Modus Part 23 – Crescendo yang Penuh Makna

No comment 3582 views

Video klip Cinta Tulus Crescendo masih menjadi trend di kalangan fans. Banyak yang mengapresiasinya melalui komentar channel Youtube resmi. Mungkin aku salah satu orang yang sering memutar kembali video itu. Dance seksi Shania, tatapan penuh hasrat Yona, & diam menghanyutkan Ikha meski vokalnya kurang kelas.

“Waduh gan keseringan liatin Yona, masa di kantor kayak gini?” Joseph menepuk pundakku dari belakang.

“Namanya aja seger”

“Masih pagi Joel, malah nonton paha Yona, masih kurang jatah lu?” Joseph berbisik agar pengalaman liar kami bersama Yona tak bocor.

“Kampret, masih pagi bahas gituan, kayak pengangguran aja” Entah ke mana Joseph, aku tak peduli. Kuamati dance panas itu. Tak sedikit komentar yang ekspresif saat melihat keseksian mereka.

Cukuplah dengan satu tetesan cinta itu jikalau ia menyentuhnya
Mata hati yang layu bagai bernafas lagi, ya wanita pun mekar
Di tepi tiada hujan turun, cinta yang terluka bagaikan fajar yang menyingsing

Perlukah aku ajak?


Kuingin dipeluk malam ini, ku pasrah kepada apapun yang nantinya akan terjadi
Ku ingin dipeluk malam ini kuingin kau lepaskan semua
Cinta yang tulus Crescendo

 

Antara menahan diri atau membiarkan jiwaku untuk menikmati tiap kata & lirikan sadis mereka, aku tak mampu menentukannya. Segala mereka mengingkan lebih dari sekedar pelukan. Lagu itu jika dihayati lebih dalam harusnya ada label Parental Advisory. Tapi, ah sudahlah, biarkan khalayak menikmatinya.

Tiba-tiba aku teringat dengan unit song yang pernah Nadila bawakan saat theater K3 Believe, Pada Malam yang Berbadai. Aku merasakan kedua lagu itu memang memiliki kesamaan, hanya saja di lagu Pada Malam yang Berbadai, justru wanita yang aktif memiliki pria meski dengan cara yang tidak pantas, sedangkan Cinta Tulus Crescendo wanitanya justru pasrah. Aku membayangkan video klip lagu yang pernah Nadila bawakan, wanita merebut pacar teman terdekat, lalu ia ajak ke rumahnya, & terlalu liar bagiku untuk kubayangkan & bisa saja kena cekal.

“Kak, kalo aku bawain Crescendo bagus gak?” Chat Nat menghentikanku menonton video itu sebentar.

“Wah ya cocok Nat, itu butuh sexy dance, Nju aja kalah lho kalo sama kamu”

“Wkwkwk masa kak?”

“Sumpah Nat, apalagi body kamu bagus”

“Emm gimana ya, soalnya udah dipake Kak Yona”

“Belum rejekimu Nat, dah kuliah dulu, awas gak fokus” Kutunggu beberapa saat, Nat hanya membalas “OK”, lalu lama tak aktif. Semoga saja Nat diberikan kelancaran.

 

Keesokan harinya, sebenarnya jadwal tak terlalu padat. Rutinitasku tidak bisa lepas dari mengantar kedua gadis yang kucintai pergi ke kampus masing-masing yang jaraknya cukup jauh kalau macet. Untung saja mereka menerimaku dengan keadaan menyetir kebut & mencari celah sempit, ya mau bagaimana lagi daripada terlambat. Tak hanya mengantar mereka, aku merapikan kedua kamarnya saat mereka mandi pagi.

“Kak, nanti malem aku nginep di kosan Della” Hmm, pantas saja Nadila membawa tas agak besar, ternyata ia berencana menginap di kosan Della.

“Aku mau nginep sama Acha” Nat malah ikutan menginap di tempat temannya.

“Jauh Nat, kan Bekasi”

“Gapapa kali kak, emang gak boleh ya?” Nadanya sedikit meninggi. Aku baru ingat jika ia agak sensitif karena datang bulan.

