Life Saver chapter 3 – Holiday Cheers

No comment 1589 views

Pagi hari pun tiba.

Aku bangun dengan posisi tertidur di karpet. Seketika aku teringat kejadian semalam. Ya, kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku melirik kearah kasur dan terlihat Yupi yang masih tertidur dengan nyenyaknya di sana berselimutkan dengan selimut tebal yang menutupi badanya.

Aku kemudian berdiri dari tempatku tertidur kemudian berjalan kearah Yupi. “Yup, udah pagi, ayok ngampus”, Ujarku sambil menggoyang goyangkan pundak Yupi yang masih tertidur dengan pulas. “Nghhhh, lima menit lagiii”, balasnya sembari menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.

“Eeh, kelas jam Sembilan loh, sekarang udah jam delapan, bangun kek siap siap dulu, sarapan dulu, mandi dulu”, cetusku sambil terus menggoyang goyangkan badanya yang masih terbungkus di dalam selimut tebalnya itu.
“Gamauuu”, jawabnya di dalam selimut.

Aku paham, mungkin ia masih lelah dengan kegiatan yang kita lakukan semalam. Tetapi mau bagaimana lagi, kita ada jadwal kelas di pagi hari. Terpaksa aku harus memanggil dia dengan panggilan sayangku.

“Sayaang, bangun yuk ah”

Yupi kemudian membuka selimutnya kemudian menatapku dengan muka bantalnya yang terlihat lucu. “Hmm ? kamu kangen ya sayang ?”, jawabnya dengan mata yang masih tertutup dan di bumbui oleh senyuman masih dari muka bantalnya itu.
“Hmmm iya deh”,ujarku sambil mencubit pipi chuuby nya. “Cepet bangun ah, abis itu mandi langsung sarapan”, sambungku sambil tersipu malu. “Iyaa deh aku bangun”, jawabnya.

Singkat cerita kami berdua pun bersiap siap untuk pergi ke kampus. Setelah mandi dan sarapan, aku kemudian memanaskan motorku.

“Yup, kamu bareng sama aku aja ya berangkatnya, angkutan transportasi jarang lewat jalan depan sini, jadi agak susah”, Ujarku.
“Umm iya deh”.

Setelah mesin motorku terasa cukup panas, aku kemudian langsung naik ke atas motorku di susul dengan yupi yang duduk di belakang. “Kamu nyetir nya ugal ugalan gaak ?”, tanyanya sambil menatapku ragu. “Iyaa, aku suka bawa motor kenceng, makanya peluk aku coba nanti, biar gak jatuh, haha”, jawabku. “Huuu pinginya kamu aja itu. Tapi, gak usah kamu minta pasti aku peluk kok”

Aku membalasnya dengan senyuman.

“Udah siap ? helm nya pake ya, terus jangan lupa pegangan”.
Aku dan Yupi kemudian berangkat menuju kampus. Di perjalanan dia benar benar memelukku dari belakang. Terasa dua buah payudaranya yang menyentuh punggungku, terlebih ketika kita melewati polisi tidur, terasa gesekan dari buah dadanya itu yang membuat kemaluanku berdiri dengan tegang. “Sabar ris, sabar”, gumamku.

Sayangnya, kenikmatan yang kurasakan itu tidak berlangsung cukup lama karena tak terasa, kami berdua sudah sampai di depan kampus. Yupi kemudian melepaskan pelukanya dari pinggulku. “Kenapa ?”, tanyaku. “Nanti ketauan yang lain kalo kita pacaran, kamu bisa kena masalah lagi”, jawabnya. Aku kemudian memarkirkan motorku di tempat yang terlihat kosong. Aku kemudian menoleh ke belakang kemudian kembali bertanya. “Kok aku yang kena masalah ?”.
Yupi kemudian menaruh telunjuknya ke mulutku.

“Nanti kamu juga ngerti. Yuuk masuk kelas, udah hampir telat nih”
Cukup mencurigakan, tapi biarlah, aku tidak peduli. Aku dan Yupi kemudian berjalan bersama menuju kelas. Ketika kelas berlangsung, aku baru teringat bahwa hari ini adalah hari terakhir kita akan masuk kampus untuk semester ini karena kita telah selesai melaksanakan UTS minggu lalu. Jadi intinya, mulai besok sampai tiga bulan kedepan akan ada libur panjang yang menanti.

