First Love – Love starts from the Basketball Court • Part 1

“Kak, Ari pergi dulu ya”, pinta Ari sambil membawa satu roti selai cokelat dan bergegas pergi. “Hati-hati dek”, teriak kak Rini. “Duh mampus gw telat dah”, ucap Ari sambil memasukkan kunci motor nya. “Wait, kalo gw pake motor nanti macet lagi.. ahhhh bodo”, kata Ari mencabut kembali kunci motornya, lalu lari sekuat tenaga menuju jalan raya untuk menaiki angkot. Setiba nya angkot nya, Ari pun langsung memasuki angkot itu. Angkot itu pun melaju.

“Bang bisa cepetan lagi ga bang? Soalnya saya telat nih”, pinta Ari kepada sopir angkot itu. “Bisa si bang, tapi kalo ada penumpang harus berhenti dulu hehe”, ucap abang sopir itu. Ari terus melirik jam tangan Fossil berwarna hitam nya, sambil terus bercakap dgn sopir angkot. “Aa kiri bang”, ucap Ari. Ari pun turun di depan halte dan bergegas menuju halte yang berada diseberang jalan. Ari menempelkan kartu nya, lalu masuk.

Setelah mendengar busway tujuannya akan tiba, Ari pun bergegas menuju jalurnya. Ketika Ari sedang berlari kecil, tanpa sengaja ia menabrak seorang perempuan. Menyadari kesalahannya, Ari pun langsung meminta maaf kepada si perempuan itu. “Eh sorry ya, gw ga sengaja”, kata Ari. “Kenapa si pagi-pagi aku udah kena sial”, ucap perempuan yang memakai masker dan berkacamata itu. “Kok jadi marah si? Yaudah terserah lo mau marah apa engga, itu kan hak lo. Btw gw mau minta maaf lagi”, kata Ari menanggapi kekesalan si perempuan itu.

Busway pun telah tiba, Ari masuk terlebih dahulu dan mencari tempat duduk. “Huuu akhirnya berangkat juga”, kata Ari dalam hati nya. “Eh itu kan cewe yang tadi, mau kemana ya? Eh kok gw jadi kepo si..”, kata Ari setelah melihat perempuan yang tadi ia tabrak. Saat mata Ari dengan mata si perempuan itu bertatapan, Ari seperti merasa beda dengan si perempuan dengan perempuan lainnya. Hmmm apakah dia special? Eh apaan dah hahaha.

Busway pun akhirnya bergegas jalan menuju kampus Ari yang berada di daerah Jakarta Barat. Mata Ari sesekali mencuri pandangan ke arah perempuan tadi. Kalo di lihat-lihat si dia tinggi juga, terus putih, tatapan mata nya juga bikin hati jadi deg-degan. “Ehhh apa yang ku ucap? Aaaaa”, kata Ari dalam hati nya. “Ah sudahlah mending gw tidur saja”, ucap Ari. Ari pun menutup matanya berusaha untuk tidur. “Ah kampret ga bisa tidur juga”, kata Ari. Disaat Ari melihat mata si perempuan tadi, tiba-tiba si perempuan tadi membuang pandangannya. “Ohhh daritadi dia ngeliatin gw ya.. hmmm oke oke”, kata Ari dalam hati nya setelah mengetahui si perempuan memperhatikannya.

Tiba-tiba si perempuan itu oleng, tak bisa kendalikan badannya, hingga mau terjatuh. Dengan sigap Ari menopang badan si perempuan yang hampir terjatuh itu, saat itu lah mata mereka saling menatap. “Lo kenapa?”, tanya Ari. “Cuman pusing aja”, sahut si perempuan itu. “Yaudah lo duduk dulu”, kata Ari sambil menuntun si perempuan ini duduk di kursi nya. “Nih makan dulu roti gw, lo pusing pasti karena belum sarapan kan?”, ucap Ari sambil mengulurkan kotak makan berukuran kecil. Si cewe hanya mengangguk dan hanya melihat kotak makan yang diberi oleh Ari. “Tenang, roti nya aman kok, ga ada racun atau semacamnya”, kata Ari sambil tersenyum.

Sebelum melahap roti nya, si perempuan tadi membuka masker yang ia kenakan terlebih dahulu. Ketika maskernya telah terbuka, barulah Ari bisa melihat wajahnya. Seketika Ari hanya diam dan memandangi wajah si perempuan tanpa berkedip selama beberapa saat. “Aku makan ya”, ucap si perempuan itu. “Eh iya, makan dah”, saut Ari. “Subhanallah cantik nya”, ucap Ari sambil memandangi si perempuan yang sedang melahap roti lapis nya.

Tanpa sadar si perempuan sudah selesai melahap roti nya, “nih kotak makanan kamu, makasih ya”, ucap si perempuan sambil memberikan kotak makan milik Ari dengan senyuman yang sangat manis. “Sama-sama”, saut Ari. “Hmmm maaf ya”, ucap si perempuan. “Buat apa?”, tanya Ari. “Yang tadi pas di halte”, ucap si perempuan itu sambil menundukkan kepala nya ke bawah. “It’s oke”, saut Ari sambil tersenyum. Tiba-tiba, byurrrr hujam turun membasahi kota Jakarta.

