Life Saver Chapter IV – Meet the Past (Yupi’s Point of View)

Ketika sinar mentari menembus jendela dan kehangatanya terasa pada tubuh kami, kami berdua pun terbangun secara bersamaan. “Pagi ris”, ujarku sambil menolehkan kepalaku ke arah Kharis yang baru saja terbangun di samping badanku. “Pagi juga”, balasnya sambil mengecup dahiku dan kemudian tersenyum. Mengingat keperawananku dan keperjakaan milik Kharis yang sudah terlepas semalam, rasanya aku bahagia dan takut secara bersamaan.

Aku kemudian berdiri dan mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai kabin itu kemudian mulai memakainya satu persatu. “Ris aku gak akan hamil kan ? semalem kamu ngeluarinya di luar kan ?”, ujarku sembari memasukan pergelangan tanganku di baju yang akan aku kenakan sekarang. “Iya di luar kok, tenang aja ya”, jawab Kharis.

Ya sepertinya aku terlalu khawatir mengenai hal itu. Mengingat masa mudaku yang masih panjang, mungkin inilah salah satu keasikan dari proses masa muda menuju dewasa yang terselubung di perjalanan panjang itu.

Kharis kemudian mulai memakai pakaianya kembali kemudian melirik ke arah Handphone nya yang tergeletak di meja. Ternyata ada sebuah pesan masuk dari ibunya.

“Aduh ibu nyuruh pulang kampung lagi. Besok harus udah ada di Bandung”, ujarnya sambil melirik ke arahku. “Yah jadi gimana dong Ris ? sekarang pulang gitu ?”, tanyaku. “Yaa kayaknya gitu sih, Ahhh ada-ada aja sih ah, lagi camping juga”, cetus kharis dengan nada kesal.

Aku kemudian memegang tangan Kharis lalu menatap wajah kesalnya.

“Sayang, gak apa-apa kok kita pulang sekarang, aku gak akan marah kok, Dimas sama Anin juga mungkin bakalan ngertiin. Ya ? Kita pulang ya ?”, kataku. Kharis kemudian tersenyum lalu mencubit pipiku dengan kedua tanganya. “Iyaaa, makasih udah ngertiin, hehe”, sahutnya sambil terus mencubit. Kami berdua pun tertawa.

“Yuk ah balik lagi ke area camp”, ujarnya. Aku kemudian menggandeng tanganya dengan tiba tiba. “Yuk !”, kataku. Kharis hanya tersenyum. Kami berduapun akhirnya berjalan kembali ke area tempat kami mendirikan tenda yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kabin kosong ini. Sepuluh menit kami berjalan dan akhirnya kamipun sampai. Terlihat disana Anin yang sedang bernyanyi diiringi oleh alunan petikan gitar yang di mainkan oleh Dimas. Mereka berdua nampak bahagia sekali.

Dimas kemudian melihat kami berdua yang sedang berjalan kemudian berteriak dari kejauhan sana. “RIS, SUKSES GAK ?!”, teriaknya. Kharis kemudian mengangkat salah satu tanganya ke atas dan memberikan tanda ‘sip’ sambil membalas teriakan Dimas. “SUKSES WOI, KAMU SUKSES GAK ?!”, sahut Kharis. “SUKSES DAN LANCAR JAYA HAHAHA MANTAP !”, balasnya. Aku kemudian melirik ke arah Kharis kemudian bertanya “Eh emang gak bisa ya ngomong dari deket gitu, lagipula sukses apaan sih ? kayak ada rencana gitu di antara kalian.”, tanyaku curiga. Dimas kemudian menekan hidungku dengan telunjuknya. “Rahasiaaa”, jawabnya.

Setelah sampai di depan tenda, Kharis dan Dimas melakukan tos dan terlihat sangat bahagia sekali hingga tertawa terbahak-bahak sementara aku dan Anin terlihat kebingungan karena tidak tau apa yang terjadi. Sementara Dimas dan Kharis tertawa dan mengobrol, aku mendekati Anin kemudian berbisik di telinganya. “Eh nin, kamu semalem di ‘tidurin’ sama Dimas gak ? ngerti kaan ?”, bisikku. Anin kemudian mengangguk. “Iya iya, kamu juga ?”, sambung Anin. “Iya. Berarti kamu juga udah gak perawan dong ?”, tanyaku. Anin lagi lagi mengangguk kemudian menundukan kepalanya. “Santai, kamu gak sendiri. Aku juga udah gak perawan kok. Senyum dong ! Yang terpenting, keperawanan kita hilang oleh orang yang kita sayangi kaan, daripada di perkosa gitu”, Ujarku. Anin kemudian menganggat kepalanya dan tersenyum ke arahku.

