Angelstory – Just an ordinary angel – Part VII

No comment 2514 views

Sepasang muda dan mudi berjalan dengan tenang, keluar dari sebuah gedung bertuliskan Karaoke Keluarga di atasnya, menuju ke sebuah mobil Rubicon berwarna putih. Arya dan Angel yang baru saja mengawali perjalanan cinta yang makin dalam walaupun mereka berdua belum ada status apapun. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, bruuuk, menutup pintu mobil. “Awwww, kenapa?”, tanya Arya yang kebingungan karena secara tiba-tiba Angel memukul-mukul bahu Arya. “Kamu ngapain sih tadiiii”, tanya Angel dengan suara yang sedikit manja. Setelah berkali-kali memukul, Angel pun merebahkan kepalanya ke pundak Arya, merangkul lengannya.

Arya hanya tersenyum melihat tingkah laku Angel yang seperti anak kecil itu. Entah ia tersenyum bahagia atau tersenyum puas karena sudah dapat menikmati tubuh seorang gadis yang dulu memusuhinya. Arya dapat menikmati tubuh gadis itu walaupun tanpa harus merobek selaput daranya. Brummmm, mobil pun melaju kencang, melalui jalanan ibu kota, menghadapi kemacetan yang sudah biasa dihadapi. Melewati berbagai kendaraan yang menghalangi lajunya mobil mewah Arya.

PUKUL 11 LEWAT 20 MALAM HARI

“Abis kamu sih mancing-mancing terus”, kata Angel melalui HPnya, ia sedang telponan dengan Arya, membahas hal tadi. Keduanya sempat merasa canggung namun pada akhirnya menjadi terbiasa bahkan saling bercanda.

Arya: Eh, Angel, aku mau ngomong serius nih
Angel: Ngomong apaan? Mau nembak yaa? Hehehe
Arya: Gak seru banget sih, iya aku emang mau nembak, trus jawabanmu gimana?
Angel: Wah parah, udah nembaknya lewat telpon, gak ada romantis-romantisnya lagi
Arya: Abis, kamu sih, gimana, mau gak?
Angel: Aku pikir-pikir dulu yaa, hehehe
Arya: Aku serius nih, jawab donk sekarang
Angel: Yahh kok malah maksa sih?
Arya: Pokoknya harus jawab sekarang, kalo nggak, aku bakalan ke rumah kamu, trus aku bakalan gituin kamu
Angel: Hmmm, ya udah deh, gak aku jawab, aku tunggu ya di rumah
Arya: Ehh becanda Angel sayang, jawab donk
Angel: Kamu gimana sih? Nembak tu yang romantis donk, udah ahh, aku ngantuk
Arya: Yahh kok marah sih?
Angel: Nggak marah sayang, aku gak mau ditembak lewat telpon gini, udah dulu yaaa, byee
Arya: Ehhh ntar dulu

Tuuuttt *****

Angel menutup telponnya kemudian mengirim chat, “Tidur cepet, biar besok bisa ketemu lagi”, isi chat dari Angel. Arya yang tadinya sempet kesel karena merasa Angel menutup telponnya tanpa ijin akhirnya tersenyum membaca chat Angel seperti itu. Arya pun berdiri, kemudian menendang-nendang Sansak yang tergantung di ruang tengah. Sesekali ia berteriak seperti sedang meluapkan kebahagiaan. Padahal Angel belum menjawab pernyataan cinta darinya, tapi Arya begitu yakin kalau Angel akan menjadi miliknya.

Waktu terus berlalu, tak terasa malam dilewati dengan mimpi indah oleh Arya dan Angel yang hatinya sedang berbunga-bunga. Pagi pun disambut dengan penuh suka cita, bukan karena cuaca yang begitu cerah tapi karena perasaan keduanya yang sudah tak sabar untuk saling bertemu kembali. Yaaa, beginilah romansa dikala SMA.

Pagi ini baik Arya maupun Angel seolah-olah berlomba-lomba datang ke sekolah secepat mungkin. Mereka seakan-akan tak ingin melewatkan pagi tanpa bercengkerama berdua. “Kalian berdua pasti kencan ya kemarin?”, tanya Dira yang baru saja tiba. “Haah kencan?”, Angel balik tanya, pura-pura tak tau, “Ahh udah deh, ngaku aja, kalian berdua di chat, di telpon gak ada yang jawab, pasti lagi kencan, huhhh”, kata Dira sambil murung. “Uuuu tayaaang, jangan sebel gitu donk”, kata Angel sambil merangkul Dira. Arya hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Dira memang menyimpan rasa terhadap Arya, namun karena Arya makin lama makin dekat dengan Angel, maka lambat laun ia pun mulai mengikhlaskan Arya, karena bagaimanapun juga Angel adalah sahabatnya.

