Life Saver Chapter V – True Friends (Yupi’s Point of View)

No comment 1345 views

Tiga hari berlalu semenjak kejadian di rumah Gilang dan sampai sekarang aku tidak pernah mendengar kabar darinya lagi. Aku juga belum berani untuk memberitahu Kharis tentang hal ini, aku takut dia marah besar padaku karena aku harus berhubungan ‘sex’ dengan Gilang secara terpaksa, namun aku sudah memberitahu Anin dan Dimas karena mereka berdua sahabat baikku dan mereka berjanji tidak akan membocorkan hal ini kepada Kharis karena aku yang aka bilang sendiri ke Kharis suatu saat. Kharis sempat beberapa kali menghubungiku, baik itu melalui video call atau hanya sebuah panggilan biasa. Sekedar saling menyapa dan saling memberi kabar bahwa keduanya baik baik saja. Kharis bilang minggu depan dia baru akan pulang lagi ke Jakarta dan sampai saat itu tiba aku lebih baik menjaga diriku sendiri agar kejadian yang terjadi seperti di rumah Gilang tidak terjadi kembali.

Sejujurnya aku sendiri masih trauma akan hal itu. Kata-kata kasarnya masih terus berdengung di kedua telingaku. Perlakuan kasarnya terhadap tubuhku ini masih terasa sampai sekarang. Semenjak tiga hari yang lalu aku sama sekai tidak nyaman menjalani kehidupanku. Pagi hari ini aku menelfon Dimas dan Anin untuk datang ke kostan miliku. Tentu saja dengan seizin dan sepengetahuan Kharis. Aku meminta mereka untuk menemaniku bercengkrama atau setidaknya bersendagurau seperti biasa.

Pukul 09:00 pagi itu Anin datang dengan di bonceng menggunakan motor sport milik Dimas. Keduanya kemudian masuk ke dalam kamarku dan Dimas menutup pintunya.

“Jadi gimana Yup ? kamu udah baikan ?”, tanya Anin. “Gak tau nin, aku masih trauma kayanya, soalnya agak aneh gini sekujur badan aku. Yaaa gak nyaman aja. Terus setiap aku mau tidur selalu keinget kata-kata kasarnya. Pokoknya gak nyaman deh”, keluhku sambil menyender di bahu Anin. Anin kemudian mengelus kepalaku dengan lembut secara perlahan. “Tenang, kita ada di sini kok buat ngelindungin kamu, jangan sedih ya”, ujarnya sambil tersenyum. Jujur mendengar perkataan Anin barusan membuatku sedikit tenang.

Dimas kemudian duduk di sebelah Anin. “Itu brengsek banget sih cowok ? perlu aku tonjokin gak tuh ? nanti aku sama kharis bakalan bikin dia bonyok deh, berani banget mainin kamu yup”, sahut Dimas dengan penuh emosi. “Jangan ! jangan kasih tau Kharis ! nanti aku aja sendiri”, balasku. Anin dan Dimas saling menatap kemudian keduanya mengangguk. “Iya tenang aja Yup, kita inget janji kita kok”, katanya.

Karena mereka berdua, aku menjadi sedikit bersemangat kembali. Aku kemudian mengangkat kepalaku dari bahu Anin dan tersenyum ke arah mereka berdua. “Makasih ya, aku gak tau lagi kalau gak ada kalian. Pokoknya makasiiiih ya”, ujarku. “Kita sesama teman harus saling menjaga dong, apalagi kalo udah saling punya pasangan gini”, sambung Anin yang kemudian memegang tangan Dimas. “Uwuwuwu co cwiitt kalian berdua”, teriakku menggoda mereka. “Ah, biasanya udah gini nih ada maunya dia Yup”, kata Dimas.

Kami bertiga pun tertawa bersama.

Aku pikir rasa trauma ku perlahan mulai menghilang hari ini. Mereka bertiga termasuk Kharis bisa mengembalikan semangatku yang hampir saja hilang. Aku sangat beruntung memiliki mereka di antara teman temanku lainya yang ‘fake’. “Eh iya, mau di bikinin apa ? gaenak nih udah bertamu gak di bikinin apa apa”, ujarku. Dimas kemudian mengacungkan tangan nya lalu berkata “Aku bikinin siru-“. Kata kata Dimas kemudian di patahkan oleh Anin yang mendorong dahi Dimas menggunakan telunjuknya kemudian menatap Dimas dengan tatapan kesal. “Ahaha, gausah Yup ngerepotin ah, air putih aja”, sambungnya. “Ah gaenak dong panas panas gini cuma minum air putih. Aku ada tuh sirupnya di kulkas, Cuma es batu nya belum bikin sih. Aku beli dulu ke warung ya ?”, tanyaku. “Aduh jadi ngerepotin, iya deh yup tiati, kost-an kamu kita jaga”, ujar Anin.

