Modus Part 18 – K A C A U

No comment 37175 views

Pagi itu, aku, Pak Bos, & beberapa staf tiap team mengadakan meeting di theater. Ah, anggap saja briefing karena per 1 Februari ini mulai berlaku shuffle. Memang pergantian kapten pun terjadi di team K3 & T, makanya forum memfokuskan pada staf yang mengurusi team itu. Ya, Yona kembali ke team K3 setelah grand shuffle kedua, ia, Sinka, Uty, Ikha, Sisil, Della, & Saktia juga dipindah ke team J. Ditambah kagi dikonsentrasikan pada team K3, mengingat sejak kasus Viny itu, team yang tak punya kapten tetap. Beby pun hanya sementara, bukan resmi dari manajemen.

 

Lepas meeting itu, rencananya aku ingin mencari sesuatu, entah seperti orang tersesat di suatu mall. Fx Sudirman menjadi tempatku untuk meraup uang.

“Oi tod!”

“Ah elah lu Harry, masih hidup aja”

“Hehehe masih lah, malah setrong abis garap Lidya”

“Oi, gua pinjem Nat gih, gua jadi coli mulu bayangin Nat”

“Ah sempak, mending lu pake aja tuh Sisil”

“Lu ikhlas gak?”

“Dah pake aja, dasar penjaja memek” Aku tak menoleh ke Harry, langsung ke parkiran. Aku sengaja menggunakan mobil Honda Jazz biru karena lebih luas daripada Honda Brio putihku. Ah, sandaran kursi kuturunkan sejenak. Rebahan waktu ini terasa nikmat rupanya.

 

Bosan, kucoba menelepon Yona. Ah, tak diangkat, mungkin dia sibuk, atau main dengan kucingnya? Kudengar katanya dia tinggal di kosan agar dekat dengan aktivitasnya di Jakarta.

“Halo, sorry aku baru kelar kuliah”

“Eh, bukannya kamu lama gak kuliah ya?”

“Iya sih, ah gak usah dibahas, emang ngapain telpon aku?”

“Kangen”

“Eh gila kamu ya, aku punya pacar lho Joel”

“Ya salah Yon? Kamu gak kangen adegan ranjang kita?”

“Ah aku lagi dapet, bisa ngomongin yang lain gak?”

“Ada, selamat ya balik ke K3 lagi, bisa nge vlog lagi sama Om Lid”

“Min Lid Joel, kamu bisa digampar lho”

“Heheheh, udah lanjutin aktivitasmu Yon, sorry kalo ngeganggu”

“Ah enggak kok, lagian jam kosong kok, nanti 2 jam lagi ada kelas”

“Hmm, nanti kalo bikin vlog ajak aku ya”

“Eh, emm, nanti bisa aku omongin lah, yaudah deh, aku nih diajak makan sama temen aku, bye Joel” Yona menutup teleponnya, lalu kumasukkan lagi HP milikku ke saku celana.

 

Ternyata ada chat dari HP di saku celanaku. Kenapa ada chat dari Beby? Ada apa ini? Aku memang benar-benar move on darinya. Bagaimana tidak, masih teringat saat aku pertama kali ke kosannya & merenggut segel kesuciannya. Justru dia yang meninggalkanku lantaran ia tak mau jika perhatianku terbagi.

 

Hay mantan

Kamu sayang banget kan 2 cewekmu?

Emm, Nat & Nad kan?

Kalo kamu sayang mereka, sekarang juga samperin ke apartemen Kak Kinal, buruan!

 

Hah? Apa-apaan ini? Kenapa Beby chat seperti ini? Tak lama berselang, ia mengirimkan lokasinya. Aku segera menghidupkan mesin mobilku & segera meluncur meninggalkan mall bejat ini.

 

Jalanan agak macet, untung bisa kukendalikan mobilku. Padahal Nat & Nadila baik-baik saja tadi saat kutinggalkan mereka berdua di kosan. Akal-akalan apalagi yang akan dilakukan? Di lampu merah, telepon Nadila tak diangkat, begitu pula Nat. Apa yang Beby lakukan pada 2 gadis itu?

“Woi, lo apain dia?”

“Udah dateng aja, ada surprise kok” Beby membuatku penasaran. Surprise apaan? Konsentrasi menyetirku buyar. Menenangkan diri di saat menyetir kondisi ini tak mempan. Berulang kali klakson kubunyikan agar minggir & bisa melaju ke apartemen Kinal. Eh sebentar, yang suruh aku Beby, tapi kok di Apartemen Kinal? Terus kenapa Nat & Nadila di sana?

“Kalo sampe 5 menit gak datang, siap-siap hubungan rahasia lo dibongkar” Bangsat! Beby chat seperti itu! Antara panik & emosi pun bercampur. Aku pasti akan membuat Beby menyesal dengan apa yang ia lakukan.

 

Hampir saja terlewat 5 menit, 3 menit dari ultimatum bajingan itu aku sampai di parkiran. Segera berlari menuju kamar apartemen yang dimaksud. Detak jantung kencang sekali rasanya. Kuketuk 2 kali tak dibukakan pintunya. Lalu kudobrak dengan lutut.

“Bukain pintunya!” Bukan hanya lutut, bahkan kepalaku juga kubenturkan di pintu. Baru beberapa saat, pintu pun terbuka. Yang aneh adalah justru ada Beby, Kinal, Shania, & Frieska.

“Akhirnya datang juga” Ujar Beby yang mengenakan lingerie hitam transparan dengan ekskresi galak.

“Hai, pacarnya Nat, mau selamatkan dia gak?” Kinal pun menyusul dengan mengenakan bra & g-string hitam menunjuk Nat yang diikat menggantung dengan posisi kepala agak rendah dengan mulut dilakban.

“Brengsek! Lepasin gak?” Aku merangsek masuk apartemennya.

“Gak segampang itu, kakak cabul” Shania yang mengenakan miniset & hotpants super ketat menghadangku & memamerkan high heels miliknya.

“Lo juga pacarin Nadila kan?” Frieska mengenakan bra tipe gantung memamerkan belahan dadanya mencekikku dengan tangan kirinya.

“Please lepasin gak?” Apa daya, selangkanganku diraba Beby & Shania bergantian.

“Lo gak segampang itu. Kami punya tantangan buat lo kalo mau lepasin mereka” Kinal memegang kuat tanganku. Lebih bajingannya lagi adalah Nadila yang diikat di atas ranjang dengan ekspresi pasrah. Kaki & tangannya diikat di tiap sudut ranjang.

 

Seketika Beby menarik sabuk celanaku & menurunkan celanaku secara paksa. Frieska melepas kaosku secara brutal & kini aku hanya mengenakan celana dalam. Tubuhku memberontak sekuat mungkin sampai Shania terpental akibat tendanganku.

“Waduh waduh, nih cowok berontak, enaknya diapain?” Shania menahan kakiku.

“Udah, tuh iket aja di lantai Shan!” Apa-apaan ini? Kinal malah mengikatku hingga tanganku terbentang lebar, lalu aku didorong ke lantai.

“Ayo sini kak” Beby mencoba menggodaku & mengelus celana dalamku. Jelas saja penisku berdiri seketika. Shania pun terkejut melihatnya.

“Sini gua kerjain Beb, lo pegangin kakinya” Shania melucuti celana dalamku & penisku mengacung tegak di depan Shania.

“Wow, pantesan Nat takluk” Shania mengocok kasar penisku, lalu ia kulum kasar. Bibirnya ia rapatkan serasa seperti diperah. Lidahnya dengan cepat ia jilat, bahkan secara kasar.

“Aaaakkkkk” Aku tak pernah dikulum seperti ini, bahkan Nat pun yang punya nafsu tinggi tak pernah begini.

“Kaaak jangaaan, tolong kak…” Nadila merengek, mungkin tak tega melihatku disiksa.

“Nad, ini demi kalian berdua, kakak harus puasin mereka”

“Bagus Joel! Berarti lo harus puasin kita” Frieska mendekati wajahku & menciumi bibirku. Lidahnya liar membuat mulutku takluk juga. Ia dengan liciknya menyedot lidahku & memainkannya.

 

Entah sejak kapan, Kinal & Beby telah telanjang bulat. Kedua tanganku malah mereka gunakan untuk menggesek-gesekkan bibir vaginanya.

“Mmhhhh aaahhh” Beby mendesah duluan saat tangannya menuntun jari telunjuk kananku menyentuh klitorisnya.

“Eh colmekin anjing!” Kinal yang terlihat kasar memaksaku mencolok vaginanya. Aku memasukkan 1 jariku. Kuaduk kuat liang kewanitaan Kinal itu.

“Mmhhh mmmhhh” Aku refleks menghentakkan penisku di tenggorokan Shania karena ciuman bibir Frieska terlalu brutal. Entah nikmat atau tersiksa aku diperlakukan seperti ini.

“Mmhhhh bangsat lo! Hampir aja gua mati!” Shania protes lantaran refleksku menghentakkan penisku terlalu kuat.

“Eh setan! Gak puas kalo gua dikocokin cuma pake 1 jari anjing!” Tangan Kinal menjambak rambutku hingga ciuman bibirku dengan Frieska berantakan. Air liurnya tumpah ke kedua sisi pipiku. Tangan kiriku refleks kumasukkan 3 jari & kugaruk kasar liangnya.

“Aahhh aahhh mmhhhhh oooohhh terus kaaaak” Beby menggelinjang saat keempat jari tangan kananku mengobok vaginanya. Tangannya menekan punggung tangan kananku hingga aku dapat memainkannya lebih dalam.

“Iyaaah teruuuss aaahhh aku sampeeee aaahhh” Tangan kananku serasa disembur & otot vaginanya berdenyut kencang. Beby orgasme duluan dibanding ketiga wanita brengsek itu.

Aku sengaja nekat memasukkan 4 jari tangan kiriku ke dalam liang vagina Kinal & kugaruk kasar dindingnya. Jempol kiriku kugesekkan pada klitorisnya yang sebesar kacang itu.

“Ahhh terussss mmmhhh aaaaaaakkk” Rancauan Kinal justru membuat penisku semakin mengeras. Frieska meninggalkanku & menanggalkan pakaiannya hingga telanjang bulat. Begitu pula Shania yang marah padaku sambil membawakan lilin yang menyala.