Aku jadi terpikir kegiatan apa yang akan aku lakukan di liburan panjang nanti. Selama kelas berlangsung aku hanya melamun, melamun dan melamun hingga tak terasa waktu pun bergulir sangat cepat. Saking cepatnya aku tidak merasakan bahwa kelas sudah berakhir. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahuku cukup keras.“Woi, melamun aja. Mikirin apaan sih ?”, ujar seseorang di belakangku.

“Oh, Dim, ngagetin aja kamu. Engga nih, aku lagi mikirin nanti liburan mau ngapain haha”, sahutku kepada Dimas, temanku.

“Hmm, aku ada ide sih, gimana kalo kita liburan keluar kota. Yaaa maksudku kayak camping di manaa gitu kan asik”, ujarnya sambil mengambil kursi kemudian duduk di depanku.

“Wah ide bagus tuh, kebetulan aku tau banyak tempat asik buat camping di luar kota. OK fix lah ya, tapi siapa aja nih ?”, tanyaku.

“Ya yang pasti aku sama kamu ikut kan, terus nanti aku ajak pacarku juga deh, dia udah pasti mau kok, terus yaaa… Kamu aja pacar kamu juga tuh, si Yupi hehe”, jawabnya sambil menggulirkan matanya kearah Yupi dan memasang senyum kecil di mulutnya.

“Eh sebentar, kok kamu tau aku pacarnya Yupi ?”, tanyaku curiga.
“Ya nebak nebak aja sih, soalnya kamu tadi naik motor berduaan mulu haha, tadi di lampu merah kan kita ketemu, Cuma paku pake helm full face, jadi kamu mungkin gak sadar haha”. Dimas seketika mengubah raut wajahnya menjadi serius. “Eh ris, seriusan dah. Kita kan cowok nih ya, apalagi nanti kita bawa pacar kita masing masing pas camping, lu gak ada rencana lain gitu selain camping ? kayak ngelakuin kegiatan ‘pacaran’ ?”, tanya Dimas dengan nada suaranya yang sedikit rendah.

Kode apa ini ? karena belum paham mengenai rencananya, aku kemudian ikut menurunkan nada suaraku. “Maksud kamu ?”, tanyaku.

“Yupi masih perawan kan ? pacarku juga gitu, masih perawan nih. Nah rencanaku nanti pas camping kita lepas keperawanan pacar kita, gimana ?”, jawabnya.

“Wah yakin nih ? aku sih ngikut aja rencana kamu, karena ujur ya, aku sendiri udah gatel sih setiap berduaan sama dia”, jawabku.

“Nah kan, jadi fix ya rencananya gitu aja”, ujarnya. “Ok!”. Kami berdua pun melakukan tos sambil memasang wajah yang tanpa memiliki dosa sedikitpun

“Lagi ngomongin apa nih ? asik banget”, Tanya Yupi yang tiba tiba dating.
“Eh Yupi, gini yup, kita sih rencananya besok mau camping nih, Kharis ikut kok, kamu ikut kaan ? nanti aku ajak Anin kok, dia kan sahabat kamu”, jawab Dimas.

“Umm, kalo Kharis ikut, aku juga ikut deh”, ujarnya sambil menatap malu wajahku, dalam hati aku bersorak germbira. “Eh kamu emang sama Anin udah jadian ? kapan nih ?”,Tanya yupi dengan penasaran.

“Haha, minggu lalu. Yaudah, besok fix ya, nanti kita berkabar aja di chat deh”, Dimas kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Aku pulang duluan ya, bye”, ujarnya sambil berlari keluar kelas.

Harus aku akui, Yupi memang berteman baik dengan Dimas sudah sejak lama, mereka berdua terlihat saling mempercayai satu sama lain sebagai teman dan aku bersyukur akan hal itu karena kemungkinan orang yang benar benar tulus untuk berteman dengan Yupi semakin bertambah.

