GabyStory – Liburan yang Berkesan – Part V

No comment 4309 views

Dengan penuh rasa kecemasan bercampur dengan rasa penasaran, Kak Vincent mengajakku ke suatu tempat, namun ia tak memberitau kemana ia akan mengajakku, tapi entah mengapa, tak ada sedikitpun aku merasa khawatir, bahkan yang ada hanyalah perasaan begitu nyaman ketika ku mendekap tubuh kak Vincent.

Tik tik tik … “Wah, kayaknya gerimis nih”, kataku pelan, Bruuummmm, tiba-tiba kak Vincent makin tancap gas, ia meliuk-liuk, entah dimana aku akan dibawanya. Hujan gerimis di siang hari menjelang sore, suasananya sedikit syahdu, ataukah karena perasaanku yang sedang bahagia bersama orang yang kukasihi? Ahh, entahlah. Gerimis yang awalnya hanya menciprati kami kini berubah menjadi agak deras. “Kak, gak berteduh dulu?”, tanyaku, “Kasian kakak basah ntar”, kataku kembali, “Gpp, basahnya ama kamu, aku seneng kok”, jawabnya.

Ohhhh, mengapa kata-katanya selalu mampu membuatku tersenyum dan melayang sendiri? Apakah ia belajar dari Dilan untuk merangkai kata-kata romantis? Ataukah ia adalah salah seorang pujangga yang pandai merangkai kata? Hujan sudah membasahi bumi, begitupun dengan tubuh kami. Basah kuyup bagaikan selesai berendam di sebuah bak mandi.

Hujan yang tadi hanya gerimis berubah menjadi deras. Aku sudah tak mempedulikan lagi tubuhku menjadi basah, tubuhku memang dingin, tapi hatiku tetap merasa hangat, hingga akhirnya Kak Vincent belok di sebulah jalan kecil yang melalui kebun. Awalnya aku sedikit berpikir, akan kemana diriku dibawa olehnya? Namun pertanyaan itu menjadi sirna setelah aku tau ternyata aku dibawa ke Villa orang tuanya.

Ia terus memacu motor matic milik salah satu pekerja di rumah nenekku. Memacunya dengan kecepatan penuh, namun tetap hati-hati hingga akhirnya kami pun berhenti di depan pintu gerbang kayu sebuah bangunan lantai 2 yang tampak sedikit mewah.

Dengan sigap Kak Vincent membuka pintu gerbang, lalu kami pun masuk ke dalam halaman Villanya, memarkirkan motor lalu membuka kunci pintu depan Villa dan akhirnya kami berdua pun masuk ke dalam Villa ini. Ya, aku tau, inilah Villa yang sering dibangga-banggakan oleh kedua orang tuanya. Hmmm … Tampak asik sih, tapi hanya ada kami berdua saat ini. “Masuk yuk”, kata kak Vincent sambil menyodorkan tangannya, “Ati-ati licin”, kata ia lagi, “Kak, basah nih, gpp?”, tanyaku karena merasa khawatir lantainya menjadi kotor, “Udah, gpp kok, yuuk”, kata kak Vincent kembali.

Aku diajak ke halaman belakang, terdapat sebuah kolam renang mini dan beberapa alat fitness. “Pengen renaaang”, kataku merengek sambil melipat kedua tanganku karena kedinginan. “Mmmm… buka dulu bajunya gih”, kata kak Vincent, dan jantungku kembali berdegub kencang, “Tapi, aku gak bawa baju ganti kak”, kataku, “Ntar, di sini ada bajunya Lisa kok”, kata Kak Vincent, “Tapi kak, ntar kalo ada orang gimana? Malu kan”, kataku mencoba untuk berargumen, “Gak ada orang kok, cuma kita berdua aja di sini”, jawabnya kembali.

Akupun terdiam sesaat, berpikir sambil menatap wajahnya yang sedang tersenyum. Senyumnya memang selalu membuat hatiku hangat dan nyaman, senyum itu selalu menghipnotisku, “Jangan deh kak, gak enak aku ngerepotin”, kataku yang tiba-tiba merasa malu, “Mmmm … tunggu di sini deh, aku ambilin bajunya”, kata kak Vincent kemudian mengambil handuk dan juga baju milik Lisa, adiknya. Lalu ia membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. “Ihhh kakak, gak malu apa ama aku?”, tanyaku melihatnya telanjang, “Mmmm … agak malu sih, tapi gpp, toh ama orang yang aku sayang juga”, kata kak Vincent kembali dan kemudian melilitkan bagian bawah tubuhnya dengan handuk. “Buka gih pakaiannya, ntar masuk angin, pake handuknya dulu”, kata Kak Vincent, “Mmmm … hadap belakang kak, jangan ngintip”, jawabku.

