Modus Part 11 – Bersamamu

No comment 4131 views

Aku tepar di ranjang bejat milik Nat, tak memedulikan Nat sedang nonton drama di laptop dengan Nadila.
“Kak kok lemes sih?”
“Kena macet, gas rem gas rem mulu”
Saat kesadaranku akan lenyap, Nadila menggoyangkan badanku.
“Kak, kakak gak mau liat ini?” Nadila menunjukkan kertas, entah apa itu. Nat mengigit tanganku & sontak kesadaranku kembali.
“Aaah Nat nih main gigit! Emang apa itu Nad?”
“Ini kak, kampusku 2 minggu lagi. Berbagai genre lho, umum juga”
“Liat jadwal ya, kakak gak berani janji”
“Emm yaudah deh kak, kakak kan capek, mending kakak tidur aja yah” Nadila menciumku.
“Eh kamu juga tidur gih”
“Nanggung nih kak, kalo kakak tepar jangan dipaksa gih” Nadila lanjut nonton drama.
“Kak, ke Ghibli yuk” Ampun, Nat mengagetkanku.
“Kapan?”
“Besok kak, datang kan?”
“Iya iya, besok emang pengen ke sana, lagian besok free kok”
“Yah besok aku ospek” Nadila kecewa karena besok tak bisa datang”
“Mampus” Nat mengejek Nadila. Kuremas toketnya hingga kesakitan.
“Dijaga mulutnya Nat”

Keesokan harinya, aku ditemani secangkir kopi hitam hangat. Seperti biasa, Nat masih pulas bersama Nadila, malah berpelukan. Kubuka gorden kamarnya & memandang hanya genteng rumah tetangga, namun masih bisa melihat matahari yang cerah.
“Ayah, kapan ke Jakarta?” Chat pertamaku ke bapakku, Sugiono.
“Waduh, masih shooting, gak bisa ditinggal, ini masih setengahnya”
“Yaudah lah, padahal aku mau kenalin pacarku, dari kemarin ayah tanya terus”
“Heheheh”

Oh iya, hari ini ada event di Ghibli. Nat mengajakku ke sana, sedangkan Nadila masih menjalani rangkaian ospek, katanya malah sampai besoknya pulang, singkat kata : menginap.
“Nad, bangun, entar telat lho ospeknya, barangnya udah siap kan?”
“Emm, iya iya kak, anterin” Nadila mengucek matanya karena baru bangun. Kami sengaja tak bercinta karena Nadila butuh tenaga lebih untuk kegiatannya.
“Good luck Nad sayang” Kucium keningnya sebelum Nadila turun dari mobil & mengikuti kegiatan kampus itu.
“Nat, kita cari sarapan di mana?”
“Emm, warteg kayak dulu aja deh kak”
“Oke siap” Aku tancap gas lalu mencari sarapan di warteg.

Sampai di warteg, ternyata tutup.
“Yah, kak kita ke mana nih?”
“Lawson nya Viva JKT48 yuk”
“Gas lah, laper nih kak”

Sampai di Lawson, kami berpencar mencari sarapan. Aku mendapatkan 2 potong roti sedang dengan isi sosis & keju, minumannya kopi kalengan & air putih. Sedangkan Nat hanya beli mie seduh & sebotol teh.
“Eh yakin makan itu?”
“Aku males makan nasi, kakak kok makan roti aja sih?”
“Sama, bosen makan nasi, mending roti gini, kalo kamu mau boleh minta kok, aku beli 2”
Lalu, kami ke kasir untuk membayar belanjaan kami. Nat keluarkan dompet & mengeluarkan uang beberapa lembar, lalu kukeluarkan uang & langsung kubayarkan.
“Kakak ngingetin awal ketemuan kita di sini” Nat tersipu malu saat aku yang membayarkan semua belanjaannya.
“Simpen aja uangmu Nat, buat beli baju atau sepatu”
“Kakak gak mau beliin aku juga?”
“Ya beli lah”

Lalu kami pun sarapan dengan menu kami sendiri. Serasa hanya berdua di sini, sengaja aku pilih space yang aman dari zombie. Kami terpaksa beda meja bahkan saling membelakangi agar tak dipergoki.
“Kak, aku pengen ngomong” Nat menolehkan kepalanya ke arahku.
“Apa?”
“Kak, kakak terlalu sering manjain Nadila”
“Maksudmu?” Aku mengernyit bingung.
“Kakak agak lebih perhatian sama Nadila”
Mendengarnya membuat rasa bersalahku muncul. Komitmen kami yaitu bisa bagi perhatian.
“Maafin kakak ya”
“Heheheh gak usah merasa bersalah gitu deh, kakak harus habiskan waktu sama aku”
“Emang ke mana?”
“Sorenya di Ghibli, malemnya aku udah booking di Ritz Carlton”
“Gila, diem-diem seleramu tinggi, gak kemahalan?” Aku melihat sekeliling untuk memastikan tak ada yang memergoki kami.

