ChikaStory – Kakakku Ternyata Hyper Part 1

No comment 2435 views

“Ahhhh, deeek, enak bgt, ahhhhh”, lenguhan panjang kak Chika saat memeknya kusodok dari belakang. Saat ini posisinya sedang berdiri, bertumpu pada kedua tangannya yang memegang bibir bath up. Tubuhnya basah dan licin akibat sabun cair yang masih membasahi tubuhnya. Sengaja tak kuhapus agar menambah kesan keseksian dirinya. Kugenjot memeknya yang mungil dan sempit dengan posisi setengah menungging.

“Ehhhhh, kaaak, aku mau keluar”, kataku sambil menambah tempo genjotan. Kak Chika pun mulai menggila, ia tidak hanya memaju mundurkan pantatnya, tapi juga menggoyang-goyangkan pinggulnya, menambah sensasi geli campur nikmat di batang penisku, “Ahhhhh kaaaaak”, desahanku makin keras hingga akhirnya kucabut batang penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya. Ya, sejak awal kami bercinta tadi, kami berdua sepakat untuk ejakulasi di lubang dubur kak Chika, mengingat saat ini dia sedang berada di fase masa subur.

“Ahhhhhhh”, kutekan tubuhku, kuhujamkan penisku hingga masuk setengahnya. Kak Chika hanya terdiam sambil sedikit menggerak-gerakkan pinggulnya, membantuku agar kontolku masuk lebih dalam. Ahhhh, anal seks yang begitu nikmat. Tapi sayang, karena lubang pantatnya begitu sempit, dan aku yang sudah tak bisa menahan gejolak ejakulasi yang sudah di ujung tanduk, hingga akhirnya, “Ahhhhh kaaaak, ohhhhhhh”, crooottt crroootttt, hmmmmmm, kutahan kontolku yang baru masuk setengahnya di lubang pantat kak Chika. Kubiarkan sperma menyembur deras ke dalam lubang pembuangannya itu. Kurasakan kenikmatan yang tak terkira, hingga makin lama berangsur-angsur berubah menjadi rasa geli sampai akhirnya nafsuku menjadi hilang.

Kami berdua melanjutkan mandi bersama. “Dek cepetan ya mandinya ya, telat nih”, kata Kak Chika yang kemudian mengenakan handuk dan keluar dari kamar mandi. Hmmmmm … Ya, sejak aku bisa merasakan kenikmatan hubungan seksual, aku makin ketagihan, tiada hari yang kulalui tanpa dipuaskan oleh kakakku sendiri. Entah aku harus bahagia atau harus sedih, karena aku tau ini adalah hubungan yang terlarang. Tapi, siapa yang sanggup melewatkan kesempatan menikmati tubuh kak Chika? Ahhhh, akupun mengambil handuk dan segera kuusap tubuhku hingga mengering.

Saat keluar dari kamar mandi kulihat kak Chika hanya mengenakan BH tanpa mengenakan CD. Pantatnya yang mulus selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Tidak begitu besar, namun proporsional untuk gadis seperti Kak Chika. Darahku seketika berdesir ketika kulihat kak Chika menunduk sambil mengelap kakinya dengan handuk. Pantatnya yang begitu mulus terpampang begitu jelas hingga membuat batang kemaluanku berangsur-angsur berdiri kembali. “Kak, jangan gitu donk”, kataku sedikit protes, “Eh, kenapa dek?”, tanya kak Chika sambil menoleh ke belakang, ia kemudian melihat ke arah penisku yang kembali menegang, “Wah busyet, masak belum puas juga?”, tanya kak Chika kembali, “Ya abis kak Chika nungging-nungging gitu, gak pake celana lagi, jadi pengen lagi”, jawabku sambil tersenyum nakal dan melangkah mendekati tubuhnya. “Hmmm … nanti aja deh pulangnya kita ML lagi”, kata Kak Chika. Yaa, apa boleh buat, Kak Chika ada janji untuk ketemu dengan teman-temannya.

“Dek, ini bagus gak?”, tanya kak Chika sambil menunjukkan sebuah dress pendek ketat berwarna hitam. Aku hanya menganggukan kepala dan kemudian ia memakainya. Hmmm, aku kembali menghela nafas sambil menelan ludah saat melihat lekukan tubuh kak Chika begitu tercetak jelas. Walaupun tidak montok ataupun semok, tapi tubuh kak Chika cukup membuat banyak cowok merangsang.

Kak Chika kemudian mengambil cd berwarna putih yang tergeletak di sofa samping meja riasnya. Hmmm … tiba-tiba ide gilaku muncul, “Kak, jangan pake cd deh”, kataku. Tiba-tiba saja kak Chika kembali menatapku, “Maksudnya dek?”, tanya kak Chika, “Jangan pake cd, biar lebih seksi, hehehe”, jawabku kembali, “Yeee, ntar diliatin ama cowok-cowok yang ada di situ gimana?”, tanya kak Chika, “Yaa gpp, justru disitu sensasinya kak”, kataku mencoba menularkan ide gila yang kumiliki saat ini. “Hmmmm … iya deh, lebih menantang”, jawab kak Chika sambil tersenyum.

