Modus Part 12 – Threesome Again

No comment 12000 views

tapa capeknya tubuh ini karena menggagahi Nadila. Aku pun mengeringkan keringatku sebelum mengenakan pakaian. Jujur saja udara di luar dingin, kamar pun dingin juga. Aku ingin ke toilet untuk mandi. Kubenamkan tubuhku dalam bathtub penuh air hangat. Cukup 3 menit berendam & menyabuni tubuhku. Sampai kami lupa malam ini belum makan. Aku bergegas memakai pakaian.

Aku pun menelusuri lantai kosan. Sampailah aku di pinggir jalan. Wah, kebetulan ada tukang sate lewat. Lidahku memang rasa lokal meski ayahku berketurunan Jepang. Kubeli sate ayam 40 tusuk untukku, Nadila, Nat yang baru datang, & Rona.

Rupanya Rona & Nat sedang nonton film di laptop.

“Wah, ada sate” Rona meraih kresek hitam berisi sate.

“Eh, bagi 2 Ron, Nat masa gak dikasih”

Ia pun menutup pintu. Aku pun kembali ke kamar Nadila.

“Makasih kak, sambalnya?”

“Ada tuh, di bungkusan kecil”

“Dicampur gak?”

“Campur aja lah, kakak mau pedes juga”

Ia membuka bungkusan sate & membagi nasi padaku.

Satu hal yang kusuka dari Nadila adalah ia suka makan dengan selera apa saja, bahkan pernah ia menggoreng ikan asin & mengajakku makan ikan asin. Berbeda dengan selera kakak-kakakku yang high class.

 

“Nad, beneran Saktia mau nginep?”

“He’em, emang kenapa?”

“Kakak nginep di hotel aja”

“Eh?”

“Kalo aku kedapetan di sini, Saktia curiga”

“Emm, gimana ya?”

“Masa di kamar Rona?”

“Kalo dianya mau. BTW kenapa sih kak sama Kak Saktia?”

“Serem”

Nadila pun menertawakanku mendengar alasanku jika Saktia menyeramkan.

Jujur saja, malam ini aku terbangun. Kata orang, jika seseorang terbangun tiba-tiba, ada orang yang memimpikannya. Sesekali kubelai wajahnya saat tidur. Selimutnya yang sempat berantakan kurapikan lagi agar dia tak kedinginan. Suhu AC kuatur agar tak kedinginan. Ia tampak manis dengan baju putih tanpa lengan. Hujan deras pun kembali datang. Suasana kamar pun semakin dingin dalam gelap. Rintikan derasnya hujan membentur kaca jendela.

Mataku kubuka perlahan. Nadila tak ada di sampingku. Aku mengucek mataku sendiri & berharap ini hanya mimpi. Ternyata, Nadila benar-benar tak ada.

“Pagi sayang” Ia membawakan nampan dengan secangkir kopi hitam yang masih mengebul & sandwich.

“Lah tumben bangun pagi” Kuciumi lehernya.

“Tadi aku kebelet pipis kak, terus sekalian bikinin ini. Kan kakak suka bangun jam setengah 5”

Kusantap sandwichnya. Lumayan nikmat. Saat ingin kucicipi kopinya, ia menarik pelan cangkirku.

“Kak, belum aku kasih gula yang banyak”

“Lah tadi seberapa?”

“Sepucuk sendok teh sih kak”

“Cukup, gak usah banyak-banyak. Kakak suka kalo segini, kamu sarapan aja dulu”

Ia pun berlalu & memasak sesuatu. Setelah sarapan, kubuka laptop & membuka email. Banyak keluhan mengenai attitude member yang terkesan mengecewakan fans, sebut saja ada member yang pesan ojek online ke suatu tempat yang ternyata dijemput pacarnya, kedapatan jalan berdua di Blok M, atau member brengsek yang sering foto dengan cowok bertubuh agak lebar -yang kumaksud itu si Lacur Bekasi-. Aku malah teringat dengan komitmen kami untuk menjaga hubungan pertunangan kami, meski konsekuensinya sangat berat jika ketahuan.

“Kak, nanti jemput Kak Saktia mau ya”

“Tapi kamu yang nyetir”

“Ih kakak nih”

“Heheheh kakak yang nyetir kok, tapi dia minta dijemput di mana?”

“Katanya sih di tempat magangnya kak”

“Radio itu?”