Jam sekolah pun dilewatkan dengan begitu sempurna, masa istirahat dimanfaatkan dengan bercengkrama hingga akhirnya bel pun berbunyi tanda pulang sekolah telah tiba, dan seperti biasa, Angel “numpang” di mobil Arya. Senyum di keduanya tetap terkembang seakan-akan tak mampu ditahan. Angel menunggu Arya menembaknya kembali, dan Arya menunggu timing yang tepat untuk menembak Angel, ahhhhh masa-masa SMA, masa yang paling indah.

“Ehh itu Dira, kok dia jalan ya?”, kata Angel sembari melihat sahabatnya itu jalan kaki. Ciiiitttt, Arya pun menepikan mobilnya, kemudian Angel menurunkan kaca jendela, “Lo gak dijemput?”, tanya Angel. Dira tak menjawabnya, namun hanya memurungkan bibirnya pertanda ia memang tak dijemput. Kemudian Angel menatap wajah Arya, memasang wajah memelas, “Jangan melas gitu deh, suruh barengan”, kata Arya yang mengerti dengan arti kode dari wajah Angel.

Bruuuuk, pintu pun ditutup, Dira duduk di belakang, “Ehhh makasi yaa, gw gak ganggu kencan kalian kan?”, tanya Dira sambil tersenyum, “Kampreeet lo, yang kencan siapa?”, jawab Angel, “Hmmm lumayan ganggu sih”, sahut Arya, “Ihhhh jahat banget sih”, kata Dira. Mereka bertiga pun bercanda.

I am not a stranger to the dark
“Hide away,” they say
“‘Cause we don’t want your broken parts”
I’ve learned to be ashamed of all my scars
“Run away,” they say
“No one’ll love you as you are”

Lagi This is Me, soundtrack dari film The Greatest Showman menemani perjalanan mereka bertiga. Mereka pun bernyanyi bertiga sambil terkadang tertawa bersama.

Bruuuuuk, Praaaankkkk, Ciiiiiiiittt, “Awwwwwww”, Angel dan Dira berteriak serempak ketika Arya secara tiba-tiba banting setir dan berhenti mendadak karena begitu terkejut saat mobilnya terkena lemparan botol dari seorang pengendara motor yang sedang berboncengan. Arya kembali menancap gas, mencoba mengejar pelaku, Brummmm, Arya tancap gas dengan RPM tinggi secara tiba-tiba tanpa menghiraukan keadaan sekitar. “Aryaaaa udaaaah”, “Jangaaan Aryaaaa”, “Aryaaaaa takuuuut”, Dira dan Angel secara bergantian berteriak karena ketakutan.

Tak butuh waktu lama bagi mobil Rubicon untuk mengejar sebuah sepeda motor. Arya menurunkan kaca jendela, “Heiii pengecut, berhenti lo”, kata Arya berteriak tepat di samping motor dimana pengendara dan yang dibonceng mengenakan helm fullface. Lalu tiba-tiba yang dibonceng tadi membuka kaca penutup wajahnya, “Gw tunggu lo di sekolah”, kata orang tersebut yang ternyata adalah Reno. Hmmmm, rupanya dendam lama masih tersimpan. Arya benar-benar terlihat begitu emosi dan ia pun kembali tancap gas. “Udah Aryaaa, jangan diladeni”, kata Angel, Dira pun terus menenangkan hati Arya.

Entah berapa lama kemudian, mereka pun tiba di depan rumah Dira, “Angel, jaga Arya, jangan sampe dia emosi”, kata Dira sebelum turun dari mobil. Angel hanya mengangguk dan kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali. “Arya, jangan cemberut donk”, kata Angel. Namun Arya sudah benar-benar dikuasai oleh emosi yang begitu terbakar. Ia kembali tancap gas tanpa bicara apapun hingga akhirnya ia pun tiba di depan gang rumah Angel.

“Janji sama aku, kamu gak akan ladenin mereka”, kata Angel sebelum menutup pintu mobil Arya, “Arya, plis jawab aku, janji yaa”, kata Angel kembali. Arya hanya menatap wajah Angel sambil berkata, “Hati-hati ya, nanti aku telpon, I love you”, kata Arya. Mendengar kata itu, Angel agak sedikit tenang, ia pun tersenyum dan kemudian menutup pintu mobil Arya.

