GabyStory – Liburan yang Berkesan – Part VI (Final Part)

Satu jalur jalan lurus yang tak tampak ujungnya, setelah sekian lama ayo jalani, di bawah langit yang biru, Tempat dimana gunung yang jauh dan, Sawah bertemu disitulah kampung halaman tercinta. Senandung rindu yang terus terngiang di telangiku dikala kami berdua sedang berboncengan menyurusi jalanan pagi ini.

Udara sejuk menerpa tubuhku walaupun terhalangi oleh tubuh Kak Vincent yang berada di depanku. Dekapanku begitu erat seolah-olah tak ingin melepaskannya. Perjalanan panjang yang terasa begitu menyenangkan, hingga senja menyadarkan kami menjadi pertanda pergantian hari. Kami pun pulang dengan hati yang sungguh berbunga-bunga. Sejak beberapa hari yang lalu, tak peduli apa hubungan kami berdua, tapi yang pasti, kami adalah sepasang kekasih. Paling tidak, saat ini, hingga …. hmmmm … entah kapan.

“Gaaab”, “Gabyyy”, “Bangun Gab”, suara itu sayup-sayup terdengar ditelingaku, kutau itu nyata, tapi rasa lelahku masih menguasai tubuhku yang setengah terjaga ini. “Banguuun, udah pagiii”, suara itu kembali terdengar dibarengi dengan goncangan di tubuhku. “Hmmmmm … iyaaaa”, akupun membalas sambil merengek dan sedikit kesal hingga akhirnya sebuah pukulan yang cukup kencang di pantatku, “Plaaaak”, “Awwwww, sakiiiiiit”, teriakku hingga terduduk di kasur yang empuk ini, “Ihhh apaan sih mama, ganggu orang tidur aja”, kataku protes, “Ini udah pagi, gak malu ama Vincent apa? Liat tuh dia bersih-bersih halaman belakang”, kata mamahku dan kemudian berpaling serta meninggalkanku. Aku sedikit tersenyum ketika nama itu kembali disebut.

Entah mengapa, seketika energiku bangkit, terisi 100% seperti sebuah handphone yang di charge menggunakan charger super fast charging. Seketika penuh dan bertenaga, hehehe. Akupun berdiri, lalu mengusap-usap pantatku, “Duhhh perih banget”, kataku menggerutu sambil melihat pantatku di cermin, “Sampe merah gini”, aku menggerutu kembali. Tamparan mamahku emang begitu keras dan mengagetkanku.

“Eh Gab, udah bangun?”, kata seorang pria, “Ahhhh”, jawabku setengah berteriak karena terkejut, bagaimana tidak terkejut, aku sedang membuka sebagian celanaku sambil bercermin melihat pantatku ehh tiba-tiba ada seorang cowok yang menatapku dan memanggilku. Untung sama cowok itu adalah Vincent. “Ihhh kakak ngagetin aja, mana aku lagi buka celana”, kataku sedikit protes, “Gpp, kan aku udah liat semuanya”, jawab kak Vincent sambil tersenyum dan kemudian berlalu pergi.

SEMINGGU KEMUDIAN

Sungguh tak terasa, waktu terus berlalu, hingga aku berada di penghujung liburan. Liburan kali ini memang sungguh berbeda, diawali dengan perasaan yang tak enak, ditambah dengan kehadiran orang yang kubenci karena kesombongannya, terjadi insiden memalukan hingga akhirnya aku merasakan hal yang berbeda, hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya, sesuatu yang membuatku ingin menghentikan waktu dan ingin menghindari kenyataan. Ya, kenyataan bahwa Kak Vincent adalah keluargaku, seorang keluarga yang terikat secara darah, meskipun jauh namun tetap seorang keluarga.

Seminggu terakhir liburku ini sungguh berkesan dan bermakna. Berkesan karena tiada hari yang kulalui tanpa menikmati belaian kak Vincent yang diakhiri dengan persetubuhan hebat. Bahkan kami sempat nonton film bokep berdua hanya untuk mencari referensi posisi-posisi yang belum kami coba, namun intinya tetap sama, yaitu kami berdua terpuaskan, hingga hari ini pun tiba, hari dimana liburan akan berakhir.

Aku menatap keluar jendela, merasakan sejuknya angin pagi yang bertiup menerpa wajahku sekaligus selangkanganku yang hanya ditutupi oleh daster tipis. Mataku sedikit terpejam sambil tersenyum lalu menghirup segarnya udara ini. Daster tipis selutut yang kukenakan tidak mampu melindungi tubuhku dari terpaan angin pagi yang begitu sejuk.

