Chikastory – Malam yang Gila – Cerita Pendek

No comment 12783 views

Tiiinggg, pintu lift pun terbuka, kubiarkan Kak Chika keluar terlebih dahulu, karena aku sibuk membawa beberapa tas yang berisi make up dan pakaian Kak Chika. Cekreeekkk, Kak Chika membuka pintu kamar Apartmentnya dan kami pun masuk ke kamar ini. Seharian kami cukup sibuk, lebih tepatnya Kak Chika cukup sibuk dan aku hanya menjadi asisten pribadinya untuk hari ini. Photoshoot yang cukup melelahkan, yang membuat lelah adalah jantungku yang tak berhenti berdegub kencang saat Kak Chika memperlihatkan paha mulusnya kepada para fotografer.

“Kk gak jadi foto bugil ya?”, tanyaku sambil meletakkan beberapa barang bawaan tadi tepat di samping meja rias kak Chika. “Hmmm, setelah kk pikir, kyknya lebih baik nggak deh dik”, jawab Kak Chika, “Emang kenapa kak? Kan bayarannya gede, hehehee”, tanyaku kembali, “Emang kamu rela cowok-cowok itu liat kakak telanjang bulat?”, Kak Chika balik bertanya, hmmm sebuah pertanyaan yang sulit. Sebagai adik tentu saja aku tak rela tubuh indah kakakku dinikmati oleh para lelaki hidung belang yang mengatasnamakan seni fotografi sebagai modus, tapi di sisi lain ada sensasi yang tak dapat kuungkapkan ketika tubuh kakakku dinikmati banyak orang.

Seperti biasa, Kak Chika selalu cuek di depanku. Tanpa pikir panjang ia membuka celana jeans ketatnya. Belahan pantatnya yang masih dibalut oleh CD transparan berwarna hitam tampak begitu indah. Plaaaak, kutepok bokong indah Kak Chika, “Dek, jangan kurang ajar ihh”, kata Kak Chika sambil melompat menghindar menjauhiku, tapi lirikan matanya seakan-akan menggodaku untuk melakukan lagi. Aku bangun dari tempat dudukku kemudian mengejar Kak Chika lalu meremas bokongnya, “Ihhh deeek”, Kak Chika kembali menghindar, ia melompat ke atas kasur kemudian berlari menjauhiku sambil membawa celana jeans yang dilepasnya tadi. “Jangan gitu dek, ngeri tauu”, kata Kak Chika. Tak kupedulikan apa yang ia katakan, aku melompat ke kasur dan Kak Chika pun kembali berlari menghindariku, “Deeeekkk, jangan gitu ahh, kamu tu kyk orang mau perkosa kk aja”, kata Kak Chika sambil memperlihatkan wajah ketakutan, “Becanda kak”, jawabku, kemudian akupun tiduran di kasur Kak Chika.

Huhhh sial, aku kira Kak Chika akan senang dengan perlakuanku tadi, tapi dia malah ketakutan, padahal aku sudah menahan libidoku sejak tadi siang saat mengantarnya melakukan photoshoot. Kunyalakan TV yang menggantung di dinding, aku berusaha mengalihkan pikiran mesumku.

Shiiit, baru saja berniat untuk tidak mesum, tiba-tiba Kak Chika memelorotkan cd yang ia kenakan. Posisinya membelakangiku sehingga pantat dan memeknya terlihat jelas saat ia nungging melepas cd hitam transparan itu. Kak Chika pun mengambil handuk yang digantung di gagang pintu lemari, kemudian melilitkan dan menutupi bagian bawah tubuhnya. Huhhh sial, aku mengumpat dalam hati karena pemandangan indah yang baru saja kulihat sudah ditutup kembali.

Kak Chika berjalan menuju kamar mandi, ia sempat melirik dan tersenyum ke arahku. Entah apa yang disenyuminya, tapi yang pasti, otongku kali ini sudah benar-benar tegang. Apakah harus kuselesaikan dengan coli malam ini? Ahhhh, seharusnya aku memberanikan diri untuk menggarap kakakku sendiri. Hmmmmm …

Kutarik selimut, kupelorotkan celanaku, dan akupun memejamkan mata sambil mengocok kontolku yang sudah tegang sejak tadi. Kubayangkan Kak Chika sedang mengulum kontolku. Ahhhhh, rasanya nikmat, walaupun tak senikmat jepitan dinding memek kak Chika. Kudengar suara guyuran air dan juga suara nyanyian kak Chika di dalam kamar mandi. Ahhh betapa nikmatnya kalau saja aku mandi dengannya sambil menggesek-gesekkan kontolku di belahan pantatnya, lalu menusuk lubang senggamanya di bawah guyuran air hangat.

Tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Kak Chika yang sempat mengatakan kapanpun aku bisa menikmati tubuhnya. Akupun beranjak dari tempat tidur kak Chika. Dengan kontol yang masih menegang aku berjalan menuju depan pintu kamar mandi, cekreek cekreek, kuputar kenop pintu kamar mandi itu, namun sayang, ternyata Kak Chika menguncinya. “Kenapa deek?”, tanya Kak Chika dari dalam kamar mandi, “Ikutan donk kak”, jawabku. Tak ada balasan darinya, namun suara guyuran air pun sudah tak terdengar lagi.

Kreeeeekkk, tiba-tiba pintu kamar mandi pun terbuka, kak Chika keluar dan ia sempat terkejut saat melihatku sedang berdiri di hadapannya. “Ehh deek, ngapain? Yahh, kok ngaceng sih?”, tanya Kak Chika sambil melihat ke arah batang kemaluanku yang sedang berdiri tegak, “pengen kak”, jawabku, “Ckckck, dasar ternyata nafsumu besar juga ya”, kata Kak Chika sambil berlalu kemudian melepas handuknya seraya mengeringkan tubuhnya.

Aku tertegun melihat keindahan tubuh mungil Kak Chika yang sedang bugil. Ia berdiri membelakangiku, mengangkat sebelah kakinya kemudian mengusapnya dengan handuk. Pose yang sungguh tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata, kemolekan tubuh yang benar-benar membuat cairan dalam tubuhku seolah-olah ingin menyemprot keluar menyentuh bongkahan pantatnya yang begitu putih, mulus dan indah. “Kak, mmmm, ML yuk”, pintaku dengan frontal, “Ihhh besok aja dek, kk baru selesai mandi nih”, jawab Kak Chika yang membuatku lemas seketika, “Katanya kapanpun aku pingin, aku boleh minta ama kk”, kataku protes, “Kenapa gak minta dari tadi, kan sekalian mandi bareng”, jawab kak Chika yang membuatku menyesal. Iya juga ya, kenapa aku gak minta dari tadi? Aku terus bergumam dalam hati.

Huhhhh, aku pun kembali ke kasur, rebahan dan menarik selimut. Tak bisa kusembunyikan kekecewaan di wajahku. Aku benar-benar cemberut saat ini. Tapi pandanganku tetap melirih ke arah kak Chika yang masih saja bugil sambil di depan cermin. Aku memang kecewa, bibirku cemberut, namun tangan kananku tak mau ketinggalan momen berharga ini. Tangan kananku mengocok dengan cepat sambil melihat ke bagian punggung kak Chika, turun ke bagian pinggul, kemudian bagian pantat, dan ahhhhh, sepertinya ada sesuatu yang akan keluar, “Ahhhhhh”, tiba-tiba saja aku mendesah, mataku terpejam, “Ahhhhh”, “Dek, kamu coli ya?”, tanya kak Chika yang melihat ke arahku. Akupun menghentikan kocokanku, karena pertanyaan itu. Kak Chika berjalan ke arahku kemudian menarik selimut, sempat kutahan namun tangan kak Chika begitu cekatan sehingga terlihat sudah kontolku yang benar-benar berdiri tegak. “Duh, kasian amat kamu dek, kamu bener-bener pengen ya?”, tanya kak Chika sambil memandang mataku dengan tatapan sayunya, “Iya kak”, jawabku dengan memelas.