Awalnya aku sedikit ragu untuk membuka pakaianku, tapi tubuhku sudah terlanjur basah, ada gejolak di dalam dadaku yang mendesir dan sedikit khawatir kalau kak Vincent akan berbuat yang tidak-tidak padaku, tapi ada sekelebat pikiran kotor yang justru aku ingin kak Vincent berbuat lebih padaku. Entah mengapa ingin rasanya kupeluk tubuhnya saat ini, ahhh sudahlah. Akhirnya kubuka pakaianku satu persatu, mulai dari baju, rok, BH hingga celana dalam lalu kukeringkan tubuhku, “Udah?”, tanya kak Vincent sambil menoleh ke arahku, “Ehhhhh beluuum”, jawabku sambil mempercepat gerakanku memakai pakaian.

“Huhhh, kakak mah nyuri-nyuri kesempatan”, kataku dengan kesal, “Abis lama sih, hehehe”, kata kak Vincent kembali. “Trus kakak gitu doank? Gak ada baju ganti?”, tanyaku ketika melihat kak Vincent hanya dililit handuk. Hmmm… aku menghela nafas melihat cowok tampan setengah telanjang seperti ini. “Ya udah, kita tunggu ujannya reda dulu yahh, aku gini aja gpp kok”, kata kak Vincent sambil kemudian duduk di sebuah sofa.

Awalnya aku ingin ikutan duduk, tapi mmmm, baju Lisa yang kupakai adalah baju panjang yang panjangnya hanya sedikit di bawah pangkal paha, sedangkan aku gak pake daleman karena semua basah. “Duduk sini Gab”, pinta kak Vincent sambil menyodorkan tangannya, seperti orang mau memeluk, “Malu kak, pendek banget nih, ntar keliatan”, kataku sambil memperlihatkan baju yang kukenakan. “Gpp, gak aku liat kok”, kata Kak Vincent, “Ahhh kakak boong, tadi aja sempet nyuri pandang”, kataku sedikit protes sambil tersenyum, “Yaaa, sedikit doank kan gpp Gab”, jawab kak Vincent.

Yaaaa, apa boleh buat, daripada aku pegel berdiri, akupun duduk di sisi kak Vincent, prosesi duduk yang sungguh perlahan, kutarik bajuku hingga benar-benar ke bawah agar dapat menutupi pahaku. Hmmm, lumayan ketutup sih, tapi, ahhh sudahlah, toh kak Vincent pernah liat aku bugil.

Kak Vincent melipat kedua tangannya, mendekap tubuhnya sendiri, ia tampak begitu kedinginan. “Kakak kedinginan ya?”, tanyaku, “Ehh gpp kok, hehehe”, kata kak Vincent. Aku juga sebenarnya masih kedinginan, padahal aku sudah memakai baju, apalagi kak Vincent yang bertelanjang dada. Ahhh, wanita macam apa aku ini yang gak peka. Ingin rasanya kupeluk tubuh kak Vincent, tapi kemaluanku lebih besar, ehhhh, maksudnya rasa maluku lebih besar daripada keberanianku.

Huffftttt, lagian Kak Vincent gak peka, padahal suasananya sangat mendukung untuk berpelukan. Masak aku duluan meluk dia, gengsi donk, perempuan mana coba yang sanggup melewatkan suasana seromantis ini, Duaarrrrrrr, “Aaaarrrgghhhhhh”, refleks aku memeluk kak Vincent dengan erat ketika suara petir menggelegar. Saat aku memeluknya, dengan sigap kak Vincent mendekap tubuhku, mengusap-usap rambutku, ahhhh pelukan yang terbalas nih. Kampret bener, akhirnya aku duluan yang meluk, tapi gpp deh, hehehe.

Suara petir telah usai, namun kami masih enggan melepas pelukan hangat kami berdua. Kurasakan tangan kak Vincent mengusap-usap punggungku, dan tangankupun mendekap tubuhnya. Ahhhh, pelukan yang begitu mesra dan romantis. “Jangan dilepas ya”, kata kak Vincent padaku, “Kenapa kak?”, tanyaku dengan nada yang cukup pelan, “Aku gak mau pisah sama kamu, aku sayang kamu”, kata kak Vincent kembali. Hmmmm, akupun menghela nafas mendengar kata-kata romantis darinya.