Ah, kusimpan saja 1 rotiku karena sudah kenyang. Nat yang tak punya rasa kenyang pun menyambar rotiku.
“Kak, boleh ya” Nat mengambil rotiku.
“Iya ambil aja, buat kamu tuh” Memang niatku beli 2 roti, 1 kuberikan Nat.
“Rakus amat, pelan-pelan woi makannya” Kulihat ke belakang, Nat seperti kalap.
“Hahahahah namanya aja laper kak”
Aku tak mengira jika Nat beringas seperti ini, padahal dulunya biasa saja.

Setelah selesai, kami keluar dari Lawson, namun keluarnya sendiri-sendiri. Kami sepakat agar tidak gamblang bermesraan karena selalu ada saja yang mengintai. Misalnya, Yona yang pernah kepergok jalan berdua dengan cowok di Blok M oleh Fidly, atau singkatnya skandal “Halah Yon Yon” itu.

Kali ini, aku menyetel radio di mobil, biasanya memutar lagu cadas. Tak kusangka, terdengar iklan promo tiket theater bisa dibeli di minimarket.
“Oh iya kan kamu nanti theater”
“Enggak lah kak, sekali aja bolos theateran”
“Gak bisa gitu Nat”
“Kakak kalo nonton ya nonton aja”
“Terus kamu…”
“Simple lah”

Mumpung timer lampu merah masih 100 detik, aku stalk akun Nat.
“Aku besok ga perform ya, tapi kalian tetep datang yah”
“Ealah” Kutunjukkan tweet Nat.
“Heheheh quality time sama kakak”
“Heheheh Natalia ada-ada aja” Kucubit toket kanannya dari luar kemeja biru kesukaannya.
Tak disadari, timer lampu merah tinggal 3 detik lagi. Segera tancap gas. Rencananya, kami pulang lagi untuk membawa pakaian kami untuk menginap di Hotel Ritz Carlton.

Kembali ke kosan Nat memang seperti surga dunia. Ranjang empuk, AC dingin, & wifi super cepat. Pantas Nat betah. Hanya saja, Nat malas nyalakan TV. Untung saja aku punya 2 HP, salah satunya bisa untuk nonton TV. Ah, terlalu banyak iklan hingga bosan.
“Kamu gak ngampus Nat?”
“Hari ini kosong, besok diliburin soalnya ada acara”
“Oh, pantesan kamu minta quality time sama kakak”
“Iya dong” Lalu Nat melepas kemejanya, sehingga menyisakan BH & celana jeans pendeknya. Tampak tubuhnya yang lumayan seksi meski bagian bawah perutnya menonjol sedikit.
“Pake baju gih, dingin AC nya”
“Gapapa, biar kalo aku kedinginan bisa meluk kakak”
Tiba-tiba, kontolku menegang.
“Kak, bisa kan ditahan?”
“Makanya pake baju”
“Terserah aku kak”

Acara TV yang kutonton menayangkan wisata di Bali. Jujur saja aku belum pernah ke sana. Nat pun juga nonton.

Can you see that?
that is a full moon
It’s so beautiful
I’m so happy
Cause I have a date with you
Can I ask you a question?
Don’t you love me?

 

Tiba-tiba Nat berbicara sendiri.
“Yes!” Ya, aku pernah dengar monolog Don’t Disturb itu & Nat yang monolog.
“Ih kakak bisa aja, BTW bagus kan perfom monolognya?”
“Suka banget” Kami pun saling memandang.
“Kak, kita honeymoon di Bali yuk”
“Lah kok sama Nat?”
“Eh, jangan-jangan kita…”
“Jodoh”
Kami pun tertawa lepas. Kurasakan sesuatu yang lembut melingkar di belakang tubuhku. Kulihat Nat merangkulku & bersandar di pundak kananku, seakan tak mau lepas.

Waktu beranjak menjadi siang. Nat selalu menunda ajakan bercocok tanam seperti biasanya, meski dalam kamar hanya mengenakan dalaman masing-masing.
“Kak, abisin waktu itu gak cuma melulu begituan. Kan kita bisa jalan lah, dinner lah, atau canda tawa, curhat pun boleh” Setelah itu, Nat terdiam, tampak seperti murung.
“Kamu kenapa?”
“Gapapa kak”
Yang namanya cewek, di balik kata “gapapa” pasti ada sesuatu.
“Nat, masa mau happy-happy kok gitu”
“Makanya itu kak, biar gak bete aku pengen ke Ghibli”
“Buruan pake baju” Aku pun mengenakan celana jeans biru dengan dalaman kaos hitam dibalut jaket.

