AyanaStory – Tak Ada Kata Menyerah – Part 3

No comment 1646 views

Lautan awan putih yang bergulung, terbentang luas sejauh mata memandang. Deru mesin pesawat yang membuat kursi sedikit bergoyang, sementara itu Ayana tampak sedang sibuk sendiri, membuka lembar demi lembar majalah yang tersedia di bagian belakang kursi pesawat. Sementara itu Dony sibuk menoleh kesana kemari, terkadang ia melihat langit, terkadang ia menoleh menatap wajah samping Ayana.

“Hmmmm ..”, sreeekkk sreeekkk, Ayana menghela nafas sambil terus membolak balikkan lembaran majalah lalu kemudian menutupnya dan meletakkannya di tempat semula. “Ahhh bosennn …”, kata Ayana sambil bersandar, melipat kedua tangannya lalu menoleh ke arah jendela pesawat. Dony pun tak lagi memperhatikan keindahan gulungan awan di atas langit karena di sisinya ada yang lebih indah. “Tuh liat langitnya cerah, jangan liatin aku terus”, kata Ayana yang sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Dony, “Kalo ada yang lebih indah, ngapain harus berpaling?”, tanya Dony dengan senyum simpul yang sedang menggoda, “Udah ahh, aku baca lagi kalo gitu”, kata Ayana sambil memegang majalah yang telah diletakkannya tadi, “Eh.. ehh.. jangan donk”, kata Dony sambil menahan tangan Ayana, mencegahnya mengambil majalah itu.

“Para penumpang sekalian, kita akan segera tiba di Bandara Juanda Surabaya … bla bla bla …”, kata seorang pramugari melalui pengeras suara di pesawat ini. “Yahhhh, cepet banget nyampe, padahal pingin ngobrol”, kata Dony sambil menghembuskan nafas dan ikutan melipat tangan, “Kalo pingin ngobrol ya ngobrol aja, ngapain pake kesel segala?”, tanya Ayana, “Abis dari tadi sibuk sendiri, gak ada kesempatan buat ngobrol”, kata Dony begitu kesal, “Ihh kok ngatur sih? Kan tinggal ngomong aja, pasti aku jawab kok, ya udah ngomong aja, aku dengerin”, kata Ayana kembali, “Udah deh, gak jadi”, kata Dony coba jual mahal, “Ohh, ya udah, aku tidur dulu ya”, kata Ayana yang kemudian menghadap ke depan lalu memejamkan mata.

“Kampret nih cewek, cuek, jutek, dingin, ahhh, awas lo ya”, kata Dony dalam hati. “Btw, kamu belum jawab pertanyaanku, kamu udah punya cowok belum?”, tanya Dony yang mencoba menghilangkan egonya, “Hmmm … tuh kan, makanya jadi cowok tu jangan suka jual mahal hehehe”, kata Ayana menatap wajah Dony sambil tersenyum. “Hmmm … jawab gak ya?”, Ayana balik bertanya, “Jawab donk ahh”, kata Dony sedikit kesal.

Ayana: Emang kalo udah punya kenapa? Kalo belum punya kenapa?
Dony: Ihh tinggal jawab aja kenapa sih? Aku udah tau kok jawabannya, pasti udah punya
Ayana: Sok tau banget, rahasia
Dony: Hmmmm … Ya udah deh, aku gak bakalan nanya lagi, maaf
Ayana: Mmmm … sebenarnya, aku tu …

Braaaakkkkk,, “Kyaaaaaaaa aaarrrgghhhhh”, “Turbulence please”, suara teriakan dari Ayana dan juga para penumpang lainnya cukup memekikkan telinga. Telah terjadi turbulensi singkat namun cukup mengagetkan. Ayana menggenggam erat tangan Dony, wajahnya dibenamkan di lengan bagian belakang Dony. Entah berapa lama Ayana seperti itu hingga akhirnya ia pun membenarkan posisi duduknya kembali. Dony pun begitu refleks menggenggam erat tangan Ayana, karena sebagai manusia biasa, Dony pun terkejut dengan turbulensi yang terjadi barusan.

