Life Saver chapter 2 – Face It

No comment 1668 views

“Arggh ! huff huff huff, m-mimpi ?!”, Ujarku yang terbangun dari mimpi burukku. Aku melihat sekeliling tempat aku tertidur dan beruntung aku masih berada di kamar kost-ku.

Jantungku berdetak sangat cepat seakan sudah siap untuk meledak. “Apa-apaan tadi, mimpinya terasa seolah sangat nyata”,gumamku sambil menyapu keringat dingin yang mengucur di dahiku. Aku menenangkan diri sejenak, menghela nafas dalam dalam lalu membuangnya secara perlahan. Setelah merasa tenang, aku bisa kembali berfikir jernih.

“Kelas ! Ya, sekarang jam berapa ?!”, ujarku sambil melihat jam yang berada di ponselku. “15:45 ?! Sial, udah kelewatan tiga kelas. Ah persetan, aku gak enak badan juga lagian”, sambungku sambil kembali meng-istirahatkan badanku di kasur.

Kelopak mataku terasa berat sekali.Ah aku merasa ingin tertidur kembali.
*tok tok tok*
Tiba-tiba suara ketukan terdengar di pintu kost-anku.
“Aduh apaan lagi sih ? gatau orang sakit mau tidur ya ?”, cetusku dengan emosi.
“Permisi, Ada orang ? permisi”, terdengar suara gadis yang sepertinya aku kenali.
“Yaa sebentar”, jawabku.

Akupun terpaksa bangun dari tempat tidurku dan membuka pintu yang terus menerus di ketuk olehnya. “Eh ?! Y-Yupi ?! Eh ini…Anu, ngapain kesini ?!”. Betapa kagetnya diriku mengetahui gadis yang berada di mimpi burukku tadi sekarang berada di depan pintu kost-anku.
“Kamu udah tiga kelas gak masuk loh, kata si Dimas temen kamu itu kemungkinan kamu sakit, terus aku jadi perwakilan deh buat jenguk kamu.”, jawabnya.
“Emm engga, maksudku, kenapa kamu gitu? Kan anak kelas banyak, anu…Kenapa harus cewek gitu”, Ujarku dengan diiringi rasa gugup.
“Emang gaboleh ?”, sambungnya sembari menaruh kedua tanganya di pinggul dan menggembungkan pipinya seolah menunjukan ekspresi marah.
Sial, lucu banget kamu…
“Eh ya…Gak apa-apa sih. Yaudah masuk dulu, kita ngobrol ngobrol dulu aja, lagipula masih sore”, pintaku sambil membuka sepenuhnya pintu kamar kost-ku.

Yupi pun pada akhirnya kuiiznkan masuk ke dalam kamar kost-ku. Jujur saja, aku selalu merasa canggung untuk mengobrol dengan perempuan, terlebih lagi perempuan ter-cantik dan ter-imut di kampusku, aku jadi benar benar merasa canggung dan tak tau harus berbuat apa.

Beruntung kamar kost-ku cukup luas dan aku selalu membersihkanya setiap saat, jadi terlihat rapih dan bersih jika ada orang yang berkunjung kemari. “Wah, kamar kost-nya rapih ya, tumben banget ada cowok yang suka bersih bersih”, ujar Yupi sambil melihat seisi kamar kost-ku. “Kamu muji atau menghina ?”, tanyaku. “Yaaa dua duanya, hehe”, jawabnya sambil diiringi dengan tawa kecil yang menghiasi bibir manisnya.
“Duduk dulu di karpet sana yup, aku bikini teh.”, kataku.
“Hmm ok deh, padahal gausah ngereportin ris”, ujar Yupi.

“Gak apa-apa, gak enak ada cewek cantik dateng buat jenguk kalo gak di kasih jamuan apa apa hehe”, jawabku sambil mengaduk secangkir teh.