Nat sibuk mencari pakaiannya. Ia menemukan baju terusan dengan warna pink agak coklat dengan motif daun.

“Kak, cantik kan?”
“Cantik sih, cuman terlalu seksi”
“Gapapa lah kak”
“Tetep ingat ya, jangan sampe kek orang pacaran. Yona aja kepergok tuh”
“Iya deh kak”
Kami pun berangkat ke festival Ghibli.

Di sana, luas sekali areanya. Aku tak begitu mengetahui apa saja karena semua merupakan bagian film produksi Ghibli. Yang aku tahu hanya Totoro & Kiki Delivery Service karena Nadila cosplay sebagai Kiki. Aku yang memfotokannya waktu itu. Kini Nat. Suasananya agak sepi. Aku tahu biasanya jam malam yang ramai. Kami datang saat siang menuju sore.
“Kak fotoin dong” Nat duduk di model perahu. Kufoto ia dari depan. Ah kenapa aku malah fokus ke pahanya yang besar itu?

Kami berkeliling di area itu sampai bingung, ada toko, rumah, perahu, & masih banyak lagi.
“Kakak gak mau foto?”
“Sebenernya mau sih, tapi bingung yang mana”
“Jalan yuk, siapa tau ada yang bikin kakak tertarik”
Kami pun berkeliling di beberapa tempat, namun dengan masih jaga jarak. Hingga aku menemukan suatu replika rumah khas Jepang.
“Nat, aku suka di sini”
“Emang kenapa kak?”
“Ini mengingatkan kakak ke masa kecil kakak. Rumah ayah kakak ya kayak gini” Kuberikan HP ku agar aku difotokan Nat. Sisi depan rumah memang ada bantalnya sehingga aku duduk di situ. Teringat memori ayahku, Sugiono, di mana bermain dengan beberapa gadis di ruang utama. Aku saat itu masih kecil sering melihat aktivitas aneh itu. Tak lupa Nat kufotokan juga di depan rumah itu. Kecantikannya memukau pacarnya yang sedang memfotokannya.

Di dalam rumah Jepang itu, ada beberapa lukisan. Pintunya tipe geser. Ah, benar-benar mengulang masa kecilku bersama ayah, Sugiono. Nat pun terkagum melihat seluruh isi dalamnya. Sepasang kekasih yang berbeda pemikiran, yang cewek kagum sama interior rumah, sedangkan cowoknya mengenang masa lalu.

Kami menjelajahi tiap sudut ruangan. Kugeser beberapa pintu ruangan. Sepi kali, hanya kami berdua, bahkan radius 10 meter dari sini tak ada siapapun.  Kalau di tempat lain mungkin ada. Kutemukan 1 kamar yang menurutku sangat legendaris, yaitu kamar tidur lengkap dengan futon (kasur). Pintunya bisa dikunci.
“Nat, sini dulu dong” Aku meminta Nat ke kamar tidur.
“Apa kak?” Nat mendatangiku. Aku tersenyum jahat. Kamar ini di pojok, susah untuk dicari.

Nat pun masuk kamar tidur.
“Wah nikmat, bisa buat tiduran nih”
Kukunci kamar ini dari dalam. Kudorong Nat ke atas futon, lalu kucumbu lehernya.
“Eh kak kok main nyamber sih?”
“Sst, jangan berisik Nat” Kulanjut cumbu lehernya itu.
“Enngg kaak jangan di sini ah”
“Tapi kakak kebelet, liat kamar begini bawaannya ngentot” Kubisiki Nat. Ia pun sedikit memberontak, namun aku bisa menaklukan titik kelemahannya, yaitu lehernya.
“Ennngg” Erangan pelan Nat beradu dengan cumbuanku. Kuremas toketnya yang gede itu dari luar baju terusannya.
“Engg kaak terus, enaaak” Nat kini mulai menaik nafsunya.

Serangan bibirku menuju bibir Nat, lalu kulumat bibirnya & kami bercipokan di dalam ruangan itu.
“Mmmmm” Nat mengerang dalam cipokannya. Liurku mengalir ke mulutnya. Nat menjambak rambutku karena gelisah. Seketika dadanya ia busungkan tanda ingin diremas lagi. Tatapannya sayu seperti bernafsu. Tiba-tiba keringat kami mengalir karena tegang mencekam karena suatu saat kami dipergoki & panasnya permainan kami juga menyebabkan keringat kami bercucuran. Nafasnya semakin tak teratur. Tubuhnya seperti gelisah. Nat menggesekkan kedua pahanya, mungkin kegelian.
“Ngggghhh” Nat mengerang & menggelinjang. Detak jantungnya kencang, antara tegang atau naik libidonya. Toketnya kuremas keras hingga bajunya agak lusuh. Nat memukul punggungku, sepertinya agak agresif. Dadanya naik turun, hingga akhirnya ia agak melemas. Apa yang terjadi?