Pengumuman tentang halte tujuan Ari pun terdengar, sebentar lagi Ari sampai di kampus nya. “Lo turun dimana?”, tanya Ari ke si perempuan itu. “Aku? Aku turun di halte depan ini, yang mau nyampe”, ucap nya. Ari terpana dengan kecantikan wajah perempuan ini. Akhirnya busway pun berhenti, Ari dan penumpang lainnya pun keluar dari dalam busway lalu keluar dari dalam halte. Hujan belum kunjung berhenti, disaat si perempuan ingin membuka payung miliknya, ternyata payung nya macet dan tidak bisa terbuka. Dan tiba-tiba, “nih”, ucap seseorang yang ternyata Ari. Ari memberikan payungnya yang telah terbuka kepada si perempuan.

“Pake payung gw aja, nanti lo bisa sakit”, ucap Ari dengan wajah tanpa ekspresi. “Terus kamu gimana?”, ucap si perempuan. “Gw gpp kok, yang penting lo dulu”, balas Ari. “Terus aku balikinnya gimana?”, tanya Si perempuan. “Hmmm gatau juga deh, biar tuhan yang mempertemukan kita lagi”, ucap Ari. Si perempuan itu tiba-tiba tersenyum. “Udah ya, gw pergi dulu, bye”, kata Ari sambil menutup kepala nya dengan kupluk hoodie nya lalu berjalan pergi. “Eh tunggu, aku belum tau nama kamu”, teriak si perempuan. Ari tak hiraukan teriakan si perempuan itu. Hmmm apakah ini tanda bahwa mereka akan berjumpa lagi? Tidak ada yang tau.

“Permisi pak, maaf saya terlambat”, ucap Ari saat masuk ke dalam ruangan. Seisi ruangan menjadi hening, tak ada yang bersuara. “Kenapa kamu terlambat?”, tanya dosen dengan nada tinggi. “itu pak tadi…”, “banyak alasan kamu, sana kamu keluar saja!”, belum selesai Ari berbicara, tiba-tiba dosen memotongnya lalu ‘mengusir’ Ari. Tanpa banyak bicara Ari pun keluar dari dalam ruangan, sekarang entah apa yang ia akan lakukan. “Woy bro, ngapain lo disini? Bukannya lo ada kelas ya”, tanya Gio, salahsatu teman dekat Ari. “Iya, seharusnya gw ikut kelas, tapi gw telat, diusir deh”, saut Ari. “Lagian si lo telat. Yaudah gw ke kelas gw dulu, nanti gw bisa-bisa kaya lo lagi haha”, ucap Gio sambil pergi menjauh. “Awas lo ya”, kata Ari.

“Ah bosen juga disini terus, mending gw jalan-jalan. Tapi tunggu, gw kan ga bawa motor, ga bawa mobil. Ah bodo lah”, ucap Ari. Akhirnya Ari memutuskan untuk pergi ke lapangan basket milik kampus nya. “Nah ada bola tuh”, ucap Ari sambil melempar tas nya ke pinggir lapangan. Ari pun bermain basket untuk mengusir rasa bosannya.

Ari Irlansyah, kelahiran Jakarta, 18 Agustus tahun 1998, yang artinya berusia 19 tahunan. Memiliki tinggi 182 Cm, berkulit putih, dan sangat cool. Hobi Ari ialah bermain basket dan berenang. Sudah banyak sekali cewek-cewek berparas cantik yang gagal meluluhkan hati Ari, jadi selama ini Ari tidak sama sekali memiliki pasangan, entah tipe cewek seperti apa yang di ambakan Ari. Dan ia tinggal bersama kakak nya yang telah berkerja bernama Rini. Kak Rini mempunyai pekerjaan yang cukup bagus, sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya dan Ari, dan mempunyai apa saja yang ia inginkan.

Kembali ke main basket. Bola selalu masuk ke dalam ring setiap Ari memasukkannya, Ari sangatlah lihai dalam bermain bola basket. Sampai akhirnya ia terduduk di tengah lapangan karena sudah mulai merasa letih. Tanpa sengaja Ari menggelindingkan bola basketnya entah kemana. “Hei, bola nya dong”, pinta Ari kepada seseorang yang memegang bola basketnya. “Ah silau banget”, ucap Ari yang tak bisa melihat wajah wanita tersebut karena terangnya cahaya matahari yang tepat berada diatas. Wanita itu pun melemparkan bola nya dari pinggir lapangan hingga masuk kedalam ring. Betapa kagetnya Ari melihatnya, hingga membuat Ari terbangun dari duduknya.

Wanita itu pun mengambil bola nya, lalu berjalan mendekati Ari yang berada di tengah lapangan. Wajah nya masih tak bisa terlihat dgn jelas, tapi sedikit mulai sedikit terlihat dgn jelas. Hingga akhirnya wanita itu berdiri tepat di depan Ari, lalu melemparkan bola nya ke Ari. Ari sigap menangkap bola nya. “Eh lo bukannya yang di busway tadi bukan?”, kata Ari. Wanita itu hanya tersenyum, lalu berkata, “apa ini cara tuhan mempertemukan kita lagi?”.

Siapa sosok wanita ini sebenarnya? Nantikan jawabannya di part selanjutnya!

Mencintai Shani Indira Natio dengan sepenuh hati dan tidak akan lekang oleh waktu.

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Mencintai Shani Indira Natio dengan sepenuh hati dan tidak akan lekang oleh waktu.