KinalStory – My Princess, My Inspiration – Part 1

No comment 2088 views

Aku masih berkutat dgn laporan yg harus kukirimkan ke beberapa sponsor terkait dengan konser JKT48 yg segera dilaksanakan beberapa hari lagi. Aku Tommy Bramasta, saat masih sekolah aku biasa dipanggil Tom, namun sejak awal tahun ini teman2ku yg baru pada memanggilku mas Bram, mungkin terlihat lebih keren kali ya, hehee. Aku merintis usaha di bidang Event Organizer, dan ini adalah tahun ke 4. Rapat terakhir yg kulakukan bersama tim memutuskan kami akan menggarap konser JKT48 di Balai Sarbini. Segala persiapan sudah dimatangkan termasuk perjanjian dgn pihak sponsor dan juga pihak JKT48.

Promo sudah berjalan sejak bulan lalu, dan hingga H-5 tiket telah terjual 70%, artinya sudah melebihi ekspektasiku. Aku berharap dalam 4 hari ini dapat terjual hingga 90% dan sisanya akan dijual On The Spot. Sluuurrrp, kuhabiskan kopi susu yg telah dingin ini, kemudian kumasukkan MacBook kesayanganku ke dalam tas. Hari ini aku akan mengadakan rapat dgn Melody, Shanju, Viny dan salah satu tim dari manajemen mereka. Rencananya kali ini aku rapat di theater JKT48 karena setiap Senin theater libur.

Setelah tiba di Fx aku menuju lift dan menekan tombol F4. Setelah tiba di F4 aku masuk ke dalam theater lewat pintu masuk penonton. “Mas Bram, lewat sini ya” salah seorang staff JOT menyapaku. Aku masuk ke dalam theater dan sudah ada Melody, Viny, Kinal, Haruka dan Bang Teddy (manajer tim KIII). Kami bersalaman dan kemudian naik ke atas panggung. Meeting kali ini kami setting agar lebih santai dan tidak formal, sehingga kami sepakat meeting di theater JKT48.

Kunyalakan laptopku lalu kupresentasikan draft rundown yg telah dibuat oleh tim ku. “Itu tadi rundown versiku, klo dari pihak JKT48 punya rancangan rundown, bisa dipresentasikan, agar kita satu visi” kataku pada mereka. “Untuk rundown, kami udah bikin yg baku, tapi untuk pelaksanaannya kita fleksibel aja ya kak” Kata Kinal kepadaku. “Oh iya, Shanju mana ya?”, aku bertanya setelah tersadar tidak ada Shanju saat ini. “Shanju sedang tapping di Net TV, diwakilin ama Kinal”, jawab Melody.

Kemudian aku mendengarkan presentasi dari Kinal tentang draft rundown versi JKT48, serta mendengarkan apa saja yg sudah dilakukan oleh para member untuk mempromosikan konser kali ini. Aku puas dgn presentasi dari Kinal, gaya bicara yg jelas dan lugas serta gestur tubuh menunjukkan bahwa dia sungguh berpengalaman dalam hal presentasi. Oh iya, dia kan public figure dan terbiasa tampil di hadapan publik. Saat sedang meeting tiba2 anak2 Tim T masuk ke theater. Aku sempat bingung, karena theater sedang libur tapi mereka semua malah berkumpul di theater.

Saat aku melihat mereka semua, Melody berkata padaku, “Hari ini jadwal Tim T latihan, buat persiapan konser”. Ohh rupanya ini adalah persiapan menuju konser, akupun tersenyum pada Melody. Bang Teddy tidak banyak bicara, karena pada dasarnya para Kapten tim lebih tau apa yg harus dilakukan di atas panggung.

Kulihat jam tangan yg kukenakan, ternyata sudah menunjukkan pukul 8 malam. “Bagaimana meeting kita? Ada yg perlu dibahas lagi?” Aku bertanya pada mereka, mereka saling lihat dan kompak menggelengkan kepala kepadaku. “Emang mau kemana Bram?” tanya Melody, “Gak ada sih, mau cari makan, trus pulang” jawabku, “Makan di sini aja, sekalian nonton kita latihan” Kata Melody kembali. Wah, kebetulan nih, malam ini aku udah gk ada kegiatan lagi. Akupun mengiyakan, lalu serempak kami turun dari panggung. Aku duduk di atas FOH bersama Viny. Kinal minta ijin untuk ke belakang panggung. “Regina ama Aya, minta tolong beliin makan ya”, teriak Melody.

Musik dan lighting pun dinyalakan, Tim T mulai berlatih. Aku nonton mereka latihan sambil menyantap nasi kotak sambil ngobrol ringan dgn Viny. Entah kenapa aku betah di tempat ini. Para member begitu ramah dan semangat. Viny pamit untuk pulang terlebih dahulu. Melody masih berlatih bersama anak2 tim T, dan Kinal, hmmm Kinal mana ya? Dari tadi betah bgt di backstage. Beberapa lama kemudian aku berjalan menuju panggung. Kudekati Melody, “Mel, aku balik duluan yahh, besok ketemu lagi” kataku pada Melody, “Eh iya Bram, ati2 yaa” jawab Melody. Akupun keluar dari theater ini.