Tiba-tiba Kak Chika menggenggam kontolku, “Ahhhhhh”, jari jemarinya saja sudah membuatku menggelinjang keenakan saat ini, apalagi kalau memeknya yang mencengkeram kontolku. Dikocoknya dengan perlahan, “Ahhhh kaak”, desahanku kembali keluar. Kulihat kak Chika mendekatkan wajahnya ke arah kontolku, kemudian, ohhhh shiiiit, tiba-tiba saja bulu kudukku merinding, menahan rasa ngilu akibat nikmat yang begitu luar biasa saat lidah kak Chika menyentuh ujung kepala penisku, “Ahhh kaak, emutin donk”, pintaku, dan Sleebbbb “MMppphhhhhhh mmmhhhh”, suara mulut kak Chika ketika dipenuhi oleh batang penisku.

Ohhh shiiiittt, “Kaaak, aku mau keluar”, kataku ketika kembali merasakan hampir ejakulasi, “Jangan dulu dek”, kata kak Chika setelah melepaskan kulumannya. “Dek kamu mau gak emutin punya kk?”, tanya kak Chika sambil menatap mataku. Terbersit sedikit perasaan malu ketika kakak kandungku sendiri memintaku untuk melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang saudara. Tapi nafsu sudah menguasai akal sehatku, akupun mengangguk tanda setuju.

Kak Chika naik ke atas kasur, berdiri di hadapanku yang sedang tiduran. Kulihat garis memeknya yang begitu indah dari bawah, pemandangan yang sangat luar biasa, hingga kemudian kak Chika mengangkangi wajahku, kemudian jongkok tepat di hadapanku. Wow pemandangan indah itu kini bisa kunikmati dari dekat, dan Sluurrpppp, “Ahhhh deeek”, Kak Chika mendesah saat lidahku menjilat belahan memeknya dengan begitu lembut.

Kami berdua kini sudah dalam posisi 69, Jijik? Ya mungkin secara rasional akan demikian, karena tidak sepatutnya kemaluan berada di mulut. Tapi saat ini, kenikmatan mengalahkan segalanya, nafsu sudah menggelora, kuluman kak Chika membuatku makin menggila, sementara itu jilatanku membuat kak Chika meronta. Ohhhh nikmatnya hidup ini.

Pantat mungil kak Chika menggenjot mulutku yang sedang menjulurkan lidah, sementara itu isapannya makin kencang dan membuatku ikutan menyodok mulut kak Chika. “Mmmmhhhhhh mmmpphhhh” suara desahan kak Chika tertahan akibat kontolku yang menyumbat mulutnya saat ini.

Tiba-tiba kak Chika mengangkat tubuhnya lalu berdiri dan berputar arah. Ia kembali jongkok kemudian menggenggam kontolku untuk dipaskan ke lubang memeknya dan jleeebbb, Ohhh my …. Akhirnya, kontolku kembali merasakan kenikmatan jepitan dinding memek kak Chika. Sleeb sleeb sleeb, suara kecipak dari gesekan kontolku dengan memek Kak Chika begitu membuatku makin bersemangat, bruuuk, tiba-tiba kak Chika merebahkan tubuhnya di dadaku. Kurasakan kehangatan dan kenyalnya payudara kak Chika yang menghimpit dadaku.

Mmmmpphhhh, secara tiba-tiba kak Chika menyerang bibirku. Bibir kami saling melumat, lidah saling bertemu dan saling serang satu sama lain. “Hmmmmm ahhhhhh huhhhhhh”, desahan demi desahan dari kak Chika yang makin bersemangat menggenjot kontolku, “Huhhhhh deeek, ahhhhhh, kk mau keluar”, kata Kak Chika kembali di tengah-tengah desahannya. Mendengar hal itu aku membantunya, kugenjot memeknya seirama dengan goyangan pantat kak Chika sehingga kontolku menancap makin dalam. “Aaaahhhhhhh deeek”, desahan kak Chika makin liar dan makin keras, “Aaaahhhhhhh ahhhhhh ahhhhhh”, desahannya berubah menjadi teriakan, Ohhh noooo … Tiba-tiba saja aku juga merasakan ada yang mengganjal, sebuah luapan hasrat yang akan meledak, “Ahhhhh kaaaak”, kami berdua mendesah menjadi-jadi, “Ahhhhhh ahhhhh”, entah desahan siapa yang lebih keras, tapi kami berdua saling bersahutan, dan “Ahhhhhhhh”, dengan sigap kuangkat tubuh kak Chika yang mungil, “Ahhhhhhhh”, crooottt crooottt, spermaku menyembur mengenai memek dan pantat kak Chika, ohhhhh nikmatnya, jleebbbbb, tiba-tiba kak Chika kembali menduduki kontolku yang masih merasakan geli yang amat sangat akibat nikmatnya ejakulasi.

