak bakalan gitu lagi deh”, kata Arya kembali, kali ini ia tidak lagi menyeka air mata Angel, namun tangannya kini sudah berada di kepala Angel. Ia mengelus-elus rambut Angel, “Janji yaa gak gitu lagi, aku takut banget dibentak kyk gitu”, kata Angel dengan suara yang begitu manja, “Ia aku janji deh”, jawab Arya sambil terus mengusap-usap dahi Angel.

“Kamu sakit ya?”, tanya Arya kembali, “Kepalaku pusing banget”, jawab Angel, “Mau pulang? Aku anter”, kata Arya, “Gak usah deh, aku istirahat bentar, abis gara-gara kamu sih, bentak aku”, kata Angel kembali sambil memanyunkan bibirnya. “Hmmm, aku kan udah minta maaf”, kata Arya sambil tersenyum ke arah Angel. Ia pun saling tatap, Arya masih terus mengusap-usap dahi Angel sambil mengelus-elus rambutnya yang lurus. “Ohh tidak, mengapa senyumnya begitu manis”, kata Arya dari dalam hatinya. “Ehh, ternyata Arya ganteng juga yaa”, kata Angel yang juga dari dalam hati. “Duh kok aku deg-degan sih”, kata Angel kembali, masih dari dalam hati, “Wajahnya begitu manis, kumis tipisnya menambah kecantikan yang begitu alami”, hati Arya terus menggumam.

Mata mereka terus saling pandang, mereka saling memuji satu sama lain di dalam hati. Tanpa tersadar hati mereka sudah saling menyentuh. Tak perlu ungkapan kata-kata untuk menerjemahkan apa arti tatapan dan senyuman Angel saat itu, “Ohhh dia begitu cantik”, pujian dari dalam hati terus datang dari Arya. Ia makin mendekat, terus mendekat, nafas Angel akhirnya terhirup, masuk terbawa oleh aliran darah ke otak, dan diterjemahkan begitu cepat, “I have to do this”, kata hati Arya kembali menyeruak. Wajahnya sudah begitu dekat dengan Angel, hingga akhirnya Angel memejamkan matanya. Deru nafas memacu di dalam ruang UKS yang hanya ada mereka berdua di dalamnya. Hangatnya nafas Angel begitu terasa, hingga akhirnya “Ehhhhh”, lenguhan singkat pun terdengar dari mulut Angel saat bibir mereka saling bersentuhan.

Ciuman hangat dan mesra dari Arya akhirnya mendarat di bibir Angel yang sedang memejamkan mata itu. Yes, this is their first kiss, ciuman pertama bagi mereka berdua, maksudnya, ciuman pertama yang dilakukan Arya kepada Angel. Srrrpppp, suara ciuman mereka sempat mendecak singkat. Arya melumat bibir Angel yang masih memejamkan mata. Ciuman yang begitu mesra hingga akhirnya, entah siapa yang mulai duluan, tapi rasa hangat itu agak sedikit ternoda oleh nafsu yang tiba-tiba timbul akibat sentuhan lidah keduanya. Angel sempat membuka matanya sedikit saat lidah Arya menyeruak masuk melalui bibirnya, menembus bibir yang menutup begitu rapat hingga akhirnya dapat merasakan lidah Angel.

Sluuurrrpppp, sluurrrppp, ciuman yang tadinya hangat, kini berubah menjadi ciuman panas. Kepala Angel beberapa kali berubah posisi, dari miring ke kiri, menuju miring ke kanan, mengikuti posisi kepala Arya. Sluurrrppp, sluurrrppp, sluurrrppp, ehhhhh, lenguhan kembali keluar dari mulut Angel ketika bibir Arya sedikit terangkat, meninggalkan tetesan saliva yang membasahi rongga mulut Angel. Arya mengelap ujung bibir Angel yang basah karena air liur yang sempat menetes akibat permainan lidah mereka berdua. Angel pun mengelap bibir Arya dan keduanya pun tersenyum penuh arti. Entah senyuman mereka berdua kali ini benar-benar begitu tulus, benar-benar senyum bahagia. “Eh, kamu balik ke kelas gih, ntar di cariin ama Pak Arman”, kata Angel, “Kamu gpp kan sendiri?”, tanya Arya, “Gpp kok”, jawab Angel.