Awalnya aku merasakan hembusan nafas kak Vincent mendesir di leherku. Kemudian ia menggesek-gesekkan dagunya di pundakku, geli rasanya, namun kubiarkan ia melakukan itu, dan ia mulai mendengus, mencium rambutku, pipiku, hingga akhirnya ia memegang kepalaku. Kami saling bertatapan lama, aku tau apa yang akan terjadi saat ini, dan aku siap untuk itu. Kupejamkan mataku sambil kumiringkan kepalaku sedikit hingga akhirnya aku merasakan hangatnya hembusan nafas yang terhirup melalui hidungku pertanda bahwa nafas kami telah bertemu dan kehangatan sentuhan bibirnya telah mendarat di bibirku.

“Ahhhhhh, entah mengapa, suasananya saat ini sungguh berbeda, kak Vincent melumat bibirku dengan ganasnya. Lidahnya memaksa masuk hingga mampu menjilati seisi mulutku. Lidahnya mendominasi hingga membuat lidahku takluk, pelukan kami makin erat, aku merasakan buah dadaku tertekan oleh dada kak Vincent. Kupeluk bagian belakang lehernya, takkan kubiarkan ciuman ini berakhir begitu cepat. Kubiarkan air liurku mengalir membasahi rongga mulut kak Vincent. Ahhhhh, pertama kalinya aku berciuman sedahsyat ini hingga tanpa tersadar air liur kami sempat menetes.

Cairan saliva itu menandakan betapa dahsyatnya ciuman kami berdua. Kak Vincent mendorong tubuhku hingga akupun terjatuh di sofa empuk miliknya. Tubuhnya berada di atas tubuhku, menindihku sesaar, hingga akhirnya kamipun merubah posisi saling menyamping. Kami berpelukan sambil tiduran namun mulut kami tetap saling berpagutan, saling melumat, saling membasahi hingga akupun tersadar ada sesuatu yang berkali-kali menusuk pahaku. Entah bagaimana caranya tapi aku bisa melirik ke bawah karena penasaran dan ternyata handuk kak Vincent sudah terlepas, dan benda tumpul yang menusuk pahaku sejak tadi adalah burung kak Vincent.

Kini ia telanjang bulat sambil memeluk dan melumat bibirku. Tangannya yang sedari tadi mengusap-usap punggungku kini mulai turun dan menggerayangi bokongku. Meremas-remasnya dengan pelan, dan ini sangat kunikmati. Kak Vincent adalah cowok pertama yang menyentuh pantatku dengan lembut, cowok pertama yang kubiarkan menyingkap baju yang kupakai hingga akupun tersadar ternyata bagian bawah tubuhku sudah terbuka. Tangan kak Vincent menyentuh pantatku secara langsung, tanpa ada penghalang lagi.

Tangan kanan kak Vincent masih menopang kepalaku yang sedang tiduran di lengannya, sementara itu tangan kirinya terus bergerilya bermain di pantatku, meremas-remasnya, mengusap-usap hingga sesekali menyentuh lembut anusku. Rasanya geli, tapi kenyamanan yang dihadirkan oleh sentuhan-sentuhan lembut tangan kak Vincent di bagian privat tubuhku ini mampu membuatku terlena, terhipnotis dan mampu membuat tubuhku bergetar seperti merasakan suatu gejolak nafsu yang tak mampu kutahan.

“Ehhhhhhh …”, aku sedikit melenguh ketika merasakan jari kak Vincent menyentuh lembut kemaluanku, ahhhhh, rupanya ia sangat jago menemukan titik-titik sentuhan yang bisa membuatku tak berdaya. Kemaluan dan lubang pantatku seakan-akan benar-benar dimanja oleh permainan nakal tangan kak Vincent. Bagiku, ini menjijikkan, tapi yang kutau, bagi banyak lelaki, pantat wanita adalah salah satu bagian tubuh yang memberikan rangsangan yang luar biasa, hingga kubiarkan kak Vincent terus mengeksplor bagian belakang tubuhku ini.