Kak Chika menggenjot kontolku dengan keras. Aku baru saja ejakulasi namun kontolku masih keras karena sisa-sisa kenikmatan yang belum hilang, “Ahhhhhhh ahhhhh ahhhhhh” desahan kak Chika yang amat keras, “Deeeekkkk ehhhhhhhh”, tubuh kak Chika mengejang, ia menekan kontolku dan rasanya jepitan memeknya makin erat. Rupanya ia akan mengalami ejakulasi, “ahhhhhhhhh” desahan panjang keluar dari mulutnya. Bruuukk, tubuhnya kembali direbahkan di atas dadaku, “Enak kak”, kataku, kak Chika pun mengangguk, artinya ia juga menikmati apa yang kami lakukan saat ini.

Kami berdua berpelukan erat dengan tubuh yang agak lengket akibat keringat yang mengalir deras. Makin lama kontolku makin lemas hingga menyeruak keluar dari lubang memek Kak Chika. Kami masih tetap berpelukan hingga akhirnya kontolku pun keluar. “Ehhhhh, mmmmpphhhh”, entah mengapa tiba-tiba kak Chika menyambar bibirku, ia mengajakku berciuman, lidahnya bermain di dalam mulutku.

Aku baru saja mengalami orgasme, sehingga nafsuku hilang dan hal yang kurasakan saat ini hanyalah aneh saja dicumbu oleh kakak kandungku sendiri. Aku berusaha mengimbangi permainan lidah kak Chika, walaupun rasanya aneh, tapi aku tak ingin mengecewakannya, karena ia beberapa kali telah memuaskanku jika aku sedang bernafsu.

Tiba-tiba kak Chika kembali menduduki kontolku yang masih lemas. Ia bergoyang maju mundur, menggesek-gesekkan kontolku di memeknya yang masih basah dan licin. Kak Chika meremas-remas payudaranya sendiri. “Ahhhh deek, lagi yuuk”, kata Kak Chika sambil terus menggenjot kontolku yang sedang lemas. Aku berharap nafsu dan gairahku bangkit lagi, tapi apa daya, sulit bagi seorang cowok untuk dapat bergairah dengan cepat setelah mengalami orgasme.

Kubiarkan kak Chika terus memainkan kontolku yang sedang lemas. Aku pun memejamkan mata karena perasaanku saat ini sangat aneh melihat kakakku begitu bernafsu. Tidak adil memang, karena disaat aku bernafsu, aku begitu bersemangat menggarap kakakku, tapi di saat aku tidak bernafsu, aku malah merasa aneh seperti ini.

“Ahhhh, ahhhh, deeek, ayoo donk”, kata Kak Chika terus menggenjot kontolku. Aku hanya bisa terdiam dan pasrah sambil memejamkan mata. Aku hanya merasakan sedikit geli saat kontolku bergesekan dengan memek kak Chika. “Dek, kamu gak pengen ya?”, tiba-tiba saja kak Chika berhenti bergoyang dan melihat ke arahku, “Maaf kak, masih belum bisa nih”, jawabku sambil melihat ke arah kontolku sendiri. Rupanya kak Chika mengerti maksudku, ia pun tiduran di sampingku, “Ohhh, ya udah, istirahat dulu dek”, kata Kak Chika sambil memelukku.

Kurasakan tubuh mungil kak Chika sedang memelukku, kaki kanannya naik ke atas pahaku, sementara itu tangan kanannya mengusap-usap perutku. Kurasakan bulu-bulu halus memeknya sedikit mengenai paha sampingku. Hmmm, seandainya kami adalah pasangan kekasih, mungkin ini adalah hari paling bahagia untukku, tapi sayangnya, ia adalah kakakku, jadi perasaan yang ada hanyalah canggung.