“Iya kak”

Begitulah obrolan kami saat mengantar Nadila ke kampusnya. Setelah itu, aku langsung berangkat ke Menara Sentraya karena harus menjelaskan skandal Viny & Lacur Bekasi. Aku bersama Pak Bos digoreng habis-habisan oleh staf dari Jepang. Ia mengatakan bahwa reality show di Jepang ia anulir tanpa pemberitahuan akibat kehadiran Viny yang merusak nama baik.

Setelah digoreng habis-habisan, kami melipir ke kafe di Fx.

“Bos, kayaknya kita mending pecat Viny & Naomi deh” Rasanya, menyebut nama asli Lacur Bekasi adalah sebuah dosa besar.

“Jangan buru-buru dulu, mereka masih dalam masa interogasi”

“Mata gua pedes liat kelakuannya. Sejak pindah ke Team J dia berubah, kesannya jaga jarak”

“Udah udah, sabar aja, lagian tuh bentar lagi dia mau grad”

Aku sengaja memesan kopi hitam tanpa gula sebagai pelampiasan emosiku. Saking pahitnya, rasanya ingin memaki si Lacur Bekasi itu. Bahkan kudengar dia pernah melakukan seks dengan seseorang di halte kala itu.

Notif chat dari Nadila pun berbunyi. Ia mengabariku jika kuliah jam terakhirnya kosong. Aku mengecek notifnya saat Pak Bos sudah berlalu. Aku bergegas menghabiskan kopi hitamku hingga tak sadar ampasnya kutelan. Aku meluncur dengan mobilku menuju kampusnya.

Sesampainya di kampusnya, Nadila mengenakan kemeja kaos bermotif garis dengan balutan jaket jeans biru dongker & celana jeans panjang hitam.

“Yuk masuk”

Ia membuka pintu mobilku & duduk di sampingku. Aku sadar jika Saktia selesai magang saat hampir malam. Kami pun mencari makanan di kaki lima. Komitmen jaga jarak pun dimulai. Jika dikatakan romantis, mungkin tidak, namun bagaimana lagi, daripada hubungan kami terungkap. Untunglah ada beberapa pedagang kaki lima yang berjajar.

Hari telah bergeser menuju malam. Kami pun menjemput Saktia. Memang lama, ternyata diajak makan malam dengan pegawai radio. Saktia menghampiri kami dengan celana jeans ketat dengan kemeja batiknya.

“Eh Nad, yuk lah, aku belum mandi”

“Yaelah Sak, aku belum juga”

“Emm, eh Nad, Joel boleh lah disuruh nginep”

“Eh jangan”

“Gapapa lah, cuma 2 malem aja kok”

“Entar Kak Joel tidur di mana entar Sak?”

“Lantai, cie perhatian, jangan-jangan…”

“Sak, magangmu gimana?” Segera kupotong pembicaraannya. Kalau dibiarkan, bisa bahaya dia.

“Ya menyenangkan si Joel” Saktia mencoba memegang pundakku.

“Eh tangannya main nyosor aja” Untunglah Nadila menepis tangan Saktia. Lalu, mereka menggosip tentang hal yang tak kuketahui. Persetan dengan gosip begituan, aku asik menyetel musik.

Kami pun sampai di kosan. Aku tergeletak di ranjang, sedang Nadila masih membersihkan wajahnya dari berbagai bedak sehingga terlihat natural. Saktia dengan senyum khasnya menggodaku.

“Nad, sabun dong”

“Di dalem oi” Nadila berteriak.

“Anjir, gak bawa BH” Perkataan Saktia membuat kontolku sontak berdiri.

“Pake punyaku aja Sak”

“Eh gapapa?”

“Gapapa sih, eh bisa gak sih jangan keras-keras, ada cowok di sini”

Setan! Perkataan ini memang terlalu frontal. Nadila tersenyum saat melihat bagian resleting celanaku menyembul. Aku pun langsung menutupnya dengan bantal.

“Eh kalian sebenernya pacaran atau gimana?” Tiba-tiba, Saktia menanyakan itu pada kami.

“Enggak” Nadila terkesan berbohong. Tapi sebenarnya tidak, karena kami akan bertunangan diam-diam.

“Oh, tapi lebih akrab dari pacar kan?”

“Bacot nih tukang gosip” Kupotong pertanyaannya & menyuruh Saktia langsung masuk kamar mandi. Dengan kesalnya, ia masuk kamar mandi.

Aku tahu jika Saktia butuh waktu lama untuk mandi. Entah berendam atau meditasi di atas kloset duduk. Mandi tanpa suara, jangan-jangan Saktia ketiduran. Ah masa bodoh.