Yupi kemudian berbisik ke telingaku. “Ay, pulang yuk”, kemudian ia tersenyum.
Bagaimana aku bisa berkata tidak dengan ajakan seperti itu. Satu hal yang perlu di ketahui juga bahwa Yupi tinggal di area kost yang cukup jauh dari kampus, jadi aku harus mengantarnya pulang dahulu baru aku bisa pulang ke kost ku.

Singkat cerita aku kembali menaiki motorku dengan yupi di belakangnya memeluk pinggulku lagi. Sambil berkendara aku bertanya iseng ke Yupi. “Yup, kamu masih perawan kan ?”.

“Hmm kok tiba tiba nanya gitu ? ‘pingin’ yaaa ?”, tanyanya sambil menggelitik pinggulku.
“Yaa nanya ajaa”, jawabku. “Aku masih perawan kok ay tenang aja. Kalo kamu masih perjaka gak ?” tanyanya balik.
“Masih kok”, ujarku dengan percaya diri.

Yupi tiba tiba pengelus penisku. “Coba aja perawan kayak aku di masukin perjaka kayak gini”, ujarnya sambil telus mengelus elus penisku.

“Eh ay maish di motor ah, jangan di elus terus, tegang ini, nanti keluar di celana eh”, ujarku sambil berusaha melawan godaan Yupi.

“Haha iya iyaa, seneng deh bercandain kamu”, ujarnya sambil tertawa.
Setengah jam berlalu dan akhirnya kita sampai di depan kost milik Yupi. Yupi kemudian turun dan langsung mencium pipiku. “Udah ya ay, maaf buru buru, kebelet pipis, byeee”, sahutnya sambil berlari kearah kamar kost nya. Aku terdiam sejenak kemudian tersenyum karena merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tak lama kemudian aku langsung memutar balik motorku dan pulang.

Sesampainya di kost dan setelah aku membersihkan diriku, aku langsung berdiskusi untuk acara besok pagi dengan Dimas melalui chat. Kita berdua sudah menyusun beberapa kegiatan termasuk kegiatan ‘kotor’ yang akan kita lakukan. Setelah aku menginformasikan Yupi dan Dimas memberitahu pacarnya, akhirnya kita sepakat untuk berkumpul di alun-alun kota dan berangkat bersama ke puncak bukit pada pagi hari. Setelah mereka setuju, kita akhiri diskusi di malam itu.

Aku kemudian merebahkan badanku di kasur. Sejenak aku teringat oleh kata kata Yupi saat di motor tadi sore. Ia dengan polosnya mengelus penis ku sambil berkata “Coba aja perawan kayak aku di masukin perjaka kayak gini”. Apakah itu tandanya dia ingin keperawananya segera di lepas olehku ? kemudian saat sampai di depan kost nya dia berkata “Udah ya ay, maaf buru buru, kebelet pipis, byeee”. Apakah dia ingin buru buru masuk WC dan melakukan masturbasi karena sudah ‘gatal’ ? “Argghhh”, ujarku karena tak tahan membayangkan imajinasi imajinasi kotor tentangnya sampai tak sadar penisku sudah berdiri dengan tegang. Semakin larut, kondisi tubuhku semakin lelah, perlahan aku mulai memejamkan mata.

Keesokan harinya setelah aku mandi dan sarapan, aku langsung menyiapkan barang barang yang akan aku bawa. Tak lama kemudian aku menerima pesan dari Yupi “Ay, jemput aku ya”, katanya. Setelah semuanya siap, aku langsung berangkat ke kost milik Yupi untuk menjempunya. Sesampainya di depan Kost milik yupi, terlihat Yupi memakai jaket tebal dan membawa ransel yang cukup besar.

“Ay kamu kayak mau mendaki aja, kita kan Cuma mau berkemah di bukit doang”, ujarku.
“Ya gak apa-apa, aku gasuka dingin wee”, balasnya yang kemudian menjulurkan lidahnya. Aku kemudian mencubit pipinya dan menyuruhnya untuk naik ke kursi belakang, kemudia setelah itu kita langsung berangkat ke meeting point. Tak lama berselang, kita berdua sudah berada di meeting point. Disana terlihat sudah ada Dimas dan Anin menunggu di atas motor. Aku kemudian menepikan motorku di belakang motor Dimas.
“Oi dim, sorry telat”, ujarku.