“Ini pembalasan buat lo, pasti lo suka” Shania memiringkan batang lilin itu. Terlihat setetes lelehan lilin itu menggantung & nyaris jatuh.

“Aaaaaakkk!” Shit! Tetesan lelehan lilin itu menetes di ujung penisku. Rasanya panas sekali & perih hingga tubuhku memberontak, namun kakiku diikat rapat juga.

“Hahahahahah, enak kan? Nih gua tambah lagi” Shania semakin gila & memindahkan lilin itu ke tempat lain.

“Aaaaaaaaaaakkk!” Shania justru melelehkan lilinnya di batang penisku, 5 tetes sekaligus, ia pindahkan lagi hingga 3 tetes lelehan panas lilinnya mendarat di kepala penisku lagi. Tubuhku refleks memberontak lagi, tapi tertahan tali yang mengikat kaki & tanganku.

“Shaan, bangsat lo!” Suara teriakan itu dari Nadila yang menghentikan Shania.

“Slow lah Nad, dianya menikmati” Shania mengambil HP & memfotoku.

“Mulai sekarang, lo budak seks kita berempat, sekalian sama Nat & Nadila harus mau ngeseks sama kita! Lo harus nurut kalo gak mau foto lo gua sebar!” Ancaman Shania semakin memuncak. Ia mengangkat kaki kanannya yang mengenakan high heels. Hak tingginya ia masukkan pelan ke lubang anusku.

“Aaaahhh anjing!!!” Aku sebenarnya tak mau diperlakukan begini. Ujung high heels kanannya mencapai sepasang testisku, lalu ia injak pelan & ia getarkan.

“Hahahahah rasain” Shania semakin menggila memainkan kakinya. Getaran di kedua biji itu menumbulkan rasa ngilu. Tanganku semakin memberontak & menggaruk liang vagina Kinal. Ia mulai menggelinjang & pantatnya ikut naik turun.

“Mmhh harder pleaseee aaahhh aahhh” Kinal mengerang berat akibat garukanku. Liangnya semakin becek & licin penuh lendir.

“Aahhh ahhhh mmmhh shit aaaaaahhhh” Tak lama, Kinal orgasme & mengencingi tangan kiriku. Tubuhnya ambruk ke depan & bibirnya mendarat tepat di bibirku. Dengan nafas memburu, ia menciumi bibirku & memainkan lidahku. Kinal semakin mendominasi ciuman kami. Sementara itu, nyeri area selangkangan akibat ball busting Shania membuyarkan fokusku berciuman. Getarannya semakin menggila. Lubang pantatku juga perih.

“Mmhhh mmmhhhhh mmmhhhh” Erangan dahsyat Kinal pun menyebabkan liurnya mengalir banyak hingga belepotan.

“Eh Nal, lo enak banget, gua gak kebagian anjing” Shania menarik tubuh Kinal hingga terjungkal ke belakang. Aku seperti kehabisan nafas.

 

Tanpa ampun, Kinal mengangkatku & mengikatkanku pada rangkaian tiang seperti gawangan kecil. Aku dipaksa merunduk di hadapan Kinal & Shania dengan kondisi tanganku terikat di belakang tiang gantungan itu.

“Denger ya, lo harus jilatin memek kita berdua. Kalo lo bisa bikin kita orgasme, lo gua lepasin talinya, tapi harus kita gilir. Kalo 2 cewek yang lo entot bisa orgasme 2 kali, semua cewek lo kita lepas. Kalo salah satu dari kita lo pejuin di memek, Nat & Nadila kita suruh puasin lo! Ngerti?” Kinal menjambak rambutku & memberikan aturan permainan bejat ini.

“Baik, tapi lo gak masalah? Lo kan…” Aku hanya bisa mengikuti aturan brengsek itu.

“Oh pacar gua si Bram? Ah dia sekarang jarang ngasih jatah. Lo liat sendiri kan memek gua rapet lagi?” Kinal membuka liang kewanitaannya yang rapat, seperti jarang digunakan bersenggama.

“Satu lagi, kalo jilatan lo gak enak, nih gua bawain ini” Shania membawa cambuk hitam besar. Mengerikan sekali jika aku dicambuk seperti itu.

“Lo boleh milih salah satu” Shania memamerkan belahan selangkangannya yang ditumbuhi bulu halusnya.

“Ah gua dulu Shan, nanggung” Kinal melebarkan kedua pahanya seperti berjongkok & memperlihatkan vaginanya yang ditumbuhi bulu agak lebat mengikuti bibir vaginanya.

 

Aku tak berpikir panjang & langsung menjulurkan lidahku ke arah selangkangan Kinal.

“Wow, lo takjub banget sama memek gua Joel, yaudah, jilat yang bener” Ia mengambil kursi untuk ia duduk, lalu melebarkan kedua pahanya. Lidahku menjilati sisa cairan orgasmenya yang masih menempel di bibir vaginanya.

“Mmhhh jilat yang bener dong…” Kinal mengangkat pantatnya sedikit. Jilatanku mulai menyusup ke dalam liang kenikmatan itu. Lidahku masih kaku.

“Ih kurang enak, yang kasar anjing!” Kinal mulai kecewa akibat jilatanku kurang nikmat.

“Eh yang enak, Kinal jangan lo kecewain!” Shania mulai mencambuk pantatku.

“Aaaaaaaaa!!!” Aku kesakitan, keras sekali.

“Eh siapa suruh teriak? Jilat!” Kepalaku ia tekan ke dalam. Cairan sisa orgasme Kinal akibat kocokan dengan tanganku masih tersisa. Jilatanku semakin liar. Klitorisnya kujilat kasar & kugesekkan kasar lidahku dalam liang kewanitaannya.

“Mmhhh ooh shit, enaaaak teruuuus aaaahhh” Kedua pahanya ia gesekkan di kepalaku, terkadang ia jepit. Nafasnya mulai berat. Kinal memang lebih cepat nafsu bagiku.

Sementara itu, Shania meremas payudara Kinal sambil mengocok vaginanya sendiri. Aku semakin tak fokus menjilati lubang surgawi itu. Lidahku semakin liar di dalamnya.

“Mmhhh mmmhhh aaaaah Shaaan gua gak kuat” Kinal menggelinjang tak karuan.

“Sini gua cium nal” Shania menaiki Kinal & mencium bibirnya. Nafasku semakin sesak ditambah 2 selangkangan kedua gadis bejat itu. Kuhisap isi dalam vagina Kinal sekuat tenaga.

“Ahh ahh aahhh oh yeah mmhh ssshh” Kinal mendesah tak karuan. Belum lagi ditambah dengan gesekan pantat Shania yang menambah penyiksaan.

“Ahhh ahhh jilaat mmhhh aaahhh aahh aku keluaaaaarrrr” Kinal semakin cepat orgasme & cairannya menyembur ke kepalaku. Tapi hal itu tak membuatku berhenti menjilatinya, justru kulanjutkan dengan harapan ia melemas.

“Ahhh woi anjing enak banget aaahhh” Kinal masih kuat menjepit kepalaku. Sedangkan Shania semakin liar menggesekkan pantatnya di kepalaku.

“Gantian dong” Shania protes lantaran belum kujilat.

“Ah entaran Shan, gua sange, ciumin leher gua dong Shan…” Kinal semakin beringas & menggeliat tubuhnya. Tubuh Shania melengkung ke atas. Klitoris Kinal kugigit kasar.

 

Jilatanku kuvariasi, kadang menjilati dinding lubang kenikmatan Kinal, sesekali kujilati alat vital Shania.

“Mmhhh maaahh nngggggghhhh” Shania tiba-tiba menggelinjang seketika. Lidahku mengaduk isi dalam lubang kenikmatan milik gadis berwajah tante-tante itu.

“Kyaaaaahhh aahhh mmhh so harder please…” Pantat Shania menungging tajam. Ia mengangkang lebar hingga organ intimnya terbuka. Entah mengapa aku semakin keranjingan dengan liang surgawi Shania, mungkin saja desahannya menggoda sekali.

“Aahh ahhh ahhh mmhh gak nyesel gua jadiin lo budak anjing” Shania merancau tak jelas. Pantatnya ia goyangkan hingga aku kewalahan menjilatinya. Saking liarnya, aku tak sengaja menjilati lubang anusnya.

“Ahhh ahhhh mmhhh jilat terus dong staf cabul aaaahhh” Tubuhnya bergetar sesaat.

“Shaaan aahhh gila toket lo aahhh” Kinal menggelinjang juga saat mereka saling remas payudara.

 

Sementara itu, Beby & Frieska tak ada, entah di mana mereka.

“Beby… aaahh mmhhh harder please…” Tidak, itu suara Nat. Entah apa yang Beby lakukan pada Nat, aku tak bisa melihatnya. Pandanganku terhalangi oleh pantat 2 gadis yang bernafsu itu.

“Bangke, sumpah si Joel liar Shan, Bram aja gak bisa bikin gua orgasme sepecat ini” Suara pembicaraan Kinal yang samar lantaran nafasnya tak teratur.

“Mmhhh gila, kayak si Angga, eh enggak, kayak si Bobby” Shania menggoyangkan pantatnya.

“Udah mampus tuh bocah, eh ada penggantinya” Apa-apaan ini? Kinal mengunci punggungku dengan kakinya. Kuhirup dalam-dalam aroma khas vagina dari Shania. Sembari menjilat lubangnya, daging kecil seukuran kacang itu kugigit pelan.

“Oohh ohhh terruuuusss mmhhhh gila dah Joel bangsat, aahhhh” Pantatnya semakin ia dorong ke kepalaku. Di satu sisi aku menikmati, rapi di sisi lain ini seperti penyiksaan. Ah, kenapa malah menjadi menikmati, padahal aku menjadi korban.

“Mmhh mmhhh aaahh geli aaahhh ssshhh” Desahan Shania semakin menggila. Kusedot kuat lubang itu seakan menghisap sampai keluar.

 

Pantat Shania semakin bergetar, bahkan denyut nadinya terasa kencang. Pantatnya semakin menungging. Kubalas dengan jilatan kasarku secara cepat. Pantatnya mengejang.

“Ahhhhh eeeeeehhh aku sampeeeee” Bibir liang surgawi Shania berkedut kencang 2 kali, lalu mengeluarkan cairan & lendir yang gurih. Beberapa saat kemudian, tubuhnya melemah.