“Gaby, sayang” tiba-tiba suara itu perlahan mendesir di telingaku diikuti dengan sentuhan lembut di pantatku. Rupanya kak Vincent berbisik di telingaku sambil menekan bokongku dengan tubuh bagian bawahnya hingga terasa tonjolan yang kutau itu adalah burungnya yang sedikit menegang. Aku sedikit membalikkan wajah, menoleh ke arahnya walaupun agak sulit, berusaha menghirup nafasnya yang sungguh familiar bagi aku hingga iapun menyentuh lembut bibirku dengan bibirnya. Kedua tangannya pun memeluk sambil mengusap-usap lembut perutku. Kami pun berciuman sesaat, hmmmm …

Pagi yang begitu indah, pinggul kak Vincent bergoyang ke kanan dan ke kiri, berputar-putar sambil menggesek-gesekkan kemaluannya di belahan bokongku. Sungguh nakal perlakuannya, namun entah mengapa aku sangat suka tingkah lakunya. Tidak hanya sampai di situ, tangan kak Vincent yang semula memelukku kini berubah haluan, meraih ujung dasterku, menyingkapnya ke atas hingga tubuh bagian bawahku terbuka dan hanya menyisakan celana dalam.

Akupun menepisnya, “Jangan kak, nanti ketauan orang rumah”, kataku memprotes kelakuan kak Vincent, “Hehee, maaf, abis pingin sih”, jawab kak Vincent sambil kemudian ia terlihat sedang berpikir. Ia pun berlalu pergi, entah kemana, tapi ia meninggalkanku sendiri tanpa sepatah katapun dan ini membuatku bingung.

Aku masih terdiam di tempat yang tadi, hingga beberapa menit kemudian kak Vincent kembali, ia berjalan dengan langkah yang cukup cepat menuju ke arahku dan kemudian “Bruuuuk” …. ia menyambarku, memelukku dengan erat, terasa nafasnya begitu berat dan memburu. Kubalas pelukannya sambil berbisik di telinganya, “Kak Vincent kenapa?”, “Gab, besok aku udah balik ke Amrik”, jawabnya. Padahal, aku sudah tau suatu saat ini pasti terjadi, tapi entah mengapa rasanya seperti suara petir di siang bolong, begitu menggelegar membuat detak jantungku berdegub kencang.

Kamipun berdiam diri sesaat, saling memandang dengan tatapan kosong, seolah-olah kami tersadar bahwa mimpi indah ini akan segera berakhir. “Trus, kita gak akan ketemu lagi?”, tanyaku dengan suara sedikit parau, menahan rasa sedih. “Hmmmm … ini bukan masalah pertemuan, tapi … hmmm”, jawab kak Vincent, “Tapi apa?”, tanyaku lagi.

Kak Vincent menghela nafas begitu dalam, “kita bisa bertemu di lain waktu, tapi, bagaimana dengan hubungan kita?”, kak Vincent balik bertanya. Aku hanya menunduk, apa yang ia rasakan adalah apa yang aku juga rasakan saat ini. “Aku bener-bener gak siap menerima kenyataan bahwa kita adalah keluarga”, kata kak Vincent kembali, “Cintaku makin hari makin dalam ama kamu Gab”, sambung Kak Vincent.

Entah mengapa aku tak bisa menanggapi pertanyaan dan pernyataannya, akupun merasa bersalah karena telah membuka diri dan hatiku untuk dirinya. Padahal akupun sadar bahwa ini adalah hubungan terlarang. Kami bermain api, dan api itu sudah terlalu besar dan tak mudah untuk dipadamkan. Semakin besar apinya, maka makin menyakiti kami berdua.

“Maafin aku, gak seharusnya aku menjerumuskanmu seperti ini”, kata kak Vincent, “Kakak gak salah, ini salah kita berdua, dan kita pun harus terima konsekuensinya”, kataku sambil menghela nafas menahan tangis. “Mungkin aku bisa merasa biasa saja, aku hanya menikmati hubungan sesaat dan kemudian pergi meninggalkanmu”, “Tapi, ternyata, aku jatuh cinta ama kamu Gab”, kata Kak Vincent, “Iya kak, aku juga”, jawabku sambil terus menunduk.

“Ya udah, jangan dipikir lagi, aku gak mau kamu sedih gara-gara aku, biar waktu yang menjawab”, kata Kak Vincent dan kemudian kembali memelukku. Dekapannya begitu hangat, begitu erat, nafasnya begitu berat, terdengar ditelingaku. Tubuhnya seakan menari-nari, hingga akupun tersadar, ternyata … “Ihhh kakak, lagi sedih tapi masih sempet juga”, kataku protes ketika aku merasakan bokongku diremas olehnya, iapun tersenyum.