Yessss … Aku bersorak dalam hati, akhirnya rayuanku berhasil. Aku ingin berbagi kenikmatan dengan cowok-cowok lainnya. Rupanya kak Chika juga menyimpan sisi terliar yang belum ku eksplor. “Eh, pantat kakak seksi gak?”, kata Kak Chika sambil membelakangi diriku yang sedang memperhatikan pantatnya. Plaaak, “Seksi banget kak”, jawabku sambil menepok pantatnya yang mungil itu.

PUKUL 8 LEWAT 40 MALAM

Kami mengenakan taksi online, karena menurutku akan sangat merepotkan apabila menggunakan motor karena pakaian kak Chika yang begitu minim.

Benar saja, begitu turun dari taksi online, banyak mata tertuju pada kak Chika. Tatapan mereka seolah-olah menelanjangi kak Chika dan ingin memperkosanya. Aku sebagai adiknya yang nakal merasakan sensasi tersendiri. Entah kenapa aku jadi ingin melihat kak Chika di gangbang oleh orang-orang itu. Bagaimana bila tubuh mungil kak Chika di nikmati rame-rame. Ahhhhh, pikiranku membuat adik kecilku menjadi tegang.

Begitu tiba di dalam Kak Chika langsung berbaur dengan teman-teman lainnya. Sebelum kami berpisah sempat kubisikkan, “Kak, duduknya yang seksi ya”, bisikku dan dijawab dengan anggukan kepala oleh kak Chika. Kulihat ada dua orang cowok yang ditemui kak Chika. Entah apa yang mereka bicarakan, namun tampak begitu seru.

Mereka duduk di sebuah sofa, berbicara dan memesan makanan serta minuman. Aku yang sedari tadi merasa tak karuan karena jantungku terus berdegub kencang akibat gak sabar melihat aksi kak Chika menggoda para lelaki pengunjung cafe ini. Saat sedang duduk, kak Chika menyilangkan kakinya dan rupanya ia sengaja sedikit menyingkap roknya sehingga paha bagian bawahnya benar-benar terlihat. Ohh my … pemandangan yang begitu indah.

Satu .. Dua .. Tiga … Hmmm, ada tiga lelaki yang saat ini sedang mencuri-curi pandang ke paha kak Chika. Yah, posisi kak Chika memang sedang menghadap ke temannya, ia sengaja tak memperhatikan siapapun yang memandang ke arahnya.

Waktu terus berlalu, akhirnya mereka pun bersalaman, rupanya urusan mereka sudah selesai dan merekapun berpisah. Kudekati kak Chika kembali dan akupun duduk di sampingnya. “Siapa kak?”, tanyaku, “Nawarin endorse doank sih”, jawab kak Chika sambil meneguk ice lemon tea pesanannya. “Kak, cowok yang tiga orang itu merhatiin paha kakak terus dari tadi”, kataku, “Kakak tau kok, tapi kurang seru nih, pindah yuk, biar lebih menantang, hehehe”, kata kak Chika sambil tersenyum. Wah, ternyata ia lebih gila dari aku.

Kamipun pindah ke sebuah meja tinggi dengan kursi yang tinggi pula dan dapat diputar-putar. Hmmmm … Perfect place, di sini kak Chika bisa menggoda siapapun, cowok-cowok tadi akan lebih jelas melihat keindahan paha kak Chika. Benar saja, belum semenit kami pindah, ketiga cowok tadi sudah benar-benar melotot, dan, whaaattt … Pantes aja mereka melotot, “Kak, kakak yakin duduk ngangkang gitu?”, tanyaku, “Emang kenapa dek? Terlalu vulgar ya?”, Kak Chika balik bertanya, “Iya kak, agak dirapetin dikit, biar mereka penasaran, hehehe”, kataku. Akhirnya kak Chika menuruti permintaanku. Kali ini posisi kak Chika, yang satu dibiarkan menggantung dan satunya lagi memijak sebuah besi yang ada di bawah kursinya, memberikan sedikit celah buat cowok-cowok tadi buat mengintip.

Makin lama posisi duduk Kak Chika makin berani, dan cowok yang tadi hanya curi-curi pandang kini makin berani untuk memandang fokus ke selangkangan kakakku. Hmmmm, “Kak aku ke toilet bentar”, kataku dan kemudian aku pun berjalan menuju toilet. Kak Chika kulihat masih fokus ke HPnya, walaupun entah pikirannya kemana saat ini, karena ia pun tau ada banyak mata yang sedang fokus melihat selangkangannya.

Dari tadi kutahan keinginanku untuk buang air kecil walaupun akhirnya aku menyerah juga. Hmmmm … Lega rasanya, tapi rupanya “adik kecilku” ini masih belum bisa dijinakkan, masih tetap tegang, apalagi melihat kelakuan kakakku yang mulai nakal ini. Ada sedikit perasaan bersalah dariku, tapi bodoamat, selama nafsuku terpuaskan.