Ada sisi di pikiranku dimana aku harus menolaknya, hingga akhirnya tanganku mendorong tangan kak Vincent yang berbuat mulai jauh, namun bibirku tak mampu melepas ciuman darinya. Nafsu yang kian memburu seakan-akan berperang di dalam pikiranku, mengalahkan segala akal sehat yang tersisa, hingga akhirnya kutuntun kembali tangan kak Vincent agar ia bermain manja di area kemaluanku.

“Ahhhhhhh”, desahanku muncul dari sela-sela mulutku yang terasa penuh akibat permainan nakal lidah kak Vincent. Nafasku menjadi berat dan tersengal, tapi ini sangat kunikmati. Kak Vincent mengangkat sebelah kakiku dan ditumpang di atas pahanya. Aku tersadar, bagian bawah tubuhku sudah sangat terbuka, tidak ada penghalang, bagian tubuhku yang paling privat itu sudah benar-benar tak terlindungi, hanya kak Vincent yang mampu membuatku terlena dan membiarkan hal itu terjadi. Beberapa mantan pacarku tidak ada yang berhasil melakukan hal ini, mereka semua berakhir di sebuah penolakan dariku. Namun, entah mengapa, kak Vincent begitu beda.

Aku sedikit terkejut, ketika sesuatu menggesek di sela-sela kemaluanku. Itu pastilah bukan jarinya, karena lebih besar dan lebih keras. Benda itu terus menggesek-gesek, membuatku menggelinjang tak karuan. “Ehhhhh, kaaak”, aku melenguh panjang sambil menatap matanya yang terus menatapku serta membelai rambutku mesra. Makin lama gesekan burung kak Vincent makin membuatku nyaman namun menggila. Rasa geli bercampur nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Pandangan matanya yang begitu tajam seolah-olah memberiku rangsangan yang berlebih. Tanpa tersadar aku mulai menggoyangkan pantatku, mengikuti irama goyangan pinggul kak Vincent yang menggesekkan kemaluannya di kemaluanku. Makin lama goyangan kami makin cepat dan yang kurasakan saat ini kemaluanku benar-benar basah, benar-benar licin.

“Kaak, ahhhh geliii”, kataku sambil terus menggoyang pantatku, “Iya sayang, tapi nikmat kan?”, tanya kak Vincent, “Iya kaak, nikmat banget, ahhhhh”, jawabku sambil terus mendesah. Perbuatan terlarang yang kami lakukan, sempat terbersit pikiran untuk menghentikan semua ini. Namun aku tak sanggup menghentikan kenikmatan yang aku rasakan saat ini.

Ahhhh, kak Vincent, Mencintalah seperti kamu mencinta, Jangan pikir yang di benak pasanganmu, Mencintalah seperti yang kau ingini. Ahhhh, ternyata aku sudah masuk ke sebuah lubang dosa yang begitu indah. Tak mampu aku keluar darinya, ahhhh ini terlalu nikmat.

“Ahhhh kaaak, ahhhhh, geliiiii”, entah mengapa tubuhku makin menggelinjang kuat, seperti ada lonjakan kenikmatan yang terus mendorong cairan di dalam tubuhku untuk menyeruak keluar melalui kemaluanku. “Ahhhhh, kaaaak, goyang terusss”, kataku meracau makin tak karuan.

Ada dorongan yang kuat hingga aku mulai menggerakkan tanganku yang sedari tadi begitu pasif. Tanganku mulai merayap turun, mengusap-usap dada Kak Vincent, menuju ke perut dan akhirnya, untuk pertama kalinya, aku menyentuh burung seorang lelaki. “Ahhhhhhh”, desahan itu tak dapat berhenti, rasa nikmatnya sudah benar-benar membuatku tak menghiraukan lagi apa yang telah kulakukan. Kugenggam burung Kak Vincent dan sedikit kukocok hingga membuatnya makin bersemangat menggoyangkan pinggulnya.

Setelah berhasil merasakan menggenggam kemaluan seorang pria, akhirnya kutuntun kembali burungnya yang keras itu untuk hinggap di sarangnya. Di tempat dimana ia harus berada, ya, kutuntun menuju kemaluanku yang sudah benar-benar basah dan ingin “dikasari”.

Sementara itu Kak Vincent makin mempercepat goyangan dan gesekan burungnya di kemaluanku. Ahhhh, andai saja ia mau berbuat lebih, menerobos liang keperawananku, pasti akan kuijinkan ia merenggutnya. Sesuatu yang sangat berharga bagiku, namun sudah tak sanggup kupertahankan lagi, karena rasa nikmatnya sudah merasuk ke seluruh tubuhku. Hmmmm … Apakah aku? Haruskah aku?