Kharis dan Dimas kemudian menghampiri kami berdua. “Umm, jadi gini, Aku udah diskusi sama Dimas, karena aku ada keperluan keluarga di Bandung besok, jadi hari ini kemungkinan aku harus berangkat dari Jakarta ke Bandungnya sih, jadi yaa… Pagi ini kita harus pulang lagi ke Jakarta sih, gimana ?”, tanya Kharis.

Setelah kita semua berdiskusi dan tidak ada yang keberatan dengan keputusan Kharis, kita sepakat untuk pulang dari bukit pagi ini. Singkat cerita setelah kami membereskan segalanya, kamipun pulang kembali ke Jakarta.

Setelah sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan, kamipun akhirnya sampai di Jakarta. Karena berbeda jalu, kami berpisah dengan Dimas dan Anin di tengah perjalan. Sebelum Kharis pulang, dia mengantarkanku ke Kost-an miliku. Beberapa menit berselang kamipun tiba dan akupun turun dari motornya. “Um, udah ya makasih. Kamu hati hati ya berangkat ke Bandungnya. Istirahat aja dulu, awas loh kalo kamu kenapa napa, aku khawatir tau”, cetusku. Kharis kemudian mengelus ubun ubun kepalaku. “Iyaa tenang aja, gausah khawatir. Justru aku yang harusnya khawatir kamu jadian sama yang lain, gausah macem macem ya selama aku gak ada”, ujarnya sambil menyenggol badanku.

Aku kemudian menggembungkan pipiku dan menunjukan wajah cemberutku ke arahnya. Dia hanya tertawa dan kemudian lagi lagi mencubit pipiku dengan kedua tanganya. “Kamu lucu banget sih haha. Aku beruntung punya kamu”, katanya. Aku kemudian tersenyum.”Udah ya, aku mau pamit dulu, harus istirahat terus beres beres abis itu siang baru berangkat ke Bandung, jangan lupa chattingan ya”, sambungnya. “Iyaa hati hati”, jawabku.

Setelah berpamitan, Kharis pun pergi dan akupun masuk kedalam kamar kost ku. Sebelum beristirahat, aku membereskan barang barang yang ada di tasku kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku.

Setelah selesai semuanya, akupun membaringkan tubuhku di kasur dan perlahan mulai tertidur. Beberapa jam kemudian akupun terbangun. Seketika aku melihat jam yang berada di dinding dan sekarang sekarang menunjukan pukul 14:45. Ternyata sudah siang menjelang sore. Aku kemudian menyentuh Vaginaku yang segelnya kini sudah terlepas. Perasaanku masih bercampur aduk saat ini, disamping aku merasa senang karena aku bisa melakukan proses pelepasan keperawananku ini dengan orang yang aku cintai, aku juga merasa takut akan mengecewakan banyak orang termasuk keluargaku karena mungkin aku akan hamil. Tapi seketika aku teringat kata kata kharis. ‘Tenang saja’ ujarnya. Perlahan aku menarik dafas dalam dalam kemudian membuangnya.

Tiba-tiba ponsel-ku berdering. Aku segera layar HP-ku dengan kegirangan karena aku kira Kharis akan mengabariku siang itu, namun perkiraanku salah. Ini hanyalah nomor yang tidak di kenal. Dengan kecewa hati, aku menjawab panggilan itu.

“Halo, dengan siapa ?”, ujarku

“Hai hai hai Cindy Yuvia. Lo gak usah tau deh gue siapa sekarang, karena nanti juga lo bakalan tau kok.”, cetusnya dengan nada bercanda. “Ekhem, jadi gue sekarang bakalan langsung ke intinya aja deh. Gue tau kok kemarin lo sama temen temen lo camping di daerah puncak sana, dan gue juga tau kok semalem lo ngentot sama ‘pacar’ baru lo. Ya kan ? ya kan ? ya kan ?”, Cetus penelfon misterius itu dengan nada dan kata-kata yang kasar.