“Nad, sini yuk” Aku bangkit dari ranjang & mendekap tubuhnya langsung dari depan. Jantung Nadila berdegup kencang saat kudapatkan wajah kami. Aroma wanginya menggodaku. Bibir kami mendekat & kini saling beradu. Nadila memejamkan matanya. Desir nafasnya yang memburu membangkitkan kembali penghuni celana dalamku. Nafasnya seakan seperti mendesah berat. Kugigit pelan bibir bawahnya & kulumat bibirnya. Lidah kami saling beradu liar hingga liur kami belepotan.

Suara kunci kamar mandi terbuka. Kami saling menjauh, takut kalau Saktia memergoki kami. Anehnya, Saktia gontai saat keluar dari kamar mandi. Mencurigakan sekali dia.

“Eh Sak, ngapain kok sampe lemes gitu?”

“Anu, abis jatoh Nad”

“Gak usah bohong deh Sak”

Saat mereka berdebat, aku pun langsung ke kamar mandi untuk buang air besar. Aku ingin cebok dengan sabun batangan berwarna biru itu. Ada yang aneh dengan sabun batangannya itu. Bentuknya meruncing & ada lendir yang berbau tak sedap. Akhirnya aku cebok dengan sabun cair.

“Nad, kok sabun batangannya kayak gini?” Kutunjukkan sabun batangan yang meruncing itu.

“Aku gak pake sabun batangan tadi kak, pasti Saktia”

Saat Nadila menunjuk Saktia karena sabun itu, wajahnya jadi memerah.

“Em, anu, aku abis ngebayangin…”

“Ngebayangin siapa?”

Tanpa banyak kata, Saktia justru menyerang bibirku. Kukunci rapat bibirku sambil memberi kode Nadila agar ia menarik tubuh Saktia. Aku tak bisa bicara.

“Aaahhh Nad” Saktia mengerang. Entah apa yang Nadila lakukan hingga Saktia tersungkur & melepas pelukannya dariku. Aku pun bisa bernafas lega.

“Eh Sak, jangan ganggu cowok orang woi” Nadila menghadang Saktia, bahkan sampai menindihnya.

Saktia yang gagal melumat bibirku, malah melumat bibir Nadila. Ciuman mereka menjadi lebih panas. Kucuri kesempatan dengan menurunkan celana tidur Nadila, lalu kucolokkan memeknya dengan 3 jariku. Erangan mereka beradu. Colokan jariku kupercepat & lebih kasar lagi.

“Mmmmhhhhh” Kini erangan Nadila semakin keras, mungkin dia lebih nafsu. Nafasnya tersengal-sengal hingga bokongnya naik turun. Tak lama, Nadila mengeluarkan cairan dari memeknya. Ia pun tepar di atas tubuh Saktia yang hanya mengenakan handuk.

Aku melepas semua pakaianku & mengolesi kontolku dengan cairan orgasmenya yang menggenangi lantai. Kugesek pelan kontolku di depan memeknya yang mulai tumbuh sedikit bulu halus. Kunaikkan kaosnya hingga tertahan di leher & kulepas kait BH Nadila. Meski susah, aku bisa meremas toketnya yang secara tak langsung mengenai dada Saktia.

“Kaak jangan ahh” Nadila mendorong tanganku agar tak meremasnya. Ikatan handuk Saktia pun terlepas juga hingga kedua dadanya menempel & beradu. Tanganku memaksa menyusup ke antara 2 dadanya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlangkahi. Sekali menyusup, 2 toket terpegang semua. Kumainkan toket mereka yang tergencet itu.

“Mmhh aaahhh” Nadila justru bernafsu & malah melumat kembali bibir Saktia.

Kulepas remasan mereka. Kini aku bersiap menghajar memek Nadila dengan gaya Elephant Style, persis dalam Kamasutra. Kusodokkan kontolku dengan hentakan keras, lalu kutarik perlahan.

“Mmmmmhhhhh” Erangan Nadila saat beradu dengan Saktia. Tangan Nadila mengacak-acak rambut teman dekatnya itu. Hentakanku semakin kasar hingga tubuhnya tersentak. Tangan Saktia memeluk Nadila, sesekali menjambak rambutnya juga.

Sodokanku semakin tak bertempo & kasar sekali. Nadila hanya bisa mendesah saat pacuanku tambah tak karuan. Kujambak rambut Nadila hingga mendongak ke atas.

“Kaaaaakkhhh” Nadila mengerang kesakitan saat pacuan di memeknya kukasari.

“Oh Nadd” Saktia justru ikut mendesah, tapi lebih berisik.