Waktu pun berlalu, tak terasa pagi berganti menjadi siang, siang pun berubah menjadi malam, dan hari ini kami kumpul bersama keluarga di halaman rumah nenek, bakar-bakaran. Suasana seharusnya menyenangkan, karena canda tawa dari mereka semua, tapi tidak bagiku dan kak Vincent. Kami berdua masih diliputi perasaan yang sangat sedih karena akan berpisah. Namun bukan itu yang paling membuatku sedih, tapi kejelasan status kami berdua.

“Gaby, Vincent, kalian berdua kok murung gitu sih?”, tanya Tante Ana, “Eh gpp tante”, jawabku sambil kemudian berdiri berpura-pura tersenyum sambil melihat panggangan yang belum tuntas. Kak Vincent pun kulihat ikutan berdiri sambil berjalan mendekatiku, kemudian berpura-pura tersenyum juga.

“Eh, kalo Om liat, kalian berdua cocok lo”, kata Om Franky, Hehehe, aku sedikit tersenyum sambil menoleh ke arah Om Franky. “Whaaaaat ????”, belum selesai aku tersenyum, aku dan kak Vincent kompak terkejut sambil melihat ke arah Om Franky, “Ihhh kamu nih apaan sih”, kata Tante Ana sambil memukul paha Om Franky, iapun menunduk seperti seorang yang salah ngomong.

Entah mengapa, perkataan Om Franky tadi membuat seluruh keluargaku menjadi diam seribu bahasa. Awalnya aku dan Kak Vincent yang terlihat bete, namun kini semuanya menjadi bete. “Kok pada diem sih?”, tanyaku, “Iya nih, sekarang malah Mamah diem”, kata Kak Vincent.

Kulihat gelagat yang begitu aneh dari semuanya, entah apa yang mereka rahasiakan, tapi sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu. “Ehhh nyalakan musicnya doonk”, kata papahku mencoba memecah keheningan sesaat. Music pun diputar, dan kulihat Tante Ana, Om Franky dan Papaku sedikit geser posisi ke tempat yang sedikit jauh dari kami, entah apa yang mereka bicarakan, tapi kulihat sepertinya Tante Ana dan Om Franky tertunduk seperti seseorang yang telah berbuat salah.

“Mereka kenapa sih?”, tanyaku pada Kak Vincent, “Entahlah …”, jawab kak Vincent, dan secara tiba-tiba, Tante Ana pergi meninggalkan kami, sementara itu Om Franky dan Papah kembali ke tempat duduk semula. “Loh, Mamah kemana?”, tanya Kak Vincent, “Gpp, dia kurang enak badan katanya”, jawab Om Franky. Sempat kulihat ke arah Tante Ana, dia berjalan masuk ke dalam rumah sambil menyeka air mata. Hmmmm … sepertinya ada yang gak beres nih. “Kak, sepertinya ada yang salah nih”, kataku sambil berbisik di telinga Kak Vincent.

Malam semakin larut, kilauan cahaya bintang menerangi halaman rumah nenek. Rasi bintang Orion di sana setia tersenyum pada kami berdua yang masih betah merasakan dinginnya malam. Tanpa terasa aku tiduran di pundak kak Vincent sambil melihat langit. “Besok kita berpisah”, kataku sambil memejamkan mata, menahan air mata yang hampir saja keluar. “Udah malem, kakak istirahat gih”, kataku kembali. Kami sempat saling tatap dan kemudian berdiri lalu berjalan ke dalam rumah.

Kulihat kak Vincent berjalan ke arah kamarnya, sedangkan aku berjalan ke arah kamar nenek. Tapi sebelumnya aku ingin ke kamar orang tuaku karena penasaran apa yang tadi sebenarnya terjadi, mengapa Tante Ana terlihat menangis. Aku melangkah dan akhirnya tiba di depan pintu kamar kedua orang tuaku yang tidak tertutup. Ada suara yang agak sedikit berisik namun tidak terlalu jelas. Akupun terus mendekati pintu dan meletakkan telingaku.

“Huhhhh, apa sih yang mereka bicarakan? Bikin penasaran aja …”, suaranya tidak jelas. Karena rasa penasaranku begitu tinggi, akupun makin menempelkan telingaku di pintu, begitu dekat hingga menempel, “Kreeeek …”, Gubraaak … “Awwwww”, “Gaby?”, serempak mereka menyebut namaku ketika aku terjatuh tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka. Rupanya aku begitu ceroboh, saking penasarannya, aku bersender di pintu yang tidak ditutup.