“Ah bisa aja kamu. Ngomong ngomong, kamu sakit apaan sih ?”, tanya Yupi.
Aku kemudian berjalan kearah Yupi sambil membawa secangkir teh lalu menaruhnya di atas meja kemudian aku duduk di dekat Yupi. “Gatau sih, tiba tiba gak enak badan aja waktu tadi bangun tidur, tiba-tiba meriang gitu badanku”, Jawabu sambil menggaruk garuk kepalaku.
“Kamu mikirin aku kali, ya kaan ? ya kaan ?”,kata Yupi dengan nada menggoda sambil menekan nekan pipiku menggunakan jari telunjuknya.

Sebenarnya kalau ingin jujur aku memang memikirkan dia. Semalam aku memang memimpikan dia. Tapi entahlah, untuk beberapa alasan aku tidak ingin menceritakanya sekarang.
“Engga, apaan sih”, Jawabku. Kita berdua pun tertawa. “Eh iya, kenapa kamu sendiri ke sini ? gak sama yang lain gitu ? “, sambungku.

“Kenapa yaaa ?”, ujarnya sambil menaruh telunjuk jari di dagunya.
“Seriusan, kan… Maaf ya, seingetku kita gak pernah deket atau gimana, ngobrol pun jarang, terus tiba-tiba kamu dateng ke sini jenguk aku gitu kan, seolah udah sahabatan gitu, padahal seingetku kita temen aja bukan haha”.
Seketika Yupi mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius. “Sebenernya ris, selain ngejenguk kamu, aku punya alasan lain dateng ke sini. Aku pingin ngobrol sama kamu karena aku tau kamu satu satunya orang yang gak ‘fake’ kayak temen temen aku yang lainya”, jawab Yupi dengan nada yang lebih serius.
“Maksud kamu aku gak fake ? Ya walaupun pada dasarnya aku emang gak peduli sih sama kehidupan pertemanan kamu, maksudku tuh ya itu, temen temen kamu keliatanya emang pura pura gitu temenan sama kamu. Tapi gak tau ya, aku gak pernah temenan sama mereka dan sama sekali gak mau jadi seperti mereka”, ujarku
“Maksudku, kamu satu sarunya orang di kelas yang bener bener beda dari yang lain. Apalagi kamu kan cowok. Rata-rata cowok yang mau jadi temen aku suka ngejailin aku, colek colek lah, panggil panggilin ‘sayang’ lah. Cuma kamu perasaan yan gak pernah gitu hehe”.

“Yaa gimana ya, aku emang gak terlalu deket sih sama cewek manapun, tapi bukan berarti aku gay ya, engga. Cuma aja yaaa, aku terlalu asik sama hobi sih, jadi gak terlalu mikirin tentang cewek haha”, ujarku sambil tersenyum.
“Emang kamu gak punya pacar gitu ris ? kok kayaknya ngenes banget. Haha, bercanda”, tanyanya.
“Pacar gimananya, deket sama cewek aja jarang, emang ngenes sih. Justru kamu tuh yang populer, pasti pacarnya segudang”, godaku.

“Aku gak punya koook”. Jujur aku kaget mendengar Yupi masih belum memiliki pasangan padahal kalau menurutku (dan orang lain juga) dia adalah yan paling sempurna dari sempurna, baik secara fisik maupun kepribadianya. Dia kemudian melanjutkan pembicaraanya “Aku gak suka sembarang cowok, apalagi cowok di kampus rata-rata template semua sifatnya, yaa kecuali kamu sih”, sambungnya sambil menggulirkan matanya ke arahku.
Aku masih tidak mengerti.

Mengapa rasanya pembicaraan Yupi seolah ingin mendekatkanya padaku. “Aduh jangan bandingkan aku sama yang lain deh haha, aku di banding mereka mah gak ada apa apanya Yup, apalagi untuk jadi temen kamu, memenuhi standar aja engga haha”, jawabku.

“Jadi kamu gak mau jadi temen aku ?”, tanyanya dengan memasang raut sedih.
“Yaa bukan gitu sih.. Tapi kan yaa…”, dia sama sekali tidak mengerti dan aku sudah kehabisan kata kata untuk menjawabnya.

“Padahal aku mau lebih dari teman sih sama kamu, tapi aku gak maksa sih”.
Tunggu.

