ChikaStory – Kakakku Ternyata Hyper Part 2

No comment 10751 views

Aku teringat, beberapa hari yang lalu aku terbangun karena mendengar suara desahan yang saling bersahutan. Ketika ku membuka mata, kesadaranku langsung pulih sepenuhnya. Bagaimana tidak, saat itu kulihat kakakku sedang disodok oleh dua orang lelaki. Ya, mereka adalah Om Desmond dan Rudi. Rudi menggenjot kemaluan kakakku dari belakang sedangkan Om Desmond sedang memejamkan mata menikmati sepongan mulut kakakku.

Uhhhh, pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Entah mengapa hatiku kembali bergejolak, perasaan cemburu, tak tega, marah, emosi dan juga nafsu serta gairah bercampur menjadi satu membuat jantungku berdegub sedikit kencang.

“Ohhh, enak banget memek kamu cantik”, kata Rudi dengan suara yang sedikit nge bass sambil terus menggenjot kemaluan kak Chika. Plak Plak Plak, suara hentakan antara paha Rudi dan bokong Kak Chika terdengar seperti sebuah tamparan keras. “Ehhhhhh, mmmhhhhhhh”, desahan kakakku tertahan karena mulutnya penuh oleh kemaluan Om Desmond yang begitu besar.

“Ehh, udah bangun lho, sorry ya bro, kakak lho pagi-pagi udah sange, jadi kami puasin dulu yah”, kata Rudi ketika melihatku sedang memperhatikan mereka bertiga. “Haahhh? Kakakku sange? Apakah dia yang minta di puaskan? Atau kedua lelaki ini yang minta duluan?”, pikiranku kembali berkecamuk, apakah kakakku yang minta disetubuhi terlebih dahulu? “Dek, ngapain bengong aja? Sini kalo mau join”, kata Om Desmond sambil terus menggenjot mulut kakakku. Aku sempat melihat mata kak Chika melirik ke arahku. Mata sayunya mengisyaratkan bahwa ia sedang di puncak kenikmatan. Air mata menetes dari tepian matanya, entah maksudnya apa, apakah ia tersiksa, ataukah sedang menikmati persetubuhan itu.

“Mmmpphhh, ahhhh, deekk, siniii”, kak Chika melepas kulumannya, kemudian memanggilku dengan suara yang mendesah. Ohhhh, mendengar panggilan dengan suara selembut itu, tanpa banyak tanya akupun berdiri dari sofa tempatku tidur, kemudian melangkah mendekati kakakku yang kembali mengulum rudal milik om Desmond.

Plaaaakkkk, “Awwwwww”, kakakku tampak kesakitan ketika Rudi menampar dengan keras bokongnya, “Ahhhhh, aku mau keluar sayyaang”, kata Rudi meracau. Plak plak plak plak, ia makin mempercepat genjotannya, makin kasar, makin keras, makin dalam, “Ahhhhhh sayyyaaanggku, pelacuurrkuuu, ahhhhh”, tiba-tiba Rudi mencabut kemaluannya dan kemudian menggesek-gesekkannya di sela-sela pantat kak Chika, dan croootttt, pejunya pun tumpah hingga mengenai punggung kakakku. Rudi tampak terus mengocok senjata miliknya sambil menumpahkan sisa-sisa cairan kenikmatan di pantat kak Chika. “Ahhhhhhh, nikmat banget memek kamu sayang”, kata Rudi sambil kemudian mundur dan berpindah tempat. Plaaakkk, ia sempat kembali menampar bokong kakakku.

“Giliran aku entotin memek kamu ya sayang”, kata Om Desmond sambil berpindah menuju ke bagian belakang kakakku. “Ahhhhh, iya om, entotin memekku om, yang kasar yaaa, ahhhh, sini dek kontolnya”, kata kakakku. Hmmm rupanya ia benar-benar menjadi binal, tidak hanya nafsunya yang kasar, tapi juga kata-katanya sudah mulai kasar. Tapi tak apalah, itu justru membuat libidoku makin memuncak.

“Ini kak”, kataku sambil memegang kemaluanku dan menyodorkan ke mulut kakakku. Sluuurrrrppppp, mmmpphhhhh, “Ohhhhhh”, tiba-tiba secara refleks aku memejamkan mata sambil merasakan nikmat yang sampai di ubun-ubun ketika kakakku tanpa aba-aba langsung saja mengulum dan menghisap kemaluanku secara brutal.