“Huuuffftttt, kaget banget, ya ampun, untung gak pingsan aku”, kata Ayana sambil menghela nafas yang begitu dalam, “Kamu gpp kan?”, tanya Dony, “Gpp kok”, jawab Ayana. “Ehm …”, Ayana mendehem sambil menatap wajah Dony, tatapannya pun dibalas oleh Dony dengan senyuman, “Ehm …”, Ayana kembali mendehem sambil melirik ke arah tangannya, “Ehh sorry sorry”, kata Dony kemudian melepas genggaman tangannya. Turbulensi sesaat yang mengaburkan segala konsentrasi. Niat untuk bertanya pun jadi hilang, hingga akhirnya sang pilot dan pramugari memberi pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat.

Suara deru pesawat makin keras terdengar. Deretan rumah, jalan serta pepohonan yang awalnya tampak seperti miniatur makin lama makin membesar, makin mendekat hingga akhirnya pesawat mendarat dengan mulus.

15 MENIT KEMUDIAN

“Eh minta nomernya donk, siapa tau kalo gak sibuk kita bisa dinner bareng nih”, kata Dony kepada Ayana yang melangkah lebih cepat darinya, “Hmmm … buat apa? Mau gombalin aku ya?”, kata Ayana, “Kok selalu negatif thinking ama aku sih? Apa salahnya aku mencoba deketin kamu”, kata Dony tampak begitu kesal, “Iya iya jangan marah donk, nih”, kata Ayana yang menghentikan langkahnya lalu menyodorkan kartu nama kepada Dony, “Gitu donk …”, kata Dony sambil tersenyum, “Eh .. Makan dulu yuk, aku traktir”, kata Dony kembali, “Gak usah, aku mau cepet …”, jawab Ayana sambil melanjutkan langkahnya, “Huuffttt … jutek banget sih jadi cewek”, kata Dony dengan nada yang cukup rendah tapi sambil menghela nafas karena kesal.

Niat dan mood untuk makan pun hilang, Dony berjalan keluar dari ruang kedatangan menuju ruang penjemputan, tidak lupa ia membeli sepotong roti dan sebotol air mineral untuk mengisi perutnya. Ia berjalan menuju kerumunan para sopir taksi. Tak lama kemudian langkahnya pun terhenti, ia melihat Ayana sedang berdiri sambil berkali-kali melihat jam tangan seperti sedang menunggu seseorang. “Hmmmm .. hampiri gak ya?”, hati Dony penuh tanya, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk mendekatinya.

“Eh, belum dijemput?”, tanya Dony, “Belum nih, apa aku naik taksi aja ya?”, Ayana balik bertanya, “Emang mau kemana sih?”, kata Dony, “Mau ke hotel”, jawab Ayana, “Hmmm .. hotel apa? Dimana?”, tanya Dony kembali, “Ihh mau tau banget sih”, jawab Ayana sambil memicingkan matanya, “Kalo satu jalur aku mau tawarin barengan pake taksi, ahhh kamu tu gak asik banget sih, ya udah, bye”, kata Dony, kali ini benar-benar kesal. “Kok gitu sih? Aku kan becanda, kok emosi banget?”, tanya Ayana namun dengan nada yang rendah sehingga Dony pun tak mendengarnya. Dony berjalan dengan langkah yang cepat dan wajah yang cemberut penuh emosi, lalu kemudian masuk ke dalam taksi yang dengan sigap berlalu pergi meninggalkan Ayana seorang diri.

Ayana menatap sayu ke arah Dony yang terhalang oleh kaca jendela taksi, Dony dengan suasana hati yang begitu kesal pun menatap ke arah Ayana hingga akhirnya mata mereka pun bertemu. Tampak tatapan yang begitu sayu, tatapan memelas dan tatapan yang begitu …. “Arrrggghhhhh”, tanpa sadar Dony berteriak, “Kenapa mas?”, tanya sopir taksi sambil melihat melalui cermin mobil, “Gak ada Pak, sorry”, jawab Dony. Ia begitu menyesal telah berkata dengan nada yang sedikit keras kepada Ayana.

Entah mengapa Dony begitu gelisah, berkali-kali ia menoleh ke belakang, berharap Ayana mengikutinya. Dony menyesal karena sebagai seorang cowok, tidak sepatutnya ia berlaku seperti itu, seharusnya ia tetap berusaha mendekati Ayana, karena pada dasarnya seorang wanita sangat suka dengan pujian dan perhatian, “Ahhh goblok banget lo Dony”, kata Dony kepada dirinya sendiri.

