GabyStory – Liburan yang Berkesan – Part III

No comment 3340 views

Semilir angin mendesir tipis menyibak rok yang kukenakan ketika ujung jari tangan kak Vincent itu mendekat ke rambutku, dan mengambil kelopak bunga yang berada di poniku. Sinar mentari perlahan berubah menjadi cahaya senja yang menyejukkan jiwa, sebagai pertanda pembatas pergantian hari. Ombak yang begitu tenang menggoyang kami dengan pelan, suasana di tengah laut yang begitu romantis, “Inikah mimpi yang Kak Vincent dambakan?”, tanyaku kepada lelaki yang begitu dalam menatap mataku sambil memegang kedua lenganku.

Tapi sayang, gambaran indah yang bagaikan sebuah hasil karya sinematografi ini hanyalah sebuah mimpi yang kualami saat ini. Ya, kata “mimpi”, bagaikan sebuah kunci yang menyadarkanku. “Hmmmmm …”, akupun terbangun dan tersenyum tapi bersedih. Tersenyum karena aku menjadi salah satu pemeran di dalam mimpi yang merupakan impian kak Vincent, tapi bersedih karena itu semua hanya mimpi yang tak mungkin terjadi. “Bagaimana bisa mungkin, aku kan sepupunya, huuuftttt”, aku menggerutu dalam hati dan kemudian bangun dari tidurku.

Ku beranjak dari ranjang nenekku yang entah sedang berada di mana, mungkin saja ia sedang di pasar, atau sedang menyapu halaman rumah. Maklum kehidupan di Kampung, hehehe. Sebelum aku keluar dari kamar nenekku, seperti biasa aku melakukan rutinitas pagi, yaitu buang angin, hheheehe, becanda, maksudku selfie dulu dengan rambut kucel. Biar kucel tapi tetep syantik, syantik syanti ini, hanya untuk …. “Udah ahhh Geboy kampret, malah nyanyi”.

Aku pun keluar dari kamar nenekku, menghirup udara pagi yang begitu segar. Kulihat ruang tengah begitu sepi, “Wah, pasti aku ditinggal nih ama yang lain”, pikirku dalam hati.

Sreeeekkk sreeeekkk sreeeekkk, terdengar suara seseorang sedang menyapu halaman belakang. Hmmmm sudah kuduga pasti nenek sedang menyapu halaman rumahnya. Hmmm, orang Kampung emang rajin-rajin kalo untuk urusan ini. Akupun menuju ke belakang, aku berencana ingin memberi kejutan kepada nenek, hehehe, maksudnya mau ngagetin aja. Lumayan pagi-pagi bikin nenek kesel.

Sebelum aku melakukan keusilan di pagi hari, aku mampir terlebih dahulu di toilet ruang tengah. Menghabiskan isi perutku yang begitu mengganggu sejak malam tadi. Yaaa, hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk melakukan ritual kedua di pagi hari. Aku jongkok cantik di kloset nenekku sambil memejamkan mata. Bukan mau membayangkan kak Vincent, karena suasananya kurang tepat, hehehe, tapi aku gak mau menghadapi kenyataan kalau ternyata di toilet ini nantinya ada seekor kecoa terbang yang mencoba menggangguku.

Huuuffffttt … 10 menit yang begitu horror bagiku, sial banget sih, seandainya tuh makhluk hanya bisa merayap aku gak akan takut, kenapa dia harus iseng buat terbang yah? Atau mungkin emang sengaja diciptakan untuk nakutin diriku? Ehhh .. Tapi, tanpa kecoa, perkenalanku dengan Kak Vincent gak akan berkesan lohh, hehehe. “Geboy kampret, katanya perkenalan yang memalukan, kok sekarang berkesan?”, “Ehh iya, maaf, maksudku memalukan, hihihi”, sebuah dialog dari seorang Geboy dengan Gaby.