Plak plak plak, suara hentakan itu kembali terdengar, kini lebih keras dari suara yang tadi. Mungkin saja om Desmond lebih kasar permainannya. “Ohhhhhh, kaaak, enak banget mulut kakak”, kataku sambil memegangi bagian belakang kepalanya, sementara itu aku terus menggoyangkan pinggulku, memompa mulut kakakku yang mungil. “Ahhhhh, kaaak”, aku terus meracau merasakan nikmatnya mulut wanita cantik ini.

“Arrrggghhhh, Ohhhhh, enaaak sayaang”, kata Om Desmond meracau. “Mmmpphhhhh”, kakakku tampak sedikit memicingkan matanya dan menggoyangkan pantatnya. Setelah kulihat, ternyata om Desmond sedang mencoba memasukkan jari tengahnya ke lubang dubur kakakku.

Percobaan pertama gagal, ia kembali mengulum jari tengahnya dan meludahi lubang pantat kakakku dan kemudian kembali dicoba. “Mmmmppphhhhhhh”, desahan kakakku agak sedikit tertahan, sementara itu tubuhnya sedikit menghentak ketika pada percobaa ketiga, jari Om Desmond berhasil masuk seluruhnya. Tubuh kakakku makin menggeliat karena jari Om Desmond mengobok-ngobok lubang privat yang seharusnya hanya menjadi milikku saja.

“Balik badan donk”, kata Om Desmond sambil mencabut batang kemaluannya. Dengan sigap kak Chika melepas kulumannya dan kemudian membalikkan badannya, dan kini posisinya terlentang. Seolah-olah tak sabar untuk “dinikmati” kembali, kakakku melebarkan kedua kakinya, benar-benar lebar, sambil jarinya tangan kirinya mengusap-usap manja klitorisnya sendiri dan tangan kanannya memainkan puting susunya. “Ayo Om, masukin cepet Om, Ahhhhh”, kata kakakku sambil terus memainkan kemaluannya sendiri, “Masukin apa nih”, tanya om Desmond mencoba menggoda kak Chika, “Ihhh Om, ayoo donk, masukin kontolnya ke memekku, gatel nih”, kata kak Chika merengek, rupanya Om Desmond kembali menggoda kakakku, ia hanya menggesek-gesekkan ujung kepala batang kemaluannya di bibir kemaluan kakakku hingga ia menggelinjang hebat akibat kenikmatan yang setengah-setengah, “Memek punya siapa nih?”, tanya Om Desmond sambil terus menggesek-gesekkan kemaluannya. “Ahhhhhh, punya kalian, ayoo pliiissss, masukin memekku Om”, rengek kak Chika.

Aku yang melihatnya dipermainkan seperti ini akhirnya mengambil inisiatif. Kembali kusodorkan senjataku ke mulut kak Chika, dan dengan sigap ia pun melahapnya, “Ahhh mmmhhhhh, mmmppphhhhh, ahhhhhhh”, Rupanya ketika aku memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya, Om Desmond pun menghentakkan rudalnya hingga berhasil menusuk tepat di lubang senggama kak Chika.

Posisiku kini berada di atas tubuh kak Chika, kugenjot mulutnya yang mungil dan imut ini, sementara itu Om Desmond sedang asik di belakangku menggenjot dan memompa kemaluan kakakku, dan Rudi, ehhhh ternyata sedari tadi ia sibuk merekam apa yang kami lakukan.

“Eh, gw gabung lagi donk”, kata Rudi menyela kami. Ia pun memasang tripod dan merekam kegiatan kami. Kemudian mendekati kami dan mengambil tangan kakakku dan dituntunnya untuk mengocok rudal miliknya. “Ohhhh enak banget memek kamu sayang”, kata Om Desmond yang terus menggenjot kemaluan kakakku. “Mmmhhhhh mmmmhhhh”, kak Chika terus mendesah namun tertahan oleh batang kemaluanku yang sedang memenuhi mulutna.

“Sayang, cobain anal yuk”, tiba-tiba ajak Rudi membuatku terdiam. Semula aku terus menggenjot mulut kakakku, lalu tiba terdiam dan kakakku pun refleks melihat ke arahku. Aku hanya menggelengkan kepalaku tanda tidak setuju. “Ayolah bro, gpp kok, lo aja deh yang coba duluan”, kata Rudi yang mengetahui bahwa aku menolak permintaan Rudi untuk meng anal kakakku yang cantik ini. Sebenarnya bukannya tidak mau, tapi lubang pantat kak Chika hanya milikku seorang, tidak ada yang boleh menikmatinya.