“Ahh gila, sumpah Joel, gua punya sodara bejat, tapi gak sampe gini aah ahhh” Tubuh Shania pun semakin melorot ke lantai. Aku pun mundur & tubuhnya langsung menempel di lantai.

“Gimana Shan? Gila kan? Oke, talinya gua lepasin. Lo boleh milih salah satu dulu yang lo entot” Kinal tersenyum puas seakan menikmati jilstanku. Frieska melepas semua ikatan tali. Aku pun lega saat aku tidak diikat lagi. Kulihat Beby, ia semakin parah dengan memasang dildonya di selangkangannya, seperti pria. Ia pun mengangkangi Nat yang diikat menggantung. Nat pun disodok dengan penis mainan itu.

“Shhh stop Beby, aaaahhhh” Nat kesakitan akibat sodokan kasar Beby.

“Beby, lo mending stop” Aku tak tega berusaha berlari.

“Eh mau ke mana? Kita belum selesai sayang. Ngentot sama aku aja ya, jangan Shania atau Kinal” Frieska mencegatku agar tak mendekati Nat. Yang lebih parah adalah selangkangan Nadila dipasang vibrator triple strap yang mengenai klitoris, vagina, & anus sekaligus.

“Mmhhhh aaaaaaahhh aampuuuunnn” Nadila mengejang & orgasme. Entah berapa kali ia orgasme, yang jelas sprei sekitar ranjangnya basah kuyup.

 

Dorongan tubuh Frieska semakin kuat hingga aku jatuh terlentang. Ia pun juga menjatuhkan tubuhnya di atas dadaku. Batang selangkanganku yang mengeras ia pegang & kocok pelan. Nafasku yang kini berat.

“Lo inget gak, lo ambil keperawanan gua?”

“Emang, terus mau apa?”

“Hahahahah, kita udah bugil masih tanya mau apa, gua dibangsat-bangsatin staf waktu gua digangbang, bilangnya sih udah gak virgin, tapi ya tetep aja genjot gua” Frieska tertawa setelah menceritakan pengalaman digangbang staf.

“Fries, gua sesak nafas”

“Kenapa? Gara-gara toket gua gede?” Ia berdiri menduduki selangkanganku.

“Boleh gua remas?”

“Wah sange lo sama toket segede ini? Sama Nat gedean siapa?” Frieska meremas payudaranya & sedikit mengangkatnya.

“Sama aja, dah mau apa”

“Lo diem aja, duh kasian kontolnya kepanasan kena lilin” Ia mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Awalnya ia gesekkan sendiri. Entah mengapa aku hanya merasakan sedikit geli, apa mungkin karena panas lelehan lilin yang ditetesi Shania?

Perlahan, ujung penisku sudah masuk ke vagina Frieska. Ia menurunkan pantatnya sedikit hingga seluruh batanganku masuk semua.

“Emmmhhhh” Matanya ia pejamkan kuat seperti menghayati.

“Eh, punya gua Fries!” Shania menarik tubuhnya. Tak lama berselang, Kinal menarik tubuh Shania. Untunglah Frieska cukup kuat sehingga tidak tertarik.

“Aahh jepit Frieeess” Aku seketika keenakan melihat keseksian Frieska saat telanjang. Ia menghentakkan tubuhnya ke bawah. Entah rasa nyeri akibat lelehan lilin atau kenikmatan akibat gesekan senggama menjadi satu. Otot liang itu sedikit berkontraksi hingga terasa seperti memijat.

“Mmhh mmhh ssshhh aaahh ahhh ahhh” Kepalanya mendongak ke atas & tangannya mengeksplor selangkangannya seperti ingin mengocok klitorisnya. Tanganku meremas bongkahan pantatnya yang besar & menggoda itu. Hentakannya semakin cepat hingga selangkangan kami bertabrakan menimbulkan bunyi. Tak hanya itu, hentakannya sangat kasar hingga ujung organ vitalku menghantam mulut rahimnya.

“Ahh ahh Frieskaaahhh” 2 jari tangan kiriku nekat mencolok lubang duburnya.

“Iyaaah Joeeell aahh remas toket gua dong aaahh” Ia mengerang berat. Nafasnya juga semakin berat. Aku masih keranjingan meremas pantat & mencolok anusnya. Wajah Frieska tiba-tiba memerah dengan ekspresi nafsunya yang tinggi.

 

Tubuh Frieska miring ke depan & tangannya bertumpu pada lantai. Gerakan tubuhnya seperti pria yang menyetubuhi pria, hanya saja Frieska memainkan pantatnya maju & mundur secara kasar hingga organ intimku perih.

“Eh budeg lo? Grepe gih!” Ia membentakku. Tanganku seketika bergerilnya dari pantatnya, lalu pinggangnya. Tangan kananku meremas payudara kirinya, sedangkan tangan kananku menggelitiki ketiak kirinya.

“Ahh aahh gila anjing aaahh teruss” Ia mengibaskan rambutnya. Bibir sensualnya ia gigit sendiri sambil mengerang. Hentakan pantatnya semakin tak terarur. Kakinya mengangkang lebar seperti jongkok. Aku nekat menyodok vaginanya secara kasar.

“Eeeerrrhhhh aaahhh terusss mmhhhhh aakkhh harder pleaseee” Frieska berulang kali mengerang. Puting susunya mengeras & sangat menggodaku untuk kuremas keduanya. Gundukan dada besarnya kucengkram kuat hingga memerah.

“Aahhhh nggaaaaaaakkk aaaaaahhhh” Seketika kepalanya menggeleng kencang. Entah apa yang ia rasakan.  Pacuan senjata vitalku semakin kasar & rasa sakit akibat lelehan lilin itu tak terasa. Tubuh Frieska pun mengejang sesaat & selangkangannya bergetar.

“Ahh aahhh Joeeelll aaahh nggaaaaaaakkk aaaakkkkkkhhhh” Frieska pun orgasme hebat dengan semburan yang agak kencang. Aku tetap lanjut menyetubuhinya secara brutal. Kedutan otot vagina kencang sekali membuat sodokanku sedikit sulit. Tubuhnya bergetar hebat & matanya terbelalak.

“Cukup anjing aaaahhh” Tubuhnya pun benar-benar tak bertenaga & ambruk di pelukanku. Ia orgasme lagi. Kuciumi bibirnya dengan liarnya. Frieska tetap tak mau mengalah memainkan lidahnya. Pelukan kami semakin hangat. Tak menyadari betapa banyak air liur yang meluber keluar bibir kami.

“Mmh mmhhhhhh” Aku tak bisa menahan ledakan dalam organ selangkanganku. Air maniku menyembur ke dalam dinding rahim saking derasnya. Ah aku merasa gagal memuaskan Frieska.

 

Saat asyik berciuman, ada suara hentakan dari high heels Shania. Entah apa yang ia lakukan.

“Wow, Frieska sampe orgasme 2 kali ya? Gila, gua mau ngerasain dong” Shania mencekik leherku.

“Inget janji lo semua” Kuingatkan janji mereka untuk melepas Nat & Nadila.

“Inget ya, lo baru 1 cewek yang orgasme 2 kali. Sekarang lo pilih siapa?” Shania seakan menantangku.

“Eh Shan, lupa nih, harusnya kalo sampe kita berempat gak ada yang bikin dia crot, harus digilir urutannya. Jadi, lo harus ngentot Frieska lagi” Kinal menjambak rambutku.

“Nat gimana?” Aku khawatir jika Beby semakin liar memasukan dildo ke vagina Nat.

“Ah udah kelar, Beby malah kewalahan” Shania menunjuk Beby yang terkulai lemas di atas tubuh Nat. Nadila? Ah, rupanya ia malah disiksa dengan vibrator.

“Gua minta lepasin Nadila dulu, baru Nat!”

“Gak bisa gitu dong, lo harus puasin gua, atau Shania!” Tangan Kinal menampar pipiku berulang kali.

“Shania dulu”

“Nah, lo minggir Nal!” Shania mendorong tubuh Kinal & Frieska melepas pelukan kami. Ia seperti tepar tapi masih memainkan liang kemaluannya sendiri.

Aku segera berdiri & menghampiri Shania. Payudaranya tak sebesar punya Kinal, tapi masih bisa untuk diremas.

“Maaf, gayanya gimana mbak?”

“Hahahah, gua suka gini, lo terserah aja mau gimana” Ekpresinya menjadi genit dengan jurus eyelock andalannya.

“Hm, gini aja, nungging aja, nanti pantatnya gua pegangin”

“Doggy style Joel? Kayak anjing gua dong”

“Ya, variasi sih, ah kalo kebanyakan ngomong lo ngamuk gak gua entot”

“Nah lo pinter, yuk lah” Shania memposisikan tubuhnya merangkak. Kuangkat pantatnya yang padat & bisa jadi merupakan bahan fantasi fans. Area bawah perutnya kutahan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiriku menuntun penisku menuju kemaluan Shania.

“Oookhhhh” Lenguhannya yang erotis saat sodokan lembut pertamaku menyentuh mulut rahimnya, barangkali area g-spot Shania kugesekkan. Setelah berhasil masuk semua, aku sengaja mendiamkan sejenak kemaluanku sesaat agar kedua tanganku bisa memegangi pinggangnya.

“Lo udah pernah dientot?”

“Heheheh udah lah, zonk ya gak dapet yang perawan?”

“Ah enggak kok, cuma kok masih sempit Shan” Sodokanku kumulai dengan tempo sedang.

“Mmhh mmhhh mmhhh” Shania mengerang setiap sodokanku menghujam mulut rahimnya. Gaya ini memang aku suka, bisa melihat keseksian tubuh seorang gadis idol.

 

Ah, aku memang tak bisa mengontrol tempo hujamanku karena Shania terlalu seksi. Entah berapa kali alat vitalku merangsek menghajar g-spot Shania.

“Mmhh harder please aaahhh yeah” Ia memintaku mengasari liang kewanitaannya. Pantatku refleks memacu lebih kencang agar bisa masuk lebih liar ke dalam lubang itu. Berulang kali pantatnya kutabrakkan dengan selangkanganku.

“Ah Shaaan mmhh gila sempit aaahh” Aku justru yang mendesah sekarang. Otot organ intimnya yang berkontraksi seperti memijat alat vitalku.

“Ahh mmhhhhh ookkhhh terussshhh” Kepalanya menggeleng keras seperti keenakan. Sesekali rambutnya ia kibaskan seperti saat perform di atas stage theater. Lama kelamaan, hentakan alat kelaminku semakin menggila, bahkan seperti mengaduk liang kewanitaan Shania.