“Ahhhh, kaak, ahhh masssukin donk kaak, aahhhh”, pintaku di tengah desahan yang saling bersautan. Secara tiba-tiba Kak Vincent menghentikan goyangannya. Ia menatap mataku dengan tajam, seakan-akan meminta kejelasan dan ketegasan dari ucapanku tadi. “Kamu, sudah pernah …?”, Tanya kak Vincent, aku tau maksud pertanyaannya, dan seketika kujawab dengan gelengan kepala pertanda bahwa aku masih perawan. “Kamu yakin Gab? Kamu mau kasi keperawananmu ke aku?”, tanya Kak Vincent.

Aaaarrrgghhhh, ada gejolak batin yang timbul saat ini. Di satu sisi tidak ada perempuan yang mau menyerahkan keperawanan dirinya pada siapapun kecuali pada orang yang dicintainya. Tetapi, saat ini, aku jatuh cinta dengan kak Vincent, dan tak sanggup aku menghadang lonjakan kenikmatan yang muncul dari dalam tubuhku. “Iya kaak, masukin”, kataku sambil merengek dan menatap mata kak Vincent.

Tiba-tiba kak Vincent merubah posisinya, ia menarik tubuhku hingga tidur terlentang, sementara itu ia berada di atas tubuhku, menatapku dengan penuh perhatian. Sebuah tatapan mesra yang sekali lagi mampu menghipnotisku. Tatapannya begitu hangat, mulai dari mataku, turun ke leher, menuju dadaku, hingga akhirnya ia melihat kemaluanku.

Tangannya begitu lembut menyentuh kedua pahaku, kemudian direntangkannya. Jantungku berdegub kencang ketika ia mulai mendekatkan burungnya di kemaluanku. Kakiku sudah mengangkang dengan lebar bertumpu pada kedua tangannya yang sedang memegang pahaku.

“Ahhhhhh, kaaakk, geliii”, aku makin meracau tak karuan ketika kak Vincent kembali menggesek-gesekkan burungnya tepat di liang kewanitaanku. Ahhhh rasa nikmatnya mendesir hingga ke ubun-ubun. “Ohhhhhh, terrusss kaaak, ahhhhh”, aku terus mendesah sambil memberinya ijin untuk memasukkan adik kecilnya ke dalam kemaluanku.

Ohhhhhh, rasanya sedikit perih, ketika burung kak Vincent mulai menembus kemaluanku. Kami sempat saling tatap, rupanya kak Vincent kembali membutuhkan ijin dariku untuk dapat menikmati lubang kenikmatanku. “Ahhhh, masukin sayaang”, kataku seraya meyakinkan kak Vincent bahwa aku sudah siap untuk “dinikmati”.

“Ahhhhh kaaak, ahhhhh”, makin lama, rasa perih makin menghilang, berganti menjadi rasa geli yang amat sangat. Tubuhku menggelinjang hebat, desahanku sudah tak tertahan hingga akhirnya, “Kyaaaaaa, ahhhhhhh”, secara refleks aku berteriak sambil mendesah saat kak Vincent menghentakkan tubuhnya hingga burungnya menancap secara sempurna di kemaluanku. “Maaf ya sayang”, kata Kak Vincent, sambil mencium bibirku dengan mesra, “Iya kak, gpp, terus kaak”, pintaku. Kemudian ia pun mulai menggenjot kemaluanku dengan perlahan.

Mata kami saling tatap, peluh membasahi tubuh kami berdua. Suara hujan dan angin segar berhembus menemani perbuatan terlarang kami berdua. Suara desahan saling bersahutan, ahhhh Kak Vincent terlihat begitu tampan, ia terlihat begitu perhatian, bahkan saat ia “menikmati” kemaluanku pun ia masih sempat membelai rambutku. Ahhhh, apakah ini definisi dari cinta sejati? Ataukah aku yang terlalu cepat masuk ke dalam perangkap? Ketika banyak lelaki ingin menikmati tubuhku, justru saudara sepupuku lah orang pertama yang “mewakili” impian dan imajinasi dari banyak fansku. Ya, aku tau kalau tubuhku ini selalu menjadi obyek seksual dan pemuas imajinasi para fans.

