Modus Part 19 – Dirimu yang Kembali

No comment 14475 views

Sudah sebulan Yona kembali menjadi member K3. Di website official, fotonya saat menjadi team lamanya lebih segar dibanding sewaktu di team J. Hari ini rencananya ingin merayakan kembalinya Yona. Sebenarnya ingin tanggal 1 Februari, tapi keadaan yang memaksaku menunda. Apalagi setelah pulang dari rumah sakit setelah dikasari brutal oleh Frieska, Beby, Shania, & Kinal. Pulang dari rumah sakit tak selamanya aku bisa bebas. Aku masih dilarang melakukan aktivitas berat, seperti menyetir mobil. Saat seminggu hingga aku pulih, Nadila yang mengambil alih mobilku. Kini aku sudah mendingan.

“Kak, jangan dipikirin lagi deh” Sentuhan tangan Nat mengganggu lamunanku menatap langit pagi dari jendela kosannya.

“Kakak masih bersalah banget”

“Enggak, kakak gak salah, kakak justru mengorbankan diri kakak biar kami bisa bebas” Lengan kirinya melingkar di punggungku bagian atas, lalu kepalanya ia sandarkan di bahuku sambil menatap langit pagi.

 

Seperti biasa, mengantar Nat & Nadila ke kampus paginya dengan Honda Jazz biru, peliharaan legendaris. Mereka mengeluhkan jam masuknya yang pagi terus.

“Kak, ngantuk nih, mana mata kuliahnya yang berat lagi” Nat mengeluhkannya terlebih dahulu. Ia memang sering bangun agak siangan.

“Seger lho kalo pagi Nat, ya kan Nad?” Kucoba mengalihkan pada Nadila.

“Mmhh eh apa kak?” Nadila seperti kebingungan saat kuajak bicara.

“Ah elah, kamunya ketiduran” Nat mencibir Nadila.

“Jiah, sama-sama gak suka bangun pagi juga, yah namanya adaptasi. Kakak ngerasa seger kalo pagi-pagi bangun” Kunyalakan radio untuk mendengarkan informasi kemacetan jalanan, hitung-hitung ada suguhan lagu agar mereka semangat.

 

Nat & Nadila sudah kuantarkan ke kampus masing-masing. Suara dering HP Asus dari alat untuk meletakkan HP di mobil, seperti taksi online. Rupanya dari Yona chat itu.

“Kita bisa ketemuan di kosanku?”

“Gak kafe aja Yon?”

“Enggak deh, nanti malem makan-makan bareng team, Nat udah cerita belum?”

“Kemaren sih, aku gak tau kosanmu, kalo rumahmu di Bogor tau kok”

“Ih, aku ngekos Joel” Yona kemudian mengirimkan lokasi & kubaca via Google Maps. Untungnya masih di lingkup batas Jakarta. Yang namanya Jakarta pasti macet. Untuk kesekian kalinya, aku membandingkan dengan Tokyo, kota di mana masa kecilku kuhabiskan, ramai pejalan kaki, jalanan lumayan lancar. Dari info, beberapa titik jalan macet & sialnya tak ada jalan alternatif. Kuganti radionya dengan mp3.

 

Caught here in a fiery blaze, won’t lose my will to stay
I tried to drive on through the night
The heat stroke ridden weather, the barren empty sights
No oasis here to see, the sand is singing deathless words to me
Can’t you help me as I’m starting to burn, all alone
Too many doses and I’m starting to get an attraction
My confidence is leaving me on my own all alone
No one can save me and you know I don’t want the attention

 

Penggalan lagu Bat Country milik Avenged Sevenfold sangat tepat mengekspresikan kemacetan pagi ini, seakan terjebak dalam rasa panas yang membakar kota ini. AC sudah dingin, tapi pikiran yang panas di tengah kota. Rasanya seperti tak ada yang menolongku keluar dari jebakan ini. Masih pagi sudah dibikin kesal.

“Joel, kok lama sih?” Notif chat Yona dari layar HP.

“Kejebak macet nih, kamunya gak keburu?”

“Enggak kok, lagian aku free, gak ada kelas”

“Oh sorry kalo bikin nunggu lama”

“Kalem euy”

“Eh jangan dilanjut, itu ada kata-kata mutiara”

“Yah dikira Ericko apa Joel, dah fokus nyetir, kapten menunggumu di kosan” Yona mengakhiri chat kami. Memanfaatkan celah kosong jalanan itu sangat menyenangkan.

 

Hampir 1 jam terperangkap kemacetan, akhirnya aku bisa sampai di depan kosan Yona. Cukup elit sih, hanya saja kelasnya masih di bawah kosan Nat.

“Yon, aku udah di depan kosan” Kukirim chat sesaat setelah mematikan mesin mobilku. 15 menit tak dibalas chat ini. Kudorong sandaran mobilku, lalu aku rebahan sejenak, lumayan enak untuk istirahat.

“Joel, sorry baru kelar mandi, aku keluar ini” Ah, Yona baru membalas chatku 30 menit dari chatku itu. Gerbang kosannya terbuka & ia muncul dengan kaos putih dengan kantong di dada kirinya & mengenakan celana agak panjang, tapi setengah betis putihnya terlihat. Kubuka jendela pintu mobilku & mengarahkan tatapanku pada gadis itu.

“Eh kamu, sini masuk” Yona mempersilakanku memasukkan mobilku ke garasi.

“Ah di sini aja, enggak enak”

“Udah gapapa parkir di sini aja”

“Hmm, yaudah deh Yon” Kunyalakan lagi mesinnya untuk memarkirkannya di dalam garasinya. Cukup luas garasinya. Setelah itu, kumatikan & kucunci juga mobilku.

 

Aku pun masuk ke kosannya. Aku disambut baik oleh beberapa pria di kosannya tanpa menaruh rasa curiga.

“Mas pacarnya? Ini saya anak yang punya kosan sini” Tanya salah satu pria di kosannya.

“Bukan kok, cuma rekan kerjanya”

“Oh gitu, tapi…”

“Dah terima aja, jangan laporin, oke?” Kuberikan amplop berisi uang tunai 7 juta.

“Wah makasih banget mas, bisa nambah tabungan, tau aja lagi kurang duit, lagian orang tua saya masih di luar kota, besok lusa pulang heheheh” Ia pun berlalu.

“Emang di sini ketat Yon?” Aku penasaran dengan kosannya.

“Ya kalo gak ada pemiliknya, kalo ada mah buyar Joel”

“Heheheh, kamarmu mana sih?”

“Sabar dong, ini hampir nyampe” Ia memasukkan kuncinya di salah satu kamar & membukanya. Oh iya, kamarnya di lantai 2 sehingga cahaya dari jendelanya agak lebih terang. AC kamarnya sengaja tak dimatikan agar tetap terasa dingin.

 

Kamar Yona memang sempit, tapi lumayan cukup untuk 2 sampai 4 orang. Meja & cermin tertata rapi kosmetiknya, TV flat yang baru kunyalakan, bantal, guling, & selimut ditumpuk rapi dengan motif kotak-kotak.

“Pasti kangen Leon kan?” Tanyaku sesaat teringat dengan kucing jantan kesayangannya di rumahnya.

“Iya, gak bisa gendongin lagi, eh mau dibikinin apa?”