Kuangkat bagian bawah baju terusan Nat. Rupanya ia tak mengenakan celana dalam. Memeknya becek karena tadi. Kupelorotkan sedikit celanaku. Kontolku kuhujamkan ke memeknya dengan kasar.
“Nat, ayo lah”
“Cabut anjing!” Nat mulai nafsu, namun dengan suara yang masih pelan. Kupacu genjotanku. Toketnya yang bergoyang pun kuremas dari luar bajunya.
“Enngghhh kaaaak cukup, nanti ajaaaa ooohh” Nat mencakar punggungku hingga aku merasa perih.
“Oohh kaaak ooohh mmmhh sssh kaak fast aja” Nat memintaku untuk bermain 1 ronde saja. Aku tak mempedulikannya. Aku asik menggenjot kasar memeknya.

Nat meremas kepalaku. Pacuanku kupercepat hingga Nat gerah.
“Kaak oohh jangan di sini” Nafas Nat tak teratur. Sodokan di memeknya semakin kukasari. Di saat memacu kontolku, kucumbu lehernya sampai Nat seperti cacing kepanasan.
“Bisa kenceng lagi gak ngentotnya anjing!”
“Bacot perek” Kujambak Nat hingga menyerang kesakitan.
“Aakakk” Desahan Nat kuredam dengan cipokan agar tak terdengar.

Aku kini kesetanan menghujam memeknya. Sodokanku seperti biasanya, kusodok entah ke mana, bahkan hingga membentur keras mulut rahimnya.
“Desah anjing!” Kucengkram toketnya.
“Kaaak aku hampir nyampeee, please 1 ronde aja” Nat ngos-ngosan, lalu tubuhnya bergetar.
“Kakak juga nyampe” Kuhujam hingga suara tabrakan alat kelamin kami keras.
“Kaaaaaaak”
Naaat ooooooohhhhhh”
Kami pun terkulai lemas setelah mengeluarkan cairan orgasme kami masing-masing. Entah berapa kali kusemburkan pejuku. Kulap sisa permainan kami dengan tisu dari celanaku.
“Oh shit!” Futon nya basah” Aku kaget saat mengetahui Nat orgasme mengeluarkan banyak cairan.
“Terus gimana nih kak?”
“Dah gini aja, kita balik aja”
Kami membalikkan futon saksi bisu permainan kami. Untung saja sisi bawah selimutnya masih kering sehingga tak terlihat. Ah persetan!

Kami keluar dari kamar tidur rumah-rumahan Jepang itu. Syukurlah tak ada yang berada di sini, bahkan radius 20 meter dari sini tak ada orang. Kami pun kembali melanjutkan penjelajahan di Ghibli.
“Kak, boleh bilang 1 kata?” Nat membisikku.
“Boleh, apa?”
“Anjing!”
“Lah?”
“Bisa gak sih tahan dulu? Untung sepi, coba kalo rame, kita diciduk nanti kak”
“Khilaf”
Nat malah menertawaiku.


Setelah puas berkeliling di Ghibli, kami menelusuri kamar di Hotel Ritz Carlton. Nat telah booking kamar hotel sejak kemarin.
“Nat, serius kita di sini?” Kubawa ransel isi pakaian kami.
“Iya kak, aku mau quality time sama kakak”
“Eh tapi pasangan yang belum nikah…”
“Tenang aja kak, aku bilang sekamar sama om” Nat memotong omonganku.
“Dasar”

Kami menelusuri lorong hotel, kamar kami tak begitu tinggi tempatnya. Ah, terlalu mewah untuk ukuran anak kosan seperti Nat.
“Nat, aman dari zombie gak nih?”
“Gak usah banyak cingcong deh kak, mana ada fans zombie main di sini, duit mereka aja abis cuma buat ngejar MVP”
“Hehehe, tumben pinter”
“Emang aku biasanya apa kak?”
“Biasanya cerdas”
“Ah kakak lho” Nat mencubit pinggangku yang membuat aku kegelian.