“Ahhhhhh, kaaak, goyangnya agak cepet doonk”, pintaku kepada kak Vincent, dan tanpa banyak tanya ia mulai menambah tempo goyangannya. Makin lama makin cepat, burungnya terasa memenuhi liang kewanitaanku, rasanya mengubek-ngubek lubang kenikmatan idaman para lelaki ini. Rasa nikmatnya tak sanggup kugambarkan, “Gab, ahhhh, aku mau keluar, ahhhhh”, tiba-tiba kak Vincent mempercepat goyangannya. Ini membuat kemaluanku makin geli dan rasa nikmatnya menjulur ke seluruh tubuh.

“Ahhhhh kaaaak, yang cepeet sayaaang”, kataku meracau tak karuan. Entah apa yang kukatakan tapi kenikmatan sudah menguasai tubuhku. Plak plak plak plak, paha kami berbunyi saat saling bertemu. Makin lama kak Vincent menggenjot kemaluanku makin dalam hingga aku tak sanggup membuka mataku lagi. Rasa geli dan nikmatnya bercampur menjadi satu, membuat mataku terpejam, dan entah mengapa, aku merasakan tubuhku mengejang, kuangkat pantatku, kudorong tubuhku agar burung kak Vincent masuk makin dalam. Kurasakan burungnya benar-benar mentok dan, “Ahhhhh sayyyaaanggg, aku mauu keluuarrrr”, kata Kak Vincent meracau, “Keluaarrriiinn kaaak, ahhhhh”, kataku makin tak karuan.

Goyangannya makin cepat, tubuh kak Vincent menegang, Ahhhhh, aku merasakan ada ledakan kenikmatan secara tiba-tiba yang muncul dari dalam tubuhku, ahhhhh rasanya aku tak dapat berkata-kata, “Ahhhhh kaaaak, tusuk terus kaaaak, aku keelluuaaarrrr, ahhhhhh”, Ohhhh entah nikmat apa ini, pertama kali aku merasakan yang seperti ini, ahhhhhhh. Srrrrrrrrr … “Ahhhhh kaaaak, aku kenciiinggg, ahhhhh”, kataku sambil mendesah hebat, aku merasakan ada cairan yang keluar di kemaluanku. Tubuhku bergetar hebat, tubuhku begitu tegang, aku tak ingin kak Vincent mencabut burungnya.

“Ahhhhh Gaaab, ahhhhh”, Kak Vincent makin mendesah hebat, plak plak plak, suara itu terus terdengar, makin lama makin keras, makin cepat hingga akhirnya, “Ahhhhhh Sayyyaaanggg”, tiba-tiba kak Vincent mencabut burungnya keluar dari lubang kemaluanku, kemudian kulihat ia mengocoknya di atas tubuhku, tepatnya di atas dadaku. “Ahhhhhh, ahhhhh, ahhhhh”, kak Vincent terus mendesah sambil mengocok burungnya hingga. “Ahhhh, kocokin kontolku sayaaang”, kata Kak Vincent. Kuraih burungnya, kukocok dengan cepat, crooottt crooottt crooottt, “Ahhhhhh”, entah cairan apa itu, tapi membuat dadaku basah. Untung saja kak Vincent sempat menyingkap baju yang kugunakan sehingga tak sampai mengenai baju.

Terus kukocok burungnya sambil memejamkan mata takut terkena cairan yang menyembur keluar tadi, rupanya ia baru saja menyemburkan spermanya di dadaku. Ohhhh perbuatan terlarang yang tak sanggup kutolak.

“Makasi sayang”, kata kak Vincent sambil tersenyum ke arahku. Posisinya masih tepat berada di depanku, dan kulepas genggaman tanganku di burungnya. Ia mulai menunduk lalu mengecup bibirku dengan mesra lalu rebahan tepat di sampingku.

Akupun duduk hingga sperma kak Vincent mengalir dari dadaku menuju perut dan terus mengalir ke bawah. Posisi dudukku tetap mengangkang dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ada cairan berwarna merah yang menempel di paha bagian dalamku. Namun keterkejutanku hanya berlangsung sepersekian detik, karena aku tersadar ini adalah darah perawan yang telah direnggut.

Entah mengapa, tidak ada sedikitpun perasaan menyesal dariku, yang ada hanyalah perasaan bahagia, karena cowok tampan yang kukasihi lah yang telah merenggut keperawananku.

Ohhhh Kak Vincent, kamu jahat, tapi baik, tapi jahat, eh baik!

BERSAMBUNG

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!