“Eh gak usah repot-repot Yon”

“Ah, gak usah jaim gitu, aku punya white coffee sachet, gapapa ya”

“Hmm yaudah deh suka-suka tuan rumah”

“Kalo mau rebahan boleh kok, kan kamunya capek kena macet” Ia menyalakan water heater untuk membuat kopi, persis alat yang tersedia di beberapa hotel. Rebahan di kasur memang surga dunia di saat lelah menembus kemacetan. Beberapa kali aku mengganti channel TV karena jam segini pasti acara yang katanya full musik tapi isinya umbar privasi keluarga orang. Walhasil aku mengganti channel talkshow.

“Diem diem bae, ngopi apa ngopi” Yona menyiapkan 2 cangkir white coffee.

“Ah elah Yon, wah wangi nih”

“Apanya?”

“Kopinya”

“Akunya Joel?”

“Sama wanginya, tapi wangimu memabukkan”

“Dih masih pagi udah ngegombal” Yona mencubit lengan kiriku yang terselimuti kaos putih berlengan hitam panjang. Ini yang aku suka dari Yona, meskipun pacar orang, tapi kami bisa lebih dekat. Soal kedekatan bagiku, tak ada yang bisa membuat lebih betah dari Nat & Nadila.

 

Cangkir kopi ini menemani obrolan kami berdua. Sesekali Yona tersenyum malu, menawan sekali. Berbeda dengan senyuman Nat & Nadila yang tersimpan kode mengajak melakukan hubungan yang tercantum dalam Kama Sutra.

“Gimana nih comeback ke K3?”

“Yah sedikit beda sih, kan ada yang baru, tapi sebagian besar masih ada anak gen 2, apalagi Lidya, kangen berat”

“Nge vlog lagi kapan nih? Katanya mau bikin Yon” Sesaat setelah itu, aku menyeruput secangkir white coffee.

“Belum ada pikiran nih, masih sibuk mikir tugas kuliah” Ia menghela nafas perlahan.

“Yaudah deh, ditunggu aja” Kehangatan obrolan kami sehangat cangkir kopi yang kuminum.

“Tapi intinya seneng banget balik. Menurutku gak cocok di team J, soalnya didominasi member yang gitu lah, kamu tau sendiri Joel” Yona mengembangkan senyumannya seakan melepaskan beban selama di team J. Aku tahu, setelah menang janken waktu itu, beberapa member dari K3 diusung ke team J karena dianggap bisa menarik popularitas team, di antaranya Sinka, Yona, & Ikha setahuku. Memang ini yang kuperjuangkan di rapat staf agar siapapun membernya yang sukses tembus senbatsu tidak diusung ke team J agar bisa mengenalkan team lainnya. Bisa bahaya jika yang diketahui cuma team J saja, padahal idol group ini terdiri dari 3 team & 1 trainee, kenapa yang di-blow up hanya 1 team?

 

Kami sengaja tak menghabiskan kopi dalam waktu singkat. Ini yang membuat ketenangan yang hakiki dalam obrolan kami.

“Emang kamu bener-bener bahagia?”

Mata Yona tiba-tiba terpaku pada langit pagi. Ia menghentikan sejenak meminum kopinya, lalu menghela nafas panjangnya.

“Seneng tapi ada yang kurang” Yona melanjutkan meneguk kopi hingga habis,  lalu meletakkan cangkirnya di meja.

“Coba diceritain. Aku di sini kan malah dijadiin tempat curhat anak-anak team. Ceritain aja, gak bakalan aku sebarin kok” Aku melanjutkan menghabiskan kopi, lalu kuletakkan cangkir ini ke meja.

“Andai saja dia tau hal ini, dia pasti seneng, apalagi dia tau kalo aku seneng banget kalo di team ini” Ia pun menatapku. Tatapannya berkaca-kaca. Aku paham maksudnya, dia yang Yona maksud adalah mantan pacarnya yang hilang entah di mana.

“Pasti dia tau kok, seenggaknya dia punya akun media sosial kan” Aku berusaha tidak menyalahkan Yona karena memutuskan pacarnya.

“Dia katanya pensiun”

“Tapi pensiun cuma mitos Yon, pasti dia diem-diem ngikutin kamu kok” Tanganku memegang bahunya. Sesaat kemudian, ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Tangan kanannya merangkul leherku. Tanganku seketika mendekap gadis penyuka bulan itu.

 

Pipi kirinya kurasakan hangat, lalu sedikit basah. Seketika ia tersedu-sedu. Kucoba kuangkat tubuhnya.

“Yon, aku tau kamu kangen. Kalo mau nangis keras, itu terserah kamu. Lampiasin ke aku juga boleh”

Seketika tangisannya semakin keras & pelukannya semakin erat seakan membalaskan dendam kerinduannya pada sosok pacarnya yang entah di mana. Kunilai Yona memang tak bisa berpikir jernih yang ia peluk bukan pacarnya. Ada rasa getaran yang senada, susah kujelaskan bagaimana.

“Diiit, kalo aja kamu tau, aku bisa tenang kalo ada kamu yang dukung aku di sini” Isak tangisnya melirih. Aku tak bisa mengelak menjadi pelampiasannya. Tubuhku tak bisa menolak tubuhnya, hanya bisa mengusap belakang kepalanya, lalu kusandarkan ke pundak kananku. Pelukan kami semakin erat & dada kami menempel meski terganjal gundukan buah dadanya. Detak jantung kami yang awalnya tak sama, anehnya menjadi seirama.

“Yon, aku tau kamu emang bakal kuat kalo ada cowokmu. Andaikan aja Adit milikmu sekarang juga datang di sini…”

“Aku nyesel, aku tau sayang banget sama aku, maafin waktu itu Dit, aku gak cerita yang sebenernya…” Kepalanya ia geserkan mendekati wajahku. Bibirnya lembut menempel bibirku. Hembusan nafasnya membuang rasa penyesalan masa lalunya.

Bibir kami lama kelamaan saling mencium. Yona menjulurkan lidahnya menembus bibirku. Lidahku kusambut dengan adukan saat lidah kami bertemu. Tangannya memegangi pipiku sesekali menghembuskan nafas seperti membuang bebannya.

“Mmhhh mmmhhhhh mmmhhhh” Yona sangat terbawa perasaannya, seakan aku ini Adit miliknya. Tanganku sengaja mendekap tubuh gadis yang kehilangan belahan jiwanya. Ah, seharusnya aku tak boleh jatuh hati pada pacar orang. Lama kelamaan, air liur kami mulai mengalir hangat, mengisi sebagian rongga mulut. Ia menghisap kuat sampai aku merasa kering. Sesaat, tangannya menuntun tanganku ke dadanya & merasakan detak jantungnya. Detakannya seakan terbaca secara gaib jika Yona menahan rasa penyesalan dengan kesalahannya bercampur rasa rindunya.

“Maaf Yon…”

“Udah, lakukan apa yang aku mau” Kaosnya ia lepas hingga menyisakan BH berwarna senada dengan kulitnya.

“Boleh kulepas?”

Yona hanya terdiam, lalu berbaring di ranjang dengan ekspresi pasrah. Kusergap tubuhnya, lalu tanganku menyusuri punggungnya untuk melepas kaitnya.

 

Begitu penyangga payudaranya kulucuti, ekspresi Yona menjadi tersenyum. Mungkin dia mengalami mabuk berat. Tubuh indah itu kunaiki.

