AyanaStory – Tak Ada Kata Menyerah – Part 2

No comment 2240 views

“Aduuuuh kaaak, kalo kyk gini terus bisa sakit aku kak, ini banyak banget yang harus diketik”, kata Stefi protes melihat tumpukan kertas yang berisi daftar nama-nama perusahaan lengkap dengan e-mail dan juga contact person yang harus disalin ke dalam laptop. “Sabar dek, ntar kakak beliin HP baru deh”, jawab Dony yang juga sibuk mengerjakan beberapa penawaran. “Seharusnya kakak udah butuh asisten nih”, lagi-lagi Stefi protes, menggumam sambil mengetik, “Iya dek, mulai bulan depan kakak cari asisten deh buat bantu kakak”, kata Dony kembali.

“Dek, suatu saat kakak bakalan punya kantor sendiri, usaha kakak akan jadi besar”, kata Dony begitu semangat. Walaupun itu baru sebatas mimpi, tetapi jalan menuju kesana sudah mulai terlihat. “Iya kak, tetep semangat ya, aku selalu ada di belakang kakak, selalu dukung kakak”, jawab adiknya yang selalu memberi semangat.

Itulah sekelumit cerita ketika usaha yang dirintis oleh Dony mulai membuahkan hasil. Kebanjiran order dan kewalahan dengan deadline. Namun, Dony sejak awal adalah orang yang bertanggung jawab, orang yang selalu tepat waktu dan juga optimis serta selalu berpikir positif. Orderan demi orderan terus masuk, penghasilan demi penghasilan terus bertambah, hingga suatu saat ia berani mengambil keputusan yang begitu mengagetkan.

“Ibu, Ayah, mulai bulan depan, biaya kuliah Stefi, Dony yang tanggung, Ibu dan Ayah gak perlu pikirin itu lagi”, kata Dony melalui video call yang kedua orang tuanya terharu, menitikkan air mata dan bersyukur. Walaupun mereka tidak tau pekerjaan anaknya, akan tetapi mereka begitu percaya bahwa anak-anaknya adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab, sehingga tidak terpikirkan oleh keduanya bahwa anak-anak mereka akan berbuat macam-macam. Mungkin sifat inilah yang menurun ke Dony yang selalu berpikiran positif.

Penawaran demi penawaran telah dikirim, deadline telah dikerjakan tepat waktu, testimoni positif mengalir masuk melalui HP dan juga E-Mail. Tak lupa, setiap pekerjaan yang diselesaikan selalu diakhiri dengan rasa syukur, senyuman dan pelukan hangat dari Stefi yang selalu menyemangati kakaknya.

Waktu terus berlalu, teriknya matahari berubah menjadi senja yang selalu dirindukan. Senyuman hangat dari Stefi seolah menjadi penyemangat saat pergantian waktu. Sinar mentari selalu dinikmati bersama, di atas balkon rumah sewaan yang telah mereka tempati 4 bulan terakhir. Ya, roda kehidupan terus berputar, walaupun tahun lalu ia ditolak masuk kerja, Dony harus berjuang hidup di tengah kerasnya Ibu Kota. Terkadang meskipun terhalang awan, tak pernah ada kata untuk menyerah. Sinar mentari yang engkau dambakan, suatu saat sampai padamu.

2 Tahun Kemudian

“Kak, kalo menurut aku sih sepertinya Lusi bagus sih, CV nya rapi, tutur bahasanya bagus, attitudenya juga baik, yaaa kalo menurutku dia pantas kerja di kantor kita”, kata Stefi sambil menunjukkan berkas lamaran serta hasil wawancara salah seorang pelamar kepada Dony. “Hmmm, pokoknya pilih yang terbaik aja ya Dek, oh iya ntar sore kakak ada meeting di PIK, ntar urusan ama si Abdul tolong kamu yang selesaikan ya”, kata Dony kepada adiknya. Stefi pun keluar dari ruangan kakaknya.

Hmmmm … Dony sempat menghela nafas begitu dalam, menatap ke luar jendela kemudian tersenyum. Sebuah mobil Fortuner terparkir di depan pintu masuk kantornya, dan itu adalah mobil impiannya yang akhirnya dapat diwujudkan tahun lalu. Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan. Usaha keras itu tak akan mengkhianati.

Detik berganti menjadi jam, pagi yang cerah berganti menjadi siang yang terik. Berbagai kebutuhan meeting dan presentasi pun telah matang dipersiapkan. Dony begitu sibuk menata meja kerjanya, memasukkan Macbook serta berbagai peralatan meeting lainnya ke dalam sebuah tas laptop berukuran sedikit lebih besar. Tak lupa ia bercermin, memperbaiki kerah bajunya kemudian menyemprotkan parfum pada leher dan kemudian dadanya, lalu melangkah keluar dari ruangannya.