“Oh iya gak apa apa, gw juga baru dateng kok. Kebetulan udah ready nih, gas yok ?”, sahutnya.
“Ok, lu jalan duluan”, sambungku.

Kami berempat kemudian memulai perjalanan menuju bukit, ya memang cukup jauh dan melelahkan, di jalan kami sempat beberapa kali berhenti di pom bensin untuk beristirahat sejenak dan mengisi bensin motor kami, tak lama berselang kami melanjutkan perjalanan. Tiga jam kemudian, kami akhirnya sampai di tempat tujuan.
Suasananya cukup sepi karena jarang ada orang yang tau tempat ini. Tempat berkemah kami jauh di atas bukit, jauh dari jalan utama dan tentu saja jauh dari perkotaan. Di samping kiri dan kanan di penuhi oleh hutan yang lebat. Kami kemudian memarkirkan motor kami di dekat tempat kam iakan membaut tenda.
“Nah sejuk kan ?”, tanya Dimas sambil melihat sekeliling.

“Iya sih, tapi kok sepi ya ? angker gak sayang ?”, Tanya anin sambil memegang lehernya. Dimas kemudian merangkul Anin sambil berkata “Enggak kok, sekalipun ada hantu, kan ada aku ngejagain di samping kamu”.
Seketika Yupi meliriku dengan tatapan yang penuh kode. Aku membalas tatapanya dengan penuh kebingungan. “Umm…Anu…Apaan yup ?”, tanyaku. Seketika aku tersadar “Ohh mau aku peluk ? siniii”, aku kemudian merangkulnya. Namun semuanya tertawa termasuk Yupi dan secara bersamaan mereka meneriaki ku. “Telaaat”. Kami berempat pun larut dalam canda tawa.

“Eh udah agak siang nih, mulai bikin tenda yuk ris, yang cewek cewek cari air di deket sini aja, kalo gak salah ada mata air di sana”, ujar Dimas sambil menunjuk ke dalam hutan.
Aku dan Dimas kemudian mulai membuat tenda sedangakn Yupi dan Anin pergi ke dalam Hutan untuk mencari mata air. “Jadi gini ris, kita tunggu sampe agak malem gitu terus kita ajak pasangan masing masing kemanaa gitu, baru mulai eksekusi”, cetus Dimas sambil memasang tenda.

Aku hanya mengangguk.
Satu jam telah berlalu dan tenda kita sudah selesai di buat serta yang mencari air pun sudah kembali. Setelah kita selesai membuat tenda, kita memasukan barang barang kita ke dalamnya dan aku mulai membuat api unggun. Kami habiskan sore itu diisi dengan kegiatan kegiatan yang mengundang gelak tawa. Kami bernyanyi bersama, sampai bercerita tentang kehidupan masing masing.

Perlahan matahari mulai tenggelam dan hari pun mulai gelap. Terlihat Yupi duduk di depan api unggun sambil termenung. Aku berjalan kearahnya dan duduk di sebelahnya kemudian merangkul tubuhnya yang kedinginan itu. Aku menolehkan wajahku kearah wajahnya, ia nampaknya sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih. “Kenapa ay ? kok kayak yang sedih gitu”, ujarku. “Gak apa apa”, jawabnya.

Tapi aku tau bahwa itu hanyalah sebuah kebohongan. Didalam hatinya dia pasti sedang bersedih. “Yaudah deh ay, daripada sedih mending jalan jalan yuk keliling hutan”, ujarku sambil berdiri kemudian menjulurkan tanganku kea rah Yupi yang sedang duduk bersedih. Tiba tiba Dimas mengeluarkan kepalanya dari dalam tenda kemudian berkata “Udah tuh di ajak sama pacarnya buat jalan jalan Yup, ikut deh”, ujarnya. Mata dimas berkedip padaku, kode operasi kotor kita akan di mulai.