Setelah berada di luar theater aku belok kanan menuju lift, namun tiba2 pintu berwarna merah terbuka, dan terlihat Kinal menggunakan hoodie berwarna abu2 sedang keluar dari ruangan belakang panggung. Dia sempat melihatku tapi kemudian buang muka dan menuju lift. Saat pintu lift terbuka, kami berdua masuk ke dalam dan kami sama2 menekan tombol F1, tangan kami sempat bertemu namun cepat2 kutarik.

Saat di lift aku mencuri pandang ke arah Kinal, kulihat matanya sembab seperti habis nangis. Berkali2 Kinal mengusap matanya. Aku paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis, aku benar2 tidak tega, karena kuanggap wanita adalah makhluk Tuhan yg harus dilindungi. “Kinal, kamu kenapa?” tanyaku. “Eh, gk ada Kak” jawab Kinal, “Klo ada masalah, share aja, jgn dipendem sendiri” kataku pada Kinal. Lalu pintu lift terbuka, kulihat Kinal sibuk memperhatikan Hpnya sambil mengeluh. Aku tidak bermaksud mengikutinya, namun kuperlambat langkahku agar kami berjalan beriringan. “Kinal, kenapa? Ada masalah?” Tanyaku kembali, “Gak kak, susah bgt nih pesen Taksi online skrg ya”, jawab Kinal. Kemudian aku menawarkan untuk mengantarkannya. Kinal menolak dgn alasan gak mau ngerepotin, biasanya klo seorang cewek beralasan sprti itu, berarti dalam hatinya dia sedang ingin diantar.

Setelah beberapa kali usaha akhirnya Kinal luluh jg dan mau menerima ajakanku. Kami berdua berjalan menuju parkiran mobil P2. Mall tampak sepi karena jam operasional mereka hanya sampai pukul 9:30 malam. Hanya ada beberapa outlet yg buka. Setiba di parkiran, kubukakan pintu kemudian dia masuk ke dalam mobilku. “Eh, tadi kmu belum makan kan? Makan dulu yuk” ajakku, “Aku gk makan malem kak, gpp kok” jawab Kinal. Aku kemudian mengantarnya menuju kost. Saat diperjalanan, kembali kutanya, kenapa dia menangis. Kinal tetap menjawab tidak ada apa2.

Aku mengendalikan mobilku dgn kecepatan sedang, menyusuri jalanan yg tidak begitu macet. “Kinal, aku tau, kamu ceria bgt dan selalu memberi semangat pada teman2 kmu”, “Tapi aku tau jg, org yg selalu ceria dan memberi semangat sebenarnya adalah org yg sedang terpuruk dan kehilangan semangat”, kataku kepada Kinal. Kinal hanya terdiam mendengar kata2ku. Tatapannya hanya kosong melihat jalanan di depan.

“Kak, kenapa semua yg aku kerjakan selalu salah di mata semua orang?” Tiba2 keluar suara dari mulut Kinal, “Padahal aku tulus bgt demi kebaikan mereka semua, tapi aku merasa gk ada yg menghargaiku”, Kinal terus curhat tntang masalah hatinya. Ternyata dibalik ketangguhan dan pembawaan dirinya yg selalu ceria, Kinal menyimpan sesuatu yg begitu memberatkan hatinya. “Ini soal fans, manajemen, member atau semuanya?” tanyaku pada Kinal, “Gak ada yg menghargai aku kak” jawab Kinal. Okee, aku mengambil kesimpulan dia sedang mengalami krisis kepercayaan.

Tiba2 Kinal kembali menangis, “Ingatlah satu hal, tidak ada yg sempurna di dunia ini”, “Apapun yg kamu lakukan, baik itu kebaikan ataupun keburukan, selalu ada yg suka dan ada yg tidak”, “Yg terpenting adalah, kmu konsisten mengerjakan kebaikan dan fokus pada tujuan kmu”, “Aku yakin, kmu melakukan itu semua bukan untuk mendapatkan komentar baik atau buruk kan? Melainkan tulus memberikan yg terbaik?” tanyaku, Kinal hanya mengangguk sambil mengusap matanya. Seketika aku jadi mengerti Kinal. Dia yg biasa terlihat begitu semangat dan ceria, kini tampak begitu terpuruk, dia menyimpan banyak beban dan tidak mencoba untuk share kepada siapapun, apalagi kini Veranda, sahabatnya sudah jarang kumpul dgnnya.

Kamipun tiba di depan kost Kinal, sebelum turun Kinal menoleh ke arahku, mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Kulihat matanya masih berkaca2, lalu dgn refleks tanganku menyeka air matanya. Kinal pun turun dan kemudian melambaikan tangannya padaku. Akupun kembali ke apartmentku di Jakarta Utara.