Semua mata tertuju padaku, momen yang benar-benar membuatku malu dan secepat kilat akupun berdiri, dan kemudian melangkah keluar. “Gabyyy”, panggil Mamahku, tapi tak kuhiraukan karena aku terlanjur malu atas kejadian tadi. “Gabyyy”, rupanya mamah mengejarku lalu menarik tanganku. Akupun diseret kembali masuk ke kamar tadi.

“Duduk Gab”, pinta Papahku, dan akupun duduk di sudut kasur. Semua mata tertuju padaku menaruh curiga. Dag dig dug, jantungku benar-benar berdegub begitu kencang. Entah apa yang akan mereka lakukan, sepertinya ada yang salah dari diriku. “Mmmm … mmm ada apa yaa?”, tanyaku dengan suara yang gugup. “Kamu udah dengar semuanya?”, tanya Papahku, “Mmmm .. iii … iyaa”, jawabku. Entah aku harus menjawab apa, entah apa yang kudengar, tapi rasanya aku sedang berada di bawah tekanan. “Kalo kamu denger, Tante mohon, jangan ngomong ama Vincent yaa, kami menunggu waktu yang tepat”, kata Tante Ana memohon padaku, “Mmmm … iyaaa”, jawabku sambil terbata-bata, “Ya udah, kamu istirahat gih”, kata Om Franky.

Akupun beranjak dari kamar ini, dengan penuh tandatanya besar di kepalaku. Ada apa dengan Kak Vincent? Apa yang dirahasiakan oleh mereka? Padahal aku gak denger apapun, huhhhh dasar Geboy, udah ceroboh, pikun, telmi, ahhh udahlah. Gak ada lebih-lebihnya deh.

Bruuuk, aku merebahkan diri di kasur empuk nenekku. Melamun sebentar sambil menatap langit-langit rumah ini. Pikiranku penuh tanya, sebenarnya ada apa ini? Seribu tanya menggelayut di pikiranku. Rasa penasaran membuat rasa kantukku hilang dalam sekejap. “Gab”, tiba-tiba suara itu mengejutkanku, “Awwww, ahhh mamahh ngagetin aja”, protesku, “Ada apa Mah?”, tanyaku kembali. Lalu Mamahku pun berjalan mendekatiku dan kemudian duduk di sudut kasur.

“Kamu janji ya gak akan kasi tau Vincent tentang hal ini”, kata Mamahku. “Ahhh kampreeet, kasi tau apa? Tau aja gak”, kataku dalam hati sambil menatap mata mamahku yang sedikit sayu karena bersedih. “Wani piro?”, tanyaku pada mamah sambil menengadahkan tangan kananku seolah-olah meminta sesuatu, “Dasar anak kurang ajar kamu”, kata mamah, “Ihhh becanda Mah”, jawabku sambil tersenyum.

“Sebenarnya tadi adalah momen yang tepat, tapi Tante Ana belum sanggup ungkapinnya”, kata Mamahku. Akupun duduk dan memasang tampang serius memandang mata mamahku. “Besok adalah momen terakhir untuk diungkapin, sebelum Vincent tau dari orang lain”, kata Mamahku kembali. Aku masih terdiam dan masih terus serius mendengarkan. “Entah bagaimana reaksi Vincent ketika dia tau kalo dia bukan anak kandung Ana dan Franky”, kata Mamah.

“Haaaahhh, whaaaaat????”, akupun terkejut setengah mati, setengah berteriak, “Ehhhh, kamu kenapa? Kesetanan ya??”, tanya mamahku yang begitu kaget melihat reaksiku yang berlebihan. “Kak Vincent bukan anak kandung Tante Ana dan Om Franky?”, tanyaku memperjelas pernyataan Mamahku tadi. “Sssstttt, jangan keras-keras ngomongnya”, kata mamahku sambil memelototiku, “Eh Maaf mah, jadi bener Kak Vincent bukan anak kandung mereka?”, aku kembali bertanya, “Lohh bukannya tadi kamu sudah denger?”, tanya Mamah, “Aku gak denger apa-apa Mah, mau nguping ehh keburu kepleset, heheee”, kataku, “Ahhh dasar anak durhaka kamu”, kata mamahku terlihat sedikit kesal dan berlalu pergi.

Aku terus tersenyum, entah mengapa rasanya hatiku bagaikan tersiram air yang begitu sejuk. Apakah aku tertawa di atas penderitaan orang lain? Ahhh bodoamat, aku juga yakin, kak Vincent akan menerima hal itu, karena ini adalah awal dari hubungan kami berdua, kini, nanti, dan selamanya. Heheheee …

SEKIAN

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!