Tangan kak Chika mengusap-usap perutku, makin lama makin turun, turus terus hingga akhirnya ia menggenggam kontolku yang masih lemas. Ia memainkannya dengan lembut, sambil menggesek-gesekkan memeknya di pahaku. Wah, rupanya kakakku lagi benar-benar bernafsu nih. “Kakak pengen lagi ya?”, aku mencoba bertanya, “Iya dek”, kata kak Chika sambil menatapku dengan sayu.

Hmmmm, aku menghela nafas kemudian balik badan menyamping sehingga kami berhadapan saat ini. Aku coba agak bergeser ke bawah hingga bibirku sejajar dengan susu kak Chika. Langsung saja kulumat dan kukulum puting susu kak Chika dan jariku memainkan memeknya yang masih basah. “Ahhhhh deeeek”, kak Chika mendesah, dan jariku dengan lihai bermain di area klitoris kak Chika. Ia pun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan jariku.

Sleebbbb, “Ahhhhhh, deeeek”, desahan yang begitu manja dari kak Chika saat jariku masuk ke dalam lubang memeknya yang licin. Sementara itu bibirku masih melumat serta menggigit pelan puting susu kak Chika. Mmmmpphhhhh mmmmhhhhh, “Ahhhhhh deeeekk, yang cepet deeek”, kata kak Chika sambil meracau dan bergoyang makin cepat. Makin lama kontolku yang lemas berangsur-angsur berdiri, nafsuku yang tadinya hilang kini mulai datang lagi.

Aku pun kembali berputar, namun kali ini aku berlawanan arah dengan kak Chika. Kepalaku berada di selangkangannya, sementara kontolku berada di wajah kak Chika. Kuangkat sebelah kakinya dan kemudian aku tiduran di paha kak Chika sehingga pandanganku begitu jelas melihat lubang memek kak Chika yang begitu indah. Mmmmpphhhhh, kembali kucium memek kak Chika, kujulurkan lidahku, kulumat habis kemaluannya hingga paha kak Chika menjepit kepalaku karena rasa geli yang ia rasakan. Sementara itu kak Chika mulai mengocok kontolku sambil sesekali menjilatinya.

Aku makin membenamkan kepalaku di selangkangan kak Chika, lidahku kini dapat masuk ke liang senggama kak Chika. Rasa amis yang kurasakan sudah tak kuhiraukan lagi, karena itu justru menjadi penambah nafsu diriku saat ini. Jilatanku tidak hanya mengitari area lubang kenikmatannya. Kini lidahku makin nakal dan mulai menjulur ke bagian dubur kak Chika. “Ahhhh deek, geliiii”, kata kak Chika saat lidahku menyentuh lubang anusnya. Mmmmpphhhhh sluurrrpppp sluuurrrppp, jilatanku makin liar, bermain di kedua lubang kak Chika. Ini membuatnya makin semangat menyepong kontolku yang sudah berdiri tegak.

Entah mengapa tiba-tiba nafsuku makin memuncak, dan aku makin penasaran dengan bagian bawah tubuh kak Chika ini. Ingin kueksplor lebih dalam lagi. Kedua tanganku memegang bongkahan pantat kak Chika dan kemudian aku menjilati anusnya. “Ahhhhhh deeekk, jorok ahhh, jangan di situ”, kata kak Chika protes, tapi tak kuhiraukan protesnya. Jilatanku makin menjadi, aku berusaha menembus lubang pembuangannya dengan lidahku, namun apa daya, lidahku tak mampu melakukan penetrasi ke lubang anusnya yang begitu sempit itu. “Dek jijik ahh”, kata kak Chika lagi, tapi aku tetap tak peduli, aku makin bernafsu dan ingin memainkan lubang pantatnya, hingga akhirnya kak Chika berontak dan jilatanku terlepas.

Kak Chika duduk sambil melihat ke arahku, “Jangan jilatin itu dek, jijik”, kata kak Chika, “Aku nggak jijik kak”, jawabku, “Iya dek, tapi jangan jilatin pantat”, kata kak Chika lagi, “Tapi aku penasaran kak”, aku kembali menjawab, “Ihhh dasar kamu dek, aneh-aneh aja”, kata kak Chika. Ia kemudian terlentang di hadapanku, kedua kakinya menekuk sambil mengangkang, pertanda ia udah siap untuk dientot. Tapi aku masih penasaran dengan anusnya, “Kak nungging donk”, pintaku. Kak Chika pun menuruti permintaanku dan ia pun berganti posisi menjadi nungging.