Sampai di kamar kami setelah menaiki lift. Nat memilih kamar dengan single bed yang cukup untuk 2 orang. Dihidupkan AC kamar. Gorden kamar kubuka, sehingga tampak jelas lembayung senja Jakarta dengan gemerlap lampu gedung & kendaraan yang terjebak macet.
“Kak, mandi gih, entar bau lho”
“Ladies first Nat sayang”
“Yaudah, aku mandinya lama lho, awas gatel entar”
Bukannya aku tak mau mandi dulu. Aku ingin memandang pemandangan ini sambil menyeruput secangkir kopi dari minibar kamar. Aku memandang cemerlangnya Jakarta hingga kopiku dingin & hari berganti malam.

Nat yang baru keluar kamar mandi lalu melempar handuknya ke arahku.
“Giliran kakak, buruan mandi kak”
Kuambil handuk bekas Nat & pakaian rumahan, lalu aku menceburkan diri ke dalam bathtub. Segarnya terasa setelah lama beraktivitas. Tak butuh waktu lama untukku mandi. Lalu aku keluar kamar mandi. Kulihat Nat terdiam, mungkin terpikirkan sesuatu.
“Nat, kamu gapapa?”
“Ini jawaban kakak kenapa aku pengen ngajak ke sini, & juga hari ini gak theateran dulu”
“Emang kenapa?”
“Kak, aku gak mau kehilangan kakak” Nat mendekatkan kepalanya ke pundakku.
“Aku juga Nat, please jangan nangis gitu”
“Meski bagi kakak, aku bukan orang pertama, tapi kakak orang pertama bagiku. Jujur aja aku sayang kakak waktu kakak ambil keperawananku waktu threesome sama Kak Naomi. Tapi kakak milih dia.” Tangisannya tersedu.

Tiba-tiba, ingatanku kembali berputar ke 3 tahun yang lalu.

3 tahun yang lalu
Aku masih ingat di mana aku pernah sehotel dengan member team K3 formasi lama saat event di luar kota & kamarku berdekatan dengan kamar Naomi & Nat kala itu. Aku pun khilaf lalu bercinta dengan mereka berdua & merenggut keperawanan mereka berdua. Entah apa yang di pikiranku justru memilih Naomi daripada Nat, tanpa alasan.

Seriring berjalannya waktu, aku & Naomi, mantanku itu sering bercinta di hotel tiap weekend. Hingga suatu ketika, saat Naomi pindah team, sikapnya berubah drastis, lebih jutek, matre, bahkan genit ke tiap cowok. Terkadang ia diajak jalan oleh yang katanya temannya itu. Hingga waktu itu datang, ketika kubuntuti Naomi ke kosan teman sekampusnya & kupergoki mereka ML & bodohnya pintu tak dikunci. Sontak kubunuh teman ranjangnya & kubenamkan pikiran tentangnya untuk selamanya.

Tak terasa, dadaku sesak saat mengingat kembali.
“Kak, kak”
“Please Nat jangan sebut nama mantan kakak, ini semua salah kakak yang gak jadian sama kamu”
“Enggak kak, ini salahku waktu itu kalo aku sayang kakak tapi gak aku perjuangin”
“Intinya kita salah Nat, tapi kesalahanmu tertebus dengan kehadiran kakak sebagai orang terakhir”

Wajah kami saling berhadapan, & semakin dekat hingga berjarak 1 senti.
“Nat, kakak ingin habiskan waktu kakak dengan kamu juga”
“Nadila & Beby gimana kak?”
“Kakak bakal adil dengan kalian, tapi kali ini kakak pengen nenangin kamu”
Wajah kami saling mendekat, lebih dekat lagi. Tangisannya mulai mereda & kurasakan nafasnya yang lembut.
“Kak” Nat melingkarkan tangannya ke leherku, lalu ia melumat bibirku. Lidah kami beradu, namun masih dalam batas lembut. Tangan kananku kukingkarkan ke pinggangnya & tangan kiriku mengusap kepalanya & semakin erat seakan menebus kesalahan masa laluku.

Nat mendominasi permainan lidah kami seakan menjilati sisa aroma kopi di mulutku. Produksi liur kami meningkat hingga mulut kami hampir penuh. Kugoyangkan lidahnya & kutekan kepalanya agar lebih lekat lagi. Baru kali ini pergumulan dengan hati, entah mengapa merasakan api asmara yang membara. Pelukan Nat semakin kencang seakan dia tak ingin kehilanganku. Kami memejamkan mata masing-masing. Nafas Nat semakin berat & tak teratur.