Brummmm, Arya kembali tancap gas, namun kali ini tidak melalui jalan yang biasa ia lalui. Ia berputar kembali, dan ternyata benar, ia menuju sekolah. Brummm, tinnn tiiinnnn, Arya benar-benar kesetanan, ia tak peduli dengan kemacetan, suara mesin mobil menderu begitu garang, melalui apa saja yang menghalanginya hingga akhirnya ia pun tiba di sekolah dengan pintu gerbang yang sedikit tertutup, menyisakan jalan masuk mobil saja. Ciiiittt, hanya dengan sekali lenggok, mobil Arya masuk secara sempurna di halaman depan sekolah dan tanpa pikir panjang ia mencabut kunci kemudian turun dari mobil.

Dari kejauhan ia melihat ada 3 orang sedang berkumpul. Dari jauh pun ia sudah mengetahui kalo mereka adalah Dennis, Leo dan Reno, sebenarnya ada 2 orang lagi namun mereka berdua terpisah begitu jauh dari mereka bertiga, jadi Arya menyimpulkan bahwa 2 orang itu bukanlah group mereka.

Arya berjalan, melangkah dengan wajah menengadah dan menatap lurus ke depan begitu tajam layaknya seekor elang yang sudah mengunci target mangsanya. Arya terus berjalan tegak mendekati mereka. Dennis yang awalnya duduk di atas motor akhirnya berdiri, sok pasang badan, berjalan dengan langkah yang pelan ke arah Arya. “Mau apa lo haah? Gak terima?”, bruuuuukkk, tanpa banyak bicara, tendangan super cepat langsung mendarat di leher Dennis yang membuatnya ambruk seketika. Reno secara tiba-tiba mengambil tongkat baseball yang ada di sampingnya lalu mengayunkannya ke arah Arya. Bruuuuuk, ayunan tongkat baseball mengenai lengan Arya yang secara bersamaan melayangkan tendangan ke arah Leo.

“Awwwww”, Arya tampak memegang lengannya karena kesakitan terkena hantaman tongkat baseball, sementara itu Leo juga tersungkur akibat tendangan Arya yang mengenai dadanya. Dennis tampak berdiri dan mendekati Arya, sementara itu Reno terus mengayunkan tongkat baseball ke arah Arya. Dennis melayangkan pukulan ke wajah Arya, namun dengan sigap Arya menepis tangan Dennis, bruuuuk, tapi sayangnya hantaman tongkat baseball kembali mendarat ke punggung Arya hingga membuatnya terjatuh. Braaaakkkk, “Ahhhhh”, secara tiba-tiba sebuah bata menghantam kepala Arya. Ternyata Leo yang sudah terbangun mengambil sebuah bata dan menghantamnya. Arya kembali terjatuh, dan coba untuk bangkit, namun tubuhnya oleng karena hantaman di kepala yang begitu keras.

Melihat mereka bertiga sudah dalam keadaan siap menyerang, akhirnya Arya mengambil ancang-ancang. Ia tak mau menyerah walaupun ia merasakan darah mengalir dari kepalanya. Arya mengambil ancang-ancang dan kemudian berlari ke arah Reno yang sedang memegang tongkat Baseball. Arya menendangnya, sementara itu Dennis dan Leo memukuli Arya. Seolah-olah tak memperdulikan pukulan dari kedua orang itu, karena Arya hanya fokus ingin menghajar Reno yang terus mengayunkan tongkat baseball itu secara tak terarah, hingga akhirnya kembali tendangan terarah Arya tepat mengenai rahang Reno yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh dan tongkat baseball pun terlepas.

Arya pun melompat sambil meraih tongkat baseball itu, dan kini ia memiliki senjata untuk menyerang mereka bertiga. Merasa sedang di atas angin Arya mengajar Dennis yang tadinya garang memukul dan kini berlari menghindari serangan Arya. Namun karena emosi sudah bercampur dengan semangat yang menggebu-gebu akhirnya Arya berhasil melayangkan hantaman tongkat itu tepat di telinga kanan Dennis hingga membuatnya terjatuh. Merasa belum puas, Arya kembali mendekati tubuh Dennis, dan “Arrrgghhhhh, anjiiing kamuuu”, teriak Arya sambil memukul kaki dan tangan Dennis dengan tongkat baseball berkali-kali, meskipun Dennis terus berteriak minta ampun.

Setelah puas menghajar Dennis, secara tiba-tiba Arya menatap tajam ke arah Reno yang baru saja bisa berdiri, walaupun masih sempoyongan. Arya berjalan ke arah Reno, terlihat Reno merapatkan kedua telapak tangannya, mohon ampun pada Arya yang begitu gagah dan tegap berjalan ke arahnya, “Ampuun bro, ampuun, maaf”, kata Reno, Bruuuuuk, Arya tak mau mendengarkan kata-katanya dan kembali menghajar Reno. Pukulan tongkat baseball mendarat ke telinganya dan kembali membuatnya tumbang. Saat melihat dua musuhnya tak berdaya, Arya melihat ke arah Leo, namun apa daya, ternyata Leo sudah kabur, ia terlihat berlari tunggang langgang keluar dari pintu gerbang sekolah, entah kemana.