“Ahhhhh ahhhh, jangan yaa kak, cuma adikku aja yang boleh anal aku”, kata kak Chika sambil terus mendesah. “Wowww, kalo gitu yuk kita praktekin”, kata Om Desmond yang mendengar perkataan kakakku. Aku sempat terkejut, tak rela rasanya kalau pantat kakakku harus kuserahkan kepada para lelaki ini. “Lo yang nikmatin anus kakak lo bro”, kata Rudi yang akhirnya membuatku sedikit tenang. Sementara itu kak Chika terdiam sambil duduk melihat perdebatan kecil kami. Tubuhnya begitu lusuh, rambutnya acak-acakan, namun kesan cantik dan imutnya tak pernah pudar.

“Yuk sini”, kata Om Desmond sambil tiduran terlentang. Kak Chika pun menaiki tubuh Om Desmond, ia jongkok di atas kemaluannya dan kemudian, jlebbbb, “Ahhhhhhh”, desahan yang begitu panjang ketika kak Chika menduduki batang kemaluan om Desmond. Plak plak plak, “Ahhhhhh enak Ommm, kontolnya besar banget, memek Chika gak muat Om”, kata kak Chika meracau seperti kesetanan.

Rudi yang sudah siap pun kembali ke atas kasur dan kini mengarahkan batang kemaluannya ke mulut kak Chika. “Mmmmpphhhhh”, lagi-lagi kak Chika dengan brutal menyambar kemaluan Rudi, “Ahhhhh, enak banget mulut lo pelacur”, kata Rudi begitu kasar. “Hey bro, nikmatin pantat kakak lho tuh”, kata Rudi kembali. Hmmmm … Akupun menghela nafas, kemudian memegang bokong kakakku, kulumuri dengan liurku terlebih dahulu, dan kemudian kusodok menggunakan jariku. “Mmmpphhhh”, kak Chika kembali menggeliat ketika anusnya berhasil kutembus menggunakan jari.

Setelah itu kucabut jariku dan kuarahkan kemaluanku tepat di lubang pantatnya. Kugesek-gesekkan terlebih dahulu, kemudian kutekan secara perlahan. “Mmmphhhhhh, ahhhhh”, kak Chika tampak sedikit meringis, dan akupun menahan sedikit ketika ujung kemaluanku berhasil masuk sedikit demi sedikit. “Ahhhh dek, pelan-pelan yaa”, kata kak Chika. Tapi apa daya, karena nafsuku sudah berada di ubun-ubun, langsung saja kuhentakkan, “Ahhhhhh deeekk, aaawwwwww, sakiiittt”, kata kakakku meringis. Kutahan sejenak, lalu kugoyang dengan pelan. “Ahhhh ahhhh ahhhh”, makin lama rasa sakit yang dirasakan kak Chika mulai memudar, Om Desmond dan Rudi pun kembali menggenjot kedua lubang kenikmatan kakakku itu.

Hmmmmm … Akhirnya, kami bertiga menggarap semua lubang kenikmatan yang ada di kakakku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku kalau hal gila yang ingin kulakukan bersama kakakku menjadi segila ini. Tubuh mungil kakakku kini berada di dekapan tiga orang lelaki yang sedang menikmatinya.

Om Desmond kembali menggenjot kakakku dengan kasar, Rudi pun demikian, suara desahan kakakku yang sedang tertahan oleh batang kemaluan Rudi terdengar seperti seseorang yang merengek. “Ahhhhhh kaaak”, ohhhh tiba-tiba ada ledakan kenikmatan yang hampir mencapai puncak akibat lubang sempit yang terus kugenjot ini. “Ahhhhh, aku mau keluar kaaak”, aku terus meracau, “Ahhhhh Om juga mau keluar”, kata Om Desmond yang makin beringas mengerjai kakakku.