“Kyaaaaaa aahhhhh sakiiiit woi jangan kasar bangsat aahhhh” Ia merancau begitu hentakan penisku hingga nyaris menembus mulut rahimnya. Antara nikmat, sakit, atau emosi melebur menjadi satu.

 

Saat menggenjot lubang kenikmatan di selangkangan Shania, tubuhku semakin merunduk & dadaku menempel di punggung Shania. Ini saatnya kesempatanku meremas buah dadanya.

“Ahhh aahhh terusss mmhhh fuck me harder baby aaahhh lo gila aaaahhhhh” Tubuhnya menggeliat menunjukkan sisi liar erotisnya.

“Masa sih? Gua masih cupu Shan”

“Ah bego, lo liar, aahhhh” Shania menggelinjang ketika lehernya kucium & kujilati sekalian. Aku menyukai aroma parfumnya di leher itu. Tangan kananku liar menyerang klitorisnya & kumainkan juga saat penisku juga kuhujamkan kasar ke segala sisi vaginanya. Inilah saatnya aku harus membantai lagi orang yang mengerjai Nat & Nadila.

“Mmhh mmhhh aaaahh gua kebelet aaahhh” Tubuhnya seketika mengejang sesaat, lalu mereda. Aku tak memedulikan kondisi Shania sekarang. Payudara Shania kuremas kuat, bahkan sampai kucakar saking gilanya. Entah aku seperti kerasukan setan saat menyetubuhinya.

“Aahh ahh ahhh bangsat sakit aahhhh kontol mmhhh iyaah kontolnya lo masukin setan” Shania merasa seperti melayang akibat pergumulan yang seharusnya tak kulakukan.

“Eh lonte, memek lo enak aaahhh” Aku tak bisa menggambarkan kenikmatan dalam penyiksaan ini terhadap Shania. Oh iya, aku seharusnya menjadi budak Shania, kenapa aku yang mendominasi? Ah persetan.

 

Entah mengapa ujung & batangan alat vitalku menjadi mati rasa. Kupikir liang kewanitaan Shania semakin licin karena menghasilkan pelicin. Kedutan ototnya menekan batangan yang kumasukkan secara kasar.

“Mmhh entot gua terus aahhh ahhh ahahh aahhh bangsat mmhh” Tangannya mencengkram kuat tanganku saat bertumpu. Kuserang leher kanannya sambil menggigitinya.

“Ssshhh aaaaahhh hampir sampe, yang keras bangsat” Racauannya seperti orang kerasukan setan. Hentakan selangkanganku menabrak segala sisi dinding vaginanya. Shania menjepit kuat batang kemaluanku.

“Mmhh Shaaan gilaa aahhhh mantap lonte aaahh” Berulang kali kugigit lehernya & telinganya kugigit juga. Nafasnya semakin kacau. Tubuhnya seperti bergetar sesaat.

“Mmhh aaahh ahhh stop anjing, gua aaaaahhhh” Shania mencapai orgasmenya. Kedutan vaginanya terasa kencang sekali. Aku tak menghentikan sodokanku, semakin liar.

“Ahh ahhh brengsek lo Joel! Mau bikin gua mati apa?” Shania kesal & lelah akibat orgasmenya.

“Kalo iya kenapa njing? Udah lo naik ke ranjang Nadila, cipokan sana!” Aku berhasil merebut cambuknya & kucambuk punggungnya.

“Eh bangsat, lo budak gua!”

“Bacot lo Shan, dah sana cium Nadila!” Kuseret tubuhnya hingga ia tersungkur. Shania kugendong ke kasur di mana Beby menyiapkan penis mainannya menyodok vagina Nadila. Shania dengan liarnya menciumi bibir Nadila dengan posisi tubuhnya miring ke kanan.

“Mhhh mmhhh mmmhhh” Rupanya Nadila tak mau kalah dengan Shania. Aku masih mengocok penis terlebih dahulu untuk pemanasan selanjutnya. Sesekali tanganku meremas kedua buah dada kedua gadis yang sedang berciuman itu.

“Mmhhh mhhhhh” Nadila semakin liar. Ekspresinya berubah menjadi kesakitan sejak Beby menghentakkan dildo itu ke dalam kemaluan Nadila.

Kaki kiri Shania kuangkat tinggi. Mulut organ intim itu kupaksa membuka lebar. Torpedo manusia ini bersiap melesat ke dalam.

“Mmhh mmhhh” Erangannya tertahan bibir Nadila. Tangan gadis kidal itu menjambak rambut Shania. Aku tak tanggung-tanggung, hujamanku kulancarkan ke berbagai sisi. Ada kenikmatan tersendiri menyetubuhi gadis itu dengan pose miring.

“Uuhhhh uuhhhh uuhhhhh mmmmhhhh” Air liurnya menetes ke dada Nadila saking beringasnya. Kaki kanannya kusandarkan di pundakku karena capek memegangi kakinya terus. Tanganku liar meremas dadanya yang sedikit menggantung.

“Ahhh aaahh aahhhhh mmhh teruuusss” Mulut Shania belepotan liur. Tangan kirinya mengocok daging kecil di dekat liangnya itu. Hangatnya liang senggama Shania menjadi betah untuk mengasarinya.

“Aahhh kontol lo enak aaahhh mmhhhh” Desahan kacaunya timbul setelah kugempur area sensitif yang disebut g-spot itu. Tubuhnya basah akibat keringatnya sendiri. Shania juga bergoyang tak jelas akibat hentakan Beby dengan penis mainannya menghujam vagina Nadila.

“Mmhh aahhh aahh ahhh ssshhhh” Nadila menggigit bibirnya sendiri melihat persetubuhan kami & terkena hentakan dildo Beby. Shania pun juga menggigit bibirnya sendiri.

 

Tubuhku semakin kencang menghentakkan alat tempurku di dalam goa suci Shania. Ranjang tempat kami bertempur pun bergoyang juga. Sedangkan Nadila mulai merancau tak jelas. Ia mengejang saat sodokan sex toy yang digunakan Beby semakin kasar.

“Mmhh mmhh Bebb aaaaaahhh aku sampeeeee” Nadila menggelinjang & mencapai orgasmenya. Tidak ada rasa penyesalan diperkosa teman sesama jenisnya. Ia pun ditarik Beby minggir dari area tempur. Kami pun bisa melakukan variasi sodokan.

“Aahh ahhh ahhh anjing enak banget aahhh” Shania mengerang seperti meresapi kenikmatan ini. Tangannya melemas & kuangkat hingga ketiak putihnya terlihat jelas dengan garis halus lipatannya.

“Engggggg” Ia mulai terbawa nafsunya sendiri. Kesadarannya kacau & dapat kugunakan kesempatanku untuk menghajar isi dalam liang surgawi itu. Tubuhku refleks merunduk ke bawah & menikmati sisi tubuhnya dengan tanganku, termasuk payudara & ketiaknya.

“Mmhh aaahh iyaaah mmmhhh mmhhhhh” Shania kembali menggelinjang ketika tanganku menjamah ketiaknya. Ah, penisku semakin tegak di dalam & semakin membara pergumulan kami.

 

Sodokanku entah mengapa menjadi melambat. Selangkanganku mati rasa. Kulihat Shania masih menikmati pertarungan antar alat vital.

“Mmhh yang keras dong aaahhh aahhh ahhhh” Shania merem melek akibat hentakan itu tubuhku. Tanganku berulang kali menampar pantatnya.

“Aaww aww aahhh mmhhh entot terus sssshhh” Shania kini seperti orang mabuk. Rancauannya kacau sekali. Entah tubuhku seperti kaku, tak bisa kuhentakkan.

“Mmhh please lanjut dong, mmhhhh” Shania mulai merasakan genjotanku kurang mantap. Aku berusaha menghentakkan selangkanganku agar alat vitalku bisa kumasukkan secara kasar. Ternyata benar saja, aku harus mengistirahatkan tubuhku. Tubuhnya kutarik agar ia terlentang. Aku bisa menindih tubuhnya.

“Woi brengsek lanjut ngentotnya! Nanggung banget mau keluar lo malah berhenti” Shania menjambak rambutku & mencakar lenganku. Ia emosi berat.

“Woi bangsat lanjut entot gua anjing!” Ia malah menamparku kuat. Pipiku semakin perih. Emosiku mulai memuncak.

“Bacot lo jalang!” Entah aku punya kekuatan dari mana, tubuhku bisa kembali kugerakkan. Penisku kuhentakkan secara brutal ke mulut rahimnya.

“Ahhh ahhhhh bangsat lo kasar amat aaahhh ahhh ahhh anjing aahhh” Nafasnya semakin kacau. Desahannya kurang nikmat, padahal hentakan kemaluanku semakin kasar, bahkan seperti menumbuk padi di lesung. Entah berapa kali ujungnya hampir masuk rahimnya.

“Woi lonte, kurang enak desahnya!” Kucekik kuat lehernya hingga wajahnya memerah.

“Nngghh aaaahhh woi lo budak gua, ngapain nyuruh?” Shania semakin memberontak. Tangannya seperti menuju selangkangannya seperti kesakitan.

“Ayo desah lonte!” Hujaman alat vitalku semakin kasar & berulang kali menggempur g-spot Shania yang super sensitif itu.

“Aahh ahhhh fuck me harder ooohhhhhh aakkhhhh” Kepalanya mendongak & memperlihatkan lehernya yang jenjang. Lehernya kugigit kasar saking nikmatnya pijatan otot liang vaginanya yang berkedut.

“Ooohhhh aaaaaaaahhhh Joooeeell aaaahhh terusssss mmhh mmhhh aaahhh noooo” Desahannya semakin liar & tangannya memukul punggungku. Kakinya refleks menekan pantatku.

 

Seluruh organ reproduksiku mulai memanas, kemudian mati rasa saking kasarnya menggempur organ kewanitaan Shania. Entah berapa kali anuku seperti memompa sesuatu, tapi tak bisa kutahan lagi.

“Eerrrrhhhhhh” Tubuhku kini menggeliat gila & tak bisa mengontrol sodokanku. Sesaat Shania mengalami kejang & pantatnya terangkat sedikit.

