AyanaStory – Tak Ada Kata Menyerah – Prolog

No comment 2391 views

Pagi itu, suasana begitu cerah, suara burung saling bersahutan, seolah-olah sedang bernyanyi dan memberitau bahwa mereka turut serta memberi keindahan pada dunia. “Kak .. kaak, bangun”, kata Stefi kepada Kakaknya, “Hoammmm, ahhhh iya dek, jam berapa sih?”, tanya Dony kepada adiknya, “Udah jam 6 lewat kak”, jawab Stefi, “Ohhh shiiiit, telat nih”, kata Dony yang kemudian bangkit secara tiba-tiba dari tempat tidurnya.

Dony bergegas mengambil handuk kemudian berlari menuju kamar mandi. Sementara itu Stefi sang adik sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk kakaknya. Stefi, seorang gadis remaja berusia 20 tahun yang tinggal di sebuah Kost yang terletak di daerah Jakarta Barat bersama kakaknya, Dony, seorang pemuda berusia 24 tahun. Ini adalah hari dimana ia harus melakukan test interview sebagai syarat lanjutan untuk melamar kerja.

Tak sampai 5 menit, Dony keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya yang bergelombang dan rapi, dan hanya mengenakan celana boxer saja. “Ihh kakak, doyan banget telanjang, nih sarapan dulu”, kata Stefi melihat kakaknya bertelanjang dada kemudian mengambil sepotong roti lalu dicelupkan ke dalam teh hangat buatan adiknya. “Hmmmm … dekk mmmm … ntar kunci .. mmm .. taruh di bawah MCB ya”, kata Dony, “Udah abisin dulu rotinya, ngomong aja blepotan tuh”, jawab Stefi.

Dony memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dengan celana chino berwarna krem dibalut dengan ikat pinggang berwarna hitam serta pantofel hitam yang telah dipersiapkannya jauh-jauh hari untuk interview hari ini. Gleg gleg gleg, hanya dengan beberapa kali teguk, teh hangat buatan adiknya telah habis bersih tak bersisa, “Dek, kakak jalan dulu ya, doain”, kata Dony, “Iya kak, moga keterima ya”, jawab Stefi kepada kakaknya.

Stefi adalah seorang mahasiswi, mereka berdua tinggal di sebuah kamar kost berukuran sedang. Kedua orang tua mereka tinggal di sebuah Desa di Jawa Timur. Alasan kedua bersaudara ini tinggal di Jakarta adalah demi masa depan yang lebih cerah. Stefi kuliah, sedangkan Dony sedang mencari kerja dan hari ini adalah step terakhir yaitu test interview yang harus dijalani oleh Dony.

Ia berjalan keluar dari kostnya dengan penuh percaya diri, melangkah dengan pasti menuju sebuah motor tua. Distarternya motor yang telah menemani hidupnya selama bertahun-tahun itu. “Daaaa”, lambaian tangan dari Dony menandai perpisahannya dengan Stefi. Senyum manis dari adiknya itu terselip sebuah doa agar kakaknya dapat diterima kerja.

La la la la la, nyanyian dan siulan dari Dony sepanjang jalan membuang segala kecemasan. Berusaha untuk terus menghadirkan pikiran yang tenang. Dony sengaja jalan lebih pagi, karena ia ingin menikmati perjalanan sekaligus menghirup udara pagi, menyerap energi yang diberikan oleh alam. Hmmmmm ….

Brummmm, ciiiittttt, tak terasa 30 menit waktu telah berlalu, tibalah Dony di parkiran sebuah gedung. Sreeeettttt, sebelum kembali melangkah, Dony mengecek isi tas ransel yang dibawanya, ia membawa sebuah CV cadangan, mungkin saja akan dibutuhkan kembali. Huuffttttt, helaan nafas yang cukup panjang dan dalam dan kemudian melangkah dengan pasti, masuk ke dalam lobby, menuju ke arah lift, menekan tombol lantai dimana ia janjian ketemu dengan seseorang yang akan mengetest dirinya.

Kabarnya yang akan mengetest dirinya adalah seorang manager HRD langsung. Tapi jabatan itu tak membuatnya gentar, ia begitu percaya diri. Senyum selalu terkembang di bibirnya, seolah-olah semesta telah mendukung dan ia akan diterima. Tiiiing, tibalah lift di lantai yang ia tuju. Beberapa orang ikut turun dari lift tersebut, yang kesemuanya adalah calon karyawan yang juga akan mengikuti test. Mereka memasuki sebuah ruangan yang sama dan kesemuanya duduk di sebuah bangku kosong, kecuali … Ya … Dony.

Ia tampil over pede, langsung mencari sebuah signboard di atas pintu, dan setelah membaca “Manager HRD”, ia pun mengetok pintu tersebut dan langsung masuk ke dalam. Padahal, peraturannya adalah, mereka yang akan melakukan interview diharuskan menunggu di ruang tunggu dan mengantri hingga tiba giliran. Tapi bukan Dony namanya kalau tanpa sebuah sensasi. “Selamat pagi Bu”, sapa Dony, “Eh iya, silahkan masuk”, jawab seorang wanita yang sebenarnya belum pantas disapa “Bu“, “Silahkan duduk, ada yang bisa dibantu?”, kata wanita yang kira-kira berusia 25 tahun tersebut.