Kami bertiga pun dengan kasar menikmati lubang-lubang kenikmatan kak Chika. Desahan demi desahan saling bersahutan, “Arrggghhhhhh”, tiba-tiba tubuh Kak Chika menegang, diikuti oleh dekapan om Desmond yang makin kuat menancapkan batang kemaluannya di liang senggama kakakku, sementara itu Rudi pun menekan kemaluannya di mulut kakakku, “Ohhhhhh aku keluar lagii, ahhhhh”, Rudi pun dengan beringas menggenjot mulut kakakku hingga akhirnya, “Ahhhhhh sayyaaanggg”, croootttt, “Mmmmppphhhhhh”, kak Chika tampak kewalahan ketika kami bertiga secara kompak mempercepat tempo serangan kami. Rudi menyemprotkan sperma ke dalam mulut kakakku, sementara itu Om Desmond pun terlihat menekan kemaluannya sambil memejamkan mata, rupanya ia juga sudah orgasme, dan kini tinggal aku.

Plak Plak Plak, genjotan yang makin lama makin keras di dubur kakakku, “Ahhhhhh kaaak, aku keeelllluuu aahhhhhh”, croooottt croootttt, entah berapa kali pejuku menyembur keluar di dalam lubang pantat kakakku.

Ahhhhhh, entah mengapa, tapi kami begitu kompak menggapai orgasme secara bersamaan. Om Desmond dan Rudi masih menikmati sisa-sisa kenikmatan, sedangkan aku juga enggan mencabut kemaluanku yang masih menancap di lubang pantat kak Chika.

Hmmmm … itulah cerita kegilaan yang kami lakukan beberapa hari yang lalu. Pagi yang begitu panas, sebuah pergumulan yang hebat. Seorang gadis cantik, imut dan mungil ini berhasil membuat tiga orang lelaki menjadi lemas tak berdaya akibat rasa nikmat yang teramat sangat.

TIGA HARI KEMUDIAN

Awalnya aku benar-benar menikmati menyaksikan kakakku yang cantik kewalahan melayani nafsu kedua lelaki itu, tapi makin lama, hatiku makin menjerit namun tertahan karena tidak tega melihat kakakku menjadi budak nafsu keduanya. Om Desmond dan Rudi bagaikan 2 ekor singa yang begitu garang dan tak kenal ampun “menyiksa” tubuh kakakku berkali-kali, menghajar kemaluannya tanpa henti, menumpahkan cairan kenikmatan di sekujur tubuhnya, hingga melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Tubuh kakakku benar-benar bermandikan keringat dan cairan kenikmatan dari kedua lelaki itu, termasuk dariku juga. Huuufffttt …

Mungkin itu adalah pengalaman pertama kakakku di gangbang, cukup sedih melihatnya, namun cukup bergairah saat melihat kakakku berkali-kali mengalami orgasme sampai suaranya tertahan. Ya, kejadian 3 hari yang lalu cukup menyadarkanku bahwa ternyata hal gila yang ada di dalam pikiranku tidak segila yang ada di pikiran kakakku.

“Dek, bangun, udah pagi, ntar telat kuliahnya”, suara itu sayup-sayup terdengar menyadarkanku dari tidur yang kurang nyenyak ini. “Hoaammmmmmm …”, akupun duduk dan sedikit menggeliat serta melakukan peregangan. Rasa lelah di badanku benar-benar menyiksa akibat sisa pertempuran semalam. Ya, semalam kami melakukan rutinitas seperti biasa, yaitu saling memuaskan sebelum tidur, dan diakhiri dengan tidur di dalam pelukan dalam keadaan bugil.

“Mandi gih, ntar kesiangan lo”, kata Kak Chika kepadaku. Ia terlihat begitu sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dikerjakan. “Aku absen aja deh kak, capek pegel banget badanku”, kataku sambil kembali rebahan di kasur empuk milik kakakku. “Ihh dasar, lemah banget jadi cowok, padahal semalem cuma main 1 ronde doank, kalah ama kakak”, kata kak Chika menyindirku. Hmmmm .. Saat ia mengatakan hal itu, kulihat ekspresinya biasa aja, sepertinya ia mulai terbiasa dengan hal-hal tabu seperti yang kami lakukan semalam.

Kak Chika kembali tengkurap sambil menatap layar laptopnya. Ia mengenakan baju piyama dan tanpa bawahan sama sekali, alias setengah telanjang memperlihatkan pantat mungilnya. Ya, sudah beberapa minggu ini, kami lebih sering “setengah telanjang”, atau bahkan telanjang bulat jika di Apartmentnya.