Aku kemudian pergi ke warung yang jaraknya lumayan dekat dengan kostanku. Untuk saat ini, aku percayakan keamanan kamar kost ku kepada Anin dan Dimas yang sedang berada di dalam sana, mungkin juga mereka sedang butuh waktu berdua, jadi aku sengaja membuat diriku keluar dari sana sebentar. Sekitar enam menit berjalan kaki, akhirnya aku sampai di warung. Seperti biasa, ibu penjaga warung yang sudah mengenalku dengan baik dari lama langsung menyapaku. “Eh non Yupi, beli apa non ?”, ujarnya. “Beli es batu bu”, jawabku. Penjaga warung itu langsung mengambil dua buah balok es batu lalu memasukanya ke dalam kantung keresek. Aku kemudian memberikan uang dengan nominal Rp.100.000 dan penjaga warung itu terkejut. “Aduh non gak ada yang lebih kecil dikit uangnya ?”, tanyanya. “Duh gak ada bu uang saya gede semua haha”, jawabku. Ibu itu kemudian menerima uangku namun membutuhkan waktu yang agak lama untuk menghitung kembalianya. Sambil menunggu, aku melihat lihat barang dagangan yang di jual di warung tersebut. Tak lama kemudian mataku terpaku kepada suatu kotak yang covernya ada gambar orang sedang bercinta.

“Itu apa bu ? kok gambarnya ada orang pacaran ?”, tanyaku dengan polosnya. Ibu penjaga warung itu kemudian langsung tertawa. “Haha non Yupi polos banget sih, itu namanya Kondom non, buat alat kelamin cowok, jadi waktu berhubungan, yang cewek gak akan khawatir hamil deh, masa non Yupi gak tau sih ?”, tanyanya. “Nih non kembalianya, makasih yaa”, sambungnya sambil memberikan kembalian uangku. Setelah itu aku berjalan kembali sambil membawa dua buah balok es batu di dalam keresek yang sedang aku jinjing saat ini.

Dijalan aku jadi terbayang kata kata ibu penjaga warung tadi. “Jadi yang cewek gak akan takut hamil katanya… Ah coba aja Kharis kemarin pake gituan, mungkin bisa lebih permainan kita”, gumamku. Aku tiba tiba merasa kangen ke Kharis. Rasanya semenjak dia pergi ke Bandung tubuhku terasa aneh sekali. Ya, aku ingin merasakan penisnya masuk ke dalam vaginaku sekali lagi. Aku ingin bercinta denganya lagi. “Ris, cepet pulang” gumamku.

Tanpa sadar aku berjalan sambil meraba-raba vaginaku sendiri. Setelah berhenti memikirkan Kharis, aku langsung berhenti meraba vaginaku. Untung saja tidak ada orang yang melihat. Tak lama kemudian setelah aku berjalan kembali ke kamar kostku akhirnya aku sampai.

Aku berdiri di depan kamar kostku yang masih tertutup rapat sambil membuka sendal yang masih aku kenakan. Namun perlahan, aku mendengar suara desahan dari dalam kamarku. “Nggghh…Shhhh…Ahhhh”. Suaranya begitu jelas terdengar hingga ke luar kamar. “Anin ?”, ujarku. Aku langsung saja membuka pintu kamar kostku dengan segera.

Setelah masuk dan mentup pintunya kembali, aku langsung terdiam menyaksikan apa yang mataku lihat saat itu. Sekujur tubuhku terasa mati kaku tak berdaya. Anin sedang asik berhubungan intim di sofa milikku dengan Dimas. Keduanya telanjang dan Anin sedang menempatkan posisi badanya di atas Dimas, sementara Dimas asik menggenjot penis besarnya naik dan turun di dalam vagina milik Anin.