Kusudahi cipokan kami. Lalu kudorong Nat untuk tiduran & tanganku menyusuri dada Nat.
“Nat, boleh?”
Nat hanya menganggukan kepalanya. Kini tanganku memijat toketnya perlahan dari luar daster putihnya. Kupijat toketnya mulai dari meremas hingga seperti memerah susu sapi.
“Kaaaak mmmhh terusshh” Nat mengerang saat toketnya kupijit. Kucoba melucuti dari bawah dasternya, ia hanya mengenakan miniset. Kuangkat dalamannya & mencuat toket indahnya dengan pentil yang mengeras. Kukulum pentilnya dengan kuat tanpa kugigit.
“Engggghh kaaaaak oooukkhhhh” Nat membusungkan dadanya seakan ingin diteruskan kulumanku. Kusedot kuat pentilnya, sesekali kujilati kedua pentilnya.
“Oohh kaak di situuhh sssshh” Nat membenamkan kepalaku ke belahan dadanya. Kupencet kedua pentilnya, sesekali kuremas toketnya.
“Kaaak, mmmhh kyaaaa” Tubuh Nat bergetar hebat. Seketika tangannya melemah.

Kulucuti celana dalamnya, rupanya basah. Kujilat klitorisnya & kukocok lubangnya dengan 3 jari tempo sedang.
“Kaak, situuuh mmmhh jilat terus kaaaak”
Kurasakan pahanya bergetar. Jilatanku kupacu jadi lebih kasar. Begitu pula dengan kocokanku semakin cepat & sesekali kugaruk.
“Ennnngggg kaaaakk jangaaaann ooohhhh” Nat menjambak rambutku & membenamkan kepalaku hingga aku kesulitan bernafas. Kubalas dengan jilatan cepat di lubang memeknya.
“Kaaak aku kebelet, mmmmhhhhh” Nat menjepit kepalaku dengan pahanya saking gelinya. Jilatanku kupercepat lagi & lebih brutal lumatanku.
“Engggghhh kaaaaaakkhh ooohhhhh” Nat orgasme & mengencingi wajahku. Asin, tapi gurih. Kujilati sisa cairannya. Kubiarkan Nat mengatur nafasnya.

Kulucuti pakaianku & menggesekkan kontolku ke wajahnya.
“Kak, aku emut ya”
Kumasukkan kontolku ke mulutnya. Ia mengocoknya dengan mulutnya. Rupanya ia liar sekali. Ia menyedot kuat kontolku seakan menghisap semua cairanku. Kepalanya kugerakakkan perlahan agar terasa seperti dikocok.
“Mmmhhh” Nat mengerang saat aku melakukan deep throat berulang kali. Lidahnya menjilati semua bagian batanganku.

Hingga sampai aku tak bisa menahan sesuatu.
“Naat ooh enak sepongnya” Kusemburkan pejuku 6 kali. Nat masih menyedot kuat kontolku hingga sampai terasa keluar lagi.
“Enak?”
“Enak kak”

Kami saling mengatur nafas. Nat pun memposisikan dirinya terlentang pasrah dengan paha yang masih ia tutupi. Kugesekkan kontolku di mulut memeknya. Saat ingin kumasukkan, Nat mencegahku & mengambil HP.
“Kak, fotoin dong”
“Nat, entar ketahuan kita lagi ML gimana?”
“Ah enggak kak, fotoin tanganku aja waktu kakak masukin”
Kufoto tangannya yang mencengkram sprei saat kontolku mulai kumasukkan ke memeknya. Cengkramannya seperti menahan rasa sakit padahal kami sudah melakukan ML berulang kali.
Kumasukkan perlahan kontolku hingga tertancap di memeknya.
“Enggghhh kaaaaakkkhhh” Nat mengerang & mencengkram kuat spreinya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya & kurasakan nafasnya yang tak teratur. Pacuanku mulai dari tempo sedang.
“Terush kaaak mmhh oohh” Tangan Nat mulai aktif mencakar punggungku. Kubalas dengan hujaman kasarku hingga mengenai mulut rahimnya dengan keras.
“Kaaaak saakittt mmhhh ssshhh”
“Ditahan sayang” Tanganku membelai wajah Nat dengan siku sebagai tumpuan tubuhku. Kurasakan nafasnya semakin tak teratur.

Sambil menggenjot, toketnya yang bergoyang akibat hentakan tubuhku kuremas brutal.
“Oohhh kaaaak nikmaaat”
Sasaran bibirku kini menyasar ke pentilnya. Kuhisap kuat hingga Nat menggelinjang.
“Kaaaak mmmmhh geli” Nat membenamkan lagi kepalaku di toketnya. Genjotanku kupacu & lebih kasar lagi hingga suara paha kami terdengar keras.
“Kaaak sakit ooohhh” Nat mendesah terus karena antara nikmat & sakit saat kupacu.