“Dimas ini kamu iseng ya ? jangan bercanda deh”, tanyaku panik.

“Dimas siapa yaa ? oh temen kamu yang ngentot sama pacarnya di tenda itu ? ah dia gak ada urusan sama gue, yang jelas, lo sama cowok lo ngentot dan gue punya video nya loh hahaha”, jawabnya.

“Video ? kamu rekam ?! Ini siapa sih ? Dimas jangan bercanda deh ya, gak lucu tau”, sambungku dengan nada ketakutan.

“Ahh iya dong, gue yang rekam. Lo tau gak ? Lo berdua ngentot di kabin punya bokap gue yang mau di jual, kebetulan banget semalem gue sendirian lagi ada di halaman belakang kabin itu, lagi cek tanah yang mau di ukur besok pagi, sampe tiba tiba gue ngedenger suara lo berdua, setelah gue cek dari mana arahnya dan gue intip lewat jendela oh ternyata lo berdua lagi ngentot. Bego banget sih kenceng kenceng suaranya. Upps lupa, lo kan lagi lepas keperawanan ya, jadi gak heran sih kenceng kenceng teriak nya. Gak mau lewat kesempatan itu, ya gue rekam lah haha”, sahutnya menghina.

Seketika aku merasa panik, tenggorokanku terasa sakit sekali. Kata kataku tidak bisa keluar pada saat itu.

“Rekaman ini bisa gue sebarin sih ke seluruh isi kampus lo, biar mereka tau ayam kampus paling cantik ini ternyata gatelan dan udah gak perawan, mumpung kualitasnya HD sama resolusinya 1080p nih, kamera gue gitu loh. Bisa kesebar juga gak ya ke dosen atau rektor ? hmmm, bisa mungkin haha, jadinya lo di DO deh dari kampus lo. Tapi kita bisa buat kesepakatan sih, rekaman ini gak bakalan gue sebar kalau lo nanti sore sekitar jam lima datang ke rumah gue sendiri. Kita bicara baik baik lah ya. Sekarang gue send location di WA lo. Semuanya lo yang tentuin, salah langkah, jari gue kepeleset ngirim tombol share nih yaa. Bye byee gue tunggu ya jam lima”. Dia kemudian mematikan telfonya.

Aku sama sekali tidak tau harus apa sekarang.
Tubuhku terasa kaku dan mati rasa.

Perlahan air mataku menetes jatuh dan mengalir membasahi pipiku. Aku sangat ketakutan pada saat ini. Aku memikirkan bagaimana masa depanku dan masa depan Kharis jika memang rekaman itu tersebar. Apa yang akan di katakan orang tuaku jika sampai mereka melihat rekaman itu melalui mata kepala mereka sendiri.

Aku mulai menenangakan diriku. Mencoba mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mungkin aku akan menuruti permainanya, lagipula dia hanyai ngin bicara baik-baik kan, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak tau siapa orang di balik ini semua tapi siapapun itu, aku tidak akan memaafkanya.

Tiba tiba notifikasi pesan WA di handphone ku berdering, ternyata si orang misterius itu yang mengirimkan lokasi tempat kita akan bertemu. Jaraknya ternyata tidak jauh dari tempatku berada. Aku melirik ke arah jam dinding dan waktu ternyata sudah menunjukan pukul 15:00. Hanya dua jam tersisa. Aku tidak ingin membahayakan masa depanku sendiri, terutama masa depan orang orang yang aku sayangi. Aku harus melindungi mereka, jadi aku akan datang. Aku kemudian hanya duduk menunggu, menunggu dan menunggu hingga jam 16:40. Aku kemudian langsung memesan Ojeg Online dan aku langsung berangkat ke lokasi yang telah di tentukan orang misterius tersebut.

Sesampainya di alamat yang telah di berikan, aku melihat sebuah rumah besar yang di depanya terparkir banyak sekali mobil mewah. Orang kaya ? mungkin saja. Tak lama berselang seorang lelaki keluar dari pintu rumah tersebut kemudian melirik ke arah gerbang, tempat aku berdiri. “Ahhh Cindy, dateng juga lo”, sahutnya dari kejauhan.