Dua orang yang tadi duduk jauh dari musuh-musuhnya hanya terdiam melihat adegan perkelahian yang begitu seru. Salah seorang dari mereka merekamnya. “Woooiiii, bangsaaat looo”, tiba-tiba datang segerombolan orang, masuk ke dalam halaman depan sekolah melalui pintu gerbang. Ternyata mereka adalah teman-teman Leo. “Lepas gaak haaah? Lepaaas”, teriak mereka menyuruh Arya melepas tongkat baseball itu.

Namun karena merasa sudah terdesak, Arya tak mau melepasnya, bahkan ia memasang kuda-kuda bersiap-siap menghajar mereka semua. “Wooooiii berhentiii”, kata seseorang berteriak dari dalam gedung sekolah. Ternyata ia adalah security sekolah yang berlari mendekati Arya. Tapi orang-orang tadi seolah-olah tak peduli dan terus melangkah mendekati Arya, ingin mengeroyoknya. Lalu datanglah 2 orang security yang juga dari dalam sekolah, mencoba menenangkan keadaan. “Woooiii stoooop, siapa yang berani gerak gw hajar”, tiba-tiba ada seseorang berbadan tegap berpakaian tentara masuk ke halaman depan sekolah, ia berteriak mengancam. “Aryaaaa lo gak apa-apa?”, tiba-tiba Dira berlari sambil memeluk lengan Arya dan mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh darah.

“Haaah, kamu kok bisa di sini?”, tanya Arya, “Iya, firasat gw khawatir banget, pasti lo bakalan balik ke sekolah, dan ternyata bener”, jawab Dira, “Itu siapa?”, tanya Arya kembali sambil menunjuk ke arah seseorang berpakaian tentara tadi, “Dia tetangga gw”, kata Dira. Melihat ada 3 orang security dan seorang tentara akhirnya orang-orang tadi mengurungkan niatnya, dan satu persatu berjalan keluar termasuk Leo meninggalkan Dennis dan Reno yang masih tersungkur kesakitan.

Reno dan Dennis secara perlahan mulai bangun, mereka berjalan sempoyongan menuju motor mereka. “Ehh obatin dulu luka lo”, kata salah seorang security. Akhirnya tentara tadi pergi menggunakan sepeda motor, sementara itu Dira masih diam menunggui Arya sambil berkali-kali mengusap kepalanya yang dipenuhi oleh darah segar, “Ke rumah sakit yuk”, kata Dira kepada Arya.

PUKUL 8 LEWAT 22 MALAM

“Kenapa sih lo balik lagi?”, tanya Dira yang sedang duduk di sofa ruang tengah Apartment Arya sambil mengelus-elus bekas jahitan di kepala Arya. “Awwww”, kata Arya sedikit menjerit, “Ehhh maaf-maaf”, kata Dira, “Hehehe becanda kok”, kata Arya sambil tertawa, “Ihhh lhoo jahat banget sih, gw khawatir tau”, kata Dira sambil mencoba memukul dada Arya. Arya secara tiba-tiba mengelak dengan cara memundurkan badannya hingga akhirnya Dira kehilangan keseimbangan akibat tangannya tak mampu bertumpu pada dada Arya dan ia pun terjatuh. Tubuh Dira menghimpit badan Arya yang juga terjatuh akibat menahan berat badan Dira.

Entah mengapa, mereka berdua tak ingin berusaha untuk membenarkan posisi mereka, namun mereka seolah-olah menikmati apa yang terjadi saat ini. Dira menatap mata Arya yang sedang ia tindih itu. Mata mereka bertemu, wajah mereka begitu dekat, hingga nafas keduanya saling menyatu, terhisap masuk ke dalam hidung masing-masing, menghasilkan aroma yang menumbuhkan nafsu. Dira menatap lembut ke Arya, dan tiba-tiba ia memejamkan mata kemudian terus mendekatkan wajahnya dan akhirnya, kecupan hangat hadir di bibir Arya.