Dony berjalan menuju parkiran mobilnya, namun ia terhenti dan kemudian membuka pintu ruangan kerja adiknya. Kreeeekkk … “Dek, kakak jalan dulu ya, ingat Abdul”, kata Dony, Stefi menjawabnya dengan anggukan kepala, “Sendirian kak?”, tanya Stefi, “Iya”, jawab Dony.

Kali ini Dony adalah pribadi yang elegant, walaupun kesan kesederhanaan tetap melekat pada dirinya, namun ia selalu mengedepankan soal penampilan. Baginya, sebuah pepatah yang mengatakan “Don’t judge a book by it’s cover”, tidak berlaku untuknya, karena kesan pertama selalu dilihat dari penampilan.

Sebuah lagu menemani perjalanannya ke sebuah Mall tempatnya janjian dengan salah seorang client. Seorang pengusaha besar yang ingin menggunakan jasa perusahaan Dony. Ya, perusahaan Dony kini mulai dikenal sebagai salah satu perusahaan IT dengan kinerja yang cukup bagus.

Brummmm … Tak terasa ia pun tiba di parkiran mall yang dituju. Dony berjalan dengan tegap, sisiran yang rapi, pakaian kemeja berwarna abu rokok yang begitu rapi juga dengan celana chino berwarna krem serta sepatu pantofel hitam. Kesan seorang pengusaha muda pun langsung tampak pada dirinya, hal itu dibuktikan dengan banyaknya sales-sales property yang memberinya brosur. Ia melangkah dengan pandangan lurus ke depan, melangkah dengan pasti seperti tanpa ada yang mampu menghalanginya. Namun fokusnya berubah, konsentrasinya hilang, pandangannya tak lagi lurus ke depan, namun menatap ke seorang wanita yang sedang mengenakan kemeja berwarna putih dibalut dengan jas hitam serta rok span se atas lutut yang juga berwarna hitam. Rambutnya pendek sebahu dengan kacamata transparant dan begitu fokus ke depan. Ia melangkah berlawanan arah dengan Dony. Pandangan Dony beralih ke sosok wanita cantik tersebut sampai-sampai ia harus memutar kepalanya hingga akhirnya, Bruuukkk … “Awwwww”, “Ehh maaf-maaf”, tanpa sengaja Dony menabrak seorang sales alat fitness yang sedang berdiri ke arah yang berlainan dengan Dony.

Dony pun harus meminta maaf, namun suara teriakan dari sales tersebut sempat menyita perhatian beberapa orang yang sedang berada di dekatnya, termasuk … ya, wanita tadi. Wanita itu menoleh sesaat, kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ia terlihat menahan ketawa karena ia sadar, kejadian itu disebabkan oleh seorang laki-laki yang tak fokus karena memperhatikannya.

Huuuftttt… Dony pun menghela nafas kembali, merapihkan kemeja yang ia kenakan, kemudian berdiri tegak kembali, walaupun masih diselimuti oleh rasa malu, ia kembali melangkah dengan tegap.

1 JAM LEWAT 20 MENIT KEMUDIAN

“Oke, terima kasih, pada dasarnya, saya tertarik, tapi untuk kelanjutannya, ntar manajer marketingku yang akan kontak ke sampean ya”, kata client yang ditemui oleh Dony. Presentasi telah usai, tampak Dony begitu sumringah karena presentasi yang ia lakukan tanpa ada cela sedikitpun, dan tanggapan dari client yang juga baik. Mereka pun bersalaman dan saling berpamitan. Setelah itu mereka berpencar, Dony terlihat berjalan ke sisi yang berlawanan dengan kliennya. Ia menenteng tas yang berisi macbook dan beberapa lembar proposal copian. Langkahnya agak sedikit lebih cepat. Berjalan dengan pasti tanpa tujuan, hingga langkahnya pun terhenti, karena sebuah pemandangan yang sangat indah.

Sebuah siluet yang begitu manis, dihasilkan oleh lekukan tubuh seorang wanita yang sedang duduk seorang diri menatap keluar jendela, menikmati indahnya cahaya jingga dari lukisan senja di langit ufuk Barat. Seruputan secangkir kopi panas yang menempel di bibirnya yang tipis. Ohhh, betapa indahnya pemandangan itu.