Betapa kagetnya aku melihat dia. Ternyata dia adalah mantan pacarku sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Namanya Gilang. Dulu sewaktu SMA, akulah yang memutuskan hubungan kita karena aku memang tidak suka dengan keprbadianya yang berubah tiba-tiba pada saat itu semenjak ayahnya sukses besar dalam pekerjaanya. Perlakuanya menjadi sombong, kata kata nya mendadak berubah jadi kasar juga. Dulu kita pada saat akan putus sempat bertengkar terlebih dahulu dan ternyata saat ini dia nampaknya ingin membalaskan dendamnya yang tersimpan padaku.

Gilang kemudian berjalan ke arah pagar kemudian membukakanya untukku. “Nah, masuk dulu dong say, mumpung kosong nih di rumah”, ujarnya. Wajahnya membuat aku benar benar muak. “Jangan panggil aku say ! aku bukan siapa siapa kamu lagi. Aku udah dateng ke sini, sekarang hapus video nya !”, sentakku. “Jangan buru buru dong, kan gue bilang gue mau ngobrol, makanya masuk dulu, nanti kita obrolin di dal-“

“Gamau !”. Aku memotong pembicaraan Gilang yang berulang kali menyuruhku untuk masuk ke dalam rumahnya. “Sayang sih HP nya ada di dalem. Ya gak apa apa kalo lo gak mau masuk, setelah gue masuk, gue bisa dengan bebasnya nge share video lo kesana sini.”, ujarnya.

Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauanya saat ini. “Yaudah aku ikut masuk, tapi setelah kita ngobrol kamu hapus videonya”, dengan berat hati aku mengatakanya. “Nah gitu dong, Yuk”, jawab Gilang sambil berjalan menuju ke dalam rumahnya. Aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan ragu dan gelisah.

Sesampainya di dalam rumah yang begitu megah ini, aku di persilahkan duduk pada kursi panjang di ruang tamu yang terlihat mewah. Tak lama kemudian Angga datang membawa kamera DSLR kemudian duduk rapat di sampingku. Aku sedikit menggeserkan badanku agar memberikan jarak, namun angga terus merapatkan badanya.

Dia kemudian menhidupkan kameranya dan langsung memutar rekaman hubungan sex aku dengan Kharis kemarin malam. Aku memalingkan wajahku dan berusaha untuk tidak menonton. “Gimana ndy ? ini kalo kesebar bahaya nihhh” ujarnya dengan nada mengejek.

“Jangan coba-coba kamu share Video itu kemanapun. Aku udah ngikutin semua keinginan kamu ! aku udah dateng ke sini, udah masuk ke rumah kamu, udah ngobrol sama kamu, sekarang hapus video nya !”, sentakku dengan nada tinggi.

“Sebenernya, ada satu lagi, dan ini yang paling penting…”

Gilang perlahan mulai mengelus-elus pahaku dengan tangan kanannya. Secara reflek aku langsung menapar wajah gilang dengan sekuat tenaga. “Jangan macem macem ya kamu cowok brengsek !”

Gilang nampak marah. Dia kemudian mendorong pundakku sampai aku terjatuh di atas sofa panjangnya itu kemudian dia mengambil posisi berada di atas tubuhku lalu memegang tanganku dengan erat hingga aku tidak bisa bergerak. “Eh denger ya lo ayam pelacur ! lo sekarang harus ngikutin apa kata gue atau enggak video lu gue sebar ! ngerti gak lo anjing ?!”, bentaknya di depan wajahku dengan sangat kasar.

Aku ketakutan, lagi-lagi aku menangis tak berdaya. “Sekarang gue pingin lo ngentot sama gue kalo lo pingin aman, sehabis itu gue hapus videonya, ngerti gak lo ?!”, sambungnya. “Engggak !”, aku berusaha memberontak dengan mencoba menendang nendang badan milik Gilang namun percuma, tenaga miliknya jauh lebih besar dariku.

Tiba-tiba Gilang melepas genggamanya dari tanganku kemudian kembali duduk di sebelahku. Aku sesegera mungkin langsung menjauhkan badanku darinya. “Ok kalo lo gak mau, gue share sekarang. Inget ya, masa depan lo dan orang yang lo sayang sekarang bergantung sama video ini. Lo ngentot sama gue atau masa depan lo yang hancur, lo pilih”, sahutnya dengan nada mengancam.