Saat aku akan kembali menuju meja di mana kakakku duduk, kulihat ada 2 orang lelaki yang saling berbisik, namun matanya fokus ke arah selangkangan kakakku. Kudekati mereka dan berdiri di belakang mereka, aku juga ingin melihat apa yang mereka lihat. Wowwwww … Pantas aja para lelaki ini betah, ohhhh … aku baru ingat, kakakku tidak mengenakan cd, walaupun agak sedikit gelap, tapi cara duduk kakakku benar-benar memperlihatkan memeknya yang indah. Ohhhh … Secara tiba-tiba “adik kecilku” menjadi tegang tak karuan, benar-benar tak dapat kubendung, ahhh.

Akupun kembali menuju meja kakakku, “Kak, keliatan jelas banget tau”, tegurku. Walaupun aku menikmatinya juga, tapi aku merasa yang dilakukan kakakku agak sedikit vulgar, “Biarin dek, biarin mereka ngeliat, biar tau rasa mereka, hehee”, kata kakakku sambil tersenyum nakal. Wah, kegilaan kakakku makin menjadi.

“Dek”, kata kak Chika kepadaku, “Iya kak?”, jawabku dengan nada yang rendah, “Kakak pingin”, kata dia kembali. Kak Chika berdiri dari tempat duduknya, ia pun berjalan, rupanya ia ingin ke toilet. Sepanjang perjalanan, mata dari para lelaki tadi benar-benar tak berkedip, begitu fokus melihat kak Chika, dan apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Dua orang lelaki yang berbisik tadi mengikuti kak Chika dari belakang. Waduh, pikiranku jadi kacau, benar-benar kacau, aku takut kalau saja kakakku diperkosa oleh mereka berdua.

Akhirnya akupun memberanikan diri mengikuti mereka. Aku berjalan dan akhirnya bersembunyi di balik dinding. Untung saja cafe ini tidak terlalu rame, hanya ada beberapa orang pengunjung. “Aku bukan cewek seperti itu Om”, kudengar suara kak Chika dari balik tembok, rupanya ia sedang bercakap-cakap dengan kedua lelaki tadi, “Ya udah, aku jamin kita main bersih, gak akan kasar dikitpun”, kata seorang lelaki, “Tapi aku takut om, aku gak pernah kyk gini”, jawab kak Chika, “Tenang aja, om akan tuntun kamu kok, kita orang baik-baik, gak suka macem-macem”, kata lelaki tadi, “Gak suka macem-macem kok ngajak aku gituan?”, kata kak Chika, “Dari tadi kita liatin pose kamu menantang banget, benar-benar bikin kita jadi bernafsu dek”, kata lelaki tersebut.

Hmmm.. Rupanya kak Chika makin ngerasa gak nyaman hingga akhirnya akupun harus nyamperin dirinya yang sedang dirayu oleh dua lelaki hidung belang. “Sayang, pulang yuk”, sapaku sambil mendekati kak Chika, “Eh duluan ya”, kata kak Chika sambil berpamitan pada dua lelaki tadi.

“Mereka ngapain kak?”, tanyaku berpura-pura tidak tau, “Biasa dek, ngajakin gituan, hehee”, kata kak Chika sambil tersenyum. Langkah kaki kak Chika begitu lambat, ia masih saja memamerkan kemolekan tubuhnya yang tanpa mengenakan cd itu. Beberapa lelaki masih mencuri pandang ke arah bokong kak Chika, hingga akhirnya salah satu dari kedua lelaki tadi berlari ke arah kami. “Eh, naik apa?”, tanya lelaki itu, “Pake taksi online”, jawab kak Chika, “Gw anter yah”, kata lelaki tersebut kembali, “Jangan deh makasi”, jawab kak Chika lagi.

Aku dan kak Chika pun melangkah keluar dari cafe ini. Kulihat kak Chika begitu gelisah, beberapa kali ia menoleh ke belakang melihat ke arah lelaki tadi, “Kenapa kak, kok gelisah?”, tanyaku, “Hmmm … Dek, gimana rasanya kalo kakak gituan ama cowok lain ya?”, tanya kak Chika. Deg … tiba-tiba jantungku serasa seperti berhenti berdetak, entah perasaan apa ini, tapi ada sedikit rasa terbakar api cemburu, namun juga ada perasaan penasaran dan gairah yang memuncak. “Ya udah terserah kakak kalo mau terima tawaran orang tadi”, kataku, “Tapi aku takut dek”, kata kak Chika kembali.

Demi hasratku, akhirnya mau tak mau kuyakinkan kak Chika bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kukatakan bahwa kak Chika akan mendapatkan sensasi dan kenikmatan yang lebih dahsyat dari biasanya hingga akhirnya kak Chika kembali ke dalam cafe tersebut. Kubiarkan ia berjalan sendiri, saat sedang melangkah kulihat lekukan bokongnya tercetak begitu jelas karena ia tak mengenakan cd saat ini. Hmmmm … Kak Chika pun kembali ke dalam cafe tersebut.

Tak butuh waktu lama akhirnya keluarlah kedua lelaki tadi mengikuti kak Chika dan salah satu lelaki itu berjalan menuntun kami menuju mobilnya. Kami pun masuk ke dalam sebuah mobil Toyota Avanza berwarna silver. Aku duduk di depan sementara itu Kak Chika duduk di belakang bersama seorang lelaki sesuai permintaannya.