“Kyaaaaaa aaahh stop gua kebeleeeettt” Akhirnya Shania mengalami orgasme kedua. Aku tak menghentikan sodokanku saat ototnya berkontraksi menjepit batang penakluk wanita.

“Mmhhhhhhhh” Selangkanganku maju hingga mendesak organ intimnya. Ah shit! Beberapa saat kemudian aku orgasme menyemburkan 8 tembakan spermaku, entah sampai rahim atau tidak.

“Aaahhhh” Tubuhku melemas setelah menumpahkan bibit generasi penerusku. Shania memelukku erat setelah itu.

“Lo pejuin di dalem kan?”

“Maaf Shan, kelepasan”

“Bego lo! Kalo sampe bunting gimana? Hah?” Enak-enak dipeluk, kini Shania malah menamparku.

“Budak gak bakal ngelakuin atau ngejauhin sesuatu yang gak disuruh atau dilarang tuannya. Lo gak ngasih tau gua gak boleh crot di dalem” Kubalas dengan tamparan lagi di wajahnya.

“Wah wah, kok KDRT gini?” Beby mendatangi kami setelah puas menggempur Nadila.

“Eh kampret, ada peju” Kinal menunjuk sesuatu yang meluber di selangkangan Shania. Kucabut kemaluanku & benar saja cairan berisi benih masa depanku meluber di bibir liang itu.

“Oke, lo harus maen sama Nat abis ini” Kinal menarik tubuhku.

“Eh Nal, gua belum maen” Beby menduduki selangkanganku & memegangi batang kesukaan wanita.

“Ah serah lo dah” Aku bernafas lega saat Kinal menjauhi kami. Ia justru mengerjai Nat.

Lama kelamaan, wajah Beby pun mendekati wajahku dengan tatapan seperti meminta sesuatu. Aku harus sadar diri kalau kami sudah tak ada hubungan apapun lagi.

“Sayang, maafin aku ya, selama ini aku nyesel mutusin kamu” Beby seperti merayuku.

“Terus? Mau lo apa? Gimana gak sakit hati kalo lo yang putusin gua?” Tubuh kami berguling sehingga Beby kini di bawah.

“Gak suka ya? Satu sisi, aku gak mau sayangmu dibagi orang banyak, tapi di sisi lain kamu yang rebut keperawananku di kosanku” Beby tak mau kalah & mendorongku. Kami pun berguling lagi hingga kini aku yang si bawah gadis bertubuh kurus itu.

“Hmm, jujur aja aku susah lupain kamu, apalagi mereka setuju kalo kita pacaran. Tapi…” Entah mengapa baru kali ini aku agak mellow di depan gadis brutal seperti mereka berempat.

“Balikan yuk kak”

“Tapi…” Belum selesai bicara, bibirnya sudah memagut bibirku. Kami pun memejamkan mata. Entah mengapa memoriku kembali berputar mundur saat berada di kosan Beby kala itu. Lidahku sedikit kaku, mengapa aku merasakan feel yang berbeda? Pikiranku buyar lagi ketika lidah Beby menari erotis memainkan lidahku. Ia justru mengusap rambutku.

“Mmhh mhhhhh” Desahannya tertahan mulutku. Liurnya mulai mengalir pelan menyusup tiap sela-sela gigiku. Sedikit manis rasanya. Desir nafasnya seperti lama tak merasakan genjotanku. Lidahku kupaksa untuk memainkan lidahnya. Ciuman kami berakhir dengan gigitan kecilnya di bibirku.

 

Beby terlentang di samping kiriku dengan tatapan nafsunya, lalu ia membuka pahanya lebar sambil mencolokkan jarinya ke dalam jalan lahir untuk bayi itu.

“Beb, jangan pake jari, sakit” Kutarik tangannya menjauhi selangkangannya.

“Terus pake apa kak? Jujur aja aku gak tahan begituan”

“Kan bisa sama staf Beb”

“Hmm aku gini-gini bukan cewek murahan kak, aku nyesel ninggalin kakak” Tangannya mengurut pelan batang yang mengacung di depannya. Aku hanya tersenyum saat Beby mengocokku. Kaki kanannya kuangkat & telapaknya kutempelkan pada dadaku, sedangkan kaki kirinya kulebarkan.

“Kamu pasti kangen punya kakak” Kuarahkan benda mirip rem becak itu ke sela-sela goa sucinya.

“Mmmhhh” Beby mulai mendesah keenakan saat alat vitalku kembali menyusup ke kemaluan mantanku. Sodokanku kumulai dengan tempo lambat. Rupanya masih sempit lubangnya. Kutarik pelan penisku, lalu kuhentakkan kuat liang surgawi itu.

“Ahhh ahhh kakak nakal aahhh” Beby merancau seperti orang mabuk. Ia memang seperti itu, nakal & menggugah nafsu. Memoriku tentang Beby yang menjadi salah satu sorotan saat dance yang seksi pun terekam jelas.

 

Sebenarnya alat tempurku melemas setelah menembakkan amunisi kentalnya di dalam lubang kenikmatan Shania. Karena demi Beby, aku harus bersenggama lagi. Tempoku kutambah hingga tubuhnya mulai tersentak.

“Ahh ahhh kaaaakk mmmhhh kaaaakk” Nafasnya mulai tak teratur.

“Kamu enak banget Beb aaahh sempit kayak masih virgin oohhh” Aku menjadi blingsatan memasukkan kemaluanku. Tangannya memegangi wajahku sambil menghembuskan nafas beratnya. Spertinya ia melepas beban kerinduan & rasa bersalahnya. Sedangkan tanganku menjamah gundukan daging kecil di dadanya. Memang kecil payudaranya, tapi cukup untuk menonjol.

“Ahhhh ahhhh remas dong kaaak aaaahhh kaaak fuck meeeehh” Desahannya semakin liar menambah semangat untuk menggempur vaginanya. Beby dengan liarnya meremas rambutku. Barangkali ia haus belaian & goyangan dari seorang pria. Tanganku bertumpu pada ranjang pun menjadi pelampiasan remasan tangan Beby. Tubuhnya bergoyang, begitu pula dengan putingnya juga bergoyang cepat akibat sodokanku.

“Ngghhhhhhh nnghhhhhhhh aahh kaaaaakkkhh terussssshh ” Bibir indahnya ia gigit sendiri tanda ia keenakan. Seketika kepalanya menggeleng, mungkin ia sudah merasa melayang. Ia sangat menikmati hubungan intim ini. Otot vaginanya sedikit berkontraksi sehingga menjadi lebih sempit.

“Aahhh Beeeb jepiiiit aaahhh gilaa memekmu sempit” Hentakanku semakin kasar. G-spot Beby menjadi korban. Tangannya memainkan klitorisnya sendiri.

“Oohh yessh aaahhhh kaaaaaak enaaaaakk oohhh ohhh oohh terus anjing aaahh” Dadanya mengembang & mengempis secara cepat. Ujung buah dadanya mengeras.

 

Batangku semakin liar menggesek dinding liang surgawi para pria itu. Paha kanannya mulai menggesek-gesek tak jelas.

“Aahh ahhh kaaak geli aaahhhh nggaaaaaaaakk” Beby menggelinjang berat. Tangannya ia rebahkan, lalu ia angkat ke samping kepala. Siapa yang tidak terpana dengan ketiak Beby. Entah mengapa aku terperangkap dalam jebakan kemolekan tubuhnya. Kuingin mencium aroma lehernya saat bercinta. Beby kuat mendorong tubuhku dengan kaki kanannya.

“Ih kok main cium mulu sih heheheh” Senyumannya memang menggodaku. Ah, alat kelaminku semakin memberontak saat otot organ intimnya berkontraksi. Ia memang gadis yang biasa saja tapi bisa liar di ranjang.

“Ah, masa sih gak pernah beginian sama cowok lain?” Hentakanku kasar mengagetkan Beby saat menikmatinya.

“Mhhh mmhhhh enggak aahhhh sakit tau” Pori-pori kulitnya muncul butiran keringat kecil. Ia mengerang terus ketika hentakanku mengasari mulut rahimnya. Aku tak memedulikan keluhan sakitnya. Dari posisi ini, aku bisa melihat kemolekan tubuhnya meski payudaranya tak besar. Dadanya kuremas kuat & meninggalkan bercak merah.

“Mmhh kaaak kok dadaku diremas kasar sih aaahhhhh” Beby protes tak terima dadanya kuremas.

“Hmm biar gede Beb, aahhh gila jepit terus” Batang selangkanganku semakin susah kuhentakkan lantaran Beby seperti melakukan senam kegel. Ia justru tertawa tahu aku kewalahan. Aku bukan tipe orang yang menyerah dalam urusan ranjang. Kubalas dengan memainkan kasar daging kecil yang sensitif bagi tiap wanita, termasuk Beby.

“Kaaaakk aaahhhh geli tau mmmhhhh” Tangannya berusaha menarik tangan kananku memainkan organ kecil itu.

 

Hentakanku sering menghajar g-spot Beby. Pantas saja beberapa saat kemudian, tubuhnya memberontak. Kaki kirinya mengunci pahaku. Beberapa saat kemudian, tubuhku di luar kendali memacu kecepatan hujamanku. Kedua organ intim kami terasa panas.

“Ahh ahhh aahhh harder please mmhhhhh” Pinggulnya ia angkat sedikit. Hal itu mempermudah melakukan kopulasi lebih kasar. Tangannya menyusuri pantatku & mendorongnya lebih cepat seakan membantu sodokan. Beby sesaat mengalami getaran pada tubuhnya.

“Ahhh aahhh kaaaaakkk aaaaaakkk kaaaaaaakkk aku aahhhh” Bicaranya kacau sekali & tiba-tiba vaginanya menjadi hangat & berkontraksi & relaksasi bergantian. Aliran semburan airnya terasa hangat mengenai selangkangan kami. Kepalanya menggeleng terus menerus seakan tak percaya ia mencapai puncaknya. Dada kami akhirnya menempel.

“Mmhhh mmhhhhh mmmmhhhhhh” Beby menggigit bibirku & menghembuskan nafasnya yang tak teratur. Air matanya mengalir di sudut terluar kedua matanya.

“Beby…”

“Kak, kakak mau kita balikan?” Ia berbisik pelan dengan hembusan nafas beratnya.