Hmmmm, aku kembali menghela nafas melihat keindahan bongkahan pantat kak Chika yang mungil dan menggemaskan ini. Sluuurrrrpppp, “Ahhhhhhhh”, lidahku kembali mengeksplor bagian belakang tubuh kak Chika. Jilatanku membasahi memek hingga ke anus kak Chika. Kali ini aku benar-benar ingin merasakan lubang pembuangan kak Chika. Kulebarkan bongkahan pantatnya dan kujilati anusnya. “Ahhhhhh geli dek”, kata kak Chika sambil memainkan klitorisnya sendiri.

Makin lama jilatanku makin kasar di anusnya, rasa penasaranku pun makin menjadi. Kali ini tidak hanya lidahku yang mengeksplor lubang pantat kak Chika, jariku pun mulai nakal dan mulai bermain di lubang sempit itu. Kumainkan perlahan, kumasuki perlahan, “Ahhhh deeek, nakal kamu ya”, kata kak Chika sambil mendesah, dan slebbb, akhirnya jariku masuk ke lubang pantat kak Chika. Kukocok jariku, awalnya dengan perlahan dan makin lama makin cepat. “Ahhhhh ahhhhh”, Kak Chika mendesah makin keras, pantatnya bergoyang. Entah berapa lama kumainkan lubang anus kak Chika hingga akhirnya akupun makin tak tahan, ingin rasanya segera kulepaskan gairah yang tertahan ini. “Kak, boleh gak aku masukin ke sini”, pintaku sambil mengobel lubang pantat kak Chika, “Ihhh jangan deek, sakit”, jawab Kak Chika sambil terus memainkan klitorisnya sendiri, “Pelan-pelan aja kak”, pintaku kembali, “Ya udah, pelan-pelan ya, kalo sakit jangan dilanjutin ya dek”, kata kak Chika.

Hmmmm, akupun makin bersemangat, karena inilah pertama kalinya aku akan mencoba anal seks, yaitu dengan kakakku sendiri. “Dek, pake handbody di atas meja ya, biar licin”, kata kak Chika. Akupun beranjak, menuju meja rias kak Chika, mengambil handbody, kemudian kembali ke kasur. Kubuka penutup handbody tersebut, lalu kulumuri kontolku dan lubang anus kak Chika. Sebelumnya kembali kumasuki jariku ke lubang anusnya agar makin licin. Setelah kurasakan sudah cukup licin, akhirnya kuarahkan kontolku ke lubang anus kak Chika. Kulihat kak Chika sedang menoleh ke belakang, melihat ke arahku sambil harap-harap cemas karena ini adalah pengalaman pertamanya di anal. Saat kepala kontolku menyentuh dinding lubang anusnya, kak Chika melenguh pelan, “Dek pelan-pelan ya”, kata kak Chika lagi, ia begitu khawatir merasakan sakit. Aku sebagai adiknya pun tidak akan membiarkan kakakku kesakitan.

“Ahhhh deeek, pelan-pelan”, kata kak Chika saat kepala kontolku mulai masuk ke lubang yang sangat sempit ini. “Ahhhhh”, akupun mendesah saat sedikit demi sedikit kontolku berhasil masuk, “Ahhhhh deeek, sakiiit”, kata kak Chika hingga aku menghentikan sementara apa yang aku lakukan. Padahal saat ini kontolku sudah masuk setengahnya. “Dorong pelan-pelan dek”, kata kak Chika lagi, kini kedua tangannya sedang memegang bongkahan pantatnya sendiri, sambil melebarkannya. Sedikit demi sedikit, terus kudorong pinggulku, terus masuk dan jleeebbbbb, “Ahhhhhh deeeekkk”, Kak Chika meracau saat kontolku berhasil masuk dengan sempurna di dalam lubang anusnya. Hmmmm akhirnya aku berhasil merasakan nikmatnya anal seks.