Setiba di apartment kubuka aplikasi IG pada HPku. Kulihat update IG Story dari Kinal, latar belakang hitam dan sebuah tulisan “Thanks”. Aku berharap perasaan Kinal menjadi tenang setelah mendengar nasehatku, karena dia adalah salah satu Icon dari JKT48, jika dia kehilangan semangat, maka JKT48 pun akan pincang. Hari ini lumayan melelahkan, setiba di rumah aku membersihkan kaki lalu mengganti pakaian dgn pakaian tidur dan menuju kasur empuk kesayanganku ini dan akupun tertidur.

Aku terbangun karena suara alarm di HPku. Kunyalakan Macbook dan kulihat check list yg telah kubuat. Aku terbiasa dgn check list, karena kesibukanku memaksaku untuk hidup sesuai daftar sehingga tidak ada yg miss. Setelah memastikan beberapa jadwal hari ini, kunyalakan aplikasi pemutar lagu di macbookku, dan kucolokkan dgn speaker, lalu akupun membuat kopi susu dan roti bakar.

You look like a movie
You sound like a song
My God, this reminds me
Of when we were young

Let me photograph you in this light
In case it is the last time
That we might be exactly like we were
Before we realized
We were sad of getting old
It made us restless

Kira2 itulah lirik lagu yg berjudul “When We Were Young” yg dibawakan oleh Billy Gilman menemani pagiku ini.

Lirik lagu yg begitu bermakna dan penuh dgn arti ini mengingatkanku pada Kinal. Dia sedang berjuang sendiri untuk meraih mimpinya di Jakarta. Hmmmm, kubuka e-mail dan memastikan semua e-mail telah kujawab. Ada satu email baru yg belum kubuka. Saat kulihat ternyata dari teddy@jkt48.com, dia mengirimkan draft susunan penanggungjawab konser versi JKT48, dan ternyata mereka menempatkan Kinal sebagai koordinator mereka untuk konser ini. Ku forward email ini ke timku untuk dipelajari.

Kumakan roti bakar tanpa selai yg sudah kubuat sambil sesekali kucelupkan ke dalam kopi susu hangat. Beberapa santapan hingga habis dan kegiatan selanjutnya adalah mandi. Entah sudah berapa lagu yg berputar di Macbookku, namun lagu selanjutnya adalah Lobo – How Can I Tell Her. Kubesarkan volume speakerku agar tetap terdengar di dalam kamar mandi.

How can I tell her about you
Girl please tell me what to do
Everything seems right whenever I’m with you
So girl won’t you tell me how to tell her about you.

Aku mengikuti reffrain lagu tersebut di bawah guyuran air hangat. Aku adalah vokalis lokalan, maksudnya vokalis kamar mandi, hehehe. Jadi setiap mandi aku pasti bernyanyi, karena aku bebas berekspresi di dalam kamar mandi.

Setelah mandi aku mempersiapkan segala sesuatu yg harus kubawa ke kantor. Aku menyewa kantor di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Agak jauh sih, tapi tempatnya asik dan biaya sewanya murah, karena kebetulan pemiliknya adalah orang tua sahabatku yg bernama Kevin yg kini menjadi CFO di Event Organizerku. Kuhabiskan kopi susu yg tersisa beberapa tegukan lagi, kemudian aku bergegas menuju kantor. Kupacu mobilku menyusuri jalan raya yg cukup macet ini. Aku sudah terbiasa berhadapan dgn kemacetan. Mobil Suzuki Ertiga Matic ini cukup nyaman walaupun di tengah2 kemacetan, yg terpenting aku selalu membawa Flash Disk berisi track list favoritku, yaitu lagu2 Top40 dan beberapa lagu Rock serta Classic Rock.

Satu jam kemudian aku tiba di kantorku. Kuparkir mobilku di halaman kantor. Aku masuk ke kantor dan tidak ada seorangpun karyawan yg menyapaku, karena kulihat mereka semua sedang sibuk menatap layar komputer mereka masing2. Konser JKT48 tinggal 4 hari lagi, tekanan inilah yg membuat mereka harus benar2 fokus pada pekerjaannya. “Bro, ada revisi kontrak ama PT. Astra yg harus lu tandatangani nih”, kata Kevin kepadaku. Kubaca kontrak tersebut, lalu kutandatangani. Kulihat dreamboard yg terletak di ruangan meeting. Ya kunamai ini sebagai dreamboard, padahal ini hanyalah papan tulis biasa, namun fungsinya adalah mencatat segala proyek, jadwal dan check list perusahaan. Hari ini aku kembali harus meeting dgn sponsor bersama salah satu perwakilan JKT48.

Kemudian aku masuk ke dalam ruanganku, kukeluarkan Macbookku dan kutaruh di atas meja kerjaku, kunyalakan, lalu kuputar track list favoritku kembali.

BERSAMBUNG

Reach what you love, and love what you reach!

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!