Kami sempat berkenalan terlebih dahulu sebelum akhirnya mobil pun melaju. Lelaki yang sedang menyetir di sampingku bernama Rudi, sementara itu yang di belakang bersama kak Chika bernama Om Desmond. “Kalian udah lama pacaran ya?”, tanya Om Desmond, “Lumayan lama sih Om”, jawab Kak Chika sambil mengedipkan mata ke arahku saat aku melihatnya. “Sekali-sekali kalian butuh berhubungan seksual yang tidak biasa, seperti ini”, kata Om Desmond, “Kadang sesuatu yang gila itu justru akan membuat hubungan kalian makin langgeng”, kata Om Desmond kembali, mencoba untuk meyakinkan kami. “Iya …” Jawabku singkat.

Kulihat kak Chika duduk di pinggir dekat jendela, sementara itu Om Desmond berusaha menarik tangan kak Chika. “Sini donk, jangan canggung, anggap aja kita udah lama kenal”, rayu Om Desmond. Akhirnya kak Chika pun bergeser dan Om Desmond pun bergeser mendekati kak Chika. Kini keduanya sudah saling berdekatan. Tangan Om Desmond mulai merangkul tubuh kak Chika. Om Desmond tampak seperti lelaki berusia 40an tahun, namun tubuhnya tinggi tegap dan atletis. Sepertinya ia adalah orang yang rajin berolahraga, sementara itu Rudi tampak seperti lelaki muda namun cukup berumur dan biasa saja.

Saat aku menoleh ke belakang, kulihat tangan Om Desmond mulai menggerayangi paha kak Chika. Disingkapnya rok kak Chika hingga paha mulusnya terlihat begitu jelas. Sementara itu tangan kanan Om Desmond yang tadi memeluk tubuh Kak Chika kini mulai merayap ke atas dan mendarat ke bongkahan payudara kak Chika. Ia mulai meremas payudara sebelah kanan kak Chika dan tangan kirinya kini sudah berhasil menyingkap rok kak Chika hingga terangkat sempurna. “Wah, kamu rajin ngerawat bulu memek kamu ya”, kata Om Desmond sambil kemudian mengelus-elus selangkangan kak Chika.

Wowww, pemandangan yang sangat indah saat kak Chika mulai melebarkan kedua pahanya dan memperlihatkan memeknya yang sangat nikmat itu. Tangan kanan Om Desmond masih sibuk meremas-remas payudara kak Chika, sementara itu tangan kirinya mulai terfokus pada sela-sela memek kak Chika.

“Om, kita main dimana nih?”, tanya Rudi sedikit membuyarkan konsentrasi Om Desmond, “Ke Apartmenku aja ya”, jawab Om Desmond. “Dik, Om pinjem pacarnya bentar ya”, kata Om Desmond sambil melihat ke arahku. Aku hanya mengangguk sambil terfokus pada wajah sayu kak Chika yang sudah dikuasai oleh nafsu.

“Ahhhhh, ssshhhhh, ahhhhh”, suara desahan kak Chika mulai terdengar. Perasaanku makin tak karuan, wanita yang selama ini selalu memuaskanku kini sedang melayani nafsu bejat lelaki lain. “Ahhhh, ahhhhh, masukin om, ahhhh”, Ohhh desahan kak Chika makin membuat jantungku berdegub kencang. Aku berusaha memejamkan mata, menghilangkan rasa cemburu yang ada di dadaku saat ini. Tapi suara desahan lembut itu membuat nafsuku benar-benar memuncak. Nafsu bercampur emosi yang teramat dalam, ahhhh, benar-benar tak dapat kuungkapkan.

“Ahhhh, besar sekali om, aku takut”, suara kak Chika kembali terdengar olehku. Ingin ku menoleh ke belakang, tapi entah bathin ini masih saja menolak. Pertarungan dua perasaan yang sangat kontradiktif. “Kak Chika bukan pacarku, Kak Chika bukan kekasihku, ia kakakku”, terus saja aku mengungkapkan kata-kata itu dalam hati, berusaha menepis rasa cemburu yang teramat sangat. “Ahhhhhh, omm, eemmmhhhhh, enaakk”, kak Chika terus meracau. Entah apa yang dilakukannya kini. Plak plak plak, “Ohhhh yessss, memek kamu masih sempit dek”, kata Om Desmond. Suara itu, berarti saat ini Om Desmond sedang ngentot dengan kakakku.

“Jeles ya bro? Udah, jangan dibawa emosi, nikmati aja bro, sensasinya itu lo”, kata Rudi di sebelahku. Akupun sempat melihat ke arah Rudi sebentar dan kemudian menoleh ke belakang. Oh My ….. Kontol Om Desmond yang begitu besar sudah memenuhi liang senggama kak Chika. Posisinya membelakangi Om Desmond dan menghadap ke arahku, sementara itu mereka berdua berciuman dengan begitu dahsyat. Tangan Om Desmond bergerilya, bermain kasar di klitoris kakakku. Dress yang ia kenakan sudah tersingkap hingga ke atas perut.