Tubuhnya mendadak kaku & bibir bawahnya ia gigit sendiri.
“Emnhhh” Nat menutup rapat matanya. Keringatnya mulai bercucuran sampai aku susah meremas toketnya karena licin. Denyutan memeknya mulai terasa sangat keras. Nafasnya memburu cepat. Pahanya pun bergetar hebat saat kuhentakkan kontolku.
“Enggh oouuhhh kaaaaaaaaakkk” Nat melenguh & orgasme lagi. Nafasnya tersengal-sengal setelah mengeluarkan cairan dari memeknya yang membasahi ranjang kami.
“Kak, entaran dulu”
“Iya” Tatapan kami lekat. Kucumbu lehernya yang bercucuran keringat.
“Engghhhh geli kaaaak” Nat merancau & malah orgasme lagi. Nikmatnya pijatan memeknya yang seakan menguras keluar isi kontolku. Kami pun kembali saling mencumbu bibir kami. Kali ini aku yang mendominasi.

jendela menghadap keluar. Kusuruh dia untuk merangkak dengan berpegangan kusen jendela bagian bawah. Bokongnya ia tonjolkan seakan sudah pasrah untuk dihujam kembali.
“Kaaak”
Nat gelisah saat belahan bokongnya kuremas sebelum kembali bercinta. Kuarahkan kontolku kembali ke memeknya dengan gaya doggy style.
“Kaaaak yang dalem” Nat bergetar lagi saat kuhujamkan kontolku.

Pacuanku langsung dengan tempo cepat & kasar. Desahannya keluar tiap kontolku menghujam keras memeknya.
“Kaaaaaaaaak oohh yeaaaah” Nat memejamkan matanya yang dapat kulihat dari pantulan kacanya. Hentakan tubuhnya akibat genjotanku membuat Nat hampir tak bisa menahan tubuhnya.
“Aaah” Nat menyerang karena rambut panjangnya kujambak. Tak kulewatkan, kurapatkan tubuhku di punggungnya & meremas toketnya dari belakang.

Kaki kirinya kuangkat tinggi, lalu memeknya kusodok brutal lagi.
“Kaak perih” Nat hanya bisa merintih saat sodokanku semakin brutal. Selangkangannya bergetar & memeknya menjepit kontolku hingga susah untuk menggenjotnya.
“Ooohhh Naat jepit terus” Aku merasa keenakan dijepit Nat. Memeknya semakin licin akibat orgasmenya tadi.
“Kaaak ampuun sakit kaaak” Nafasnya semakin berat akibat terlalu capek meladeni permainanku.

Nat seketika seperti cacing kepanasan. Tubuhnya bergeliat tak jelas akibat brutalnya sodokanku. Ia menunggingkan bokongnya & tentu saja sodokanku semakin liar.
“Kaaaaakkhhh” Nat mengejang seketika & memeknya memuntahkan cairan lagi hingga tumpah di lantai. Kupacu lagi kontolku tampa ampun sehingga Nat menyerang kembali.
“Kaaaak sssshhh” Nat menoleh ke arahku & mengigit bibir bawahnya sendiri. Kubalas dengan melumat bibirnya lagi dengan tetap menggenjot Nat.
“Mmmhhh” Nat memejamkan mata & tubuhnya mengejang lagi. Seketika Nat kembali mencapai orgasmenya dengan mengeluarkan cairan yang sedikit. Cairannya mengalir ke pahaku. Kuhentikan genjotanku agar ia menikmati sisa orgasmenya sambil mencengkram kontolku dengan dinding otot memeknya.

Sontak Nat hampir kehilangan kekuatan menopang tubuhnya. Kudekap ia dari belakang agar Nat tak terjatuh.
“Kak, aku percaya kakak gak balikan sama Kak…”
“Jangan sebut namanya lagi Nat”
“Maaf kak”

Nat dengan garangnya memaksaku duduk di jendela & ia duduk di atasku. Nat meraih kontolku, lalu ia kocok pelan.
“Nat, kok cuma dikocokin?”
“Bentaran dulu deh kak” Lalu Nat menjilati kontolku & meludahinya.  Nat pun mulai berdiri & memasukkan kontolku ke memeknya. Tanpa aba-aba, kuhujam keras dari bawah.
“Kaaaaak nmmmhhhhh” Nat tersiksa saat sodokanku kasar. Nat mencekik leherku kuat hingga aku hampir tak bisa bernafas.
“Naaat ampun” Kucoba menghalau tangannya. Nat pun bertumpu pada pahaku.

Goyangannya tempo lambat. Ia meremas toketnya sendiri dengan 1 tangan.
“Engghhh kaaak” Ekspresi nafsu Nat muncul lagi. Kupeluk tubuhnya yang licin. Dinginnya AC pun tak terasa & kami tak peduli jika ada yang mengintip dari kejauhan.