Apa ?
“Apa Yup ? coba ulangi, siapa tau aku salah denger”, tanyaku.
Yupi kemudian mendekatkan bibirnya di telingaku kemudian berkata “Aku mau yang lebih dari temen sama kamu”, kemudian dia mundur lagi sambil tersenyum. “Ngerti kan ?”, tanyanya.
Lebih dia bilang ? tapi dia tidak mungkin ingin jadi pacarku kan ?
“Ohh maksud kamu temen baik ?”, jawabku.
“Bukaan !”
“Umm…Sahabat ?”
“Bukan ya ampun”
“Sahabat…Baik ?”, jawabku sambil menggaruk garuk kepala kebingungan.
“Pacar ih ! ngerti pacar gak sih ?! Aku mau jadi pacar kamu ! dah kan ngerti !”, cetus nya dengan nada marah sambil memalingkan wajahnya.

“Pa-pacar ? emang kenapa tiba-tiba”, jawabku.
“Yaudah nanti aku kasih tau ! pokoknya mulai detik ini kamu pacar aku !”
Aku hanya terdiam, tak tau harus menjawab apa. “Mau gak ?”, tanyanya.
“Ya-Yaudah iyaa, mulai sekarang aku pacar kamu walau gatau alasanya deh”, Jawabku dengan nada terpaksa.
Aku sendiri tidak mengerti mengapa ia tiba tiba memintaku untuk menjadi pacarnya. Masudku, untuk menjadi pacar seorang perempuan nomor satu di kampus adalah idaman semua laki-laki. Tapi mengapa aku ? Ini bukan mimpi lagi kan ?
Kita berdua terdiam selama beberapa menit. Tak ada satupun dari kita yang mengeluarkan sepatah kata apapun. Langit mulai gelap, hujan mulai turun di tambah dengan kondisi kost-an ku yang kebetulan sedang sepi. Nampaknya hanya aku untuk saat ini yang tinggal di sini. Kebetulan pemilik kost juga sedang berlibur ke Lombok dan menitipkan kunci gerbang kost kepadaku. Jadi kesimpulanya sekarang hanya ada aku dan Yupi berduaan di kost-an. Awkward sekali.
Aku akan mencoba memecah keheningan.

“Gak pulang Yup ? dah malem tuh”
“Kan hujan, lagipula betah di sini, anget”, jawabnya.
“Emang kalo pacaran waktu lagi berudaan gitu ngapain sih yup ?”, tanyaku sedikit menggoda.
“Aku juga gak tau, gak pernah berduaan sama pacar kayak gini. Menurut kamu ngapain ?”, jawabnya dengan polosnya. “Ciuman ?”, ujarku. “Yaa gak tau ! Ta-Tapi…Mau coba ?”, jawabnya sambil menatapku.
Pikiranku sesaat mendadak blank, dengan spontan aku jawab “Ayo”.
Yupi kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Sambil menatap mataku, bibirnya perlahan mulai mendekati bibirku. Aku bisa merasakan desahanya pada saat itu.

Tanpa berfikir panjang, akupun langsung menyambar bibir manisnya. “Mmmffm…Mffhh”, lidah kami pun bertemu dan aku mulai memainkanya. Yupi berusaha mengimbang permainan lidahku, namun nampaknya dia belum biasa jadi mungkin terasa sedikit lebih aneh. Tapi aku merasakan menikmatan mencium perempuan nomor satu di kampus saat ini. Kami berhenti sejenak, nafsuku seudah mulai terpancing lebih jauh.
“Yup, lebih dar ini ya ?”, ujarku
“I-Iya, terserah kamu”, jawabnya sambil menatap mataku.
Aku kemudian mulai turun sediki lebih bawah dari bibirnya. Aku mulai menciumi lehernya yang putih dan harum itu. Tanpa aku sadari yupi sudah duduk di pangkuanku. Setelah puas bermain dengan lehernya, aku menyuruh Yupi untuk membuka bajunya. “Yup, buka ya bajunya”, ujarku.
Yupi hanya mengangguk.