Arya pun membalas kecupan itu, bibir mereka saling bersentuhan, menghasilkan kehangatan dan mampu memacu degub jantung keduanya. Sedikit demi sedikit, bibir keduanya saling menggesek satu sama lain, kelembutan yang begitu hangat hingga akhinya Dira lah yang duluan membuka mulut, memberi jalan pada lidah yang ingin ikut bermain, menikmati kehangatan suasana. Bukan cowok namanya jika tidak mampu menyambut kelembutan permainan lidah dari seorang gadis cantik. Hanya butuh sepersekian detik bagi Arya untuk berpikir, apakah ia harus menyambut jilatan manja dari gadis yang sedang menindihnya itu.

Lidah mereka pun saling melilit, kehangatan air liur terasa membasahi setiap sisi rongga mulut keduanya. membasahi langit-langit pasangannya hingga beradu paksa, saling mendorong menggunakan lidah. “Mmmpphhh, mmmhhhh”, Dira melenguh menikmati cumbuan hangat bibirnya. “Mmmhhh, ehhhhh, maaf”, Arya yang awalnya menikmati, tiba-tiba mendorong tubuh Dira, “Maaf, maafin aku”, kata Arya. Mendengar hal itu Dira merasa sangat kecewa dan akhirnya membenarkan posisi duduknya, “Ehh maaf maaf, aku khilaf, maaf ya”, kata Dira kembali. Keduanya pun salah tingkah. Sempat terdiam beberapa saat, hingga akhirnya, “Eh aku balik ya”, kata Dira, “Aku anter”, kata Arya, “Jangan, aku pake taksi online, byeee”, kata Dira yang kemudian berdiri sambil berjalan ke arah pintu keluar. Ia seakan-akan begitu malu dengan perbuatannya tadi.

Dira berjalan membuka pintu, “Angel ntar lagi datang”, kata Dira yang kemudian menutup pintu Apartment Arya. Ia hanya terdiam melihat Dira yang berlalu pergi tanpa mampu berkata apapun karena baru saja ia mendapatkan perlakuan yang begitu hangat, manja dan romantis dari Dira sebelum Arya ingat bahwa ia telah jatuh cinta pada Angel, sahabatnya Dira.

PUKUL 9 LEWAT 11 MALAM

Ting tong, suara bel berbunyi, Arya pun berjalan dan kemudian membuka pintu, “Aryaaaa, kamu kenapaaa?”, ternyata itu adalah Angel yang secara tiba-tiba menubruk tubuh Arya, memeluknya begitu erat, merasa sangat khawatir. “Udah gpp kok, kamu tau dari mana?”, tanya Arya, “Dira ngasi tau aku, aku khawatir banget dari tadi aku hubungin kamu tapi gak aktif”, kata Angel.

Keduanya pun masuk ke dalam apartment. Arya menutup pintu lalu berjalan menuju sofa. Arya merebahkan dirinya di lengan Angel yang sudah duduk terlebih dahulu. Angel pun merentangkan tangannya, membenarkan posisi Arya dan kemudian merangkulnya. Posisi Arya kini tiduran di dada Angel, sementara itu Angel merangkulnya. Arya begitu bersikap manja pada Angel.

“Kamu tu nakal, udah dikasi tau jangan diladeni, malah berantem, huhhh”, kata Angel begitu kesal. Tapi Arya seolah-olah tak mendengarkan perkataan Angel, malah ia begitu menikmati ndusel-ndusel di dada Angel yang kenyal. “Ihhh dikasi tau kok diem aja sih”, kata Angel kembali, tapi Arya tetap saja diam, ia makin menekan wajahnya ke dada Angel, “Sayaaaang, ihh kamu tuh ya, nakal banget sih”, kata Angel agak sedikit keras. Tapi lagi dan lagi, Arya hanya diam dan kali ini ia mulai meremas payudara Angel. “Tuh kan, dikasi tau malah remes-remes dada”, kata Angel sambil tersenyum melihat tingkah laku Arya.

“Bukaaa”, kata Arya sambil menaikkan dress yang dikenakan oleh Angel, “Ihh jangan nakal”, jawab Angel, “Bukaaa”, kata Arya kembali, “Buka aja sendiri”, jawab Angel dengan suara yang sedikit menggoda.

DI SEBUAH TAMAN

Dira berjalan seorang diri, tampak air mata mulai menetes membasahi pipinya. Hatinya begitu hancur, bukan karena rasa malu akibat apa yang ia lakukan kepada Arya tadi, melainkan ia harus menerima kenyataan, bahwa ia belum bisa mengikhlaskan lelaki yang ia cintai itu. Lelaki yang dikenalnya hanya beberapa saat namun sudah bisa menyita perhatian dan mengambil separuh dari hatinya. Cinta memang punya banyak cara untuk menemukan bagiannya.

BERSAMBUNG

Reach what you love, and love what you reach!

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!