“Yaudah deh kalo itu bisa bikin aku happy lagi, aku ikut”, jawab Yupi sambil memegang tanganku yang aku julurkan sebelumnya, ia kemudian berdiri di sebelahku. “Yuk ay”, ujarku. Kita berdua pun pergi menjauh dari area perkemahan.
“Have fun ya kalian berdua !”, teriak Dimas.

Sejujurnya aku tidak tau ingin mengajak Yupi kemana, aku hanya akan berputar putar untuk mencari spot yang bagus demi mensukseskan rencana ‘kotor’ ku itu. “Kita mau kemana ay ? agak gelap nih”, Tanya Yupi. “Umm, tadi aku liat kabin gitu deh, aku penasaran aja di dalemnya ada apa, temenin cek ke situ yuk, kamu kan berani orangnya, sedangakn aku penakut”, ujarku sambil mencari cari alasan. “Yaudaah iyadeh, tapi kalo ada hantu, kamu jangan lari duluan ya”, ujarnya dengan nada menggoda.

Aku hanya tertawa.
Beberapa menit kemudian, kita akhirnya sampai di kabin kosong yang aku ceritakan kepada Yupi tadi saat di perjalanan menuju kemari. Yupi kemudian menatapku dengan ragu “Ini serius gak apa apa ? gelap gitu loh ay, yakin mau masuk ?”, ujarnya.

“Iyaa udah, yuk” ujarku sambil menarik tanganya.
Kita berdua perlahan masuk ke dalam kabin dua lantai yang sepertinya sudah tidak ada penghuni nya. Sambil melirik kanan dan kiri aku mencari kamar kosong yang layak untuk dijadikan tempat eksekusi pelepasan keperawanan Yupi ini.
Akhirnya aku menemukanya.

“Ay masuk sini dong, aku mau ngomong beberapa hal sama kamu.” Ujarku sambil menarik tangan Yupi masuk ke dalam kamar itu. Setelah kami berdua masuk, aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Yupi langsung duduk di tempat tidur.

“Umm gini yup, sebenernya..”
Yupi kemudian memotong pembicaraanku. “Iya aku tau kok, kamu pingin ngelepas keperjakaan kamu kan ? aku bisa liat dari tingkah laku kamu. Yaaa, jujur sih, aku juga udah gak tahan perawan kayak gini”, potongnya sambil mengelus vaginanya.

Aku kemudian berjalankea rah Yupi dan duduk di sampingnya. “Jadi kita lepas aja nih segel kita?”, tanyaku.
Yupi hanya mengangguk, tanda mau.

Mata kita kemudian saling menatap, aku kemudian dengan segera langsung menyambar mungkilnya itu dengan bibirku. Sambil memeluk erat tubuhnya, kita berciuman dengan mesra. Perlahan lidahku mulai memainkan lidahnya. Ini baru awalan. “Yup, buka jaketnya, di sini udah panas kok”, ujarku. Yupi kemudian menarik resleting jaket nya dan membukanya, tak kusangka, Yupi hanya memakai kaos tipis dan tidak mengenakan BH, terlihat dari putingnya yang menonjol di dalam baju putih tipisnya itu. Dia kemudian membuka kaosnya dan buah dadanya yang menggoda bermandikan keringan terlihat dengan jelas.

Aku melakukan hal yang sama, aku buka seluruh baju dan celanaku serta celana dalamku.Sekarang penis besarku muncul ke permukaan dengan keadaan sudah tegang dan keras. “Yup, kan kemarin aku udah mainin punya kamu, sekarang gantian dong kamu mainin punyaku”, ujarku. “Iyaa deh” ujarnya. Tanpa berfikir lama ia langsung mengulum penis besarku.
Sllluurrpp…Slluuurrppp, suara jilatan bercampur dengan kulumanya terdengar dengan jelasnya. “Shhh ahh sayang enak banget”, ujarku menikmati kenikmatan dari penisku yang sedang berada di mulut Yupi. Hawa semakin panas di kamar ini dan gairahku semakin memuncak. Aku kemudian menekan kepala bagian belakang milik Yupi dan memaksanya untuk mengulum lebih dalam. “Nggghhh…Ngghh”.