“Ih, curang!” Yona cekatan mengangkat kaosku hingga kami sama-sama hanya mengenakan celana. Matanya menyusuri tubuhku.

“Yon, udah lah, jangan diliatin, bukan binaraga kok”

“Ahahahahah lucu banget sih” Tangan lentiknya nakal menurunkan resleting & celana dalamku. Aku pun seperti orang kencing di toilet umum: bercelana, tapi penisku bebas. Agar ia senang, celanaku kulepas. Aku justru tanpa penghalang apapun. Kujilati lehernya, menyusuri dadanya, lalu puting kanannya kujilat kasar sambil kuremas dengan tangan kiriku.

“Engghhhhh mmmhhhhh” Nafasnya mulai berantakan begitu tangan kananku menyusuri celananya. Ya, belahan lubang kenikmatan itu kugesekkan perlahan mengikuti pola garis belahannya.

“Aaahhh ngghhhh teruuuuss ooohhh ooohhhhhh” Tangan kanannya merangkul kepalaku & membenamkan wajahku dalam gundukan susunya. Setelah beberapa saat, tangannya memindahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kiri. Yona tak henti-hentinya melenguh setiap serangan dada & pangkal pahanya yang semakin kupercepat tempo kocokannya, sesekali memainkan kelentitnya, sesekali kumasukkan dengan 3 jari.

 

Yona tersenyum lagi dengan mata yang sayu. Aku memang mendengar sendiri ceritanya jika ia tak pernah mencapai hubungan yang lebih intim lagi, hanya semacam pemanasan.

“Mmhhh teruuusss di situuuhh aarrrrrhhhh” Dadanya semakin ia busungkan ke atas. Tubuhku tertekan juga lantaran dada & tangannya sama-sama menekan. Kocokan jariku semakin sulit. Tangannya sesaat mengendur. Jariku kucabut dari vaginanya. Payudara kirinya kulumat lebih brutal.

“Mmmhhh eeerrhhhh” Kedua tangan Yona menekan kepalaku. Aku tak suka menunggunya istirahat lama. Hisapan puting susu kirinya kubantu jilatan, sesaat kugigit pelan.

“Ahhhh jangaaan digigiiiit ooohhhh nakal” Nafasnya semakin berat begitu gundukan dada kanannya kuremas juga. Suatu kenikmatan yang tak bisa kuungkapkan bersama pacar orang. Yona pun mau diajak mesum bersamaku yang sudah berpacaran dengan 2 gadis. Kuhentikan mendadak pemanasannya. Aku suka melihat wajah Yona yang seperti berdelusi.

“Mmhh lanjut dong, nanggung” Lucu sekali ekspresinya yang menjadi merajuk. Aku tak ingin membalas omongannya. Celananya yang masih ia kenakan pun kutarik cepat & celana dalamnya kulucuti.

“Mmhhhhhh” Tangannya menutupi liang kemaluannya, seakan seperti malu. Kedua putingnya kucubit kasar.

 

Halus sekali kulit organ kewanitaan Yona. Sepertinya ia terapi dengan wax agar bulu kemaluannya tak tumbuh. Kelihatannya lebih tembem dibanding dulu.

“Ih jangan diliatin, malu tau” Tangan kirinya menutup mataku.

“Eh apaan nih Yon, yuk 69”

“Ayo dong, gak tahan nih” Yona mengocok lubangnya sendiri.

“Eh jangan kayak gitu Yon” Kutarik tangan kanannya, lalu aku menaiki tubuhnya dengan posisi 69 dengan tiduran miring.

“Emm, ini aku emut apa cuma dikocok?” Tangannya sudah memegangi penisku.

“Terserah Yon, kalo diemut sambil dikocok tambah nikmat” Setelah itu, kubenamkan wajahku di selangkangannya. Lidahku menyapu klitorisnya, kemudian perlahan masuk ke lubang kemaluannya untuk memberi sensasi geli & nikmat.

“Mmhhh emmhhhhhh mmhhhhh mmmhhhh sllrrrppp” Alat kelaminku serasa masuk, lalu terasa basah & ada seperti daging yang bergerak. Yona rupanya mengulumku. Kepalanya ia maju & mundurkan perlahan. Bibirku bergesekan dengan bibir kemaluannya. Lidahku terasa sempit saat memasukinya. Kujulurkan semampuku agar bisa menjilati lebih dalam. Asin, amis, bahkan gurih rasanya. Rasa jijik tak kupedulikan karena sudah biasa. Aroma liang kewanitaannya wangi, sepertinya ia rajin menyabuninya dengan sabun khusus. Sensasi mabuknya tak bisa kuhindari, justru jilatanku semakin liar.

“Uuhhhhhh mmhhhhh mmhhhh mmmhhhhhhhh” Yona tak bisa mengontrol kulumannya akibat serangan dari selangkangannya. Jilatannya semakin liar & disedot kuat. Kepalanya ia hentakkan kuat. Ujung batangku menabrak lubang tenggorokannya. Kedua bijiku ia kocok juga saking hebohnya.

Kepalaku dijepit kedua paha Yona, beberapa kali ia gesekkan. Sepertinya ia kegelian. Kedutan vaginanya dari pembuluh nadinya terasa kencang. Sementara itu, kuluman Yona bervariasi & ia sambil mengocok batang milikku. “Uuhhhhh mmhhhhh” Jilatanku semakin tak fokus akibat fellatio Yona yang liar. Bahkan ia hentakkan pantatku sehingga melakukan deep throat. Ia tak jijik lagi dengan alat vital pria.

“Mmhhh mmhhhh mmmhhh mmmmhhhhh” Yona pun mengerang saat menjilati kemaluanku. Cairan agak kental terasa hangat mengalir ke pangkal pahaku. Rupanya liurnya meluber. Aroma kemaluannya memabukkanku. Wajahku kutekan ke gundukan daging mulut memeknya agar jilatanku semakin dalam.

“Uuhhhhh mmhhhhh” Lenguhannya menandakan jilatanku membuatnya melayang. Sesaat paha gadis cosplay itu bergetar agak lama & menggesek kepalaku secara brutal.

“Mmhh mmhhh aaaahhh aahhh mau nyampe aaahhh” Yona melepas kulumanku & kini mengocokku sambil mengurut secara kuat. Lendir kentalnya mulai keluar dari liang itu & tertelan.

“Aaakkhhh nggaaaaaakkhhhh” Pantatnya mendorong kepalaku. Tak lama, wajahku tersembur cairan deras. Aku tak bisa menahan rasa ledakan pada rudal tanpa tulang milikku yang ia kulum lagi secara kasar. Kedutan alat tempurku semakin kencang.

“Mmmhhhhh” Pantatku refleks bergerak maju menyodok lubang mulutnya & menyemburkan air maniku yang agak kental sebanyak 6 kali.

“Uhuk uhuk uhuk” Yona terbatuk setelah aku mencapai klimaks di mulutnya. Aku segara mencabutnya & melihat kondisinya.

 

Wajahnya agak lemas seperti kehabisan nafas. Mulutnya agak menganga & meneteskan cairan putih kental dariku.

“Maaf maaf, muntahin aja Yon kalo gak suka” Aku segera mencabut 3 lembar tisu di mejanya & kuletakkan di mulutnya.