Perasaan cemburu yang begitu menggebu, ditambah dengan rasa emosi yang amat sangat, semuanya terbakar, melebur dan bercampur dengan nafsu yang begitu menggelora. Melihat hal itu ingin rasanya kukasari tubuh Kakakku. “Ahhhhh”, desahan kak Chika terdengar begitu syahdu. Tiba-tiba kak Chika menatapku, ia menjulurkan tangannya, seolah-olah ingin agar aku mendekatinya. Dengan segala upaya akhirnya akupun berpindah ke belakang. Kak Chika menarik kepalaku dan akupun berciuman dengannya. Kurasakan ciuman kali ini begitu berbeda, lidahnya begitu dahsyat bermain di dalam mulutku. “Mmmmhhhhh, ehhhhh, dek, kakak mau keluar”, kata Kak Chika berbisik ke arahku. Sementara itu Om Desmond makin menggila menggenjot memek kakakku.

“Shhhhh ahhhhhh, om aku mau … ahhhhhh”, belum sempat menyelesaikan perkataan, tiba-tiba kak Chika berteriak, desahannya makin keras, tubuhnya mengejang, Ia merapatkan kedua kakinya sambil terus menggenjot kontol Om Desmond, “Ahhhh, dek, Om mau keluar”, plak plak plak, Om Desmond makin mengasari memek kakakku. Dipeluknya dengan erat dari belakang tubuh kak Chika, dan kini kak Chika terlihat sedang memainkan klitorisnya sendiri.

“Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhh”, “Ohhhh yesss, ohhhhh”, kak Chika dan Om Desmond mendesah tak karuan, keduanya saling bersahutan, “Ahhhhhhhhh”, dan tiba-tiba lenguhan begitu panjang dari mulut kak Chika, Om Desmond terus menghentakkan pinggulnya, menancapkan kontolnya lebih dalam ke memek Kak Chika. Ohhhhhh, tubuh keduanya menegang. Secara bersamaan mereka berdua memejamkan mata. “Kamu udah keluar dek?”, tanya Om Desmond ke Kak Chika, “Udah om, ehhhh”, kata kak Chika sambil melenguh pertanda dirinya sudah puas.

“Kita udah sampai”, kata Rudi yang menyetir dari tadi. Ia pasti sudah menahan nafsunya sejak tadi. Kak Chika pun berdiri dan pindah duduk ke sampingku. Ia mengambil beberapa lembar tissue dari tasnya dan kemudian membersihkan memeknya dan juga kontol om Desmond. “Yuk”, kata Om Desmond mempersilahkan kami untuk masuk ke Apartmentnya.

Kami berempat berjalan menyusuri lorong dan masuk ke sebuah lift. Kulihat tubuh Kak Chika benar-benar lusuh, namun masih bertenaga untuk memuaskan kami bertiga. Ting Tong, lift pun telah sampai, entah di lantai berapa. Kami berempat keluar dari pintu lift dan masuk ke sebuah kamar. “Bersih juga kamarnya om”, kata kak Chika memuji kamar itu sambil tersenyum manis. Sejak tadi aku hanya cemberut, walaupun nafsuku sudah tak terbendung, tapi perasaan cemburuku tetap menggelora.

“Bro gw pinjem pacarnya ya, gw udah gak tahan nih”, kata Rudi sambil menarik tangan Kak Chika. Wah, aku sempat emosi karena belum saja aku memberi persetujuan ia sudah main tarik aja. Tapi kulihat Kak Chika begitu pasrah, ia hanya diam saja sambil mengikuti Rudi yang sedang melangkah ke kasur. Rudi dengan sigap membuka celana dan cd yang ia gunakan. Penisnya yang sudah menegang langsung saja berdiri tegak membuat kak Chika sedikit melongo menatap rudal yang siap menancap di memeknya itu. “Emutin sayang”, pinta Rudi, kak Chika pun mulai menggenggam kontol Rudi, kemudian mendekatkan wajahnya lalu menjulurkan lidahnya.

“Ahhhh”, Rudi sedikit mendesah ketika lidah kak Chika menyentuh ujung penis Rudi yang sudah benar-benar tegang itu. “Mmmpphhhhh”, dengan lahap kak Chika memasukkan kontol gede itu ke dalam mulutnya seolah-olah ia akan menelannya. “Ohhhhh, yessss, enak banget sayang”, Rudi meracau tak karuan menghadapi kocokan dari bibir kak Chika yang tipis itu.

“Buka dulu sayang”, kata Rudi sambil menarik dress yang kak Chika gunakan. Kak Chika pun melepaskan sepongannya kemudian membuka dress yang ia kenakan, lalu membuka pengait BH hingga kini ia telanjang bulat di hadapan kami bertiga. “Wah, bener-bener sempurna tubuh pacarmu dik”, kata Om Desmond yang sedang duduk di sampingku sambil menonton adegan yang membuat jantungku berdegub kencang menahan emosi sekaligus nafsu.