Setelah cukup puas, aku menyuruhnya untuk berhenti mengulum dan menggantinya dengan permainan tangan. “Coba kocok yup pake tangan kamu”, Yupi menuruti permintaanku dan tanganya mulai mengocok dengan lincahnya. Aku kembali menyambar bibirnya. Tak sadar semakin lama kocokan tanganya semakin cepat. “Yupp…shhh…Akuu…mau keluar…Sshh…Ahhhhh”, Akhirnya pejuhku tumpah ke tangan Yupi. “Hmm banyak banget”, ujarnya sambil melihat air spermaku yang tumpah di tanganya. “Kayaknya kamu udah gak tahan pingin masukin ya ? yaudah sekarang ya ?”, sambung Yupi yang kemudian berdiri dan membuka celana jeans dan celana dalamnya.

Kini vagina milik Yupi yang di tumbuhi oleh rambut rambut yang tipis sudah terlihat. Yupi kemudian merebahkan dirinya di kasur. “Ris, masukin nya pelan pelan ya”, ujarnya. Aku hanya menggangguk.

Perlahan aku mendekatkan penisku ke arah Vagina milik Yupi. Semakin dekat dan semakin dekat hingga aku tak sadar ujung kemaluanku sudah menyentuh bibir vagina miliknya. Yupi nampak ketakutan. Dia memejamkan matanya dan kedua tanganya memegang bantal yang berada di atas kepalanya. “Yup, aku pelan pelan ya, tahan. Nanti juga enak”, ujarku sambil perlahan mendorong masuk batang penis besarku ini.

Perlahan lahan ujung kemaluanku sudah masuk ke dalam lubang vagina milik Yupi. Semakin dalam dan semakin dalam. “Akgghhhh….Ris perih”, katanya. Vagina miliknya masih terasa sempit sekali dan kini dari dalamnya muncul darah perawan yang baru saja aku lepaskan malam itu. “Tahan ya Yup, baru setengah ini, aku masukin lebih dalem ya”, ujarku sambil mendorong penisku agar menancap lebih dalam. “Ahh ayy udah dulu, perihh”, cetus Yupi.
Kini seluruh batang kemaluanku sudah masuk ke dalam Vaginanya. Jepitan dari lubang vaginanya yang masih sempit membuat aku semakin nafsu untuk melancarkan aksiku lebih jauh lagi. “Kan ? udah gak sakit ?”, tanyaku. “Iya sih, tapi tetep jangan keterlaluan ya ?”, jawabnya.

Aku kemudian mulai mendorong badanku maju dan mundur secara perlahan. Salah satu tangan Yupi kemudian meremas remas payudaranya sendiri dan tangan lainya tetap berpegangan erat pada bantal di atas kepalanya itu. Yupi terdengar mulai mendesah. “Ahh… Ahh… Ahh…”. Desahanya membuatku semakin nafsu. Aku kemudian menimpa badanya dan langsung menyambar mulutnya sambil terus mendorong batang kemaluanku masuk ke dalam lubang vaginanya maju dan mundur secara perlahan. Aku kembali melumati bibir manisnya itu dan tak lama mulai menciumi lehernya.

Keringat kami yang mengucur dengan derasnya menjadi satu membasahi sekujur tubuh ini. Setelah puas dengan lehernya, aku kemudian langsung menyambar menjilati ketiaknya yang putih dan mulus di campur dengan keringat yang turun ke sana. “Ris geli ahh…”, ujarnya.

Setelah lubang vaginanya terasa sedikit longgar, aku menaikan sedikit kecepatan genjotanku. “Ahhh… Ahh…Ahhh ris pelan pelann…Ahhh”, cetusnya sambil salah satu tanganya memegang dadaku. Aku tidak mempedulikanya, aku terus menaikan kecepatan genjotanku sampai pada akhirnya…

“Ris… Aku… Aku mau keluar… Riss… Stoopp…. Ahh.. Ahhhhhh”. Yupi ternyata sudah mencapai klimaks. Tubuhnya menggeliat dengan hebatnya. Terasa cairan orgasms keluar dari bagina milik Yupi melumuri penisku yang masih tertancap di dalam.