“Mmhhh gapapa ah, lagian enak sih tapi ngagetin ih” Di luar dugaan, Yona menelan cairan itu tanpa beban. Aku mengeringkan bibirnya yang belepotan. Nafasnya tidak stabil setelah mengulumku secara brutal.

“Sekarang, terserah kamu, aku yang main apa kamu” Aku kali ini tak memaksakan dirinya mengikuti kemauan gaya permainan.

“Yakin terserah aku? Hmm yaudah deh” Tangannya mendorongku & aku kini berbaring. Aku memposisikan tubuhku untuk bersandar di sandaran ranjangnya. Yona tak protes dengan posisiku. Kedua kakinya terbuka lebar dengan tangan kiri menuntun penisku ia masukkan ke dalam vaginanya.

“Aaahhhh mmhhhh enaaaaaakkk” Rancauannya sudah liar, padahal baru masuk kepalanya. Pantatnya turun perlahan hingga keseluruhan bagian batang torpedoku masuk semua. Setelah masuk semua, tubuhnya agak mundur & tangannya ke belakang bertumpu pada kakiku.

“Ayo dong Yona, lanjut, katanya kangen ini” Kucubit ujung dadanya yang bewarna coklat itu.

“Aaahh nakal tangannya mmhhhh” Selangkangannya ia angkat lagi, lalu ia hentakkan kasar.

“Aaaww Yooonn aaaaahhh” Tititku sakit sekali setalah sebulan sebelumnya sakit parah akibat melayani Kinal, Shania, Beby, & Frieska secara kasar. Itu pun setelah itu, aku bercinta dengan Nadila & Nat secara pelan. Biarkan kutahan rasa perihnya demi kenikmatan seseorang yang kurang jatah.

 

Tempo hentakan tubuhnya yang semakin cepat membuat tonjolan besar dadanya berayun mengikuti irama. Rintihannya semakin keras. Terkadang rancauannya seperti pengguna ganja.

“Mmhh aaahhh kontooolll enaaak aahhh gedeee oohhh nikmaaat aaaaaahhh” Hentakan tubuh Yona semakin kacau seakan ia melampiaskan semua hasratnya. Aku dengar sendiri ceritanya kalau pacarnya selalu tanggung kalau melakukan hubungan. Paling mentok cuma pemanasan alat tempur, tak sampai bertempurnya.

“Aahh Yooonnn enaaaak goyangmuuu, aku sukaaa oohhhh” Aku justru ikut mengerang. Buah dada yang besar itu kuremas tak berarah.

“Nggghh sakit aaah aahh nggaaaakk Diiiit aaaarrhhhh” Maklum saja, namanya kangen berat, di depan Yona namanya Joel malah disebut Adit. Ah biarlah yang penting hasratnya terbayarkan. Rasa vaginanya seperti memijat batangku. Ia sengaja menggesekkan area g-spot sendiri dengan hentakan yang arahnya bervariasi, sesekali bergoyang seperti memutar, seakan hentakannya memaksa kelaminku menggesek ke segala arah secara brutal.

“Mmhh Yoooonn periiihhh ampuun” Remasan di dadanya malah seperti mencengkram dengan kuku.

“Mmhh mmhhh ngghhh aaahh aahh ahhh ahhh” Ia malah mendongakkan kepalanya ke atas. Nafasnya kacau karena seperti melompat. Tumpuan tangannya semakin kasar mencengkram kakiku.

 

Akal sehat kami seketika mati di atas ranjang ini. Tak peduli apakah desahan Yona semakin menggema di kamar ini. Status hubungan kami masing-masing seakan luntur di sini. Ya, hentakan vagina Yona semakin kasar sampai penisku terasa bolak balik menghantam mulut rahimnya.

“Mmhh mmhh aaah Yooooonnn aaahhhh” remasanku di kedua buah dadanya tak bisa kukendalikan secara lembut, bawaannya harus kasar.

“Aahhh aahhhh aahhhh mmhhhh enaaaak ssshhh oohhhhhh” Kepalanya mendongak & menggeleng tanda kenikmatannya membuat alam sadarnya rusak. Pantatnya memutar menimbulkan sensasi siksaan yang menyakitkan alat senggamaku.

“Mmhh Yooonnn sakiiiiittt” Tanganku semakin kencang meremas payudaranya karena aku kesakitan. Ia menghentakkan pinggangnya kasar sekali. Kelihatannya Yona mulai gelisah.

“Mmhh mmhhh mmhhhh sssshhhh oookkhhhhh” Tangan kirinya memainkan klitorisnya. Nafasnya semakin tak teratur. Hentakannya tak jelas. Alat kelaminku terasa ngilu, ditambah rasa seperti. Sesaat ia mengejang.

“Aahhh aahhh ahhhh mmhhhh aku sampeeee aaaaahhhh” Sangat cepat bagi Yona untuk mencapai puncaknya. Pantatnya ia angkat sampai alat vitalku keluar dari lubang senggamanya & menumpahkan cairan hangatnya di perutku. Ia langsung terkulai di atas pahaku.

“Masa gini aja kamu keluar cepet Yon?” Kuangkat tubuhku & memainkan klitorisnya.

“Mmhhh mmhhh nggak tau nih, lama gak ngentot nih” Ia merancau dengan mengatur nafasnya. Aku menyadari adanya cakaran di sekitar dadanya akibat remasanku yang terlalu kuat. Yona tak nampak terasa kesakitan di dadanya.

“Yon, lanjut yuk” Aku sengaja berbisik di telinganya agar ia bisa terangsang lagi.

“Mmmhh ayo dong, gatel nih” Tangannya memegang kuat pundakku, lalu ia bangkit untuk duduk.

“Mau gaya apa?”

“Terserah ah” Nafasnya mulai stabil. Ia kaget melihat batang kelaminku masih tegak & mengocoknya pelan. Kuhentikan kocokannya & menyuruhnya berbaring.

Yona kutidurkan dengan posisi tengkurap. Kakinya kusebarkan sebisaku & kuselipkan bantal di perut bawahnya sampai pantatnya terangkat. Dari belakang, terlihat 2 lubang yang seakan memintaku untuk menggempur semuanya.

“Mmhh ayo dong masukin, kangen kontolmu Diit” Maklum saja, Yona memang seperti sakit jiwa lantaran kandasnya hubungannya, tapi di sisi lain nafsunya tak tertolong.

“Eh, kamu bilang siapa barusan?”

“Ah kamu ini, masa lupa sih mmhhh ayo dong” Yona meraba selangkanganku dari belakang mencari batang yang membuatnya mabuk itu. Kasihan karena nafsunya tak tertolong, kuarahkan penisku ke lubang vagina yang barusan digunakan.

“Aaahhhhh enaaaakkk mmhhhh” Ah, baru kumasukkan kepalanya saja Yona sudah mendesah berat. Kubiarkan ujungnya terlebih dahulu di dalamnya.

“Yoon aaaahhhh” Karena kenikmatan tak bisa kubendung, kumasukkan semua bagiannya secara kasar & mungkin menghantam area g-spot gadis mungil itu.

“Aaahhh sakiiiit jangan kasar dong mmhhhh” Sprei merah mudah polos itu menjadi pelampiasan remasannya. Mungkin Yona merasa kesakitan, entah ia malah merasakan sensasi kenikmatan. Tanganku sesekali menggelitiki ketiaknya, lalu kembali bertumpu. Tempo sodokan di lubang surgawi itu langsung cepat.