“Kaaakhhh” Tubuh Nadila tiba-tiba kaku. Aku menambah tempo pacuanku di memeknya hingga menghajar tiap sisinya. Memeknya menjepit kontolku hingga terasa dipijat secara kasar.

“Aakkhhhh” Nadila orgasme lebih cepat. Nafsunya dipacu olehku & Saktia.

Kuangkat selangkangannya & ini merupakan gaya anehku, yaitu gaya dorong gerobak. Kakinya kupegang & kubuka lebar hingga lubang memeknya yang basah akibat orgasme itu. Hujamanku dimulai dari tempo cepat.

“Kaaakhh sakit” Ia tak bisa bergerak bebas lantaeab tubuhnya dipeluk erat Saktia & liar mencumbu leher Nadila. Aku tak memedulikan Nadila & tetap kupacu memeknya nenyodok tiap sisi, bahkan mencapai G-spot Nadila.

“Engghhh kaaakkh kurang keras lagi setan!” Nadila kini keranjingan permainan kasarku. Sodokanku kupercepat hingga Nadila bolak balik tersentak.

Tubuhnya kaku lagi & selangkangannya bergetar, seperti menahan sesuatu.

“Aakkkhh aaakkkhh ahhhhh” Nadila semakin tak karuan tubuhnya.

“Kurang keras woi lacur!”

“Ookkhhh kaaaaaaaakkhh kyaaaa” Nadila pun menyemburkan cairan orgasmenya lagi. Kurasakan memeknya seperti memijat kontolku lebih nikmat. Memeknya semakin becek akibat cairannya sendiri. Untuk kesekian kakinya, Nadila orgasme lebih cepat dari biasanya.

Kugendong Nadila yang mulai berkeringat banyak ke ranjang, sedangkan Saktia memelukku dari belakang & menempelkan toketnya di punggungku. Setelah kujatuhkan Nadila ke ranjang, Saktia menduduki mulut Nadila.

“Enggh jilatin dong Nad” WTF! Saktia minta dijilat memeknya oleh Nadila. Bokong Saktia langsung dibenamkan lebih dalam. Kini saatnya aku mencoba gaya Rising Position. Kuangkat kedua kakinya, lalu kupeluk kaki Nadila. Memek Nadila kembali kusodok dengan kontolku.

“Akkkhh mmmhhh” Desahan Nadila dibungkam dengan memek Saktia. Suara jilatan Nadila di memek Saktia terdengar keras karena becek. Sodokanku semakin brutal karena memeknya yang terus memijat kontolku.

“Mmhhhh” Desahan Nadila yang menggema dalam memek Saktia.

“Enggghh yang kasar Nad!” Saktia menggoyangkan bokongnya yang lumayan besar itu. Aku tak ingin membiarkan aset Nadila menganggur, kuremas saja toket Nadila yang cukup untuk menonjol di balik bajunya tiap perform.

“Ngghhh mmmhhhhh” Nadila mendesah lagi sambil menjilati lubang kenikmatan Saktia.

Saktia memutar badannya dengan kondisi memek masih di dekat mulut Nadila. Aku fokus menggenjot Nadila secara kasar. Tangan Saktia menarik tanganku & diarahkannya ke toketnya yang berukuran sedang itu.

“Ennggghhh Joeel” Saktia mengerang saat kuremas toketnya. Kupelintir brutal pentil coklatnya yang mengeras.

“Ookkhh terus Naad” Saktia menggelinjang saat jilatan Nadila mulai kasar. Sodokanku semakin tak bertempo & mengenai tiap sisi dinding dalamnya.

Aku merasakan kontolku akan mengeluarkan sesuatu. Kutambah kecepatan genjotan memeknya lebih kasar lagi.

“Mmhhh” Nadila mengejang & orgasme hebat hingga nafasnya tersengal-sengal.

“Akkhhh Naaad kakak keluarr” Aku pun memuntahkan peju 8 tembakan melesat ke dalam.

“Naaaadd ookhhh” Saktia menyusul kami. Ia orgasme banyak di wajah Nadila & ambruk ke pangkuanku.

Kulihat Nadila benar-benar tersiksa akibat ulah Saktia & aku. Aku & Saktia bergeser ke sebelah Nadila dengan kondisi tepar berat. Entah kapan Saktia langsung melumat bibirku. Aku kewalahan menghadapi serangan bibirnya. Kuremas kedua toketnya agar ia mudah kutaklukkan. Tentu saja, titik kelemahan Saktia adalah dadanya.