“Kak aku boleh nanya gak?”, tanyaku kepada kak Chika yang masih saja sibuk dengan laptopnya, “Hmmm tanya aja dek”, jawab ia, “Kalo Om Desmond ama Kak Rudi minta main lagi, kakak masih mau gak?”, tanyaku. “Hmmm, tergantung sih”, jawab kak Chika dengan santainya, “Tergantung apa kak?”, aku kembali bertanya, “Ya tergantung lagi mood atau gak”, jawabnya sambil masih terfokus pada laptopnya. “Kakak lagi ngapain sih?”, tanyaku sambil kemudian menuju ke arah kak Chika sambil melihat apa yang ia kerjakan.

Betapa terkejutnya aku, ternyata sedari tadi kak Chika sedang nonton film bokep, akupun ikutan nimbrung, beberapa kali kak Chika tampak tersenyum melihat beberapa adegan yang ada di film itu. Dan ternyata pemeran di dalam film itu adalah kakakku sendiri. Ya, ia sedang menonton hasil rekaman Rudi beberapa hari yang lalu. “Yahhh, pagi-pagi udah bikin ngaceng aja kakak”, kataku sedikit protes, “Ngaceng liat ini atau liat ini?”, kata kakakku sambil menunjuk ke layar laptop dan kemudian menunjuk ke bagian bawah tubuhnya. Hmmm, rupanya ia mulai mancing-mancing nih, pikirku dalam hati.

Akupun ikutan tiduran sambil tengkurap di sisi kakakku, menonton adegan-adegan panas yang bisa menjadi referensi bagi kami berdua nantinya, hehehe. “Ahhh ahhhh ahhhh”, suara desahan yang sayup-sayup terdengar dari speaker laptop kakakku makin meningkatkan gairahku, dan benar saja, adik kecilku mulai berontak. Aku yang hanya mengenakan celana kolor dengan terpaksa harus membalikkan badan dan kemudian memelorotkan celanaku hingga terlepas seluruhnya. “Ngapain dek, kok dibuka?”, tanya kakakku sambil menoleh ke arahku, “Biar bisa bebas berdiri kak, hehehe”, jawabku sambil tersenyum, “Kamu pingin ya?”, tanya kak Chika kembali sambil memperlihatkan tatapan sayu dan penuh makna serta nafsu tersebut, akupun mengangguk karena memang benar saat ini libido kembali memuncak. Bukan karena adegan dalam film porno tersebut, melainkan melihat ekspresi kakakku saat sedang menonton film.

“Sini dek, main di atas kakak”, kata kakakku menyuruhku untuk menindihnya dari belakang. Tanpa basa-basi akupun langsung menaiki pantat kakakku. Kuarahkan senjataku yang sudah berdiri tegak tepat di belahan pantatnya. Kugesek-gesekkan adik kecilku yang sudah benar-benar tegang ini di sela-sela kemaluan kak Chika. “Hmmm, udah becek nih kak”, tanyaku ketika kusadar ternyata kemaluan kak Chika sudah benar-benar basah dan licin. “Ahhhhh, iya dek, ayo dek masukin kontolnya ke memek kakak”, jawab kak Chika sambil sedikit mendesah dan kemudian memejamkan matanya.

“Ahhhh dek, enak banget”, kata kakakku kembali dengan suara desahan yang begitu menggoda saat terus kugesek sela-sela kemaluannya. Kutopang tubuhku dengan kedua tanganku, kutiduri bagian belakang tubuh kakakku ini sambil terus kunikmati kemaluannya. Makin lama gesekanku makin cepat, hingga akhirnya kedua tanganku tak dapat menopang tubuhku dan akhirnya akupun tiduran di punggung kakakku namun masih kugenjot bagian bawah tubuhnya.

Terus kugesek rudalku di selangkangan kak Chika, hingga akhirnya ia agak sedikit menunggingkan bokongnya. Hmmm, akupun kembali dalam posisi duduk sambil terus menggesek kemaluan kakakku. Ini adalah posisi favoritku, karena secara visual aku bisa melihat keindahan bokong kakakku yang mungil dan juga di posisi seperti ini, lubang kemaluan kakakku akan menjadi sedikit lebih sempit dari posisi lainnya.