Aku tidak tau harus berkata apa menyaksikan kejadian ini. Aku hanya terdiam dan bersender di pintu kamarku yang tertutup. Kujatuhkan keresek bersisi balok es batu itu ke lantai dan kedua tanganku menutup mulutku. “A…Anin ?”, sapaku secara perlahan. Plak plak plak plak plak, suara kedua kedua kelamin mereka yang saling berbenturan menghasilkan bunyi yang begitu nyaring. “Ngghh…Shhh…Ahhh”, desahan Anin yang terdengar liar membuatku semakin bingung harus berbuat apa, di tambah dengan Dimas yang terlihat menikmati permainan Anin yang terus menjepit penis milik Dimas di dalam vaginanya.

“Ngghh….Nin enak banget….Shhhh Ahhh”, sahut Dimas sambil terus menggenjot. “Ahh sayang…Ngghhhh…Shhhh”, desah Anin. Keduanya mengabaikan kehadiraku saat itu, aku perlahan berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mengunci pintunya lalu duduk di kloset. Aku tidak bisa berfikir apa apa saat itu. Kedua sahabat baikku sedang melakukan sex di depan mataku sendiri. Aku tidak tau harus merasakan apa saat itu.

“Shhhh Yup, maaf ya pake kamar kamu buat ginian….Ahhh…Shhhh… Soalnya kita udah gak tahan”, teriak Dimas dari ruang tengah. “Ahhh…Yup, maaf harus ngeliat kita kayak gii..Nghhhh..Ngghh”, sambung Anin yang terdengar sedang menikmati hubungan intim mereka. Jantungku berdebar sangat kencang sekali. “I…Iya pake aja”, jawabku dari dalam kamar mandi.

Suara desahan demi desahan terus keluar dari mulut mereka membuatku terdiam sejenak dan memikirkan Kharis. “Coba kalo itu aku sama Kharis”, pikirku saat itu. “Ngghh…Ayo nin kurang cepet…Shhh”. “Iyah sayang…Ahhh..Shhh…Ngghh”. Desahan desahan mereka membuatku ingin melakukanya juga sekarang. Nafasku mulai tidak beraturan pada saat itu, aku membayangkan hal hal mesum antara aku dan kharis. Khayalan itu seolah menjadi nyata didukung oleh suara suara yang keluar dari hubungan sex yang terjadi antara Anin dan Dimas di ruang tengah sana.

Karena sudah tidak tahan, aku kemudian berdiri membuka seluruh bajuku hingga aku telanjang bulat di dalam kamar mandi itu kemudian duduk kembali di kloset. Nafsuku benar benar sudah di ujung batasnya. Aku kemudian memasukan jari telunjuk dan jari tengahku ke dalam lubang vaginaku sementara salah satu tanganku meremas remas payudaraku sendiri. Sambil memejamkan mata aku membayangkan diriku sedang berhubungan sex dengan Kharis pada saat itu. Kupasang telingaku dengan konsentrasi penuh agar suara desahan maupun benturan sex Anin dan Dimas bisa terdengar olehku.

Perlahan aku mulai memainkan jariku di dalam lubang vagina miliku. “Shhh…Ahhh…Ngghh Riss….”, ucapku secara perlahan, membayangkan penis Kharis sedang masuk ke dalam vaginaku pada saat itu. Tanganku yang satunya lagi meremas remas payudaraku. Nafasku benar benar tidak teratur pada saat itu. “Shhh…Dim pelan pelan dong..Ahh.. Ahh… Ahhh.. Ahhh”, suara Anin yang terus menerus mendesah membuatku semakin Horny. Aku kemudian mempercepat permainan tangaku dan menambah kekuatan remasanku. “Ngghhh.. Ahh ah ah ah”, sahut suara yang keluar dari mulutku yang perlahan semakin terdengar dan terdengar. Aku meneruskan permainan tangaku. Sepuluh menit berlalu aku bermain dengan vaginaku dan nampaknya nafsuku sudah mencapai puncak. Aku kemudian lebih mempercepat permainan jariku di dalam vagina ini dan salah satu tanganku yang dari tadi bermain payudara kini menutup mulutku agar suaraku tidak sampai terdengar oleh Anin dan Dimas. Cplak cplak cplak cplak. suara vaginaku yang sudah benar benar basah dan terus di mainkan oleh kedua jariku sendiri membuat aku benar benar hampir orgasme pada saat itu, selagi aku terus membayangkan Kharis, aku tak menurunkan kecepatan jariku. “Shhh annghhh…Ris…Aku mau keluar Ris…Ngghh… ah ah ah AHHHHHH”.