“Mmhhh” Erangan Saktia menandakan ia takluk. denganku. Tangan kananku mulai menerobos memeknya & kugesekkan klitorisnya. Pelukan Saktia semakin kencang hingga aku sesak. Tiba-tiba tanganku terasa becek & pelukannya mengendur. Ya! Saktia orgasme.

Saktia meraih kontolku & mengocokknya perlahan. Kuciumi leher jenjangnya.

“Oohh Joeeell” Saktia mulai terangsang lagi. Kocokannya semakin cepat hingga terasa perih.

“Tititnya perih ya? Maaf ya Joel”

“Enggak Sak, malah nikmat”

Saktia terkekeh mendengar jawabanku. Lalu kuhentikan kocokannya.

“Kamu mau ini kan Sak?” Kuarahkan kontolku ke memek Saktia.

“Emm, mau”

“Pernah gini sebelumnya?”

“Belum”

“Tapi kok jago?”

“Dulu pernah ngocokin, tapi pernah dipergokin tetangga”

“Jadi pernah diarak bugil?”

“Eh enggak lah Joel, buruan gih”

Aku menggendong Saktia ke meja rias Nadila. Kuangkat kaki Saktia & kumulai gaya Nadila barusan : Rising Position. Kuangkat kakinya agar lubangnya bisa kusodok. Kuarahkan kontolku ke memeknya, lalu kudorong perlahan.

“Joeeel, sakit”

“Ah tahan kah Sak” Kudorong perlahan agar bisa menerobos lubang memeknya.

“Akkk sakit” Saktia mengerang saat ujung kontolku mulai menerobos selaput daranya. Rupanya aku percaya jika Saktia masih perawan. Kusodok perlahan sampai benar-benar robek selaputnya.

“Aakkhh” Saktia mencengkram leherku karena menahan rasa sakitnya.

Aku berusaha menyodok perlahan. Saktia rupanya mulai terbiasa dengan sodokan tempo lambatku.

“Ohhh terus Joel” Ia benar menikmati sodokanku yang mulai kupercepat. Sempit sekali rasanya, namun nikmat. Jepitannya sangat kuat hingga kurasakan perih.

“Ahh aakk mmhh” Desahannya terlalu bising karena belum pernah ia mengalami pergumulan bejat ini. Pacuanku semakin tak karuan. Sodokanku kuarahkan ke tiap sisi memeknya.

“Joel, ohh mmhhh” Saktia mengejang hebat & seketika orgasme. Kedutannya terasa kuat hingga terasa sangat perih. Kucabut dulu kontolku agar rileks. Kulihat ceceran darah keperawanan Saktia di meja Nadila. Kujilat ceceran darah itu, rasanya antara amis & asin, namun nikmat.

Kugendong kembali Saktia ke ranjang di sebelah Nadila. Kurebahkan Saktia & kulebarkan kakinya. Kumasukkan kembali kontolku perlahan.

“Engghhh” Saktia mengerang sambil meremas sprei. Pacuanku kembali kasar. Saktia membalasnya dengan menjepit kontolku hingga perih.

“Ohhh Sak, sempit” Kuremas kedua toketnya dengan kasar, sesekali kuemut pentilnya.

“Akkhh geli” Ia menjambak Nadila, sontak ia kembali sadar & melumat bibir Saktia. Kucolok anus Nadila dengan jari.

“Mmmhhh” mereka saling mendesah dalam adu bibir. Di depanku ada 2 tubuh cewek saling beradu. Aku meremas toket kedua gadis itu. Desahan demi desahan keluar saat menerima sodokanku. Tubuh kami basah kuyup bermandikan keringat.

Aku merasakan hampir keluar lagi. Kupercepat sodokanku hingga suara hantaman paha kami terdengar keras.

“Oohhh Joeeel aku keluarrgghh” Saktia orgasme berat & otot memeknya berkedut.

“Akkhhhh” Aku menyemprotkan peju ke dalam memek Saktia. Nadila pun lunglai akibat orgasmenya. Kucabut kontolku & pejuku meluber keluar.

Aku kini ambruk di kedua gadis bugil itu. Saktia melempar senyum padaku & menggodaku.

“Kak” Nafas Nadila masih berat akibat permainan kami.

“Nad, kakak pengen peluk kamu”

“Eh, Joel punyaku” Saktia malah protes.

“Eh, Kak Joel punyaku Sak” Ia tak sadar membocorkan hubungan kami. Ah sudahlah, mungkin mereka tak sadar, atau aku yang salah dengar omongan Saktia. Kami bertiga tidur tanpa busana. Pandangan kami sama-sama gelap saking capeknya.

Silahkan Rate Cerita ini

Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.

author
Author: 
    Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.