Dony menyodorkan tangannya, pertanda ingin memperkenalkan dirinya, “Saya Dony, saya pelamar di sini dan hari ini adalah hari test interview saya dengan Manager HRD”, kata Dony begitu percaya diri, “Haaah, pelamar kan seharusnya nunggu di depan, kok tiba-tiba masuk sih?”, tanya wanita tersebut, “Ohh maaf Bu, saking semangatnya saya jadi lancang gini, maaf ya Bu”, kata Dony kembali sambil melangkah mundur, “Eh jangan panggil Bu donk, aku belum nikah”, kata wanita itu protes, “Ya udah, kamu duduk sini aja”, kata wanita itu lagi sambil tersenyum melihat tingkah laku Dony yang overpede.

“Hmmm … maaf, aku panggilnya siapa ya mbak … mmmm … Ayana Shahab”, kata Dony sambil melihat sign name yang menempel di dada wanita itu, “Ehhh, lancang banget sih”, kata Ayana sambil menutupi sign name itu sambil tersenyum, “Ehh maaf mbak, maaf”, kata Dony salah tingkah, “Hehehe gpp kok, becanda lagi”, balas Ayana sambil tersenyum. “Mmmm, maaf mbak, manager HRD nya masuk kan?”, tanya Dony, “Lohhh, emang tampang saya gak cocok jadi manager ya?”, Ayana balik tanya dengan sorot mata yang sayu namun cukup tajam itu, “Ehhh mmm.. maaf, bayanganku, Manager HRDnya itu seorang wanita berumur, wajahnya agak judes, trus gendut, trus … hmmm, pokoknya gitu deh”, kata Dony, “Wah, kamu ngejek saya ya?”, kata Ayana mulai berang, “Kalo Mbak Ayana kebalikan dari apa yang saya katakan tadi, Mbak Ayana masih muda banget, wajahnya cantik dan adem banget, trus langsung, trus … ahhh pokoknya lebih tepat jadi seorang pacar daripada manager HRD”, kata Dony ngeles. “Ehh belum diterima aja udah kurang ajar ya kamu, awas ya”, kata Ayana meninggikan nada suaranya namun sambil tersenyum. Hmmm … wanita mana sih yang gak doyan dipuji, dasar Dony.

Ayana: Hmmm … Oke kita mulai aja ya, gw udah bosen liat lo (sambil tersenyum)
Dony: Oke mbak (sambil memasang tampang sedih)
Ayana: Apa motivasi kamu masuk di perusahaan ini?
Dony: Pertama, seperti yang sudah saya jelaskan di CV saya bahwa saya membutuhkan pekerjaan yang sesuai di bidang dan passion saya, yaitu sebagai desainer grafis, kedua saya sangat termotivasi untuk bergabung dengan perusahaan swasta yang memiliki track record bagus seperti perusahaan ini, dan yang ketiga, ini yang paling penting … Setelah melihat perusahaan ini memiliki Manager HRD seperti ini, sepertinya gak ada alasan lain lagi yang menjadi motivasi saya
Ayana: Kampret lo, dari tadi kerjaan ngegombal mulu, gw yang nentuin lo bakalan lolos atau nggak tau (tersenyum kembali)

Tatapan serius namun sayu dari Ayana sempat membuat Dony grogi. Pertanyaan demi pertanyaan sudah dilontarkan, ada yang dijawab dengan serius, ada juga yang dijawab dengan candaan. Sebuah interview yang secara jujur sangat tidak pantas dilakukan, karena seorang calon karyawan dilarang keras “menggoda” interviewer apalagi ia adalah seorang manager HRD.

“Hmmm … okee, kalo lolos, nanti kami hubungi ya, tapi kalo lolos lo”, kata Ayana sambil berdiri dan menyodorkan tangannya, “Mmmm, gak butuh nomor HPku?” tanya Dony, “Ini sudah ada kan di CV?”, kata Ayana, “Oh iya, siapa tau mmmm … “, kata Dony sambil bersalaman dan kemudian melangkah menjauh, “Ehhh siapa tau apa?”, tanya Ayana, namun tak dihiraukan oleh Dony yang terus berjalan melangkah menuju pintu, “Yahh songong banget, belum keterima juga”, kata Ayana kembali dan dibalas oleh senyuman oleh Dony.

Kreeeeekkk, Dony pun melangkah keluar, ia melihat beberapa orang yang masih duduk di bangku tadi, menunggu giliran untuk diinterview. Senyum kembali terkembang di bibirnya, seolah-olah ia ingin memberitau, sebuah peraturan tidak selamanya harus diikuti, terkadang ketidaktahuan dan kelancangan seperti yang ia lakukan tadi justru membuahkan hasil, yaitu diinterview paling awal, hehehe.

Brummm …. Dony kembali ke tempat parkir, menyalakan motornya dengan wajah sumringah. Ia seperti telah memenangkan sesuatu, padahal ia telah melakukan hal yang tidak pantas, yaitu menggoda manager HRD. Tapi wajah sumringahnya ternyata bukan ditujukan untuk hal itu, melainkan karena sebuah bayangan yang terlintas di pikirannya. Ya, bayangan wajah Mbak Manager HRD yang begitu cantik, dengan tatapan sayu yang mencoba untuk galak, tapi lucu. Terbayang tingkah lakunya saat ia menutup sign name yang terpasang di dadanya, terbayang juga senyum manisnya saat ia terjatuh akibat mendapatkan berondongan pujian yang “tak pantas” dari Dony.

Ohhh …. Ayana Shahab, hmmmmm … Kamu lucu!

Reach what you love, and love what you reach!

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!