AWAL KEKAGUMANKU

Okeee, ritual pagi sudah beres, akupun melangkah menuju dapur, karena akses satu-satunya menuju halaman belakang adalah dapur. Saat tiba di dapur betapa terkejutnya aku, saat kumelihat melalui sebuah kaca jendela yang menghubungkan antara dapur dan halaman belakang, ternyata yang menyapu halaman bukanlah nenek, tapi Kak Vincent dan hal itu membuatku tersenyum. Entah kenapa senyumku begitu terkembang, seolah-olah ada yang mengendalikan bibirku dan tak dapat kutahan. Ehhh, itu nenek, dan ternyata mereka sedang berdua di halaman belakang.

Beberapa menit kemudian kulihat nenek mendekati Kak Vincent dan menunjukkan sesuatu. Kak Vincent pun tersenyum, entah apa yang ia tunjukkan. Terlihat seperti sebuah lembaran yang membuatku begitu penasaran. “Penasaran atau Kepo?”, “Ahhhh Geboy kampret, ganggu aja nih”, kataku mencoba melawan alter egoku. Kudekati mereka berdua dengan cara mengendap-ngendap, perlahan, mendekat, dan kemudian aku langsung berlari dan meloncat mencoba memegang bahu nenek. “Hayoooooo, Ehhhh ehhhh, Kyaaaaa, neneeeeeekkk”, Gubraaaaak. “Arrrggghhhhhh, kenapa nenek menghindar sih?”, tanyaku dengan nada yang begitu kesal setelah nyungsep di tumpukan sampah daun yang baru saja di sapu. “Astaga Gaby, ngapain?”, kata Kak Vincent mendekatiku sambil menyodorkan tangannya, membantuku berdiri. “Ya ampun sayang, nenek gak tau kalo kamu di situ”, kata nenek. Emang sih, nenek gak sengaja menghindar, tapi aku jadi malu, karena ada kak Vincent yang melihatku.

“Udahhh jangan diketawain donk, sakit tau”, kataku ketika melihat kak Vincent tersenyum, “Ehh iya maaf-maaf, apanya yang sakit?”, tanya kak Vincent, dan akupun menyodorkan bagian belakang lenganku yang sedikit terkilir. Kak Vincent pun memegang tanganku dan mengurut dengan perlahan, akupun meringis kesakitan, walaupun kenyataannya gak sakit sama sekali hehehe. “Heheehe”, entah kenapa tiba-tiba aku tertawa ketika kak Vincent terus mengurut lenganku, “Kok ketawa sih?”, tanya Kak Vincent yang kemudian menghentikan kegiatannya di lenganku, “Aku bohong, gak sakit kok, hehehe”, jawabku, “Ihhh dasar”, kata kak Vincent.

“Eh kalian lagi ngapain sih? Aku lihat tadi kok senyum-senyum? Lagi liatin apa?”, tiba-tiba aku langsung memberondong pertanyaan kepada nenek dan juga kak Vincent. “Ini lhooo sayang, Vincent pengen liat foto kamu waktu masih kecil, nenek tunjukin yang ini”, kata nenek sambil memperlihatkan selembar foto kepadaku. Wawwww ternyata nenek menyimpan fotoku saat aku masih SD, hehehe lucu juga aku saat itu, saat masih belum mengenal apa itu cinta.

“Aku lucu ya dulu, hehehe”, kataku bertanya pada kak Vincent, “Hmmm, biasa aja”, jawab kak Vincent yang membuatku kesal dan cemberut. “Awwwww”, huhhhhh tiba-tiba saja kak Vincent mencubit pipiku, “Lebih lucu sekarang tauuuu”, kata kak Vincent yang kemudian kembali merapikan tumpukan sampah yang sempat berserakan gara-gara seorang gadis ceroboh nyungsep di tumpukan sampah itu yang bernama Geboy, ehh salah, Gaby maksudnya.

“Btw kak, kakak kok mau sih nyapu-nyapu kayak gini?”, tanyaku kepada kak Vincent, “Iya nih Vincent, tadi nenek nyapu halaman ehh dianya maksa mau bantuin nenek”, sahut nenek. “Emang kenapa? Aku pingin ngerasain hidup di Kampung, ternyata asik juga, gak perlu bayar mahal buat jadi sehat, bener gak?”, jawab kak Vincent dan membuat kami berdua mengangguk.