Helaan nafas yang terdengar cukup sayu dari wanita itu kala Dony mulai mendekatinya. Suara nafas menyiratkan kekagumannya akan indahnya langit mentari senja.

“Ehm … Senja terlalu indah untuk dinikmati seorang diri”, kata Dony yang membuyarkan konsentrasi wanita itu terhadap lukisan langit hasil dari Tangan Tuhan tersebut. “Boleh duduk di sini?”, tanya Dony sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sisi wanita itu. Sebuah anggukan dari wanita itu menandakan bahwa ia setuju. “Aku Dony”, sambungnya kembali sambil menyodorkan tangan, “Hmmm … Ayana”, balas wanita tersebut sambil menyalami Dony dan keduanya pun tersenyum tanda perkenalan.

“Aku tau kamu Bu Ayana”, kata Dony sambil tersenyum dan menatap ke indahnya langit mentari senja. “Hmmm … Aku udah peringatkan kamu, jangan panggil aku Ibu”, kata Ayana sambil menunjukkan muka kesel. “Ohh, ternyata kamu masih inget aku ya, hehee”, kata Dony kembali, “Ihh ge er banget sih, banyak yang aku peringatkan jangan manggil ibu, bukan cuma kamu aja”, jawab Ayana masih dengan wajah yang kesel. “Dengan begitu aku jadi tau, kalo kamu belum menikah, berarti jomblo nih? hehehe”, kata Dony sambil cengengesan dan mulai menatap wajah Ayana, “Ternyata, kamu tuh tetep aja ya suka nge gombal”, sindir Ayana kembali, “Hahaha, ketauan, Mbak Ayana masih inget aku”, kata Dony sambil tertawa, “Tadi Bu, sekarang Mbak, udah panggil Ayana aja, sok muda kamu”, kata Ayana begitu ketus, “Btw, tadi kamu kok nabrak mbak-mbak sales ya?”, tanya Ayana seolah-olah menyindir Dony. Dony hanya tersenyum sambil memalingkan muka karena ia malu dengan kejadian tadi.

Tak terasa, suasana pun cair dengan begitu cepatnya. Cubitan pelan di lengan Dony menjadi pertanda bahwa keduanya sudah akrab, sama seperti waktu pertama kali bertemu dulu. “Dasar ya, kamu tu sekarang udah jadi Bos tapi masih aja sering gombal, huuhhh sebel tau”, kata Ayana, disambut oleh tawa oleh Dony.

Obrolan demi obrolan pun terjadi, tanpa terasa cahaya jingga yang sedari tadi mengintip dari kejauhan kini perlahan makin menghilang, berganti menjadi langit gelap yang dihiasi oleh taburan cahaya bintang yang berseri.

Ayana: Tuh kan, coba kalo dulu aku terima, sekarang gak jadi bos donk, hehehe
Dony: Yahhh ngeles aja, aku sempet sakit ati tau, kok bisa cowok setampan gini ditolak, huhhhh
Ayana: Ihhh pede amat sih jadi cowok, btw, emang tega sakit ati ama cewek imut kayak aku ini?
Dony: Gak tega sih, hmmm, emang dulu pertimbangannya apa sih kok aku sampe ditolak?
Ayana: Hmmmm … Sebenarnya gak ditolak sih, tapi …..

Belum saja Ayana selesai bicara, “Wah aku gak ditolak nih? Berarti aku diterima ya? Yesss”, kata Dony sambil memberikan jari kelingkingnya ke Ayana, “Haah, ini maksudnya apaan? Diterima apa? Ihhh gak nyambung”, kata Ayana sambil menunjukkan wajah kebingungan. “Gak ada, becanda kok, lagian siapa sih aku yang cuma bisa berharap”, kata Dony kembali, “Duh, makin lama makin gak nyambung”, jawab Ayana, dan keduanya pun tertawa.

“Btw, kamu kan udah mapan, kok belum nikah?”, tanya Ayana sambil menyeruput secangkir kopi yang merupakan seruputan terakhir itu, “Hmmm, gimana ya, aku kan lagi nunggu Ayana, eh ternyata …..”, kriiiiingggg, belum selesai ngomong tiba-tiba HP Ayana berdering, ia pun berdiri dari kursinya dan agak sedikit menjauh kemudian mengangkat HPnya.

Dony tak henti-hentinya memandang Ayana yang melangkah ke sana kemari. Raut wajahnya berubah, “Kenapa sih marah-marah terus?”, “Iya iya, maaf”, “Udah donk, jangan marah melulu”, itulah beberapa penggalan kata yang terlontar dari mulut Ayana dan terdengar oleh Dony. Entah siapa yang menelpon, namun hal itu benar-benar menyita perhatian Dony. Ia begitu penasaran karena penelpon itu berhasil membuat Ayana berubah, ia terlihat kehilangan mood baiknya dan terlihat lebih sering cemberut. “Udah deh”, kata Ayana begitu ketus dan kemudian mematikan HPnya.