“Ahhh ahhhh aaahhhh harder please mmhhhhh” Ia justru mengerang keras & bergema di kamar. Entah apakah orang-orang di luar pintu kamar sama memergoki kami, atau justru malah berfantasi. Dinding liang itu semakin licin & memudahkanku menggempurnya secara kasar. Tubuh seksinya tersentak mengikuti irama sodokanku. Yona berulang kali mendesah & menggigit bibir seksinya, sepertinya ia sangat meresapi nafsunya. Ya, nafsu dari wanita yang haus nafsu, tapi ia salah pelampiasan.

 

Butir keringat Yona mulai mengucur keluar dari tiap pori-pori kulit mulusnya. Nafsunya membara sekali. Pantatnya sedikit menungging & memudahkanku untuk mengeksplor isi liang senggamanya secara liar.

“Mhhhh oohh oohh oohhh teruuusshh mmhhh” Desahannya tak tahan. Batang kemaluanku semakin memberontak & secara refleks kupakai menggenjot Yona secara kasar. Kedua tangannya meremas pergelangan tanganku.

“Aahh Yooonn ssshhhhh” Sakitku semakin menggila saat otot vaginanya mencengkram kuat penisku yang bermanuver. Erangannya menggema dalam kamar tiap sodokan kasarku menggetarkan tubuhnya. Ah, terlalu liar permainanku. Yona pun memang sengaja menjebakku dengan dalih kangen mantannya.

“Ahhh aahhh aaahhhh aahhhh entot terus mmhhh enak kontolmuuuhh aaarrhhh” Yona seakan tak peduli dengan adegan kami, entah dipergoki atau justru direkam. Desahannya menggoda sekali. Tubuh sintalnya bergoyang akibat hentakan batang keras & berurat yang kumasukkan ini. Selangkanganku kutekan hingga anuku mendesak ke dalam dengan mudahnya.

“Aahh ahhh ahhh dalam dooong mmhhhhh” Ia merancau & wajahnya menunjukkan ekspresi nafsunya yang tak bisa ia bendung & menikmati setiap sodokanku. Nafasnya berat & terlihat punggungnya naik & turun.

“Ngghhh Yoonaaaaaaarrhhhh” Dadaku kini menempel di punggungnya & menghembuskan nafas beratku di lehernya.

“Nngghh aaaaaahh yang kasar ngentotnya dong Diit mmhhh” Memang ia benar-benar mabuk.

“Hayo salah manggil” Lehernya lalu kugigit kasar.

“Aaarrhhhh sakiiiit” Ia malah menjerit. Degup jantungku mulai cepat, khawatir jika kami dipergoki tetangga kamarnya. Detak jantungnya terasa juga, seakan terbaca jika hasratnya terpuaskan. Genjotanku semakin tak teratur, bahkan bergoyang seperti mengaduk.

“Sshh jepiiiit Yooon enaaaak oohhhhh” Saat menggenjot dengan posisi tengkurap, tanganku menyusup meremas payudaranya yang tergencet.

“Kyaaaaaaaa oohhhhh remas teruuus aah ahhh ahhhh” Yona menggelinjang hebat saat dada & pangkal pahanya kuserang. Irama sodokanku menyebabkan ranjangnya ikut bergoyang menghentak tembok & menjadi berisik.

 

Dinding-dinding liang kewanitaan Yona semakin licin. Sepertinya tubuhnya memang mempersiapkan diri untuk menerima rangsangan kenikmatan dariku. Cumbuanku pada lehernya semakin liar. Ditambah lagi aromanya yang masih menyegarkan meski mungkin saja belum mandi.

“Ookkhhh mmhhh sakiiiit memek perih aaaahhh” Sepertinya ia mengerang kesakitan, tapi aku tak peduli. Tempo hentakanku sengaja kubikin tak teratur. Gerakan batangku seperti mengaduk, bahkan menggaruk liang itu. Entah berapa kali g-spot miliknya kugempur yang membuat tubuhnya secara refleks menggelinjang. Kelopak matanya ia tutup rapat. Bibir indahnya kadang ia gigit sambil mengerang. Aku tak tahu mengapa tempoku mulai melambat. Tapi kupaksa menggenjot secara kasar dari belakangnya.

“Mmhhhh lanjut dong, masa udah mau crot sih aaahhh ahhh ahhh” Yona tak henti-hentinya merancau tiap menerima hujaman kerasku dengan tempo melambat. Puting susunya yang tergencet itu masih mengeras & bisa kumainkan.

“Mmhhh geliii aaarkhhhh mmhhhhh mmmmhhhh” Tubuhnya seperti memberontak. Desahanku di lehernya semakin memperparah tubuhnya yang semakin memberontak. Aku sengaja menghentikan permainanku sesaat ketika nafasnya mulai sesak.

“Mmhhh kok berhenti sih, gatel niiihh” Ia bernada manja seakan memintaku untuk melanjutkan senggama.

“Kamu pengen ganti gaya gak?”

“Mmhh kamu ini lho, yaudah ahhh” Nafasnya tak teratur. Tubuhnya kubalik tanpa mencabut penisku. Kuposisikan betisnya menjepit tubuhku & lututnya menekan dadaku. Tangannya melemas di atas ranjang.

“Aahh ahhhh enaaaakk mmhhh memekku gatel nih” Ah, baru kusodok lagi setelah istirahat sebentar, ia merancau lagi. Tanganku bisa menjamah secara liar bongkahan payudaranya. Besar & lumayan padat.

“Gede ya” Kugoda sambil menggelitik putingnya yang mengeras.

“Aahhhhh nggg geliii mmhhhh” Tubuhnya menggeliat dengan wajah yang pasrah. Bukannya menghindar, dadanya justru ia busungkan seakan memintaku mengeksplor dadanya lebih intens. Posisi begini memang tak perlu menopang dengan tanganku sendiri karena dibantu ditahan oleh paha mulusnya.

 

Tempoku kembali kulanjutkan dengan cepat. Hentakannya kembali menggetarkan sisi sandaran ranjangnya, padahal kelihatannya memang kokoh ranjangnya. Yona sempat tersentak kaget menerima sodokanku.

“Mmmmhhhhhh nggghhhhhhhh mmhh mmhhhhh” Tangannya meremas sprei kasurnya. Nafasnya yang sempat teratur pun kembali berat & mengalir deras. Manuver penisku semakin menggila di dalamnya. Semakin licin liangnya, sensasinya seperti memasuki lubang yang becek & hangat.

“Mmhh Yoooonnn anget nih memekmu aaahhhh” Aku menjadi blingsatan menggenjot vaginanya.

“Aahh aahhh aahhh harder pleaseee mmhhh” Kepalanya menggeleng seperti tak kuat menahan hasratnya. Sedangkan alat vitalku seakan mati rasa akibat keseringan kugunakan secara brutal, padahal kemarin-kemarin aku agak lambat dengan Nat & Nadila, itu pun yang mendominasi malah wanita karena aku harus istirahat 2 minggu, tapi aku khawatir mereka tak mendapat jatah lahir & batin.