“Oh iya nek, Mamah, Papah dan yang lainnya mana?”, tanyaku, “Mereka rekreasi, kamu dibangunin sampe bengkok gak bangun-bangun sih, makanya ditinggal”, jawab nenek, “Ihhh jahat banget sih mereka, ya iyalah gak bangun, aku lagi di atas sampan di tengah laut sambil ngeliatin matahari senja bersama seorang cowok tampan, heehehe”, kataku yang seketika membuat kak Vincent menoleh ke arahku dan menatapku tajam.

Hiiiii daripada aku dihujani pertanyaan mending kabur dulu ahhh, akupun berlari kembali ke dapur, kemudian menuju ruang tengah hingga akhirnya ke halaman depan, keluar pagar lalu berpikir sejenak, dan berlari kembali masuk ke ruang tamu, menuju ruang tengah, masuk kembali ke dapur, dan kemudian ke halaman belakang. Huhhhh hahhh huhhh hahhh, ngos2an juga aku. “Gab, kamu ngapain sih?”, tanya kak Vincent, “Gak ada kak, peregangan otot, heeheee”, jawabku, “Kamu tegang kalo deket aku ya?”, kata kak Vincent, “Apanya yang tegang coba, biasa aja kok, mending kakak itunya tegang”, jawabku dengan nada yang cukup pelaaan karena takut didengar, “Ehhhh, apanya yang tegang?”, tanya kak Vincent kembali dan Degggg, seolah-olah jantungku berhenti, “Duh masak sih dia bisa denger?”, tanyaku dalam hati.

Ahhh udah deh, lama-lama bisa mati berdiri aku kalo ketauan aku sedang membayangkan seekor burung yang sedang tegang karena didekati oleh seorang gadis cantik seperti diriku, heheeee. Akupun berjalan menuju ruang tengah, menyalakan TV, menonton sebuah acara yang sebenarnya tak ingin kutonton. Hari yang random banget, ingin rasanya kuhabiskan pagi ini dengan jalan-jalan bersama kak Vincent, tapi gengsi banget aku kalo aku yang ngajak duluan.

Kulihat kak Vincent berjalan dan sempat tersenyum ke arahku kemudian masuk ke dalam kamar. Huhhh dasar lelaki gak peka, padahal ngeliat gadis secantik diriku sedang berdiam, masak dianggurin, dikerjain kek, ehhh maksudnya diajakin jalan kek gitu. Padahal kalau saja dia ngajak jalan hari ini, aku akan mengajak ke sebuah tempat yang sangat indah, yaaa masih di pinggir pantai sih, tapi beda dengan yang semalam. Hmmm, kak Vincent mah gitu orangnya, gak peka banget, padahal aku lagi pengen banget, sampe-sampe aku jadi basah. Maksudku dahiku basah karena keringat akibat berlari singkat dan tak tak jelas tadi.

“Gab, mandi gih”, kata kak Vincent, dan yuhuuuuu, “Okeee kak, aku mandi dulu yaa, terus ntar aku tunjukin suatu tempat yang indah banget, pokoknya kakak gak bakalan nyesel deh”, jawabku sambil beranjak dari sofa di ruang tengah dan setengah berlari. “Kamu mau ajak aku jalan?”, tanya kak Vincent, kepadaku dan membuat langkahku terhenti.

OH MY GOD, kak Vincent kan cuma nyuruh aku mandi? Kok malah aku yang nyerocos yahh? Ketauan banget kalo aku pingin diajak jalan. “Aaarrrggghhhhhhh”, akupun berteriak sambil berlalu pergi meninggalkan kak Vincent yang tersenyum melihatku, “Udah jangan malu, aku juga pengen jalan kok ama kamu”, kata kak Vincent mencoba untuk membuatku yang lagi malu. Ahhhh Geboy kampret, bodoh, ceroboh, gak ilang aja sekalian kamu dari muka bumi ini.