Taksi melaju kencang, menuju sebuah hotel yang telah dipesan oleh Dony melalui aplikasi pemesanan hotel secara online. Jalanan agak sedikit lengang, entah karena masih pagi atau memang orang-orang malas untuk keluar rumah, padahal ini adalah jam sibuk. Huuufttttt, helaan nafas ketika taksi yang ditumpangi Dony sudah sampai ditambah dengan rasa penyesalan yang sedari tadi tetap hinggap di hatinya.

“Makasi ya mas”, kata sopir taksi sambil menyerahkan 2 lembar uang kertas lalu kemudian mengambil tas jinjing miliknya. “Tunggu sebentar ya mas, kamarnya sedang disiapkan”, kata seorang resepsionis cantik kepada Dony. Ia pun berjalan menuju sebuah sofa, mengambil sebuah koran yang digantung di samping sofa itu lalu merebahkan diri sambil membaca koran hari ini.

Sreeekkk … Sreeeekkk … Sreeekkk, lembaran demi lembaran dibuka dan dibaca oleh Dony. Bruuuukkkk, terdengar suara pintu mobil yang ditutup dengan kencang, “Makasi yaa”, kata seorang wanita, tapi entah itu siapa, Dony tidak mengetahuinya karena posisinya membelakangi tempat turunnya wanita tersebut. Wanita itu mulai berjalan menuju resepsionis, “Haaahhh … Ayana nginep di sini?”, kata Dony dalam hati. Ia pun menutup lembaran-lembaran koran yang sedikit tercecer kemudian meletakkannya di atas meja lalu memperhatikan Ayana. “Brengsek .. tega banget aku ngebentak cewek secantik itu”, kata Dony dalam hatinya kembali.

“Mas, kamarnya udah siap”, kata seorang pelayan hotel, “Tolong masukin tasku ya”, kata Dony membalas pelayan hotel tadi. Ia pun kembali fokus menatap Ayana yang masih berbicara dengan resepsionis. Entah apa yang dibicarakannya, namun akhirnya Ayana pun membalikkan badan, lalu berjalan ke sofa kosong di samping Dony. Perasaan Dony pun menjadi senang, karena Ayana akan duduk di dekatnya kembali. Ayana terus berjalan ke arah sofa tersebut hingga akhirnya mata Ayana dan Dony bertemu. Dony menyambut tatapannya dengan senyum dan membuat Ayana menghentikan langkahnya karena terkejut melihat Dony ternyata satu hotel dengannya.

Namun tiba-tiba senyum bahagia dari Dony berubah seketika, Ayana yang mulanya akan duduk di sofa samping Dony berbalik arah dan menuju ke sofa yang jaraknya agak jauh dengannya. Ia membuang muka dan tak membalas senyum Dony. “Duh, kok gini sih jadinya?”, kata Dony dalam hati, ia merasa tak enak dan kemudian beranjak dari sofanya lalu berjalan menuju tempat Ayana duduk.

Brukkkk … Dony pun duduk di sisi Ayana yang sedang sibuk memainkan HPnya, “Marah ya?”, tanya Dony, “Gak, biasa aja”, jawab Ayana dengan nada yang cukup datar. “Trus, kok gak jadi duduk di deketku tadi?”, tanya Dony kembali, “Ya terserah aku donk, mau duduk dimana aja”, jawab Ayana dengan nada yang ketus. “Hmmm … sabar Don, sabaaarrr”, kata Dony dalam hati sambil menghela nafas, mencoba menenangkan emosinya. “Maafin yang tadi ya, aku emosi”, kata Dony sambil tersenyum ke arah Ayana. Tapi bukannya di jawab, Ayana malah berdiri sambil mengangkat telponnya dan menjauh dari Dony, “Ya elah, bener-bener bikin emosi nih cewek”, kata Dony sambil berjalan mendekati pelayan hotel yang membawa kunci kamarnya tadi. Dony kembali mendekati Ayana, “Duluan …”, kata Dony yang kemudian berlalu menuju ke lift.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa jam demi jam telah terlewatkan. Dony sedang berendam sambil menenangkan pikirannya akibat perlakuan Ayana terhadapnya. Ia pun juga sibuk dengan layar HPnya. Berkali-kali ia mengetik lalu berpikir, “Send gak ya? Send gak?”, ia begitu gundah, begitu gelisah, ia ingin menyapa Ayana melalui chat, tapi di satu sisi, ego menghalanginya untuk melakukan itu.