Aku kemudian mencabut penisku dan berbaring di sampingnya. “Gimana ? enak kan ?”, tanyaku sambil melirik ke arah Yupi. “Huuhhh… Huuuhh.. Enak Ris.. Baru pertama kali aku kayak gini”, jawabnya sambil menutup matanya.
Tapi aku belum puas.

“Yup sekali lagi yuk, Tadi kamu kan yang keluar, akunya belum nih. Sekarang ganti posisi ya, kamu yang di atas badanku, aku yang tiduran”, ujarku.

“Iyaa, janji ya terakhir, capek banget aku”, jawabnya.
“Janji !”, cetusku.
Yupi kemudian duduk di atas kemaluanku. Ia menggesek gesekan vaginanya maju dan mundur. Itu membuatku semakin terangsang. “Hmm, gimanaa ? Ahhh… Ahhh”, ujar Yupi sambil terus menggesekan vaginanya di batang kemaluanku.
“Ahhh enak Yup, makanya cepet masukin, udah gak tahan nih”, kataku.

“Iyaaa gak sabaran bangeet, lagi enak nih padahal”, jawab Yupi.
Yupi kemudian memasukan penisku masuk ke dalam lubang vaginanya. “Ahhhhh”, desahnya. Dia kemudian menggoyang goyangkan pinggulnya naik dan turun, maju dan mundur.

“Ahhh… Ris enak banget… Ahhh… Ahhh”, kata Yupi sambil terus menikmati kenikmatan penisku yang sedang menancap di dalam vaginanya.

“Ahhh terus Yup.. Ahhh”, ujarku. Aku kemudian sedikit memandangi tubuh sexy milik Yupi yang sedang berada di atas badanku ini. Kedua tangaku kemudian langsung meremas pantat milik Yupi sambil memaksa nya untuk naik dan turun lebih cepat.

“Ahhh… Ahhh.. Ris… Jangan kasar… Ahhh”, cetus Yupi sambil menahan rasa sakit.
Aku sudah tidak tahan lagi, sebentar lagi aku akan keluar.

Tapi tentu saja tidak di dalam Vagina miliknya, aku tidak mau dia Hamil karena ulahku. “Yuppp…Ahhh… Aku mau keluar nih… Ahhh”, ujarku.

“Eh ris… Cabut, jangan di dalem…Ahhh… Ahhh”, katanya dengan nada kaget.
“Tunggu… Ahhh enak banget… Ahh sebentar lagiiii”, jawabku
“Riss… Cabut sekarang….Ahhh.. Ris…”, cetus Yupi sambil berusaha mencabut Vaginanya dari tancapan penisku dengan panik. Beruntung Yupi tepat pada waktunya, sejenak setelah Yupi berhasil mencabut Vaginanya, spermaku tertembak keluar dengan banyaknya mengenai perut Yupi dan bagian luar Vaginanya.

“Ris kamu apa apaan sih, untung tepat waktu, kalo engga aku bakalan Hamil gara gara kamu !”, ujarnya sambil memukul dadaku.

“Ehh maaf, aduh keenakan haha”, kataku sambil meggaruk garuk rambutku. “Tapi enak kan ?”, sambungku.
Yupi kemdian membaringkan tubuh lemasnya itu di samping tubuhku. “Iya enak banget, baru pertama kali aku ngerasian kayak gini. Tapi lain kali jangan kayak tadi ya, panik tau aku”, jawabnya sambil menatap marah diriku.
“Hahaha iyaa iyaa maaf.”, ujarku. “Aku sayang kamu Yup”, sambungku.
“Aku juga sayang kamu”, jawabnya sambil memeluk badanku.

Karena merasakan kelelahan yang luar biasa, kami tertidur dengan cepatnya. Malam yang indah inipun akan segera berakhir pada saat matahari mulai bersinar.

All hail of Yupi

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    All hail of Yupi