Kutarik bokong kakakku agar makin dekat dengan senjata milikku. Kedua kaki kakakku masih merapat dan aku setengah berdiri, bertumpu pada lutut sambil mengarahkan rudalku tepat ke lubang kemaluan kak Chika. Kupegang batang kemaluanku, kuarahkan ke bibir kemaluan kakakku, jleeebbbb. “Ahhhhhhhh”, desahan yang cukup panjang terdengar dari mulut kakakku ketika hentakanku membuat kemaluanku terbenam seluruhnya ke dalam lubang kenikmatannya.

Plak plak plak, tanpa mengatur tempo, langsung saja kugenjot kemaluan kakakku dengan RPM yang cukup tinggi. Ahhhhh entah mengapa, dinding kemaluan kakakku rasanya benar-benar nikmat. Walaupun pernah dinikmati oleh lelaki lain, tapi tidak membuat sempitnya berkurang. Plaaak, “Ahhhhhh, sakit deeek, ahhhh”, kata kakakku meracau ketika kutampar bongkahan bokongnya yang menggemaskan ini.

Plak plak plak, suara hentakan dan genjotanku terdengar menambah semangat kami berdua. Kak Chika meskipun sambil melihat layar laptopnya, tapi ia juga ikut menggerakkan bokongnya maju mundur, membantuku agar senjata milikku masuk makin dalam di liang kewanitaannya.

Entah mengapa, aku begitu suka melihat pantat kakakku. Lubang sempit yang ada di hadapanku ini begitu menggodaku untuk mencobanya lagi. “Ahhhh, kak, masukin ke sini lagi ya”, kataku sambil menyentuh lubang anusnya, “Ahhhhh ahhhh jangan dek, ahhhhh, kakak belum boker”, jawab kak Chika. Huuffttt, aku sedikit kecewa, namun kembali kusodok dan kugenjot liang kewanitaannya. “Masukin ke memek kakak aja dik”, kata kak Chika kembali, “Tapi aku pingin kak”, godaku, “Ihhh deeek, kakak belum boker, ntar kontolmu kena tai gimana?”, tanya kak Chika kembali, “Gak mungkin kena kak, kan aku sodok”, rayuku kembali, “Ya udah, terserah kamu deh dek”, kata kak Chika akhirnya menyerah.

Akupun mencabut kemaluanku dari lubang kewanitaannya, dan kuambil cairan pelumas yang sengaja ku beli di apotik 2 hari yang lalu. Kubasahi lubang pantat kakakku dan kugesek-gesekkan kemaluanku. Secara perlahan kuarahkan kemaluanku dan kutekan sedikit demi sedikit.

“Ahhhh shhhh”, kak Chika hanya mendesir menahan sodokanku di bokongnya. “Pelan-pelan ya dek, jangan kyk kemarin”, kata kakakku sambil menoleh ke arahku. Kutekan terus bokong kakakku, sedikit demi sedikit hingga akhirnya masuk setengahnya. Kembali kutumpahkan sedikit cairan pelicin ke batang kemaluanku dan kusodok secara perlahan hingga akhirnya kemaluanku terbenam secara sempurna di lubang pantat kak Chika.

Akupun mulai menggenjot pantat kakakku, kugoyangkan pinggulku, sementara itu kak Chika hanya terdiam, hanya suara nafas beratnya yang terdengar. Oh My …. “Ahhhhhhh kaaak, enak banget pantat kakak”, entah mengapa, aku tidak bisa bertahan lama-lama jika sudah menikmati lubang sempit ini. “Ahhhh kaaak, aku mau keluar”, kataku meracau, “Iya dek, keluarin aja, ahhhhh”, jawab kak Chika.

Makin lama sodokanku makin cepat, cairan pelicin tadi meluber keluar dari lubang pantat kakakku. “Ahhhh kaaak, ahhhhh aku keluuarrrr, ahhhh”, kusodok makin dalam dan kutahan kemaluanku, srrrrrrr, ahhhhhh nikmat sekali rasanya ketika pejuku tumpah di dalam lubang pantat kakakku.

Hmmmmmmmm … akupun menghela nafas begitu dalam, rasa nikmatnya benar-benar membuatku ngilu. Entah sampai kapan aku bisa menikmati kakak kandungku sendiri. “Udah dek, cabut, kakak mules nih”, kata kak Chika. Seketika ku cabut penisku dan hmmmm sepertinya aku harus ikutan mandi nih. Hiiiiiii …

SEKIAN

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!