“Yang ngelarang juga siapa Nat”

“Asik” Ia lalu menelepon Acha, tapi anehnya speaker HP Nat sengaja ia keraskan. Ah, sebenarnya hari ini kosong, hanya saja aku malas di kosan saja.

 

Jika saling maafkan


Kuingin bermimpi satu malam, perasaan benci yang kuat ini pasti bisa kuatasi
Ku ingin bermimpi satu malam, dirimu jadi milikku saja
Hasratku ini crescendo

 

Sepertinya aku tersihir dengan lagu yang masoh booming dengan video klip lagu itu yang notabene bukan lagu single,. melainkan unit song theater Sekarang Sedang Jatuh Cinta milik Team J itu. Tarian menggoda Shania yang pernah menjadikanku budaknya, ekspresi Yona yang mengharapkan lebih dari sekedar hubungan asmara, & Tatapan Ikha yang pasrah. Ah tidak, terlalu kacau dengan video klip itu. Seakan aku terjebak dalam 3 gadis itu.

 

Aku hanya berdiam diri di minimarket 24 jam. Bosan memang jika aku menenggak kopi kalengan. Untung saja ada yang menyediakan onigiri untuk teman makan sore. Minimarket saat ini masih ada 1 pengunjung, yaitu aku. Sisanya adalah pegawai yang masih senda gurau karena masih sedikit pengunjung.

“Joel ya?” Tanya seorang gadis berkacamata bingkai persegi panjang dengan rambut pendek tak sampai pundak. Ia mengenakan kaos putih longgar & celana jeans hitam ketat.

“Lah Ikha, kok ke minimarket?”

“Bosen ah, mau kelarin skripsi” Tasnya ia buka, lalu ia mengeluarkan laptopnya. Sepertinya ia sebelumnya restart.

“Oh, biasanya sama Saktia”

“Tau tuh, malah main sama Yona, jangan ganggu ya”

“Yaudah, aku pindah ke kursi seberang situ”

“Hehehe gak gak, sini temenin aku, emm enaknya sarapan apa ya?”

“Onigiri aja, simpel”

“Nyoba ah, jagain laptopku yak” Ikha mencari makanan yang kumaksud. Rupanya ia sudah semester akhir. Ah sudahlah, semua orang punya pandangan hidup, ada yang ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya, ada juga yang beranggapan selama mau berusaha, uang bisa dicari meski pendidikan tak perlu tinggi sekali.

“Udah makan?” Ikha kembali dengan membawa onigiri, kopi kalengan, & roti.

“Udah kok, makan aja” Aku heran kenapa ia memesan kopi yang sama. Kubiarkan ia mengerjakan skripsinya dengan membawa sebendel kertas, mungkin revisian.

 

Dering chat grup staf pun ramai dari tadi. Kubuka isi obrolan itu. Antara kaget & khawatir menjadi satu.

“Ted, Bu Imel beneran cuti lama?” Edgar tak percaya begitu melihat postingan surat pengajuan cuti bos kami.

“Yaelah, itu kan difoto suratnya” Hans membalas kemudian.

“Padahal baru aja jadi GM” Aku baru ikut obrolan itu.

“Iya yak, padahal inovasinya bagus, ngadain event keliling lagi” Eddy menyayangkan itu.

“Semoga aja gak jadi lama, keburu tenggelam” Rangga berharap Bu Imel kembali. Helaan nafasku berat, tak peduli apa yang di depan angin yang kuhenbuskan itu.

“Napa Joel?”

“Gini Kha, Bu Imel…” Kutunjukkan beberapa chat grup staf. Raut wajahnya terlihat heran setelah membaca itu.

“Kirain hoax, eh beneran. Hmm gimana nih?”

“Kamu fokus aja dulu skripsiku, masalah staf gituan biar aku aja yang mikir” Kucoba agar ia tak bercabang pikirannya. Aku mungkin tahu jika Bu Imel cuti lama, bisa jadi berpengaruh pada mental member idol. Aku tetap menenggak kopi kalengan sambil mengamati timeline.