“Sini sayang”, kata Rudi sembari menarik kaki kak Chika. Hmmmm, rupanya ia menghendaki untuk melakukan posisi 69. Ohhhh, kak Chika sempat melihat ke arahku dengan tatapan sayunya, kemudian mengangkang dan mengarahkan memeknya ke mulut Rudi. “Mmmpphhhhh”, Rudi mulai kehabisan suara, mulutnya sudah dibekap oleh memek kakakku, sementara itu kak Chika kembali menyepong kontol Rudi yang begitu besar.

“Ini pertama kali ya ngeliat pacarmu gituan ama cowok lain?”, tanya Om Desmond yang sedari tadi memperhatikan mimik wajahku. Hmmmm… Aku menghela nafas begitu dalam, dan kemudian “Sebenarnya dia kakakku Om, bukan pacarku”, jawabku, karena aku tidak biasa berbohong. “Wowww, luar biasa, kamu adik yang baik, siap memuaskan kakaknya, hehehe”, kata Om Desmond sambil tertawa dan kemudian berdiri lalu melangkah mendekati kakakku yang sedang memadu kasih dengan Rudi. Entah apa yang akan dilakukan Om Desmond, namun ia mulai membuka baju dan memelorotkan celana serta kolor yang dikenakan hingga ia telanjang bulat. Hmmmm, inilah pengalaman pertamaku melihat hal seperti ini, ini begitu menegangkan.

“Gantian donk”, kata Om Desmond, lalu Rudi pun mengangkat tubuh kak Chika dan menuntunnya agar kakakku menuju bagian bawah tubuhnya. Kak Chika berpindah tempat, iapun mulai jongkok dan perlahan menduduki rudal Rudi yang sudah berdiri tegak sekeras baja itu. “Ehhhhhh”, kak Chika melenguh dan meringis ketika batang kemaluan Rudi secara perlahan dimasukkan ke dalam kemaluannya. Batang kemaluan yang begitu besar sehingga membuat kakakku sedikit kewalahan. “Pelan-pelan aja sayang”, kata Om Desmond yang memegangi tangan kiri kakakku.

“Ahhhhhhhh”, lenguhan panjang terdengar dari mulut kak Chika ketika batang kemaluan Rudi terbenam secara sempurna di lubang kenikmatan kakakku. Posisinya membelakangi Rudi dan menghadap ke kontol Om Desmond yang sudah mulai menegang kembali. Dengan inisiatif kak Chika menggenggam kontol Om Desmond kemudian mengarahkannya ke mulut kakakku lalu mulai diisapnya batang kemaluan yang sempat memuaskannya saat di mobil tadi.

“Mmmmpphhh mmmhhhhhh ehhhhhhh”, kak Chika mendesah, meracau, melenguh, namun tertahan oleh kontol besar yang memenuhi rongga mulutnya. Sementara itu tubuhnya terus bergoyang naik turun menggenjot kontol Rudi yang tertancap di memeknya.

Mataku terbelalak melihat tingkah laku mereka bertiga. Tanpa sadar aku mulai memelorotkan celanaku hingga terbuka seutuhnya dan mulai memainkan adik kecilku sendiri. Kukocok kemaluanku dengan perlahan sambil menikmati tontonan gratis dari kakakku dan kedua lelaki tersebut. Emosi dalam dadaku melebur dan bercampur dengan nafsu dan gairah yang membara. Betapa indahnya apa yang kuliat saat ini. Suara desahan kak Chika begitu lepas, seakan-akan ia benar-benar menikmati apa yang ia lakukan saat ini.

Akupun beranjak dari tempat dudukku, melepas bajuku hingga telanjang bulat, berjalan mendekati kakakku sambil terus mengocok batang penisku yang sudah berdiri tegak. Kakakku masih sibuk mengulum kontol Om Desmond, sementara itu Rudi terlihat sangat menikmati genjotan memek kak Chika. Tangannya sibuk meremas bongkahan pantat kak Chika dari belakang.

“Ehh, sini dik”, kata Om Desmond yang kemudian menarik kontolnya hingga terlepas dari mulut kak Chika. “Nih adiknya minta dipuasin”, kata Om Desmond kepada kakakku. Entah mengapa tiba-tiba kakakku melangkah mendekatiku hingga kontol Rudi terlepas dari cengkeraman memeknya. “Diiik”, kata Kak Chika yang kemudian memelukku dengan erat. Hmmmm … Aku merasakan sesuatu yang berbeda, pelukan ini begitu hangat, lain dari biasanya. “Maafin kakak ya Dek”, kata kak Chika kembali dengan suara yang lirih. Apakah ia sedang bersedih? Aku tak tau … Sementara itu Om Desmond dan Rudi hanya melihat apa yang kami lakukan sambil terus mengocok kemaluan mereka masing-masing.