Bibirnya ia gigit lagi. Kuremas lagi bokongnya yang padat itu. Sesekali kucolok anusnya dengan 2 jariku.
“Terus kaak” Nat keenakan saat double penetrasi dariku. Saat ia bergoyang & menjepit kontolku, kugaruk pelan anusnya lebih dalam.
“Ooohhh kaaaaaaaakkhhh” Nafasnya berat saat kedua lubangnya disodok semua. Tubuhku terasa terjepit di antara kaca jendela hotel & tubuh Nat.

Nat aktif memainkan klitorisnya sendiri saat kontolku kupacu. Tempo gerakan kami tak beraturan. Nat bergoyang di atasku & kugenjot Nat dari bawah yang menbuat tubuhnya tersentak & toketnya bergoyang. Sesekali kuremas kasar kedua toketnya.
“Terus kaak, iyaah gitu mmmhhh” Nat mulai melambat temponya.
“Udah, kamu ngangkang aja gitu” Kugenjot Nat dari bawah dengan tempo lebih cepat. Nat pun menahan rasa sakit hujaman pada mulut rahimnya.
“Emmm kaaaak aku sampe lagi” Nat pun orgasme lagi & ambruk dalam pelukanku dengan kontol masih menancap. Nat memeluk erat aku hingga aku tak bisa bergerak. Wajahnya mendekati wajahku lagi & menghirup aroma parfumku yang biasa kupakai setelah mandi.
“Kak, kakak milikku, bahkan lacur Bekasi itu gak bakal bisa nyentuh kakak!”
Ia menyebut mantan sialanku sebagai “Lacur Bekasi”
“Rupanya tau kamu alasan aku putusin dia”
“Hahahahah, dia mewek sama aku kalo masih sayang kakak”
“Padahal dia malah ngentot sama temen sekampus di kosan” Dalam hatiku, aku masih memaki si Lacur Bekasi itu, yang kudengar ia menjadi mahasiswi sastra Inggris.

Obrolan itu membakar emosi dendam pada Naomi sialan itu. Aku berpikir jika kematian ayahnya adalah hukuman terberat baginya.
“Tapi sejak papinya gak ada, dia nyesel jadi lacur & ngarep kakak balikan lagi”
“Penting kakak balikan sama Lacur Bekasi? Masih pentingan selesaikan pergumulan kita”
“Bisa aja kakak nih”
Kugendong Nat ke meja rendah dekat kursi. Nat mengalungkan tangannya & melebarkan kakinya seperti berjongkok. Kutuntun kontolku agar bisa masuk lagi di memeknya. Nat memejamkan matanya meresapi kenikmatan pergumulan.
“Kaaaak, yang kenceng dong, aku gak sabar”
Aku langsung tancap gas menggenjot Nat hingga suara beceknya memek Nat sangat keras. Kupeluk ia yang sudah licin dengan keringat itu.
“Enggh kaak enaak” Erangan Nat mengiringi genjotanku yang membuat tubuhnya tersentak.

Di saat teman Nat sedang perform di theater, Nat justru bercinta denganku dengan izin tak theateran. Untung saja Nat memilih tempat ini karena kami yakin tak ada yang memergoki kami.

Kupacu memeknya hingga sesuatu akan keluar dari kontolku.
“Naat, kakak hampir sampe”
“Tungguin aku kaaaak”
Dan akhirnya
“Aaaakkhhhh” Kami pun orgasme. Kusemburkan 7 crot pejuku melesat ke dalam memeknya. Wajah kami saling mendekat untuk kesekian kalinya, laku kami berciuman.
“Kakak gak usah bersalah lagi kalo gak nembak aku waktu itu, kita sekarang saling memiliki”
“Dan kamu selalu diberi masukan hingga puas”
“Ah kakak bisa aja”

Kulihat jam HP, ternyata sudah menunjukkan jam setengah 9, & kami belum makan malam.
“Waduh pantesan agak perih perut kakak, belum makan malam”
“Ya ampun gila kita ya”
“Eits, cabut dulu ininya” Kucabut kontolku dari memeknya. Sisa permainan kami langsung meluber di meja.
“Kakak mainnya beringas, tuh liat sampe merah lubangku”
Oh shit! Memeknya memerah seperti iritasi akibat terlalu cepatnya permainanku.
“Eh, kamu lagi gak subur kan?”
“Enggak nih kak, udah kelewat malah”

Kami pun berganti pakaian. Aku mengenakan celana jeans biru dongker dengan atasan kemeja flanel lengan digulung. Sedang Nat mengenakan celana jeans hitam dengan dress pendek hitam berlengan & leher bawah yang transparan. Lalu, kami berjalan dengan bergandengan tangan menuju restoran hotel.

Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.