“Tapi…”

“Mereka pasti bolehin kakak balikan sama aku lagi”

“Hmm, okelah, udah Beb gak usah nangis lagi. Yuk lanjut” Kutinggalkan sejenak tubuhnya. Shania & Frieska teler berat dengan posisi 69. Kinal memainkan vibrator dengan kecepatan getar maksimal. Nat & Nadila naik turun memainkan dildo berduri silikon. Kembali ke ranjang, Beby tersenyum manja melihat penisku yang masih tegak. Aku membayangkan tubuh bugilnya menari saat perform sub unit dance, tapi ah sudahlah, nanti malah tambah kacau. Tenagaku pulih kembali. Nafas Beby kembali normal.

Kuletakkan bantal di tengah ranjang, lalu kugendong Beby dengan posisi tengkurap. Posisi pantatnya yang kencang itu sedikit menungging.

“Kaaaak, lagi dong”

“Ah kamu ini gak sabaran” Kudekap dari belakang gadis itu sambil meremas dadanya yang tergencet ranjangnya. Batang kemaluanku kuarahkan ke liang senggamanya.

“Aaahhhh perih kaaaak” Beby mengerang kesakitan, padahal barusan sudah kupakai. Ah, ia seperti gadis yang masih belum dinodai. Kakiku kuposisikan merangkak untuk mempermudah manuver. Hentakan liarku mulai kulancarkan.

“Ssshhhh kaaaak sakiiiit kyaaaaaaaahhh” Beby menangis lagi. Entah mengapa ia merasakan seperti nyeri. Ah, aku tak peduli. Ia sengaja seperti itu, entah menggodaku atau apalah itu. Wajahku kubenamkan di lehernya. Aroma parfumnya masih ada meski tubuhnya bercampur keringat.

“Ahh Beby, mantap aaahh” Aku tak konsentrasi pada kecepatan hujamanku sendiri, kadang melambat, kadang cepat.

“Kaaaak perih…”

“Ah, gini aja kok perih sih?” Telinganya kemudian kujilat kasar. Nafasnya kembali berat & bibirnya seperti orang menggigil.

“Nhhhhhh kakaaaaaakk yang dalem dong aaaahhh” Sperinya ia remas kuat seperti menahan sesuatu. Begitu pula dengan buah dadanya yang kuremas kuat. Putingnya mengeras & bisa menekan ranjang. Detak jantungnya menjadi cepat.

 

Kuhentikan sejenak pertempuran kami. Aku merasa durasiku untuk ejakulasi semakin cepat. Pantat Beby kuangkat tinggi hingga bertumpu lututnya, sedangkan dadanya melengkung & sebagian masih menempel ranjang. Pantstnua kupegangi sambil kuhentakkan ke selangkanganku.

“Ssssssshhhhhh kaaaaak ampun kaaaaaaaakk ookkkkhhhhhhhh” Erangannya keras sekali, sekeras hentakan pantat & selangkanganku. Lumayan seksi tubuhnya dari belakang. Anuku semakin memberontak & bergoyang liar di dalam lubang yang disukai pria. Aku pun tak tahu sampai sekarang mengapa aku suka dengan pose liar seperti ini. Lubang anusnya putih bersih menggodaku untuk kumasuki. Jari tengah kiriku kumasukkan dalam anusnya.

“Aaaaaarrrrhhh kaaaakk jangan masukin” Beby menolak anusnya kumasukkan jariku, tapi pantatnya semakin menungging seperti ketagihan. Vaginanya kuaduk dengan penisku sampai menghujam g-spot, sedangkan anusnya kuaduk dengan jari. Kepalanya mendongak, lalu ia benamkan di bantal satunya.

“Kaaaak perih kaaaaakk” Berulang kali Beby mengerang kesakitan di area selangkangannya. Rasanya nikmat menyiksa area intim Beby. Ah, saking nikmatnya, aku tak bisa menahan rasa di ujung alat tempur ini.

“Beeb Beby aaaahhh gilaaaa” Hentakanku semakin kencang begitu ototnya berkontraksi. Sensasi pijatannya memang dahsyat. Beby tak mau kalah dengan permainan ini. Dengan cara jepitan itu ia mengimbangiku.

 

Kenikmatan surgawi bersama Beby sangat memuaskan, bahkan heboh karena gaya atraktif. Tapi, aku tak dapat menahan rasa ledakan saat menyetubuhi Beby. Pantatnya kugoyangkan juga berulang kali.

“Ngghhhhh gaaaaaaakkkkk aaaaaaaaaa pusiing kaaaak” Beby memegangi sandaran ranjang saking kuatnya hentakanku. Sodokanku mulai kuperlambat. Tubuhnya kuputar paksa tanpa mencabut alat vital. Kakinya kutekan kuat & kuposisikan seperti huruf V hingga hampir menyentuh ranjang.

“Ayo dong kak, aku gak tahaaaan” Pantatku ia tekan pelan, tentu saja batang kesukaan wanita milikku masuk lebih dalam. Tubuhku tertahan kakinya & hanya bisa meremas organ penghasil susu itu. Semakin liar sodokanku, Beby tak karuan desahannya. Tapi, kenapa aku yang merasakan getaran dalam tubuhku?

“Mmhh Beeebyyy kakak hampir sampeee” Rasa geli kelaminku memang alamiah karena banyak saraf. Kupaksa menghentakkan tubuhnya hingga hentakan kedua organ intim kami terdengar seperti becek.

“Iyaah kaaak keluarin kaaaaaakk, dalam aja kaaaakk” Pantatku semakin mati rasa, untunglah Beby membantu sodokanku. Kemaluanku berkedut kencang 2 kali seperti memompa keluar.

“Bebyyy aaahhhhhhhhhhh” Hentakanku semakin kasar saat kedutan terakhir. Nyeri sekali rasanya. Dan akhirnya, aku menumpahkan bibit masa depanku deras di dalam rahimnya semburan pertama, disusul dengan 6 semburan agak lemah di dalamnya.

“Kaaaaaaaaaaaakkkkkk” Beby mencakar pantatku. Ia pun mencapai puncaknya juga. Kedua kakinya ia turunkan & tubuhku jatuh ke pelukan gadis yang baru saja mengajakku balikan. Tangannya mengarahkan kepalaku mendekati wajahnya.

“Kakak puas?” Beby mengajakku berbicara kembali meski ia kesulitan bernafas.

“Iya, kakak suka permainan denganmu. Maafin kakak crot di dalam” Tanganku mengacak rambut pendeknya, lalu bibirnya kugigit pelan.

“Gapapa kak, aku gak subur nggkkkhhhh” Hembusan nafas Beby seakan membelaiku & terdapat pesan jika ia puas. Kucabut pelan batangku, tapi kenapa ada bercak merah muda meluber dari lubang Beby? Barangkali Beby mengeluhkan sakit karena itu.

 

Beby mengizinkanku meninggalkannya & kini tinggal 1 gadis yang menjadikanku budak seks, yaitu Kinal. Ia yang sedang terkapar tersenyum melihatku tak mengenakan apapun.

“Wah, lo masih kuat?”

“Mau tepar, tapi biar Nat & Nadila bisa lepas, gua paksain”

“Wih so sweet budak gua”

“No, that’s so shit to you!”

“Eh jangan ngegas kali, ngentot aja yuk” Kinal menarik paksa burung tak bersayap ini.

“Gini, kita si jendela, lo yang ngangkang di jendela, tangan lo kalungin ke leher, gua bersandar di jendela” Permintaanku memang gaya atraktif.

“Eh bangsat, entar muka gua keliatan gimana tong?”

“Salah lo sendiri Nal, dah buruan, lo udah gak ketolong sampe maen vibrator” Dengan susah payah, kugendong tubuh gadis kekar itu ke jendela, lalu kubiarkan kakinya menumpu jendela & tangannya memeluk bawah leherku bagian belakang. Kinal seperti berjongkok.

“Nah, lo diem aja, biar gua yang maen” Batang kelaminku kuarahkan ke liang senggamanya yang berbulu agak lebat. Kugesekkan di klitorisnya terlebih dahulu.

“Sssshhhh gila, lo tau kelemahan orang aja Joel” Pantatnya ikut bergerak menyusuri batanganku.

“Lo sama cowok lo namanya siapa itu, pernah gini Nal?” Kucoba mengarahkan titit yang susah kupegang.

“Bram maksud lo? Dulu sering, tapi begitu sering garap event, gua jarang digarap, lo kok tau sih?”

“Dah, gua yang tau, tanya mulu, gua gak jadi ngentot nih”

“Heheheh yuk lah” Sinar senja menimpa tubuh sintal gadis itu. Aku baru sadar jika aku memuaskan ketiga gadis itu memakan waktu lama.

 

Kuarahkan alat vitalku ke dalam liang surgawi Kinal. Pantatnya kudorong pelan agar bisa masuk semua.

“Aahhhhh pantes Nat betah” Baru sekali sodokan, Kinal mulai merancau seperti orang mabuk. Aku sengaja memeluk pinggulnya agar ia terbiasa dengan senjata berpeluru cairan kental ini.

“Nal, sempit banget”

Titit lo enak aaaaahhh” Kinal menjadi kesetanan memberontak ingin menggerakan tubuhnya. Untung saja aku mengerti maksudnya & kulanjutkan senggama kami. Hentakan tubuhku kuarahkan ke atas. Agak susah menembus g-spot lantaran ia seperti menjepit. Sodokanku kupaksa kasar & kubantu menekan pantatnya.

“Kyaaaaaaa aaahhhh ngggggg ngggg ssshhh” Tampaknya ia merasa perih. Tak peduli seberapa sakitnya lubangnya yang kugenjot kasar. Kuremas kasar payudaranya yang agak menggantung itu. Tak besar ukurannya, tapi lumayan greget untuk kuremas.

“Mmhh iyaaa gituuu aahh ahhh sodok yang keras anjing” Gadis mantan kapten J & K3 itu merasa seperti melayang. Hentakanku juga menyebabkan anuku perih.

“Naaaaall” Tubuhku menggelinjang saat memanggil namanya & melihat tubuhnya yang tanpa mengenakan penutup apapun. Poninya berantakan sekali & lepek akibat keringat. Desahannya erotis membakar semangat bercintanya.

 

Tanganku memegangi ketiak Kinal agar mendapat topangan saat pergumulan.

“Eh lo genjot yang bener tai!” Leherku ia cakar.