Detak jantungku berdetak tak karuan, otot otot tubuhku seolah semakin mengencang dan kecepatan nafasku semakin cepat. “Ahhh !… Nghhh”, Aku kemudian merasakan jari jariku basah oleh cairan lubrikan yang keluar dari dinding vaginaku. Seketika aku merasakan kenikmatan yang luar biasa

Ternyata aku Orgasme.

Aku terdiam sejenak mengatur kembali nafasku yang tidak karuan ini. Sembari menoleh ke arah cermin yang terpaku di dinding, aku melihat seluruh bagian pipiku memerah. Mungkin ini efek dari orgasme yang telah aku lakukan tadi. Tak terasa juga banyak sekali jumlah keringat yang telah keluar dari tubuhku. Menjadikanku seolah baru saja selesia mandi oleh air yang berada di bak mandiku ini.

“Yup kamu kenapa ?”, tiba tiba Anin berteriak dari ruang tengah.

Sial aku sampai melupakan Anin dan Dimas. Aku kemudian menjawab sebisaku “Ehh…Ini Nin, aku kepeleset hehe”, jawabku. “Ah masa kepeleset sampe mendesah hebat gitu, kamu Orgasm ya ? tau kok, kedengeran dari sini Yup, makanya kita berhenti sejenak juga denger suara teriakan kamu barusan”, timpa Dimas.

Aku benar benar malu saat itu. Aku tidak mau menjawabnya. “Gimana kalo kamu join kita aja, kita threesome di sini Yup. Lagipula aku tau kamu kangen Kharis kan ? mending lampiasin aja sini sama aku dan Dimas”, ujar Anin. “Eh emang boleh ? aku kan pacar kamu”, tanya Dimas. “Boleh, kenapa engga”, ujarnya. Dimas kemudian berteriak kegirangan “Asiik sini Yup ah, jangan malu malu, sesama temen deket ini”, sambung Dimas.

Jujur aku kaget sekali mendengar kata itu keluar dari mulut Anin yang aku kenal selama ini sebagi orang yang pendiam. Tapi setelah aku pikir berkali kali, aku lebih baik bergabung bersama mereka untuk memuaskan nafsuku yang tertahan belakangan ini. Dengan menahan rasa maluku aku kemudian membuka pintu kamar mandi lalu berjalan ke arah Dimas dan Anin sambil menunduk ke bawah. Aku benar benar malu. Rasanya aneh sekali harus telanjang di depan sahabat baikku yang sedang berhubungan sex. Aku kemudian menutupi kemaluan dan dadaku dengan tanganku.

“Oh kamu seksi juga ya ? gak heran Kharis betah sama kamu”, sahut Dimas. “Eh Yup aku juga beru pertama kali liat badan kamu telanjang bulat gini loh, montok juga ya”, sambung Anin. Aku semakin malu.

Aku tidak tau posisi mana yang harus aku ambil pada saat ini. Aku tidak pernah merasakan hubungan dengan dua orang sekaligus sebelumnya. Anin kemudian menarik tanganku. “Yup, kamu duduk di atas mukanya Dimas aja, biarin dia jilatin vagina kamu”, ujarnya. Karena tidak tau apa apa, aku langsung saja menempatkan posisiku setengah duduk di wajah Dimas dan perlahan lidah Dimas langsung bermain di dalam Vaginaku. “Engghhh….Ahhhh”, desahku secara spontan keluar. Kedua tanganku kemudian bertumpu pada perut dimas dan menjadikan posisiku setengah menungging dengan vagina yang masih terus di mainkan oleh lidah dan mulut Dimas. Anin juga mulai menggoyangkan kembali pinggulnya yang mana vaginanya masih menancap di Penis milik Dimas.

“Ahhh…Shhh…Ahhh”, aku terus menikmati jilatan serta isapan dari mulut dimas yang tidak berhenti bermain di vaginaku sementara Anin mulai mempercepat kecepatan goyanganya. “Ah ah ah ah”, Anin mulai merasakan kenikmatanya, begitupula denganku “Ngghh…shhh..ahhh..ahhh”. Kedua wajah kami saling bertemu. Aku benar benar semakin terangsang melihat wajah Anin yang sangat imut namun sedang tenggelam keadaan horny saat ini, begitupula aku pikir Anin juga mulai terangsang melihat wajahku saat ini. Dengan tiba tiba Anin langsung menyambar bibirku, kami berdua saling melumat bibir satu sama lain. Lidah kami bertemu dan dengan refleks aku memberikan permainan lidahku di dalam mulut Anin, entah sudah berapa banyak air liur kita yang tertelan saat itu. Aku benar benar tidak peduli. “Nggghhh…Mfff….Nggg”, ujar Anin. Anin nampaknya benar benar menikmati permainan lidahku saat ini.