“Huuuffttt …”, Ayana menghela nafas begitu dalam, punggungnya seolah-olah mengeluarkan asap karena air hangat yang membasahi setiap sisi lekuk tubuhnya. Ayana menuangkan sabun cair di telapak tangannya, kemudian berdiri lalu mulai menyabuni tubuhnya. Leher, kemudian turun ke pangkal dada, menuju ke payudara, tidak luput dari gesekan tangan yang begitu terampil. Perut menuju ke paha hingga selangkangan juga menjadi sasaran utama dari licinnya busa sabun yang menempel di tangannya.

“Tiit tiit”, sebuah notifikasi terdengar di HP Ayana. Setelah membasuh dan melilitkan handuk di tubuhnya, Ayana kembali ke kamar dan kemudian membuka HP yang tergeletak di kasurnya. “Ntar dinner yuk, aku yang traktir”, ternyata sebuah chat dari Dony. Ayana tak segera membalasnya, ia pun segera menuju meja rias dan bercermin melakukan ritual sebagai seorang wanita.

“Kampret, di read doank, huuhhhh”, kata Dony di dalam hatinya, ia begitu kesal karena hampir 30 menit tak ada balasan dari Ayana. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya, perut yang sudah mulai keroncongan pun tak dipedulikannya. Dony pun mematikan HP dan kemudian menChargenya.

Waktu terus berlalu, malam ini begitu sendu, harapan untuk dinner bareng Ayana pupus sudah. Jangankan mengiyakan, membalas pun tidak dan akhirnya Dony pun memutuskan untuk makan malam sendiri. Ia bergegas keluar kamar menuju loby hotel dan bertanya pada receptionist tempat makan terdekat. Ia pun berjalan menuju tempat itu, tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh juga.

Malam ini bintang tidak begitu nampak, kalah dengan cahaya lampu di kota Surabaya. Dony memandangi langit sambil menyeruput kopi susu khas warung pinggir jalan. Ia seperti menikmati kehidupannya di masa lalu. Senyum sempat terkembang ketika terlintas di ingatannya senyum Bu Ayana saat terus-terusan menerima gombalan darinya. Ya, entah mengapa berkali-kali ia merasa kecewa tapi wajah cantiknya selalu saja susah untuk dilupakan.

“Hmmmm, Stefi lagi ngapain yah? Telpon ah”, kata Dony dalam hatinya mengingat adik kesayangannya. Ia kemudian merogoh sakunya untuk mengambil HP. “Lohhh, HP ku mana?”, tanya Dony kebingungan, kemudian ia celingak-celinguk melihat ke sana kemari, “Mas ada liat HP gak?”, tanya Dony kepada pemilik warung, “Gak ada Bang, ketinggalan kali”, kata pemilik warung tersebut, “Waduh, ia, HPku kan aku charge”, kata Dony dalam hati, sambil menghela nafas karena merasa lega HP nya tidak hilang.

Ia pun melihat jam tangan yang selalu dikenakannya di tangan kanan. “Wah busyeeet, udah jam 12 aja”, kata Dony dan kemudian menyeruput tetesan terakhir kopi susu itu lalu berpamitan pada pemilik warung. Ia pun berjalan, melangkah dengan kecepatan sedang, karena ia tak sedang buru-buru. Besok jadwal presentasi adalah siang hari. So, malam ini akan panjang.

Dony berjalan dan kedua tangannya berada di dalam saku celana, menghilangkan rasa dingin walaupun sedikit. Berjalan terus hingga akhirnya ia pun tiba di hotel tempatnya menginap. “Selamat malam Bapak”, sapa seorang Security hotel sambil membuang senyuman. Dony pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai dimana kamarnya berada.

“Tiiiing”, pintu lift pun terbuka, Dony kembali melangkah menuju kamarnya. Setiba di kamar, hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil HP yang ia charge sejak tadi, kemudian menyalakannya. Drrrttttt Drrrrtttt Drrrttt “Wowww, ada banyak pesan yang masuk nih”, kata Dony. “Wah 3 panggilan tak terjawab, 1 dari Stefi dan 2 dari Ayana”, kata Dony dalam hatinya. “Hmmmm, Ayana? Ngapain yah?”, tanya Dony kembali, “Ahhh udahlah, gak penting”, kata Dony kemudian melempar HP itu ke atas kasur hotel lalu ia pun ikutan merebahkan dirinya di atas kasur itu.