“Lo gak liat gua genjot apa perek?” Hentakanku semakin beringas. Perih sekali ujung batanganku. G-spot Kinal yang agak misterius itu berhasil kueksplor secara brutal.

“Mmhhhh terus bangke aaaaahhh gila bangsat sssshhh gila lo, cowok gua kalah gila gini aahhh” Tak perlu alkohol, sodokanku membuatnya mabuk berat. Akal sehatnya mati akibat hujaman gilaku. Aku tak peduli status kami. Aku punya pacar sendiri, Kinal pun juga. Anehnya, hubungannya menjadi perbincangan staf & itu pun tak diapa-apakan.

“Aahh ahhh ahhh yang dalem goblok” Rancauan Kinal pun semakin kacau. Tangan kananku memelintir puting susu kirinya. Gundukan dadanya memang menggodaku, meski punya Nat yang jauh lebih besar pun aku selalu tergoda. Vaginanya mulai becek.

“Aaaaaarrrrhhh buset dah lo kasar banget aahhh” Kakinya semakin terbuka lebar. Ia ingin kuhujam kasar terus.

“Naaal toket lo gemesin”

“Yaudah lo remas dah, toket gua sakit gak pake apa-apa” Hembusan desahannya mengalir deras. Tubuhnya ikut bergoyang akibat sodokanku.

“Aaarrrrrrrggghhhhh” Kinal tak mau kalah, ia ikut bergerak menggoyangkan pinggulnya. Kami pun saling hentak selangkangan satu sama lain. Gadis tomboy itu ingin mendominasi hubungan yang seharusnya dilakukan suami & istri.

“Naaaaal periiiihhhh” Ujung anuku sakit sekali. Berapa kali punyaku ia tabrakkan dengan mulut rahim.

“Mampus! Ah yang keras brengsek!” Kinal dengan galaknya memaksaku memacu lebih keras. Pahaku & pantatnya berbenturan menimbulkan bunyi seperti tamparan.

“Aaahh ahhh ahhhh ahhhh mentok anjing aaaaahh kampret lo, periiihhh” Wajahnya memerah & mulai bercucuran keringat membanjiri tanganku dari ketiaknya.

 

Tubuh Kinal memang berat sekali, sehingga hentakannya membuat penisku semakin perih. Ditambah lagi dengan jepitan otot vaginanya. Hampir meledak rasanya.

“Naaaaaaaalll aaaaarrrrrhh bangsat lo” Cengkeramanku pada ketiaknya semakin kuat. Ia nampak kegelian.

“Joeeeell aaahhhh harder please ssshhh” Tubuhnya semakin menggeliat. Tumpuan tangannya mulai melemah hingga hampir terjatuh. Untung saja ia tak terjatuh karena tanganku memegangi ketiaknya.

“Aahh ahhh terus, aaaaah ahhh ahhh gua hampiiiirrr aaaaaaahhhhh” Rambutnya semakin berantakan lantaran kepalanya sering tertunduk, terkadang menggeleng melihat selangkangan kami. Giginya seperti orang menggigil. Puting susunya semakin mengeras. Entah kenapa lagi Kinal.

“Aahh yang cepeeet sssshhh aarrrrrrghhh” Tubuh kami pun oleng ke lantai. Aku kini di atas tubuhnya dengan posisi pantatku dikunci. Semakin ditekan dalam-dalam pantatku.

“Mmmhhhh gua mau sampeee aaaahhh shit yeesss aaaaaaahh” Pantatnya ia naikkan & seketika cairan hangatnya menyembur pahaku. Tapi tubuhku tak bisa kuhentikan & justru semakin liar hentakanku. Setelah itu, bibir kami saling bergesekan & kukecup berulang kali bibirnya.

“Mmhhh lo belum keluar?”

“Belom, kalo gua keluar duluan lo nya kecewa” Kuhisap ujung dadanya yang mengeras & bercampur keringatnya. Semakin seksi tubuhnya.

“Mending lo keluarin sekarang aja deh, lo tuh budak, harusnya dengerin gua”

“Ah bego, gua belum puas” Kucabut kasar penisku & rebahan sebentar di sebelah. Sejak kapan ada cambuk menganggur di dekat kepalaku pun tak tahu. Batang kemaluanku memerah & sedikit bengkak rupanya. Tapi sejak pertempuran kami, aku malah merasa kegelian sesaat.

Kulempar cambuk itu di bawah jendela. Tanganku mencubit payudara Kinal yang agak besar & padat itu.

“Mmmhh mmmhhh geli tau ngentot” Tanganku ditepis gadis yang ceritanya pernah melakukan hubungan sesama jenis dengan Ve. Tubuhnya kuseret, lalu kuangkat ke jendela yang kubuka lebar.

“Eh lo ngapain sih?”

“Dah ah, kita doggy di sini, kepala lo & toket lo harus di luar” Kudorong tubuhnya hingga perutnya bertumpu pada bingkai jendela.

“Bangsat lo, eh gua ini idol, bisa hancur gara-gara beginian”

“Bodo amat, lagian gak keliatan tuh” Kutunjuk jalanan yang agak lengang & mobil pun melaju, jadi kupikir siapa yang mau melihat kami.

“Jangan bego woi setan”

Tak pikir panjang, kucambuk pantat & punggungnya berulang kali.

“Aaaaakk!” Kinal mengerang kesakitan akibat cambukanku. Garis-garis merah memanjang dari pundak hingga pantatnya.

“Eh anjing, lo mau bikin karir gua ancur?” Kinal sedikit berteriak karena anginnya mengacaukan suaranya.

“Bego, sekarang teriak lalo lo lonte & memek lo bisa dipake siapa aja” Rambut pendeknya kujambak kuat.

“Bangsat! Gua lacur, memek gua bisa dipake siapa aja!” Ia berteriak kencang menghadap ke jalan besar di depan apartemennya. Aku puas kini berhasil mulai menaklukan Kinal.

 

Alat vitalku kumasukkan secara brutal. Hembusan angin kencang dari jendela yang kubuka lebar membelai tubuh kami. Hentakanku kulakukan berulang kali.

“Aaahhh ahhh gila lo ssssssshhhhh” Baru mulai lanjutan permainan, Kinal sudah menggelinjang. Goyangan pantatku semakin kacau begitu melihat lekukan tubuh seksinya. Tangannya ia arahkan ke belakang & memegangi tanganku seperti menumpu.

“Oohhhhhh nnhhhhh rrrrhhhhh terus anjing aaaahhh” Pantatnya semakin menungging tajam & rasanya vaginanya agak melebar. Penisku bisa leluasa masuk dengan mudah. Kenikmatan apalagi darinya, pantat kencangnya menjadi penisku semakin mengeras di dalam vaginanya. Hentakan pantatnya & selangkanganku semakin keras. Lubangnya semakin becek.

“Naaaaaaaall aaahhh” Sodokanku tak teratur lagi. Kecepatannya tak bisa kukendalikan.

“Aaaaaahhhh kyaaaaaaahhhh” Desahannya menandakan kepuasan permainan kami, tapi kami belum mencapai puncak kenikmatan itu. Ia kini tak memikirkan lagi tubuhnya bagian dada terekspos ke luar jendela. Belum lagi aku pun terlihat dari luar juga.

 

Tubuh montok Kinal terhentak ke luar akibat pergumulanku. Tanganku beralih menekan payudaranya seperti menahan tubuhnya agar tidak keluar.

“Ooh shit ooohhhh mmhhhhh” Tubuhnya menggeliat lagi seakan ia menari striptis di depan umum. Tak peduli apakah kami direkam orang, yang penting aku masih menikmatinya dulu. Harus melayani tuan putri yang menjadikanku budaknya. Organ intimnya tak henti-hentinya kuserang brutal.

“Ahh ahhh ahhh kasar banget anjing” Kepalanya mendongak seperti meresapi nafsunya. Kurasakan nafasnya berat itu dari dadanya. Erangannya semakin menjadi ketika area g-spot di dalam liangnya kugesekkan pelan, lalu cepat. Kuku-kukunya menancap di bahuku, entah apa yang ia rasakan.

“Ooh Naaal” Aku menjadi melenguh karena jepitan otot kewanitaannya.

“Ooohhh yes aaaaaahh harder please” Nafasnya yang tak teratur mengacaukan desahannya. Memang beda bercinta dengan gadis yang ototnya kuat itu, bahkan aku kewalahan mengimbanginya saat jepitan organ intimnya semakin kuat.

“Mmmhhhhhh sakit woi aaaaaaaarrrrrrrrhhhh” Ya, Kinal pun kugempur mulut rahimnya & seperti mengocok seluruh tubuhnya.

 

Nafasku semakin kacau juga, entah berapa banyak energiku terkuras untuk menyetubuhi Kinal. Kuakui nafsunya besar sekali, semakin liar jika ia tak sering dilayani pacarnya. Perangkapnya yang bernama birahi itu semakin melilitku. Nat kunilai juga liar, tapi tak pernah kulakukan di jendela yang kubuka seperti ini. Tapi, pengalamanku yang paling gila adalah quickie dengan Nadila di parkiran Fx Sudirman setelah perayaan ulang tahunnya di theater & dengan Nat di Summarecon Mall Serpong kala dirrect selling HP Cina elit itu.

“Oohh oohhh ohhh oohhh Jooeeelll aaaahhhhh gilaaaa” Ia merancau seperti orang ketagihan vodka. Entah mengapa aku menjadi tak bisa menahan sesuatu. Jepitan vaginanya semakin menjadi, tubuhnya semakin basah & bergetar. Ah tidak, aku tak seharusnya orgasme bersama pacar orang.

“Aahhh ahhh ahhh Naaaaaall”

“Joooeeel tunggu doong aaaaaaarrrrr” Tubuh kami sama-sama mengejang. Aku semakin kesetanan menghujamkan kemaluanku. Pantatnya semakin menungging & memudahkanku mengaduk kasar organ kewanitaannya.

“Mmmhhh Naaaaaaaaaaaaalllll” Tubuhku refleks menghentakkan lebih dalam & penisku berkedut kencang 2 kali seperti memompa. Ah shit! Cairan berisi benih calon keturunanku tumpah juga di organ senggama Kinal, lebih dalam lagi. Satu sisi, aku tak mau menghamili pacar orang, tapi di satu sisi, Kinal adalah jebakan yang susah lepas.

“Aaaaaaaaaaaaaaakkk” Cengkraman tangannya semakin dalam. Akhirnya ia orgasme juga. Cairan hangatnya mengalir melalui paha kami.