Ayana pun kembali melangkah menuju kursi yang ia duduki tadi, namun kali ini untuk mengambil tas yang diletakkan di atas meja. “Aku balik dulu ya”, kata Ayana dengan wajah yang masih cemberut. Tanpa bersalaman, tanpa ucapan perpisahan, tanpa senyuman hangat Ayana berjalan meninggalkan Dony yang masih bingung dengan perubahan sikap Ayana. Ia masih terdiam melihat tingkah laku Ayana yang baru saja meninggalkan dirinya hingga makin lama ia pun tersadar bahwa kini Ayana telah pergi meninggalkan dirinya tanpa meninggalkan nomor HP. “Hmmmmmm ….”, Dony kembali menghela nafas, kali ini ia coba menenangkan diri dari kekecewaan terhadap dirinya sendiri.

PUKUL 10 LEWAT 35 MALAM

“Udah deh kak, jangan omongin si Ayana itu lagi, males”, kata Stefi dengan nada kesal, “Gak boleh gitu dek, toh bisa jadi itu bukan keputusan dia dulu”, kata Dony mencoba untuk meredam emosi Stefi. Ya, 3 tahun telah berlalu, namun Stefi masih saja emosi karena ia menganggap Ayana adalah orang yang bertanggungjawab yang membuat kakaknya tidak diterima kerja.

Stefi pun masuk ke dalam kamarnya masih dengan wajah yang cemberut, sementara itu Dony duduk sambil selonjoran di ruang tengah. Ia sedang menyaksikan Televisi, namun pikirannya melayang, membayangkan kejadian tadi sore. Walaupun hanyalah pertemuan yang singkat dengan Ayana, namun kejadian itu sangatlah spesial bagi Dony. Berkali-kali Dony tersenyum namun akhirnya harus manyun juga karena pertemuannya dengan Ayana diakhiri dengan suasana yang tidak asik, dan yang lebih parah, tanpa ada nomor kontak.

“Huhh, sial banget, trus aku harus kontak kemana ya? Masak aku ke kantornya, gengsi ahhh”, kata Dony dalam hati. “Ah bodoamat, ngapain juga aku bayangin Ayana terus, masih banyak kerjaan yang belum selesai”, kata Dony menggerutu dalam hati sambil kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke meja makan, ia mengambil secangkir teh panas yang sudah agak dingin buatan Stefi tadi lalu kembali ke kamarnya.

Kriiinggg, sebuah telepon mengaburkan konsentrasi Dony menyeruput teh hangat itu.

Dony: Ya Halo
Hendro: Selamat malam, mohon maaf Mas Dony, besok saya jemput jam 4 Subuh ya
Dony: Oh iya, untung kamu ingetin, makasi ya
Hendro: Iya mas, sama-sama
Dony: Oke deh, sampe ketemu besok ya
Hendro: Siap mas

“Hmmmm … Untung aja Hendro telpon aku”, kata Dony dalam hatinya. Hendro adalah seseorang yang pernah ditemuinya beberapa tahun lalu, dan kini ia menjadi sopir pribadi Dony.

Kreeeekkk, suara pintu yang terbuka, ternyata Stefi keluar dari kamarnya, “Kak, inget, besok Subuh kakak harus berangkat ke Surabaya buat Pitching lo”, kata Stefi mengingatkan kakaknya. “Iya dek, tadi Hendro juga udah nelpon kakak, kamu tidur gih biar bisa bangunin kakak, heheee”, kata Dony sambil tersenyum, “Ih dasar kakak, ya udah, met bobo'”, balas Stefi yang kemudian menutup pintu kamarnya kembali.

Dony pun kembali menuju meja makan lalu menghabiskan teh hangat buatan adiknya dengan beberapa kali teguk, kemudian masuk menuju kamarnya.

PUKUL 3 LEWAT 35 DINI HARI

“Laptop, Proposal, Baju, Celana, Hmmmm … Udah lengkap nih kak”, kata Stefi coba memeriksa tas jinjing milik Dony, sementara itu Dony terlihat begitu sibuk mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu kemudian mulai mengenakan pakaian. “Dek tolong telpon Hendro donk, jangan sampe telat jemput kakak”, Pinta Dony kepada adiknya, “Tuh Hendro udah di depan”, jawab Stefi.