Malam makin larut, suasana makin hening, keduanya baik Ayana maupun Dony sedang terlena di alam mimpi. Begitu sendu, hingga terbuyar akibat suara alarm yang mendering. Mimpi indah dilalui begitu cepat hingga tak sempat tersimpan di dalam memory dan menjadi cerita di keesokan hari. Kriiiiinggg, “Ahhhhh, ganggu aja”, kata Dony menggerutu sambil menggeliat meregangkan otot-otot di tubuhnya hingga kemudian terbangun lalu mematikan alarm yang berasal dari HPnya.

Rutinitas pagi pun dilakukannya dan tak lupa ia bergegas menuju Restaurant untuk menikmati sarapan yang menjadi fasilitas dari hotel tempatnya menginap. Masih menggunakan kaos berwarna putih dengan celana pendek berwarna putih dan juga sandal hotel yang juga berwarna putih Dony melangkah, menuju deretan meja prasmanan sambil mengambil hidangan lezat yang telah disediakan. Entah berapa jenis makanan yang ia ambil hingga kemudian ia melihat kesana kemari, mencari tempat kosong, dan akhirnya ….

“Ehm … boleh duduk di sini?”, kata Dony kepada Ayana yang secara kebetulan sedang sarapan di waktu yang sama, “Ehhh kamu lagi, huhhh”, kata Ayana sambil membuang muka juteknya, “Ohhh maaf, ya udah”, kata Dony dengan wajah kecewa kemudian berpaling dan mencari meja lain. “Ehhh … becanda ihhh, emosian banget, duduk sini aja”, kata Ayana sambil tersenyum karena berhasil membuat Dony kesal. Dony pun berbalik dan kembali duduk di meja Ayana.

Alunan Music Jazz & Bossa Nova mengiringi dan menemani sarapan mereka. “Mmm … kok bisa barengan terus yah kita”, kata Dony membuka pembicaraan, “Kebetulan aja”, jawab Ayana ketus, “Kebetulan yang terus berulang adalah pertanda baik … Hehehe”, kata Dony kembali dan dijawab oleh senyum oleh Ayana. “Kamu sendiri ada urusan apa di Surabaya?”, tanya Ayana, “Hmmm.. biasa, mencari sesuap nasi, demi masa depan yang lebih cerah, hehehe”, jawab Dony. “Tawa mulu, ditanya serius jawabnya becanda, huhhh, kalo cuma sesuap nih aku suapin”, kata Ayana sambil menyodorkan sendok kosong ke wajah Dony, “Aaaaa … Mau donk”, jawab Dony sambil menganga dan dengan sigap Ayana menarik kembali sendok tersebut sambil tersenyum.

“Kamu sendiri ngapain?”, tanya Dony, “Cieeee sekarang berani bilang kamu yaa, biasanya Bu, Mbak, hehehe”, kata Ayana sambil tersenyum, “Yahhh serba salah, gak pernah bener”, jawab Dony sambil memanyunkan bibirnya. “Aku ada urusan kantor sih”, kata Ayana sambil menyuap nasi goreng sosis yang ada di depannya.

Sarapan pun berlanjut, obrolan-obrolan ringan terus terlontar dari keduanya, menjadikan ketegangan semalam menjadi cair kembali. “Semalem aku mandi, makanya gak bales, aku telpon-telpon juga kamu gak angkat”, kata Ayana setelah ditanya mengapa semalam ia tak membalas chat Dony. “Ya udah, maaf, ntar kalo urusan kantor selesai kita dinner deh”, kata Ayana sambil tersenyum ke arah Dony.

“Ohhhh senyummu, membuat sarapan kali ini menjadi percuma, karena hatiku sudah kenyang oleh kecantikan wajahnya”, kata Dony di dalam hatinya. “Ehhh, kok bengong aja sih? Mau gak?”, tanya Ayana kembali, “Ehh .. mmm .. mmaaa mauu”, jawab Dony sambil terbata-bata. “Ya udah, sarapanku udah abis, aku mau ke kamar, mau mandi dulu, trus kerja”, kata Ayana dan kemudian berdiri, “Ehh iyaa, yuuk, bareng”, jawab Dony, “Enaaak ajaa, huhhh”, kata Ayana dengan ketus sambil berbalik badan dan kemudian berjalan, “Yahhh salah lagi deh, maksudku barengan jalannya, bukan mandinya”, kata Dony sedikit keras sambil mengejar Ayana.