Emang bener kata teman-temanku dan kata fans kalo aku ini gadis ceroboh. Untungnya aku ini syantik, jadi pasti banyak yang naksir deh. Tapi kira-kira kak Vincent naksir aku gak ya? Ahhh udahlah. Akupun mengambil handuk lalu kembali ke kamar nenek. Kubuka seluruh pakaianku hingga telanjang bulat dan kubalutkan handuk di tubuhku kemudian berjalan kembali ke kamar mandi di belakang.

“Ehhh seksi amat”, kata kak Vincent ketika kami berpapasan, dan aku hanya tersenyum, hehehe aku dibilang seksi, dan aku suka. Kreeeekkk, kubuka pintu kamar mandi belakang ini dan kemudian masuk ke dalamnya, dan “Awwwww”, sialan tuh makhluk ternyata ada di dalam kamar mandi. Akupun berlari keluar kembali ke kamar nenekku dan mengambil semprotan anti serangga lalu kembali melangkah ke kamar mandi. Kali ini tampangku tampak bengis dan berjalan dengan langkah yang begitu tegas. Kubiarkan rambutku tergerai dan tertiup oleh angin, kupicingkan mataku hingga akhirnya aku masuk ke dalam kamar mandi dan tanpa basa basi kusemprotkan cairan anti serangga itu ke makhluk tak bertanggung jawab tadi.

Sssshhhhhh, akhirnya, dengan beberapa kali semprotan, makhluk itu tergeletak tak sadarkan diri, kusiram tubuh tak berdayanya hingga masuk ke dalam lubang pembuangan air. “Yessss”, aku merasa puas dengan mengepalkan tanganku. Hmmmm … Walaupun aku gadis cantik, manja, gak sombong dan rajin menabung, tapi aku juga bisa menjadi seorang gadis pembunuh berdarah dingin. Hati-hati lo semua ama gw ya.

Kubuka handuk ini, kugantung dan kemudian aku mengambil air menggunakan gayung. Aku masih merasakan bahwa diriku begitu sadis, hehehe, Geboy gitu lohhh. “Jangan macem-macem ama gw yahh”, kataku dalam hati sambil mengguyurkan air ke tubuhku yang seksi ini. Hehehe, akulah Gaby si penakluk kecoa, heheehe.

Kreeeeeeekkk, “Haaaah, kyaaaaaaa”, aku berteriak ketika pintu kamar mandi dibuka dan kak Vincent sedang menatapku, braaaak, tiba-tiba kak Vincent kembali membanting dan menutup pintu kamar mandi. “Duh Gaby kampret, kenapa gak ngunci pintu sih, aku pikir kamu mandi di ruang tengah”, kata kak Vincent ngedumel sambil nutup pintu. Aaaaaahhhhh siaaaal, dua kali kak Vincent melihatku telanjang bulat, ahhh Gabyyyyy ceroboh banget siiiih. Cekrek, kukunci pintu kamar mandi sialan ini dan akupun lanjut mandi lagi. Byurrr byurrr, kusabuni tubuhku mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Hmmmm, saat sedang mandi entah mengapa aku membayangkan Kak Vincent sedang melihatku, dan entah mengapa hatiku menjadi bertanya-tanya, apakah ia menikmati ketika melihatku telanjang bulat seperti ini? Apakah dari kemarin ia memang sengaja ingin melihatku telanjang? Apa ya yang akan dilakukannya ketika melihatku telanjang bulat, apakah ia akan menyentuhku? Memperkosaku? Ahhhh entah mengapa semua pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di pikiranku membuat tubuhku berdesir, rasanya bergetar dan entah mengapa puting susuku mengeras dan begitu geli ketika kusentuh, ahhhh apakah aku merangsang? “Bagaimana rasanya apabila burung kak Vincent menyentuh iniku”, kataku dalam hati sambil memegang kemaluanku sendiri, “Ahhhhhhh, geliii”, tiba-tiba tubuhku bergetar dengan sendirinya ketika jariku mengusap sela-sela kemaluanku sendiri.