 

Kami jarang berbicara karena aku ingin ia konsentrasi. Sesekali Ikha mengajakku bicara tentang seluk beluk hidup kami sesaat ia mulai terasa jenuh. Biasanya ia mengerjakannya bersama Saktia.

“Oh, jadi sekarang papa di Jepang ya?” Tatapan sejuknya beralih padaku saat ia menghentikan pekerjaannya sebentar.

“Iya, tapi rasanya jauh, dihubungi kadang gak bisa, mungkin sibuk shooting” Aku malah curhat tentang ayahku.

“Iya sih, tapi mending punya papa”

“Tapi mama yang gak tau ke mana Kha”

“Hmm iya sih”

“Udah deh Kha, lanjutin dulu skripsi…”

“Kelar kok, anter aku dong”

“Ke mana?”

“Apartemennya Shania gimana?”

“Gak pulang aja?”

“Bosen”

“Entar Mou nyariin lho”

“Kan ada mama”

“Terserah dah” Kubereskan sampah sisaku, lalu kembali ke parkiran mobil. Ikha menyusulku setelah kuberi kode boleh masuk dalam Honda Jazz biruku.

“Gede ya”

“Kalo gede mah naik truk aja”

“Ah elah Joel” Sabuk pengamannya ia pasang sendiri. Karena tak tahu apartemen Shania, aku memintanya membuka Google Maps.

“Gak kuliah Joel?”

“Anggap aja pernah Kha”

“Sayang banget tuh”

“Ya emang tergantung orangnya, yang penting suka sama pilihannya” Susah untuk menjawabnya, ditambah lagi harus fokus berkendara. Ia akhirnya menerima jawaban penuh teka teki itu.

 

Kami sampai di basement parkiran apartemen. Eh, bukannya rumah Shania di Bekasi? Kenapa malah di apartemen?

“Eh, udah di parkiran nih” Ikha menelepon seseorang, mungkin Shania pemilik kamar itu.

“Langsung naik?” Pintu mobil kukunci melalui remote.

“Iya lah, masa di parkiran?”

“Yaudah ikut” Aku membuntuti Ikha menuju lift. Satu lift ternyata tak hanya kami, ada beberapa penghuni apartemen lain.

“Pacarnya dek?” Tanya bapak-bapak yang terlihat tegap.

“Bukan kok, cuma temen”

“Oh, duluan dek…” Bapak-bapak tegap itu keluar dari lift saat perjalanan lift kami masih separuh. Perlahan lift ini menyisakan kami berdua.

“Kamu duluan Kha”

“Okelah” Ikha berjalan di depan setelah kami keluar dari lift. Kira-kira 5 pintu kamar, ia mengetuk pintunya. Beberapa saat kemudian, pintu itu baru terbuka.

“Lah Yona?” Aku sedikit aneh karena bukan Shania yang muncul. Ia mengenakan kaos hitam lengan panjang.

“Heheheh Nju nya masih di bawah, masuk aja kali”

“Aku gak liat Nju di bawah”

“Wah gak tau Joel kalo di mananya” Yona menutup pintunya saat aku & Ikha sudah masuk. Begitu masuk, AC kamar serasa masuk freezer saking dinginnya. Betah sekali Yona tadi dengan suhu AC seperti ini.

 

Cukup luas apartemen Shania ini. Lemarinya agak kecil sehingga tampak menyisakan banyak ruang kosong. Kelihatannya cocok untuk kumpul orang banyak. Saat aku melihat jendela luar, Ikha & Yona mengobrol tentang video klip yang booming itu, janji untuk ranking 1 Request Hour tahun lalu.

“Kak Yon, ada yang bilang kalo suaraku gak jelas”

“Lah, kamu sih Kha kurang keras dikit”

“Tapi tuh malah banyak yang view”

“Itu mah pada dengerin lagi yang kamu nyanyiin”

“Emm, Ikha emang kalah suaranya sama musik Yon” Aku ikut obrolan itu. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka seakan ada seseorang yang masuk.

“Lah Kak Joel ngapain ke sini?” Rupanya gadis pemilik choco chip di sisi kanan bawah wajah itu dengan tubuh berbalut jaket biru dalaman hitam, pokoknya sampai kaki celananya hitam.