Arya pun berdiri dari tempat duduknya, “Aku balik ya”, kata Arya. Dijawab dengan anggukan kepala dan juga senyum manis oleh Angel. Arya melangkah mundur, pandangannya tak mau terlepas dari senyum Angel yang begitu manis, hingga akhirnya Arya kembali melangkah maju mendekati Angel. “Mmmuachhhh”, sebuah kecupan singkat kembali mendarat di bibir Angel dan kemudian Arya berbalik arah pergi meninggalkannya.

“Eh lama banget kamu?”, tanya Pak Arman sesaat setelah Arya mengetok pintu, “Mmm anu pak, mmm, sakit perut”, jawab Arya, disambut oleh gelak tawa para siswa lainnya. Dira menoleh ke arah Arya, agak sedikit cemburu namun ia mulai bisa melepaskannya apabila ia jatuh ke tangan sahabatnya sendiri.

JAM PULANG SEKOLAH

“Eh titip Angel yahh, dia lagi sakit tuh”, kata Dira saat mengantar Angel masuk ke dalam mobil Arya. Ya, Angel memang terlihat begitu lemah, mungkin benar ia begitu shock karena dibentak tadi, atau mungkin badannya memang tidak fit hari ini.

The daylight’s fading slowly
but time with you is standing still
I’m waiting for you only
The slightest touch and I’ll feel weak

I cannot lie
From you I cannot hide
I’m losing the will to try
Can’t hide it (can’t hide it)
Can’t fight it (can’t fight it)
So…

Aunan lagu berjudul Breathless milik The Corrs menemani perjalanan mereka berdua yang sedang terdiam seribu bahasa. Entah mengapa, namun keduanya merasa canggung akibat ciuman hangat saat di UKS tadi. Berkali-kali Arya melirik ke arah Angel yang sedang menoleh ke arah kiri, melihat keluar jendela, namun wajahnya terlihat dari pantulan kaca jendela. Arya melihat Angel berkali-kali menyembunyikan senyumnya yang terus terkembang. Ya, ia sedang malu, tapi ia menikmatinya.

Perjalanan yang begitu menyenangkan, rasa macetnya tak terasa, karena ditemani oleh seseorang yang begitu … hmmm … apakah iya? apakah ini cinta? Ahhh, terlalu cepat untuk menyimpulkan, namun keduanya terlihat begitu nyaman. Jalanan panjang dan macet ditempuh tanpa sepatah katapun, tapi senyuman terus hadir di keduanya, hingga akhirnya perjalanan pun harus terhenti ketika Arya sudah tiba di tempat tujuan, yaitu jalan masuk ke gang rumah Angel.

Angel menoleh ke arah Arya, tersenyum tipis dan begitu manis. Arya pun membalas senyuman Angel dengan begitu jaim, ia berusaha ingin menjadi cowok yang sempurna di mata Angel. “Mmmm… makasi ya”, kata Angel. Arya pun mengangguk. Angel pun membuka pintu mobil, kemudian turun, lalu kembali tersenyum ke arah Arya, “Maksudku makasi tadi yang di UKS”, kata Angel kembali kemudian menutup pintu mobil dengan penuh tenaga.

Perjalanan pun dilanjutkan, kali ini DVD The Corrs Unplugged menemani perjalanan Arya menuju Apartmentnya. Bukan lirik lagu yang begitu romantis yang membuatnya berkali-kali tersenyum seorang diri, melainkan bayangan singkat apa yang telah ia dan Angel lakukan tadi di UKS, sebuah ciuman yang begitu dahsyat. Ciuman yang pasti akan menyiksa keduanya, karena akan terus terbayang, entah sampai kapan.

BERSAMBUNG

Reach what you love, and love what you reach!

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!