Hmmmm, mengapa tiba-tiba pikiranku jadi kacau ya, aku membayangkan sedang mandi berdua dengan Kak Vincent, kemudian aku memegangi burungnya dan dia memegangi payudaraku, pasti sensasinya luar biasa. Kak Vincent, lelaki tampan dengan tubuh yang atletis, memiliki burung yang proporsional dan aku pernah melihatnya. “Ehhhhhhh”, ohhhh kenapa aku memejamkan mata? Kenapa aku menikmati menggesek-gesek kemaluanku sendiri? Apakah ini yang dinamakan masturbasi? “Ahhhhhhh”, ternyata ini lebih dari sekedar geli, rasanya begitu …. Ahh tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata.

“Gabyyyyy, masih lama gak?”, tiba-tiba suara nenek mengacaukan lamunan dan imajinasiku, “Arrrggghhhhhh iyaaaaa ntar lagiiii”, kataku dengan nada yang keras. Huhhhh siaaaaalll, aku benar-benar kecewa, benar-benar kesel, padahal aku hampir saja merasakan nikmatnya masturbasi itu seperti apa.

Ahhhh udah deh, mending aku cepetan mandinya, mungkin aja kak Vincent gak sabar menungguku, gak sabar untuk menyentuhku dan menjamahi tubuhku, “Ehhhh kampret Geboy, jangan terlalu jauh mikirnya”, hehehehe. Ntar dijamah beneran nangis lohhh.

Selesai mandi akupun menuju kamar nenekku, memilih pakaian yang akan kukenakan, kupilih satu persatu hingga akhirnya pilihanku jatuh kepada Blouse hitam tanpa lengan dengan pasangan rok wide skirt berwarna putih atas lutut. Hmmm, sungguh padanan yang amat serasi untuk kencan.

Akupun merias wajahku sedikit dan kemudian menunggu kak Vincent di sofa ruang tengah. Aku duduk sambil memainkan smartphone milikku. Semenit, dua menit, 5 menit, 10 menit, wah kak Vincent lama juga yahh. Hmmmm dari pada bete kubuka Google, “Hmmm search apaan yah?”, tanyaku dalam hati, dan tiiinggg, tiba-tiba ada lampu pijar yang menyala di atas kepalaku (lebay), hehehe. Kuketik sebuah kata kunci yang menurutku benar-benar iseng.

“Cara masturbasi untuk pemula”, hehehe, sebuah kata kunci yang kocak menurutku tapi lumayan bikin penasaran, dan tadaaaa ada banyak referensi website yang menuntunku untuk melakukan masturbasi yang benar, apalagi buat aku yang masih pemula ini, hehehe. “Wah Gaby kampret udah mulai nakal nih, pingin belajar masturbasi”, ahhhh jangan dehh, daripada ntar keterusan dan aku jadi gila.

“Udah siap?”, tanya kak Vincent yang benar-benar mengejutkanku, “Ihh kok kaget banget, kyk ngeliat setan aja?”, tanyanya kembali, “Hehehe gpp kok, udah siap nih”, jawabku sambil kemudian berdiri. “Waduh, kok pake rok kyk gitu? Kita kan mau pake motor”, tanya kak Vincent, “Emang kalo naik motor kenapa?”, aku balik bertanya, “Yaaa ntar kalo ketiup angin rokmu terbang, celana dalemmu keliatan donk Gab”, kata kak Vincent kembali, “Aku gak pake celana dalam kok kak”, jawabku, “Haaaahhh, maksudnyaa???”, tanya kak Vincent dengan mimik wajah seperti orang terkejut, “Eh ehh, mmm maksudnya aku pake short pants, bukan cd kak”, jawabku dengan grogi, hehehe. Duh Gaby Gaby, malu-maluin banget sih. “Ya udah, ayo deh”, kata kak Vincent kembali.

Kami pun berpamitan dengan nenek dan kemudian meniki motor berdua. Semoga saja liburanku di hari keempat atau hari kedua bersama kak Vincent akan lebih seru dari sebelumnya, dan semoga saja aku bisa menjadi gadis cantik yang gak ceroboh hari ini. Huuufttttt, semangat Gaby cantik.

BERSAMBUNG

 

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!