“Kamu pingin ya dek?”, tanya kak Chika kepadaku, akupun mengangguk sambil mulai meremas pantatnya, “Sabar ya dek, kakak puasin mereka dulu, trus kamu bebas melakukan apa aja ama kakak”, kata kak Chika sambil mengecup bibirku dengan lembut. Akupun hanya bisa mengangguk, tak sanggup kutolak keinginan kakakku. Iapun kembali ke posisi awal, mulai menduduki penis Rudi sambil membelakangi dirinya. Kak Chika kembali berhati-hati mengarahkan penis Rudi ke lubang senggamanya. “Ahhhhhhh”, ia kembali mendesah saat kontol yang begitu besar itu memenuhi memek kak Chika. Plak Plak Plak, “Ahhhhhhh”, tiba-tiba Rudi menyerang memek kak Chika dengan tempo yang sangat cepat dan begitu kasar, “Ahhhhhhhh, enak banget, ahhhh”, kata Kak Chika. Tubuhnya mengejang, kedua tangannya meremas dengan begitu kasar payudaranya sendiri, sementara itu Om Desmond yang melihat hal itu mulai mendekati kak Chika lalu menyodorkan kontolnya.

“Mmmmppphhhhhh”, rupanya kak Chika sudah benar-benar bernafsu, buktinya ia dengan cekatan menarik kontol Om Desmond lalu mengulumnya. Gerakan maju mundur kepalanya membuat Om Desmond kewalahan menikmati gesekan mulut kak Chika. Ohhh tubuh mungilnya terlihat begitu mempesona, “Ahhhhhh, ahhhhh, aku mau sampe om”, kata kak Chika diikuti oleh tubuhnya yang tiba-tiba menegang. Kak Chika duduk tegak dengan genjotan yang makin cepat. “Ahhhh ahhhhh ahhhh”, desahannya makin menjadi, tubuhnya kini condong ke belakang, bertumpu pada kedua tangannya yang menekan dada Rudi.

Plak plak plak, Rudi pun dengan kasar terus menyodok memek Kak Chika, sementara itu Om Desmond mulai memainkan klitoris kak Chika. Goyangannya makin liar, desahan makin kuat, kak Chika makin menggila, “Arrrggghhhhhhhh”, desahan yang terdengar seperti teriakan itu diiringi dengan cairan putih yang membasahi kontol Rudi. Sebuah cairan ejakulasi dari kak Chika yang baru saja mencapai orgasmenya.

Tubuh kak Chika ambruk ke belakang menimpa dada Rudi. Namun tanpa ampun Om Desmond langsung menarik tubuh kakakku, membalikkannya hingga posisinya saat ini tengkurap. Om Desmond menarik pinggul kak Chika hingga agak menungging. “Ahhhhhhh”, kak Chika kembali melenguh ketika kontol Om Desmond menancap di memeknya dari belakang. “Ahhhhhh ommm ahhhhh”, kak Chika terus mendesah.

Plaaaakkk, “Awwwww ehhhhhh”, tamparan yang cukup keras di pantat kak Chika membuatnya berteriak. Sementara itu Rudi yang sudah kepalang tanggung akhirnya duduk dengan mengangkangkan kakinya di hadapan kak Chika. Ia menarik kepala kak Chika hingga kemudian kak Chika menyepong kontolnya yang besar. “Shhhh ohhhh teruss sayyyaaang”, kata Rudi ikutan mendesah. Plak plak plak, genjotan Om Desmond dan Rudi tampak begitu kompak menghajar lubang kenikmatan kakakku. “Hueeekkkkkk”, wajah kak Chika memerah, ia seperti menahan mual karena kontol Rudi masuk begitu dalam hingga menyentuh tenggorokannya. Tapi rupanya kedua lelaki tersebut makin beringas, seperti tanpa ampun Rudi kembali menarik kepala Kak Chika, “Mmmmppphhhhhhh”, desahan kak Chika kembali tertahan, disumbat oleh kontol Rudi. Mata kak Chika terpejam, air liur menetes keluar dari mulutnya, sementara itu Om Desmond makin menggila menyodok lubang senggama kakakku dengan sangat kasar.

“Ahhhhhhh sayyaaang, Om mau keluar”, “Mmmpphhhhh mmmhhhhhh”, plak plak plak, suara desahan saling bersahutan, “Ahhhhh shiiiittt”, Om Desmond dengan cepan mencabut kontolnya dari lubang memek kakakku, dan crooottt crooottt, pejunya menyembur membasahi bokong kak Chika. Mengetahui liang senggama kak Chika sedang nganggur, Rudi pun menarik kontolnya yang berada di dalam mulut kak Chika, kemudian bergegas menuju ke bagian belakang tubuh kakakku.

Jleeebbb, “Ahhhhhhh”, kak Chika mengerang dan mendesah ketika Rudi tanpa aba-aba langsung saja menancapkan senjatanya ke lubang senggama kak Chika. Plak plak plak, setelah Om Desmond meraih ejakulasi di memek kak Chika, kini giliran Rudi menikmati lubang yang penuh kenikmatan itu.