 

Kutarik kepalanya perlahan sambil menjilati area leher Kinal yang basah akibat keringat. Aromanya masih wangi meski bermandikan keringat. Kedua tanganku masih meremas payudaranya seperti cup BH agar tak terlihat putingnya dari kejauhan.

“Maaf Nal, kelepasan” Akal sehatku kembali pulih & rasa bersalahku muncul.

“Heheheh gak usah gitu, gua malah pengen lo crot di dalam, gua gak subur kok” Nafasnya masih tak teratur.

“Tapi harusnya gua gak ngentot sama cewek orang”

“Ah elah Joel, kalo ceweknya kurang jatah gara-gara cowoknya sibuk sampe dianggurin ya wajar aja lah. Asal lo tau aja, staf team J aja pada booking gua, tapi cowok gua sengaja gak diceritain”

“Jadi…”

“Bram pacar gua & you’re my sex slave, okay?”

“Kalo threesome Nal?”

“Jangan, nunggu dia sibuk lama aja, baru lo boleh ngajak gua, dah cabut gih, lo nya capek tuh” Tubuhnya berkilau terpantul cahaya jingga sore membuat tubuhnya eksotis, ah ternyata terlalu lama mainnya. Alat vital kami akhirnya berpisah & pahanya mengalir cairan putih & bening yang bercampur. Aku pun rebahan sejenak di lantai.

“Mmmhh Naaaad yang keraaass aaahhhh” Tidak! Aku bangkit sebentar & Nadila mengocok organ intim Nat dengan 3 jarinya. Aku ingin memuaskannya, ah tapi lututku serasa hilang tenaga.

“Oh iya, gua lupa, lo sekarang threesome sama pacar lo semua hahahahahah” Ah, Kinal mau bikin aku sekarat saja. Aku pun diseret ke ranjang tempat kedua pacarku melakukan hubungan sejenis itu.

Nat & Nadila menghentikan hubungan bejat itu & terlihat antara tidak tega atau ingin menerkammu.

“Ih aku dulu Nat” Nadila memegang penisku duluan. Nat pun mundur sambil menunggu giliran.

“Biar kakak yang main Nad”

“Jangan, kakak lemes gitu” Ia menduduki selangkanganku. Batang yang tadi melemas setelah menembakkan bibitnya menjadi tegang kembali. Perih sekali rasanya setelah digunakan untuk bertempur.

“Aahhhhh” Ia memegangi benda tumpul di selangkanganku & ia masukkan sendiri ke liang surgawi dengan menurunkan pantatnya perlahan. Licin sekali vaginanya, ia terangsang berat.

“Terus Naad” Aku jadi keenakan saat gaya woman on top ini. Tubuhnya ia miringkan ke depan seperti menerkamku. Pantatnya ia hentakkan secara kasar hingga penisku sakit.

“Emmhh emmhhhh mmhhh kaaakkk” Nadila merancau sendiri. Tangannya bertumpu dengan sikunya. Tatapannya tajam seperti ingin mendominasi. Liar juga ia. Tanganku masih kupaksa meremas dadanya meski terasa agak lemas.

“Mmhh kaaak di situ aaaakkkhh teruuus” Ia seperti merasa melayang saat aset berharganya kuremas. Kecil payudaranya, tapi. masih bisa untuk kuremas.

 

Hentakan tubuh gadis liar berwajah imut itu semakin membuat alat kelaminku sakit. Aku harus menahan perihnya agar Nadila senang memainkanku.

“Kaaaakk aaaahhhh enaaaakk kaaak” Hentakannya hingga batang kemaluanku menabrak mulut rahimnya yang memang menambah rasa nyeri.

“Naaad perih anu kakak aaaahhh” Rasa sakit pun tak bisa kutahan lagi begitu Nadila sengaja menggoyangkan pantatnya yang menimbulkan goyangan anuku yang menghantam tiap sisinya.

“Ih kakak mau nipu kan?”

“Enggak, beneran”

“Bohong kakak nih” Bukannya menghentikan permainannya, Nadila malah tambah liar menghentakkan selangkangannya. Tak hanya itu, otot kewanitaannya menekan kuat alat vitalku.

“Aaaaaaaa Naaaddd” Rasa perihnya kubalas dengan remasan kasar dadanya. Badanku terasa panas juga.

“Kaaaaakkk mmmhhhhh” Ia malah senam kegel dengan penisku masih di dalam. Rasa seperti dipegang kuat hingga hampir meledak. Bibirnya ia gigit sambil memejamkan matanya. Memang benar jika bercinta membuat pasangan merasa melayang, tapi untuk kali ini, Nadila lebih mendominasi. Aku tak menyangka jika nafsunya terlalu tinggi. Ia sengaja benturkan organ intimnya sendiri, tak peduli dengan harga dirinya jika ketahuan. Ah, masa bodoh, jika tak sampai ketahuan pun tak masalah. Mungkin saja ia menjadi berubah total sejak tragedi di stage handshake beberapa waktu yang lalu. Ia punya sisi liar ternyata.

 

Tak sengaja aku menoleh ke sisi kananku. Bangsat! Frieska merekam adegan ini. Entah sejak kapan ia merekam kami. Frieska meletakkan jarinya di depan mulutnya memberi kode tidak protes saat direkam.

“Aaaaahhhhh” Dari teriakannya, Nadila terasa kesakitan. Saat kepalanya menggeleng, ada Beby di belakang Nadila. Ia rupanya memainkan dildonya yang ia pasang di selangkangannya & dihujamkan ke anus Nadila. Tempo hentakannya kacau akibat sodokan Beby.

“Naaaaaaaddd ngggggghhh” Otot selangkangannya kacau sekali, sesekali menjepit kuat, sesekali ia longgarkan, seperti menahan kencing. Perih sekali kelaminku. Tapi aku harus membuatnya puas juga meski di bawah tekanan 4 gadis bejat.

“Nnnnhhhh aaaahh ahhh ahhhh aahhhh nggaaaak sssshh sakkiiiit” Tubuhnya tersentak kencang akibat sodokan dildo Beby yang terlalu kencang. Dengan kondisi selangkanganku capek, kupaksa menggenjot Nadila dari bawah. Double penetration menjadi aktivitas yang kusukai jika bersama Nadila. Sprei ranjang tempat bermain kami ia remas kuat, sepertinya rasa sakitnya parah. Tempoku tak beraturan dengan berulang kali menyodok g-spotnya.

“Mmhh kaaak teruuuus di situu kaaaaak aaaarrrrrrhhhh” Benar saja, Nadila semakin terangsang begitu area sensitifnya kukasari. Payudaranya kuperah kuat & kutarik hingga puting susunya.

“Aaaaaa kaaaaakkk ssshhhhh” Nafsunya semakin menjadi-jadi. Beby pun kasar menghujam lubang dubur Nadila, tak jelas temponya bagaimana saking kasarnya.

 

Tubuh Nadila yang putih itu menjadi kemerahan & berlumuran keringat. Kepalanya menggeleng terus sambil menghembuskan nafasnya yang berat. Erangannya semakin parah. Sodokanku semakin tak jelas.

“Ssshhhhhh geliiiiii mmmhhh mmhh mhhhh mmmhmmhhhh mmmhhhh” Tubuhnya menggelinjang begitu tangan Nat menerobos selangkangan Nadila & memainkan daging kecil dekat liang kewanitaannya. Rangsangan dari 3 orang membuatnya semakin mabuk berat.

 

Entah mengapa, tubuhku semakin melemah, pandanganku juga menjadi kabur. Tempoku menjadi melambat.

“Kaak kakaaaak” Itu suara Nadila samar-samar. Suara itu semakin tak jelas.

“Aaahhh” Tubuhku ambruk seketika. Aku terjatuh di pelukan Nadila.

 

Aku masih belum berani membuka mataku. Rasanya dingin sekali. Ah, tangan kiriku seperti ditusuk sesuatu. Perlahan kubuka mataku. Sepertinya beda kamar, bukan kamar kosan, tangan kiriku nyeri lantaran tertusuk selang infus. Aku seperti kenal dengan gadis itu yang tidur berbantalkan ranjangku.

“Nad, Nad, kakak di mana?”

“Kak, kita di rumah sakit”

“Nad…”

“Kak, kakak ternyata rela ngelakuin apa aja agar kami bisa bebas” Air matanya mengalir dari pipinya.

“Maafin kakak kalo terlalu nekat”

“Udah deh kak, gak usah dipikirin lagi, yang penting liat kakak sehat aja udah seneng kok” Nadila memegang tangan kananku & ia letakkan di pipiku.

“Mereka gimana?”

“Kakak jangan tanya itu deh”

“Akhirnya kakak sadar. Kakak pingsan tadi. Mereka berempat yang bawain kakak” Nat pun menghampiriku & duduk di samping kanan ku.

“Nat, maafin kakak ya…”

“Iya kak, mending kakak istirahat lagi” Ia mengecup pipi kananku, lalu mematikan lampu kamar ini.

 

Aku masih menghadap jendela, menatap langit malam yang teduh. Nadila pun menjagaku, sedangkan Nat tidur di sofa dekat ranjangku. Kupikir mereka berdua bergantian menjagaku, siapa tahu jika cairan infusku menipis saat aku terlelap. Aku mencoba untuk memejamkan mataku, tapi susah sekali. Mereka berempat terlalu menguras tenagaku. Untung saja mereka peduli denganku meskipun aku budaknya.

“Kak, kok belum tidur?” Belaian tangan Nadila di kepalaku mengagetkanku.

“Kakak cuma ngerasa bersalah. Kakak gak punya pilihan lagi, yang penting kalian berdua lepas. Makanya kakak gak bisa tidur”

“Kak, gak usah ngerasa bersalah lagi deh kak. Aku sama Nat ngerti maksud kakak”

“Hmm makasih udah ngertiin kakak. Kakak pikir ini jebakan”

“Mungkin aja kak. Maafin kakak kalo gak pamit ke mana ke kakak sampe bikin khawatir”

“Kakak maafin deh Nad” Tanganku & tangannya saling menggenggam lembut. Untunglah Nadila mengerti keputusanku. Aku melemparkan senyum padanya, lalu berpamitan untuk melanjutkan tidurku kembali.

Silahkan Rate Cerita ini

Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.

author
Author: 
    Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.