“Ookkhh ookkhh sakiiiit mmhhhh nggaaaakkkhh mhhhhh” Yona tiba-tiba memegangi area bawah perutnya. Aku tak peduli, barangkali ia akan menjebakku & ia justru ingin mendominasi. Genjotanku tak kupelankan sedikit. Area g-spot di dalam itu kuhentakkan kasar, begitu pula mulut rahimnya yang sedikit keras. Liangnya semakin licin.

“Mmhh Yoonn aaaaahhhh” Aku refleks mengerang saat otot kewanitaannya mulai berkontraksi dengan durasi singkat. Tangan lembutnya entah sejak kapan memegangi belakang leherku. Saat itu, tatapannya menjadi sayu, tapi dengan ekspresi nafsunya. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku karena eye contact itu. Penisku seketika semakin menegang saat ini.

“Aahh aahhh enaaakk mmhhh kamuu kayak Bobby aaaahhh” Memori melakukan hubungan ranjang teringat pada Bobby yang sudah meninggal kala itu. Aku tak bisa mengontrol kecepatan hentakanku karena seperti tersihir harus cepat.

Puting susu Yona semakin mengeras. Kurasakan ada aroma khas entah dari mana. Yang aku tahu, itu adalah aroma yang keluar dari tubuh wanita saat mengalami nafsu. Kemaluanku semakin mati rasa, berganti menjadi kenikmatan. Entah berapa kali mulut rahimnya kubenturkan, termasuk juga g-spot yang agak dalam kugempur juga.

“Mmhh sayaaanngg ngghhhhhh” Tangannya kini aktif meremas bahuku, seakan memberikanku kekuatan bersetubuh. Kepalanya mendongak & seperti menahan rasa sakitnya. Kehangatan lubang surgawinya menjadi pendorong semangat menyodoknya. Tanganku masih meremas payudara besarnya.

“Mmhh jangan di dalam dong crotnya, kita belum nikahh, lagi subur nihhh aahhh ahh ahhhh ahhhh” Tiba-tiba Yona menjadi agak panik. Ia memang suka melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sah, tapi ia takut jika ada janin yang tumbuh di rahimnya, terlebih lagi bibit itu bukan dari pacarnya, melainkan dariku.

“Aakkhhh” Tubuhnya seperti memberontak menahan gejolak dari dalam tubuhnya. Butir keringatnya mulai membasahi tubuh seksinya hingga mengkilap. Dadanya juga licin menyulitkanku meremasnya. Jepitan kakinya di pinggangku mulai melemas, begitu juga dengan tangannya yang membelai kepalaku. Aku justru sebaliknya, tanganku semakin liar meremas payudara itu hingga memerah. Sodokanku yang keras menggoyangkan ranjangnya & berbenturan dengan tembok kamarnya.

“Mmhh mmhh mmhh enghhhhh” Desahannya tertahan karena ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Tubuh mungilnya ikut terhentak mengikuti ritme genjotanku. Liang surgawi itu semakin becek & menimbulkan bunyi hentakan di dalamnya. Pantatku kupacu agar kelaminku bisa mengeksplor lebih dalam lubang intimnya.

“Aahh aahhh sayaaangg mmhhh”

“Eh aku bukan pacarmu Yoon” Kusiksa vaginanya agar sadar jika kita tak ada hubungan apa-apa. Ah, namanya saja nafsu berat.

 

Beberapa saat, kedutan dari otot organ intimnya mulai terasa. Gigi indahnya bergetar seperti orang kedinginan. Dadanya membusung sehingga remasanku semakin leluasa.

“Mmhhh mmhh aaaahhh harder mmhhhh” Kepalanya mendongak seperti orang kejang. Tangannya tiba-tiba meremas bahuku. Kedutannya semakin kencang, aku tak mempedulikannya. Justru terasa seperti dipijat anuku.

“Aah aahh Yoon aaahh”

“Iyaaah sayaangg mmhhh”

Entah mengapa kami saling mendesah. Apakah kami telah kontak batin dalam hubungan ranjang ini? Aku harus memahami realita : aku sudah punya pacar, Yona juga. Jika pacarnya pergoki kami, bagaimana? Ah masa bodoh.

“Ahh aahh yang cepeeeettt” Matanya menjadi beringas. Tubuhnya menggeliat, terutama bagian perut ke bawah. Sodokanku semakin beringas, rasanya hampir menerobos mulut rahimnya.

“Aahh aahhh mmhh aaakkkkhhhhh” Selangkangan Yona tiba-tiba terangkat & berkedut sangat kencang. Selangkangan kami pun terasa hangat & basah. Kakinya tiba-tiba mengendur & tergeletak di kasur. Nafasnya tersengal-sengal. Tapi aku tak mempedulikannya & tetap menggenjotnya.

“Yona curang, udah keluar duluan” Kini tanganku harus menjadi tumpuan tubuhku di ranjang di atas tubuh Yona yang pasrah. Sofokanku semakin mudah karena licin. Tak peduli dengan ranjangnya yang basah.

“Sayang, kapan keluarnya mmmhhh” Yona protes dengan ekspresi pasrah.

“Mmhh mmhhh Yooonn” Aku mulai merasakan ada ledakan di dalam tubuhku. Kedutan penisku semakin kencang. Sodokanku agak melambat karena ujung batangku jadi nyeri.

“Jangan di dalaaamm” Tangannya mendorong pinggulku saat kedutan keduaku terjadi.

“Kyooooooonnn” Aku setengah berteriak saat spermaku menyembur keluar. Yona sedikit terlambat menarik pinggulku, 2 semburan pertamaku membasahi vaginanya, lalu 5 semburanku menyasar wajah, dada, hingga perutnya. Yona kaget saat tubuhnya menjadi tempat pertumpahan cairan benihku.

 

Kubersihkan wajahnya dari semburan bekas pertempuran kami, lalu tubuhku seperti ingin istirahat meski aku tak merasa lemah. Tubuhku menindih tubuh gadis yang barusan kugagahi Tangannya melingkari punggungku & Yona mulai menciumi bibirku dengan hembusan nafas yang terasa lembut. Lidahku lebih aktif memainkan lidahnya, entah seperti menjilati atau memainkan lidahnya. Tak peduli berapa banyak liur kami yang bercampur. Liurnya kutelan, banyak sekali ternyata.

“Mmhhhhhhhh” Desahannya tertahan mulutku. Bibir kami juga bermain. Lidahnya menjilati lidahku juga. Kami meresapi sisa kenikmatan yang mungkin kita bisa mengulangi lagi. Ciumannya penuh perasaan, seperti merindukan seseorang.

“Eh” Yona terlepas dari ciuman bibir kami, seperti terdengar getara HP di meja.

“Udah, lanjut dulu Yon”

“Enggak, kayaknya ada yang telpon, kamu istirahat aja ya, kamunya kecapekan”

“Enggak capek kok Yon” Apa daya, aku harus menuruti Yona agar ia tenang, lalu ia menangkat teleponnya dengan kondisi tubuh tak terselubungi apapun.

“Halo Dut, bentar ya, baru bangun nih heheheh” Kira-kira itu yang kudengar singkat dari teleponnya.

“Siapa Yon”

“Oh Dudut kok, dia pulang kampus, cuma 1 mata kuliah dianya, dia ngajak aku ke rumahnya”

“Bekasi?”