Sedari tadi aku hanya terpaku, berdiri sambil melihat mereka berdua menikmati tubuh kakakku dengan kasar. Akupun tak ketinggalan ikut menikmati kak Chika dengan cara coli di hadapannya. “Ehhhhhh enaaak omm, ahhhhh”, kata kak Chika yang sudah meracau tak karuan hingga tak bisa membedakan mana Om Desmond dan mana Rudi. “Ahhhhhh, terrruusss Om, ahhhhh”, kata kak Chika makin tak karuan. “Ahhhhh sayaang, aku mau keluar”, kata Rudi. Plak plak plak, makin lama makin keras sodokan Rudi di memek kak Chika, “Ehhhhhhh, aku juga Ommm”, kata kak Chika sambil bergoyang mengikuti irama genjotan Rudi. “Ahhhhhhh”, Rudi makin mendekati klimaks, tiba-tiba ia mencabut kontolnya lalu membalik tubuh kak Chika dengan sangat kuat hingga kakakku terjatuh dan terlentang. “Ommm kenapa dicabut? Aku belum”, kata kak Chika protes.

Rudi mengarahkan kontolnya ke wajah kak Chika sambil mengocoknya dengan cepat. “Ahhhhhh”, croootttt, entah berapa kali peju Rudi muncrat membasahi wajah kakakku yang cantik. “Ohhhhhh”, kata Rudi benar-benar merasa puas. Ia kemudian menggesek-gesekkan kontolnya di bibir kak Chika. “Mmmhhhhh”, wajah kak Chika benar-benar blepotan oleh sperma Rudi yang begitu banyak.

“Om, aku belum keluar”, kata kak Chika kembali protes. Tapi apa daya, Rudi dan Om Desmond terlihat begitu lemas tak bertenaga. “Dik, tolong puasin kakakmu”, kata Om Desmond. Hmmmm, kini giliranku menyetubuhi gadis cantik ini. “Kak, sekarang aku ya”, kataku sambil mendekati kak Chika. “Iya sayang, ahhhhh, puasssiiin kakak, ahhhhh”, kata kak Chika sambil mendesah ketika kontolku mulai bergesekan dengan bibir vagina kak Chika.

Jleebbbb, “Ahhhhh sayyyaannggg”, suara kak Chika mulai berat, memeknya terasa tak sesempit biasanya, namun tetap nikmat. Kugenjot kakakku dalam posisi terlentang, kuangkat sebelah kakinya dan kutopang menggunakan tangan kananku. Plak plak plak, kugenjot lubang kenikmatan kakakku. “Ahhhhh, yang keras dek, ahhhhh”, kata kakakku yang setengah terbangun sambil mencengkeram bokongku. “Ahhhhh kaaak, aku mau keluaarrr”, entah mengapa, baru saja kusodok memek kakakku, tiba-tiba gejolak klimaks hampir kurasakan, apakah mungkin karena sedari tadi aku menahan nafsuku terlalu lama, “Ahhhhh kaaaakkk”, ejakulasi sudah di ujung tanduk, sudah tak dapat kutahan, “Entar dulu deeek, kakak juga mau keluar”, kata kakakku sambil ikut menggoyangkan pinggulnya.

Kak Chika makin melebarkan kakinya, “Deeekkk, teruuusss deek”, desahan kak Chika makin keras dan tak karuan, “Kaaaakkk, ehhhhhh”, kusodok memek kak Chika makin dalam, makin keras hingga “Ahhhhhhhhh”, srrrrrrrr, spermaku keluar di dalam rahim kak Chika, ku tahan goyanganku sambil menikmati keluarnya peju dari kontolku. “Ahhhh deeeekkk, kakak keluaarrr”, kak Chika terus saja menggoyangkan pinggulnya, makin lama makin keras, cengkeramannya di bokongku makin kuat, “Ahhhhhh”, tubuh kak Chika mengejang, ia menekan pinggulnya hingga kontolku makin dalam menancap di memeknya. Beberapa detik ia menahan tubuhnya hingga akhirnya, “ahhhhh”, braaak, tubuhnya jatuh terlentang.

Nafsuku yang tertahan sejak tadi akhirnya terpuaskan oleh kakakku sendiri. Kupeluk tubuh kakakku yang sedang terkulai lemas. Kukecup bibirnya perlahan, senyum manis di bibirnya menandakan kalau ia juga sudah benar-benar puas. “Sudah puas?”, tanya Om Desmond, “Udah om”, jawab kak Chika sambil tersenyum ke arahnya.

“Kalian tidur aja di sini”, kata Rudi, “Jangan deh, makasi, kami pulang aja”, jawabku. “Eh, kita nginep semalem aja deh, gpp”, kata kakakku yang membuatku terkejut. “Tapi kak …”, baru saja ingin ku protes, tiba-tiba kakakku memotong pembicaraanku, “Gpp dek, sekali ini aja”, kata kak Chika, “Iya nih, biar bisa kita nikmati bareng-bareng kakaknya”, sahut om Desmond yang membuat kakakku tertawa geli.

Hmmmm… Rupanya kakakku benar-benar menikmati permainan mereka berdua. Entah kali ini aku harus merasa senang karena kakakku mau menuruti ide liarku ataukah harus sedih, karena gara-gara aku, kakakku jadi sangat suka gituan. “Terserah deh”, jawabku sambil berjalan mengambil pakaianku dan kembali duduk di sofa. Sementara itu kulihat Rudi dan Om Desmond kembali tiduran di kasur dan posisi kakakku sedang berada di tengah-tengah mereka.

Ohhh … betapa cemburunya aku.

Reach what you love, and love what you reach!

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!