Beberapa menit kemudian nampaknya Anin sudah sampai di puncaknya. “Ngghh dim aku….Aku udah gak tahan…..Ngghhhh”, sahut Anin yang sudah tidak tahan dengan kenikmatan yang dia peroleh saat ini. Melihat Anin demkian, tiba tiba jantungku kembbali berdetak dengan sangat kencang dan nafasku mulai tidak teratur kembali. “Ngghh Nin aku juga kayaknya…Ngghh ah ah ah”, sambungku sambil memijat mijat vaginaku yang sedang di mainkan oleh mulut Dimas. Tak lama berselang karena sudah tidak bisa tertahan lagi, Aku dan Anin orgasme secara bersamaan. “Nggghhh ahhhhh”, desahku dan Anin. Kami berdua pun tertidur dengan posisi terlentang dalam keadaan lemas akibat merasakan kenikmatan yang tiada duanya ini.

“Huffttt enak banget ya ?”, tanya Anin. Aku menatap wajah Anin kemudian mengangguk dan tersenyum. Memang aku tidak bisa berbohong, perasaan yang aku rasakan sekarang ini benar benar nikmat tiada dua. Selagi aku menghela nafasku tiba tiba ujung kemaluan Dimas sudah berada di depan dinding vagina milikku. “Nah ayo ronde ke-2 sama Yupi. Gak akan lama lama kok, nanti aku bisa kena tabok si Kharis lagi”, ujarnya sembari mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku.

Penisnya perlahan masuk. Semakin dalam dan dalam. Setelah tertancap, dia kemudian mulai menggenjotnya dengan perlahan. “Ahhh… Shhhh”, desahku tiba tiba keluar. Anin tiba tiba duduk di atas wajahku dan menempatkan vaginanya di mulutku sambil arah badanya menghadap Dimas. “Yup jilat terus sedot ya, pingin ngerasain juga”, ujar Anin.

Sambil merasakan penis Dimas yang sedang di genjot di dalam vaginaku, aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bermain dengan vagina milik Anin juga. Aku kemudian mulai menghisap vagina milik Anin dengan perlahan. “Ngghhh ahhh Yup enak banget… Shhhh terus”, ujar Anin. Dimas kemudian mencium bibir anin sembari menggenjot penisnya.

“Nghhhh ahhh Yup, aku udah gak tahan, pingin keluar….Shhh ahhhh”, ujar Dimas. Anin kemudian mendorong Dimas agar penisnya tercabut dari vagina miliku dan secara tiba tiba… Croot croot crot. Pejuh dimas muntah kemana mana. “Kamu jangan sampe muncrat di badan pacar orang ya, apalagi di dalemnya !”, kata Anin. “Fuuh iya iyaa. Asik yaa Yup, nin ? coba kalo ada Kharis, lebih asik lagi nih haha”, sahut Dimas sambil melirik ke arah aku dan Anin yang tertidur lemas.

“Fuuh iya hehe… Coba ada Kharis”, ujarku.

“Yaaah jangan sedih lagi dong, kan kita udah seneng seneng bareng ! senyum dong manis”, kata Anin yang tiba tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku menatap matanya dan Anin pun melakukan hal yang sama. Tanpa aba aba dia langsung menyambar bibirku dengan bibir manisnya itu. Kami bercumbu dengan mesra saat itu sementara Dimas hanya berteriak kegirangan “Wuhuhu asik niiih”, teriaknya sambil bertepuk tangan.

Ya. Begitulah akhir dari hari ini. Hari hari ketika Kharis sementara harus pergi dari kehidupanku. Namun aku beruntuk memiliki mereka, sahabat baikku yang senantiasa membuatku bahagia seperti sekarang ini.

Tunggu ? aku bahagia karena sex ? ah kau sudah tidak peduli, yang penting aku bahagia.
.
.
.
TO BE CONTINUED

All hail of Yupi

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    All hail of Yupi