Aku benar benar tidak mempunyai pilihan lain saat ini. Ris, maaf…

“Abis kamu sex sama aku, video nya kamu hapus kan ?”, tanyaku ragu.

“Iya dong, aku cowok dan cowok selalu menetapi janji”, ujarnya sambil membuka seluruh pakaian yang ia kenakan hingga tersisa celana dalam berwarna hitamnya. “Udaah ikutin aja, sekarang buka semua pakaian kamu, yang luar sama dalem”, cetusnya dengan santai. Aku kemudian mulai membuka baju dan celana ku dengan berat hati. “Bh sama celana dalem nya dong ah”. Lagi lagi aku dengan berat hati menuruti perintahnya.

“Nah, kan kalo gitu enak liatnya. Body lo boleh juga ya, toket sama pantat lo juga gede, enak nih kalo di goyang di atas kontol gua”, Ujar Gilang yang kemudian menarik celana dalamnya. Kemaluan Gilang yang besar akhirnya terlihat sudah berdiri dan nampak keras. “Gimana ? lebih gede dari punya pacar lo kan ? sekarang sini, lo isep kontol gua”, ujarnya. Aku kemudian duduk di sampingnya. “Lang, jangan keluarin di dalem ya”, tanyaku. “Iya lah gue juga tau”, jawabnya sambil mengangguk.

Perlahan aku membuka mulutku dan mulai memasukan penis besarnya itu ke dalam mulutku. Sluurppp….Sluppppp…Slurrpp. Bunyi dari jilatan serta hisapan yang dari mulutku terdengar keluar. “Ahhh gilak enak banget…Shhh…Ngghh ahh enak banget isepan lo”, ujar Gilang yang terlihat puas menikmati penisnya yang sedang berada di mulutku. Tak lama kemudian Gilang mulai menggenjot penisnya dan menekan kepalaku. “Eh lo pernah denger istilah deep-throat gak ? nah yang gini”, ujarnya sambil terus menekan kepalaku hingga aku sulit untuk bernafas dan tenggorokanku sakit dia baru melepaskan kepalaku. Aku mencabut penisnya dari mulutku dan mulai batuk batuk. “Uhhuk uhkkhuk, jangan kasar kasang”, sahutku.

Tak berhenti di situ, gilang justru lebih nekat. Dia kemudian mendorongku hingga aku tertidur terlentang dan kemudian melebarkan kedua pahaku ke arah samping dan menatap vaginaku dengan bebasnya. “Wah gila, udah gak perawan tapi punya lo kayaknya masih sempit ya”, ujarnya sambil memandangi vaginaku. “Sekarang giliran gue yang main”, sahutnya. Gilang kemudian dengan brutal langsung menyambar vaginaku dan mulai menjilati dinding dindingnya dengan penuh nafsu hingga akhirnya dia memasukan lidahnya ke dalam lubang vaginaku dan mulai memainkan lidahnya di sana. Sluurpppp….Sluurpppp… Aku merasa aneh sekali ada orang yang menjilati vaginaku. “Ahhh langg….Enggghhh…Aghhhh”, namun perlahan rasa aneh tersebut berubah menjadi rasa kenikmatan. Keringatku perlahan mulai keluar hingga membasahi seluruh tubuhku. Sluuurpppp “Ah, dah ah puas ! sekarang kita ke permainan intinya. Nungging lo cepet”, paksanya.

Aku kemudian mengubah posisiku menjadi menungging. “Lang, aku tau kamu nafsu tapi jangan keras ker-….Aghhhhh….”, teriakku merasakan penisnya yang tanpa aba aba sudah menancap di dalam vaginaku. “Ahhh mantap nih sempit gini, gue coba genjot kerasan dikit biar tau rasa lo ya”, sahut Gilang yang kemudian mulai menggenjot batang kemaluanya maju dan mundur “Ngghhh…Ahhhh…Ahhhhh…Nggghh”, aku mulai mendesah tidak karuan sesaat ketika penis besarnya mulai maju dan mundur di dalam vaginaku. “Nah enaka kan kontol gue ? Huuff… Hufff daripada punya pacar lo…Ahhh…Ahhh”, ujarnya sambil terus menggenjot.