“Kamu di kamar nomor berapa?”, tanya Dony, “Ihhh mau tau aja, ntar malem-malem kamu pasti mau gangguin aku”, kata Ayana sambil melangkah sedikit lebih cepat dari Dony, “Negatif thinking mulu nih cewek”, kata Dony yang kemudian disambut dengan tawa cekikikan oleh Ayana.

Waktu terus berlalu, Dony membuka tas yang ia bawa, melihat-lihat kembali bahan presentasinya nanti. Setelah semua lengkap, ia pun kembali bersandar pada kursi mobil taksi online yang ia pesan tadi dan kemudian menghela nafas begitu dalam.

“Iya dek, doain kakak ya, kamu baik-baik aja kan di sana?”, tanya Dony kepada Stefi, adik perempuan satu-satunya. Percakapan ringan pun dilanjutkan hingga akhirnya sopir taksi online tadi mengatakan bahwa mereka telah tiba di tempat yang dituju. “Huuufttttt”, Dony kembali menghela nafas sebelum masuk ke dalam gedung. Ia sedikit berlari karena ternyata ia sudah terlambat 3 menit dari jadwal yang telah ditentukan.

“Tiiinggg”, lift pun berbunyi, Dony keluar dari pintu lift dan kemudian masuk ke dalam ruangan, “Selamat pagi, saya Dony dari Jakarta”, kata Dony kepada resepsionis di meja depan, “Oh silahkan Pak, sudah ditunggu oleh Pak Amir”, jawab seorang wanita sambil mengantar Dony menuju ke sebuah ruangan. Pak Amir adalah Direktur sebuah perusahaan besar di Surabaya yang juga merupakan calon klien Dony. Namun kali ini ia harus bersaing dengan satu perusahaan dari Jakarta untuk memenangkan pitching kali ini.

“Silahkan masuk Pak”, kata wanita tadi, dan Dony pun tersenyum ke arahnya sambil mengucapkan terima kasih, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan dimana banyak orang sudah duduk di kursi dengan meja bundar dan papan proyektor di depan. Dengan penuh keyakinan, Dony pun mempresentasikan proposal yang telah ia buat. Orang-orang tadi terlihat begitu antusias dengan penjelasan Dony dan tanpa terasa hampir dua jam sudah Dony mempresentasikan proposalnya hingga diakhiri dengan tepuk tangan oleh para peserta rapat.

“Oke Pak Dony, terima kasih banyak atas waktunya hadir di kantor kami, kami mohon tunggu sekitar 1 hari lagi dan kami akan mengumumkan keputusannya, mengingat project ini harus segera dijalankan”, kata salah seorang Direksi. Dony pun mengiyakan dan ia segera keluar ruangan setelah minta ijin dan berpamitan kepada seisi ruangan.

“Huuufffttt, lancar dek presentasinya”, kata Dony kepada Stefi melalui telepon. Ia merasa begitu lega, ia melangkah, berjalan entah kemana. Jantungnya berdegub kencang, karena nilai project ini begitu besar dan sangat penting bagi prestise perusahaan yang ia rintis.

Dony terus melangkah, tanpa tau apa yang ia tuju, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari gedung ini. Betapa terkejutnya Dony hingga ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang wanita cantik sedang meneguk minuman dingin dari sebuah kaleng. Dony sempat tertegun sambil memperhatikan leher wanita tersebut yang begitu putih hingga ia pun menghampirinya. “Sepertinya, kamu sengaja ngikutin aku ya?”, tanya Dony dan membuat Ayana sedikit tersedak akibat terkejut karena secara tiba-tiba Dony ada di dekatnya, “Lohhh, kamu di sini juga? Ngapain?”, tanya Ayana, “Aku abis presentasi, kalo kamu?”, tanya Dony kembali, “Wah sama donk, jangan-jangan? …”, kata Ayana, dan kompak keduanya saling tunjuk dan tersenyum kemudian mengangguk.

Akhirnya mereka berdua tersadar bahwa mereka adalah saingan yang bersaing untuk memenangkan pitching project dari perusahaan itu. Keduanya terus tertawa, karena menyadari bahwa selama ini kebetulan yang terus terjadi adalah karena mereka berdua rival.

Ya … Kebetulan menjadi rival !!!

Bersambung

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!