Kugenjot dengan perlahan pantat kak Chika. Rasa licinnya makin berkurang dan kembali kutuang handbody di permukaan lubang anusnya hingga licin kembali. Sleppp sleeppp sleeppp, kembali kugenjot lubang anusnya, makin lama makin cepat, “Ahhhh ahhhhh”, kak Chika mendesah, tapi entah mengapa, sempitnya lubang anus kak Chika membuatku begitu cepat mencapai klimaks. Plakkk plakk plakkk, secara tiba-tiba kugenjot kak Chika makin kasar, “Ahhhh deeekkk, pelan-pelan”, kata Kak Chika, tapi apa daya, karena nafsuku sudah di ubun-ubun, tak kuhiraukan kata-katanya, makin kupercepat genjotanku, “Ahhhhh ahhhh kaaaak ahhhhh”, plak plak plakkkk, crooottt crooottt, hmmmmm pejuku menyembur di dalam lubang anus kak Chika, kusodok makin dalam kontolku sambil merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa, “Kamu udah keluar dek?”, tanya kak Chika, “Iya kak, ahhhhhh”, jawabku, sambil menikmati sisa-sisa tumpahan peju di lubang anusnya, “Yahhh, kakak belum dapet dek”, kata kak Chika sedikit kesal. “Maaf kak”, jawabku.

Kucabut kontolku secara perlahan, ahhhhh rasanya begitu geli saat kontolku bergesekan dengan dinding lubang anus kak Chika. Kak Chika pun rebahan kembali, dan aku juga ikutan rebahan di sisinya. Kulihat raut wajah kak Chika begitu kecewa. Ia pun mulai memainkan puting susunya sendiri, lalu tangan kanannya menjulur ke bawah, dan memainkan klitorisnya sendiri. “Ahhhhhh, ahhhhhh”, kak Chika mulai mendesah kembali. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu jarinya bermain dengan kasar di area kemaluannya sendiri. Saat ini nafsuku telah hilang kembali, tapi rasa penasaranku mengalahkan hal itu, sehingga aku ingin melihat bagaimana seorang cewek melakukan masturbasi.

Kulihat kak Chika mulai memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang memeknya sendiri, sambil mengocoknya dengan cepat. Ingin rasanya kubantu ia agar mencapai klimaks, tapi nafsuku telah hilang saat ini, jadi aku hanya bisa melihatnya menikmati tubuhnya sendiri. “Ahhhhh ahhhhh, ehhhhhhh”, tubuh kak Chika menggelinjang hebat, rupanya ia akan segera orgasme. “Ahhhhhh deek, bantu kakak plissss, ahhhhh”, kata Kak Chika sambil terus mengasari lubang memeknya sendiri. Mendengar hal itu mau tak mau aku harus membantunya, walau hanya dengan tanganku.

Kujulurkan tanganku, kuraih klitoris kak Chika dan kukasari dengan jariku. Tubuhnya makin menggelinjang, “Yang keras deek, ahhhhhh”, kata Kak Chika. Kuusap-usap klitorisnya dengan cukup kasar, “Ahhhhhhh deeeekkk ahhhhhh kakak mau keluar ahhhhhh”, tubuh Kak Chika mengejang, jarinya makin dalam menancap di lubang memeknya, sementara aku terus mengusap klitorisnya dengan kasar, “Ehhhhhhh”, srrrrrrr, kurasakan air kencing keluar dari memek kak Chika, rupanya ia squirt, sehingga cairan orgasmenya keluar bersama air kencingnya. “Ahhhhhhhhh”, desahan kak Chika makin pelan, dan tubuhnya kini menjadi lemas. “Ahhhhhh, makasi dek”, kata kak Chika.

Kupeluk tubuh mungil kak Chika, dan ia pun berbalik badan menjadi membelakangiku, lalu ia menarik tanganku sehingga aku memeluk dadanya dan menyentuh payudaranya. Saat ini kami memang sangat tidak pantas dikatakan sebagai kakak dan adik, kami lebih pantas dikatakan sebagai sepasang kekasih. Tapi kenyataannya memang demikian, walaupun kami selalu mencapai kepuasan bersama.

Oh kak Chika, makasi untuk malam ini. Kukecup leher belakangnya dengan perlahan, “Bobo’ dek, ntar kalo pengen lagi, bangunin kakak ya”, kata Kak Chika. Hmmm … Entah sampai kapan aku bisa menikmati tubuh kakakku ini. I Love you kak Chika.

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!