Mereka berdua terlihat begitu sibuk, Stefi benar-benar menjadi seorang adik yang begitu sayang kepada kakaknya, begitu juga Dony, menjadi seorang kakak yang bertanggung jawab terhadap adiknya. “Ati-ati ya kak, daaa”, kata Stefi sambil melambaikan tangan ketika Hendro mulai menginjak pedal gas mengantar kakaknya menuju bandara.

Belakangan kamu
tak terlihat di tempat ini
Ku jadi khawatir
Kuingat kembali senyumanmu itu yang
lebih cerah dari siapa pun
Aku dengar kamu
pindah ke suatu kota yang sangat jauh
Ku ingin pada saat terakhir
bisa ucapkan selamat tinggal

Dirimu mengendarai motor
di tengah sang angin
Ke manakah engkau hendak menuju pergi
Apakah langit di sana cerah?

Sebuah lagu menemani Hendro dan Dony. Hendro tampak begitu bersemangat mengikuti lagu tersebut tanpa ada nada dan lirik yang miss sedikitpun. Rupanya ia begitu menghayati setiap lirik yang terucap dari para penyanyi. “Pasti JKT48 ya?”, tanya Dony, “Iya mas, heheee, Legend”, jawab Hendro. “Aku bangga mas, pernah jadi salah satu fans mereka, pernah jadi bagian dari pernikahan salah satu member mereka, pernah jadi saksi kisah cinta salah member mereka”, kata Hendro kembali dengan mata mulai berkaca-kaca. “Mulai deh, kalo cerita tentang JKT48 pasti jadi sedih”, kata Dony, “Iya mas, maaf hehehe, kenangan yang begitu indah, sayang mereka kini tinggal nama”, kata Hendro kembali.

Terlalu panjang cerita yang diungkapkan oleh Hendro. Dony tak mengerti sedikitpun apa yang ia katakan, namun yang pasti cerita itu sudah pernah didengarnya, tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Ya, Dony termasuk pendengar yang baik, ia dicintai oleh para karyawannya, termasuk Hendro.

“Selamat jalan ya Pak, hati-hati”, kata Hendro sambil tersenyum lalu menyerahkan tas jinjing milik Dony. Dony pun berjalan menuju pintu keberangkatan. Udara pagi yang begitu sejuk dan segar, kerumunan orang sudah mengantri untuk beraktifitas. Kehidupan yang sangat normal di Bandara tersibuk se negara ini.

Dony pun telah selesai mengikuti prosedur pemeriksaan tas dan kemudian mulai mengantri di deretan meja Check in. Ada banyak orang yang mengantri di deretan tersebut dan tiba-tiba mata Dony tertuju pada seorang wanita yang berdiri paling depan. Ya wanita itu mengenakan Jaket dan tampak begitu mandiri. Ia terlihat sendirian hingga akhirnya Dony pun tersenyum. Ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaan di dalam dirinya dan kemudian melangkah menerobos barisan antrian. Sebuah perilaku yang sebenarnya tak pantas namun tetap dilakukan oleh Dony hingga akhirnya ia berdiri tepat di samping wanita tersebut yang kini sedang mengurus boarding pass untuk penerbangannya.

“Kebetulan yang terus berulang adalah pertanda baik”, kata Dony berbisik di telinga wanita itu, “Haaah Dony?”, kata Ayana, lalu Dony pun menyerahkan tiketnya ke petugas sambil request agar bisa mendapatkan tempat duduk satu deret dengan Ayana. “Eh, kata-kata itu, kamu kutip dari mana?”, tanya Ayana yang begitu bingung. Rupanya Ayana bingung dengan kehadiran Dony sekaligus bingung dengan kutipan kata yang diucapkannya tadi. “Hmmm … itu dari lirik lagu yang sering diputar oleh sopirku”, jawab Dony sambil tersenyum.

“Ini mas, mbak, makasi”, kata petugas Check In sambil menyerahkan dua lembar boarding pass kepada Dony dan Ayana. Keduanya pun berjalan, “Kok kebetulan banget ya?”, tanya Ayana, “Ya, ini pertanda baik”, jawab Dony sambil tersenyum. Keduanya pun melangkah beriringan.

Entah sampai kapan kebetulan seperti ini akan terus berlanjut. Apakah ini akibat semesta yang mendukung perasaan gundah gulana dari seorang Dony semalam tadi? Ataukah memang sebatas kebetulan yang tak bisa dinalar oleh akal pikiran? Nantikan kisah selanjutnya.

BERSAMBUNG

Reach what you love, and love what you reach!

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!