Gilang kemudian menarik salah satu tanganku ke belakang dan mulai menaikan kecepatan genjotanya. “Ngghhh enak banget si lo ahhh…ahhh…shhhh…ahhh”, desahnya.

“Lang….Ahhh…ngghh jangan cepet cepet mainya….akghhhh” , sahutku. Tanganku yang di tarik tadi kini ia lepas namun aku tetap menempatkan posisi tangaku tadi di belakang untuk menahan dadanya agar tidak terlalu cepat. “Ahhh gue mau keluar nih…ahhhh…. Shhhh…” Gilang kemudian mencabut penisnya dan… “Aghhhhh”, crooott croot croot. Sperma kentalnya di tembakan ke arah pantatku. Aku dan Gilang kemudian menghela nafas sejenak. “Wah parah enak banget sih lo, masih belum puas gue. Sini lo duduk di kontol gue”, pintanya. Aku kemudian naik ke atas penis gilang yang sedang yang sedang terduduk di sofa. Aku tidak ingin menghadap ke wajahnya, lalu aku membalikan badanku jadi gilang hanya bisa melihat punggungku.

Aku perlahan kembali memasukan penisnya yang masih keras ke dalam lubang vaginaku dan mulai bergerak naik turun secara perlahan.

“Ngghhh…Ahhh…shhhh…ahhhh” desahku yang semakin liar kembali terdengar. “Ohhh ngghh memek lu enak banget…Terusss….shhh…”, ujar Gilang. Tiba-tiba saja tangan gilang meremas kedua payudaraku dari belakang sambil merasakan kenikmatan penisnya yang masih berada di dalam vaginaku. “Ahhhh lang…ngghhhh”.

“Ah lo goyangnya kurang cepet, sini biar gue bantu”, ujarnya sambil mulai menggenjot dengan cepat. Sepuluh menit kemudian aku mulai merasakan kenikmatan dari genjotanya. “Ahhh…Shhh lang jangan cepet cepet….Aku mau…nggghhh keluar…ngghhhh”, ujarku yang sudah hampir mencapai klimaksku. “Ngghhh…Lang…..Lang….Akhhhh !” Gilang kemudian menghentikan genjotanya dan tubuhku menggeliat dengan hebatnya. Aku benar benar sudah mencapai klimaksku. Kenikmatan yang kurasa sangat sangat membuatku puas pada saat ini. “Gimana ? hufftt… huft….enak kan ?”, ujar Gilang sambil mencabut penisnya dari vaginaku yang sudah becek oleh cairan gairahku dan kemudian memindahkan posisiku kembali duduk di sofa. Aku terduduk dengan lemas, namun Gilang nampaknya masih tetap kuat. “Ah lemah lo baru segitu aja udah capek”, ujarnya. “Yaudah nih terakhir, lo isep lagi kontol gue sampe gue keluar lagi”, sentaknya. Mendengar kata ‘terakhir’, aku langsung saja melakukan apa yang dia mau, aku kembali memasukan penisnya ke dalam mulutku.

Sluurpphh…Sluurpphhh…. Namun nampaknya Gilang pun sudah mencapai batasnya. “Aghhh… Eh… copot deh, gue dah mau keluar.. nghhhhh” croot crooot croot, sperma nya lagi lagi di tembakanya dengan sembarang dan kali ini mengenai wajahku. Aku mengambil tissue yang berada di meja ruang tamu itu kemudian sesegera mungkin mengelap wajahku yang penuh dengan semprotan sperma milik Gilang.

Akhirnya selesai. Gilang mungkin sadar keinginanya sudah terpenuhi, jadi dia mengambil kameranya di meja kemudian menghapus rekaman tentang aku dan Kharis yang sedang melakukan sex di kabin Semalam. “Nih kan dah gue hapus, lo aman sekarang”, ujarnya. Aku dalam keadaan lemas kemudian kembali memakai seluruh pakaianku dan pergi ke arah pintu keluar kemudian menolehkan kepalaku ke arah dia yang masih terduduk dan tersenyum. “Makasih, bajingan”, ujarku singkat.

Kemudian aku pergi keluar dari rumah itu.

Entah bagaimana reaksi Kharis jika mengetahui aku seperti ini sekarang. Untuk saat ini aku lebih memilih merahasiakanya.
.
.
.
To Be Continued.

All hail of Yupi

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    All hail of Yupi