“Iya, dah ah, aku mandi dulu”

“Ikutan dong Yon”

“Hmm, terserah lah, ayo, katanya ikut” Lenganku ditarik Yona ke dalam kamar mandi. Kecil, tapi cukup rapi & bisa cukup luas jika berdua.

 

Yona mengguyurkan tubuhnya di bawah shower air hangatnya & menyabuni tubuhnya. Aku menebeng shower & juga menyabuni tubuhku, tapi dimulai dari pahaku yang terkena semburan cairan orgasmenya.

“Sini aku bantu” Sisa sabun di tanganku kugosokkan di punggungnya dengan sedikit memijatnya.

“Mmhh enak banget” Yona seketika berhenti menyabuni tubuhnya. Tanganku iseng menyabuni payudaranya & kupijat dengan pelan.

“Aaaahhhh nakal ih” Ia menjadi sensitif. Tapi di sisi lain, pantatnya menungging ke arahku. Sial, penisku berdiri lagi. Aku melanjutkan menyabuni pantatnya.

“Hehehehe mulus”

“Ih apaan sih, nakal banget” Tangan kanannya mencegah tangan kananku meremas pantatnya dari belakang. Untungnya tangan kiriku bisa meremasnya & bahkan menggosokkan kedua lubang selangkangannya. Desahannya menggema dalam kamar mandi.

“Yona, once again…”

“Tuh kan, gak mau” Ia memanyunkan bibirnya saat menoleh padaku. Lucu sekali ekspresinya.

“Please lah, kamu gak pengen kontolku lagi?”

“Emm gimana ya, aaahhhh” Aku tak sabar untuk menyetubuhinya dari belakang, kucolek vaginanya lagi dengan jari-jariku.

“Boleh ya” Tanganku semakin liar menjamah selangkangannya. Ia tak menjawabku, tapi ia memegangi temboknya & menunggingkan pantatnya sedikit seakan memberi kode padaku untuk melakukan pergumulan lagi.

Batang kejantananku yang sudah mengeras lagi kuarahkan ke liang kenikmatan milik Yona. Jujur saja, sekarang tak sesempit waktu melakukan hal yang serupa di rumahnya kala itu. Sangat mudah untuk memasukkan alat vitalku ke dalam vaginanya.

“Aaaahhhh” Yona mengerang & tubuhnya sedikit bergetar seperti kegelian, padahal baru ujungnya. Aku memasukkannya perlahan sambil memegangi pinggulnya. Lalu, kuhentakkan pantatnya.

“Aahh aahhh mmhhhh kontolmu enaaak ssshhh” Suaranya menggema. Kami beradu selangkangan di bawah guyuran air hangat. Tubuh seksinya dari belakang sangat menggodaku, apalagi jika hanya berlapis kulit.

“Yooooonnnn” Hentakanku semakin dalam & ujung penisku perih. Yona hanya bisa melenguh membuang nafas dengan berat. Entah mengapa ia lebih bernafsu saat kami bercinta. Akal sehat memang kalah dengan nafsu, apalagi urusan organ intim.

“Iyaaah mmhhh mmhhh oohhhhh” Erangannya semakin liar begitu ciumanku mendarat di lehernya. Posisiku kini seperti memeluknya dari belakang dengan kaki kirinya kuangkat untuk mempermudah senggamaku. Aroma sabun di tubuhnya seakan memiliki kekuatan magis yang menyihirku menggagahinya. G-spot Yona memang agak dalam & memaksaku menggempurnya secara liar.

“Yoonn sempiiit, aaaahhh” Aku menjadi menggelinjang begitu ia menjepit batangku sekuat tenaganya.

“Mmhh mmhhh fuck me baby aaahhh” Tubuhnya yang licin itu memberontak seperti kegelian. Pantatnya kadang maju, kadang mundur. Tubuhnya terkena imbas sodokanku.

 

Kuhentikan sejenak pertempuranku. Kubalikkan tubuhnya tanpa mencabut alat kelaminku. Yona menciumi bibirku lagi dengan liarnya. Sodokanku kumulai lagi. Kali ini lebih licin dibandingkan barusan. Mungkin saja cairan pelumas vaginanya kembali terproduksi.

“Mmhhh mmhhh mmhhhhhhh mmmhhhhh” Erangan kami tertahan lidah lawan pergumulan masing-masing. Aku harus bisa mengimbangi kedua mulutnya, di atas & di bawah. Hujamanku menyebabkan lidah kami agak tergigit.

“Mmmhhhh emmhhhhh” Hembusan nafasnya kembali tak teratur. Dadanya tergencet dengan dadaku yang membuat penisku semakin memberontak akibat rangsangan itu. Ditambah belaian tangannya di pantatku seakan mendorongku lebih dalam. Liur kami meluber di sudut bibirnya karena tak bisa menahan efek genjotanku. Ia tiba-tiba agak berjongkok sehingga selangkangannya melebar. Selangkanganku bisa bermain dengan bebas sehingga organ kemaluanku bisa bergerak lebih liar di liang kewanitaannya.

“Ahhh ahhhh aahhh yes baby sssshhhh” Giginya menggigit bibirnya sendiri tanda ia keenakan. Air shower yang mengguyur kami seakan membuat tubuh kami semakin licin karena sabun yang kami lumuri melarut. Rambutnya semakin berantakan ke mana-mana.

“Mmhhh sakiiit oohhh oohhh oohhhh oorrrhhhh” Pelukannya semakin kuat & seperti tak memberiku kesempatan bernafas. Nafsunya yang semakin liar itu semakin parah & ditakutkan salah pelampiasan jika tak kulayani. Gadis kesepian itu seperti melampiaskan emosi terdalamnya padaku dengan adegan ini.

 

Aku kesulitan memeluknya karena ia agak berjongkok. Tapi, bagaimanapun juga aku harus memuaskannya. Hujaman tiap hujamanku membakar nafsu liar Yona.

“Mmhh sayaaaanggg” Ia merancau tak karuan. Ia seakan digagahi pacarnya sendiri. Beberapa saat kemudian, tubuh kami sama-sama menggelinjang. Detak jantung kami terasa cepat. Begitu pula dengan cengkraman otot organ intimnya yang semakin berkedut kencang. Selangkangannya ikut bermain mengimbangi irama hentakan selangkanganku.

“Mmhh mmhh kyaaaaaaaaaa” Kali ini, Yona sangat cepat mencapai puncaknya. Semburan cairan hangatnya membasahi pahaku lagi. Kupeluk erat tubuhnya agar ia tak terjatuh.

“Yonaaa, Yonaaaahh mmhhh” Ledakan tubuhku semakin terasa.

“Jangan di dalaaammm, aku  lagi subuuur mmhhh” Yona dengan cepat menarik alat vitalku, lalu ia arahkan ke pangkal paha sisi luarnya & ia jepit. Kulanjutkan dengan menggesek pahanya, dekat mulut vaginanya. Gesekanku semakin cepat, hampir menyentuh klitorisnya.

“Ahhh Yoonn akuuu aaaaaahhh Yoooooonnn” Kali ini aku tak bisa menahan gejolakku & cairan maniku menyembur di sela-sela pahanya.

“Mmhhh anget enak pejumu” Yona kembali memelukku dengan erat seakan tak ingin lepas dariku.

“Yoonnn, maafin aku” Entah kenapa rasa tidak enak muncul dariku, seperti rasa bersalah.