Perlahan Yupi mulai mencopoti kancing bajunya dan dalam sekejap dia sudah melepaskan bajunya. Nafsuku semakin meningkat sesaat setelah melihat payudara berukuran tak terlalu besar yang masih di tutupi oleh BH yang di miliki oleh Yupi, aku kemudian berpindah posisi menuju ke belakang Yupi kemudian mencopot pengait BH yang terletak di punggungnya.

“Ris mau ngapain ?”, tanyanya.
“Udah kamu diem aja ya, biar aku yang main”, nanti kamu juga ngerti”, jawabku.
“Tapi gak sampe di ‘masukin’ kan ?”, tanyanya secara khawatir.
Aku tidak menjawab pertanyaanya pada saat itu karena terlalu terfokus dengan keindahan payudara yang di miliki oleh Yupi. Puting coklat muda nya terlalu benggoda bagiku. Secepat kilat aku langsung meremas keduanya dari belakang. “Ahhh…Sshhh…Jangan keras-keras…Ris..Ahhh”.
Maaf kalau memang harus keras Yup, aku tidak bisa menahan nafsuku.
Sembari asik meremas remas payudaranya, aku kembali menyambar bibirnya dari belakang.
“Mfffhh”.

Aku punya pemikiran lebih dar ini.
Salah satu tanganku merujuk ke bawah rok milik Yupi dan langsung berada di Vaginanya yang masih di tutupi oleh celana dalam.

“Ris, Yakin ? aku baru pertama kali di pegang ‘itu’ nya sama cowok. Jangan kasar kasar ya.”, pintanya.
“Tenang ya Yup, nikmati aja ya, nanti juga enak kok”.
Aku kemudian sedikit menggeser celana dalamnya kemudian mulai menyentuh vagina miliknya. Tubuhnya sedikit bergetar karena mungkin masih shock dengan apa yang baru saja ia rasakan. Perlahan aku mulai memainkan vaginanya dengan tangan kiriku bersamaan dengan tangan kananku yang terus meremas remas payudara miliknya.
“Ssshhh…Akhhh..Riss… ahhh”. Desahanya membuatku semakin nafsu untuk melakukan lebih dari itu, jadi perlahan aku memasukan jari telunjuk dan jari tengahku ke dalam vaginanya yang masih sempit itu. Dia nampaknya terkejut dan sedikit berteriak. “Akh !” tangan kananya spontan langsung memegang tangan kiriku yang sedang asik memainkan Vaginanya.

Perlahan aku memainkan jariku yang sudah berada di dalam Vaginanya. “Ahhh…Ahhh”, desahnya. Aku kemudian sedikit menaikan kecepatan jariku. Yupi terlihat mulai tidak nyaman, “Ris, udah ris, jangan di terusin ris…Ris…Kharis !”, teriaknya sambil berusaha menghentikan kecepatan tanganku yang sedang memainkan vaginanya.
Justru berkat ia menolak aku semakin nafsu, aku terus menambah kecepatan tanganku yang masuk ke dalam vaginanya. “Ahhh Ris…Ris udah…. ahh ahh ahh…Ahhh”, ujarnya. Tak lama kemudian terasa tubuh Yupi sudah memasuki tanda tanda akan orgasm. “Risss… ahh…ahhh… Ahhh… Ris.. Aku mau keluar…Ahh…Aghhhhhhhhh”.
Tubuh Yupi menggelinjang dengan hebatnya. Aku biarkan dia menimba badanku yang berada di belakangnya. Akhirnya dia orgasm untuk pertama kalinya. Dia terlihat letih sesaat setelah kuraba vaginanya yang sudah basah. “Enak Ris, lega rasanya”, ujar dia dengan nada lemas.

“Ya kan ? haha udah kamu istirahat aja dulu”
Entahlah apa yang terjadi hari ini.
Aku tidak mau tau lagi, semuanya berjalan begitu cepat.
Yupi kubiarkan untuk beristirahat malam ini di kamar kost-ku, Semoga esok hari tidak ada yang berubah dari hubungan kita.
.
.
.
To Be Continued

All hail of Yupi

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    All hail of Yupi