“Gak usah minta maaf, tapi makasih ya, I love your dick baby”

“Yuk lanjut mandinya” Aku terpaksa melepas pelukannya untuk melanjutkan mandiku. Yona pun juga melanjutkannya.

Sesaat setelah mandi, Aku kembali berpakaian seperti sebelumnya. Sedangkan Yona mengenakan kaos putih dengan lengan sangat pendek & dipadukan dengan celana jeans ketatnya jingga pantatnya tercetak.

“Duh, udahan deh mainnya, kalo keterusan kamunya dimarahin pacarmu” Yona menutup mataku dengan tangan kanannya.

“Emm maaf maaf Yon”

“Hmm, khilaf aja gapapa kali, yuk ke rumahnya Dudut”

“Mau nungguin manasin mobil di depan Yon?”

“Mau lah Joel” Yona mengunci kamarnya dari luar & berjalan menuju parkiran.

“Ah, akhirnya gak perlu dipanasin” Aku menghidupkan mesin mobilku yang agak lama terparkir. Starternya tak sulit. Yona mengencangkan sabuk pengamannya. Selain itu, kunyalakan radio agar Yona tak suntuk dalam mobil.

 

Tiba di depan rumah Sinka di Bekasi. Depan rumahnya terdapat taman, mungkin bisa digunakan bermain basket. Ah, kalau aku malah main sepak bola di tempat itu karena aku tak terlalu suka bermain basket. Dari arah belakang mobilku yang kuparkir, terlihat sepertinya mobil Harry.

“Ah lu tong” Aku membuka pintu mobilku & tentu saja ada Harry.

“Lah lu ngapain bawa Yona?”

“Gua nganterin ke rumahnya Sinka”

Tak lama berselang, sepertinya ada suara teriak, sepertinya suara Sinka dari belakang mobil Harry.

“Ih, lepasin, udah sana pergi!” Kami pun mencari lokasi suara itu. Tentu saja Sinka ditarik seorang pria asing.

“Sin, tolong jelasin, aku mau ngomong sama kakakmu” Tangan pria itu masih memegang tangan Sinka

“Udah deh, kamu tuh bikin takut aja satu rumah!” Sinka berusaha melepas genggaman tangan orang yang mencurigakan itu.

“Woi bangsat! Lepasin gak?” Refleksku berlari & berusaha melepaskan tangan orang itu.

“Anda siapa? Saya gak punya urusan…”

“Saya staf tempat Sinka kerja, mau apa?” Untung saja ID card keanggotaan stafku masih ada di dompet sehingga bisa kutunjukkan. Sontak orang itu lari menuju motornya. Belum sampai menyalakan motornya, aku berhasil menendang jatuh motor itu & pria itu jatuh juga.

“Kamu ini siapa kok nekat pergokin rumah member jeketi?” Kubentak sambil menendang bahu kanannya.

“Joel, please, kasian dia…” Sesaat Yona menarik lengan kiriku. Harry langsung merogoh dompet pria itu.

“Oh pantesan, si Fahmi ternyata, yang tukang nyamperin rumah” Harry terheran saat melihat KTP orang itu.

 

Saat kami mengintrogasi Fahmi, ada suara orang teriak. Suara itu semakin terdengar keras

“Woi, ada apa ribut gini?” Rupanya satpam perumahan pun datang.

“Begini Pak, kami mau menjelaskan dulu…” Harry mencoba menjelaskan kronologinya.

“Gak perlu, oh orang ini lagi, gak kapok diusir?” Satpam perumahan itu mengangkat tubuh Fahmi.

“Pak, saya tolong mau ketemu Naomi dulu”

“Asal kamu tau, kelakuanmu udah terkenal. Fans macam apa kamu?” Kutunjukkan beberapa screenshot tweet Fahmi, lengkap dengan berita yang viral.

“Baik, terima kasih udah tahan orang ini. Udah pernah begitu dia. Nanti saya bawa ke pos” Satpam perumahan itu membawa Fahmi menjauh, mungkin saja digelandang ke bagian keamanan. Sementara itu, Yona merangkul Sinka yang menangis, entah merasakan jijik, privasinya bocor, atau merasa diteror.

“Joel…”

“Yon, orang itu emang cari sensasi, coba kamu buka twitternya” Kuberikan HP milikku ke Yona. Dahinya mengernyit heran. Ia scroll akun itu. Beberapa saat ia menggelengkan kepalanya.

“Emang kebangetan ya”

“Kak Yona, takut…” Sinka masih merasa ketakutan akibat barusan.

“Udah dibawa satpam kok” Harry mengusap kepalanya. Setelah dirasa stabil, aku pamit pulang, sedangkan Harry masih di sana.

 

Malam pun tiba. Ini waktunya makan malam bersama member team K3. Nat & Nadila sudah rapi dengan sama-sama mengenakan baju hitam tanpa lengan dengan tapi di dada. Mereka memang kompak mengenakan itu.

“Kak, yuk lah” Nat mengajakku pergi malam ini.

“Kak, kita kayak kembar gak?” Nadila berdiri di samping Nat.

“Wah, kayak anak kembar lho, yuk berangkat” Kami bertiga berangkat dengan Honda Jazz biru. Mereka sibuk mengupload snapgram. Aku hanya bisa tersenyum & aku harus fokus menyetir, apalagi menyimak info kemacetan jalanan. Mereka janjian di Eat and Eat Fx Sudirman. Ah kenapa di Fx terus sih?

“Kak, Kak Yona udah di sana?” Nadila berjalan dengan jaga jarak agar tidak muncul fitnah.

“Udah kok Nad, tuh” Kutunjuk Yona yang sudah di sana bersama Lidya & Yupi. Mereka berbaur dengan rekan satu team, sedangkan aku duduk menyendiri di dekat mereka. Beberapa member menyusul, seperti Gre, Anin, Shani, Frieska dengan Beby, Rachel, & beberapa member lainnya. Lama kelamaan, hampir semua member datang.

“Kak, kok sendirian?” Nat menarik lenganku, kebetulan posisiku berlawanan arah & di belakangnya.

“Eh Nat, punyaku” Bisikan Beby terdengar juga.

“Udah ah Beb, jangan ditarik gitu” Kemudian ada suara Nadila.

“Ehem, jadi rebutan nih” Harry kenapa datang ke sini juga?

“Woi, mending lu ke theater aja, nonton Pucchi”

“Ah setan”

Semua ramai & tampak kerinduan pada member yang setahun pergi pun kembali, terutama member generasi 2.

“Kak Yon, traktir dong” Yupi terdengar seperti memohon.

“Nah, aku juga…” Suara itu bersahutan. Aku refleks menoleh & melihat ekspresi Yona yang kewalahan.

“Yon, nih, pin begini begini begini…” Kupinjami kartu ATM dari bank 3 huruf sambil berbisik. Ia hanya tersenyum. Sementara itu, Harry mendekati Lidya. Ah aku tak peduli.

“Emm, Naomi mana Yon, kok gak keliatan?” Aku baru menyadari jika Naomi datang.

“Katanya sih malah hangout sama Sendy” Aku memang curiga dengannya, justru menjadi lebih memedulikan Sendy yang merusak kariernya sejak pernah pindah ke team J daripada teman seperjuangannya di generasi 2. Ada apa?

Silahkan Rate Cerita ini

Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.

author
Author: 
    Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.