“Eh Nju, selamat ya MV nya laris”

“Oh es cendol kak?”

“Film kamu sama Kakek Sugiono, ya es cendol lah Nju”

“Cabul ah cowok ini” Celetuk Yona menyusup antara aku & Shania. Laptop Ikha dipinjam Yona, lalu membuka Youtube.

“Wah pasti mau nonton es cendol, aku udah sering Yon”

“Wah ketagihan, mau lah nonton lagi” Wajah Yona menoleh padaku. Dengan modal wifi apartemen, mereka menonton video klip itu. Tangan Yona menyenggol bahuku, memberi kode untuk ikut menonton video itu.

 

Jujur saja tak ada kata bosan melihat keseksian mereka bertiga. Dengan kostum ungu mereka, penampilannya powerful & penuh makna nakal. Aku masih memahami ketiga gadis itu dalam makna “ku pasrah kepada apapun yang nantinya akan terjadi”, apakah mereka menginginkannya? Mungkin iya untuk Yona, Shania malah memalak hal itu dulunya, Ikha?

“Kak Yona, aku pernah ngajak main sama staf lho” Shania memulai obrolan lepas itu.

“Ih masa?” Yona terheran begitu mendengarnya.

“Ssst, yang aku ajak main ada di belakang kak” Shania bermaksud pernah mengajakku bermain liar.

“Heheheh kayak baru tau aja, aku aja pernah main sama dia lho”

“Sumpah Kak Yon?”

“Beneran Nju, malah akunya dipake rame-rame sama dia & temen-temennya, sampe lemes parah njir”

“Gila, aku malah ngebudakin, eh akunya kewalahan” Entah mengapa Shania & Yona membahas cerita kelamku?

“Gila yak, sampe Nat aja cerita kalo dia sering dibikin melayang gitu” Yona terbahak setelah menceritakan pengalaman itu.

“Eh ceritain apaan sih kak?” Ikha yang dari tadi bingung menanyakan cerita itu.

“Ssttt ada yang nguping tuh” Shania baru menyadariku dari belakang. Aku hanya tertawa saat mereka bertukar pengalaman pribadinya.

“Oh jadi kalian perform seksi cuma buat…”

“Heheheh jujur gak ya?” Shania mulai memerah wajahnya.

“Yakin mau? Dulu yang jadiin kakak budak siapa hayo?” Tubuh kurus & tinggi itu seketika melemah begitu kusergap. Anehnya, ia tak pasrah, apakah ia pasrah dengan apa yang nantinya terjadi?

 

Yona & Ikha kaget saat tubuh Shania kutindih. Salah sendiri ia menjebakku kala itu & melalui penampilan video klip itu. Leher sebelah kanannya kugigit pelan-pelan.

“Ngggghhhh” Nafasnya seketika sesak & tangannya terlentang pasrah. Tangan kiriku ditarik Yona, kupikir ia berusaha memisahkan kami, justru tanganku ia susupkan ke dalam kaosnya & ia arahkan ke daging empuk dari luar penyangga sesuatu.

“Enngghhhhh” Desahan Yona mulai memanasi pikiranku.

“Sadar woi” Ikha rupanya gagal menyelamatkan teman-temannya yang mulai terbawa suasana itu. Ciumanku bergeser menuju bibirnya & kumulai permainan lidah ini. Lidahku semakin dalam & menjilati lidahnya. Nafasnya yang berat terasa kencang mengaliri wajahku.

“Oohhhh” Justru Yona yang menggelinjang akibat tanganku tak bisa kukontrol. Bibirnya kumainkan dengan cepat agar ia semakin terbawa suasana. Sementara itu, Yona mengangkat kaosnya sehingga tanganku serasa sedikit bebas. Begitu pula tangannya meremas punggung tangan kiriku yang aktif meremas dadanya.

“Sshhhh ooohhhhh” Yona tak mampu menahan sesuatu. Dengan liar juga, tangan kananku meremas payudara Shania dari luar kaosnya. Lidahnya mulai aktif menjamah lidahku & seakan menjilati liurku yang mulai mengalir ke bawah.

“Wait” Yona menjauhkan tanganku dari dadanya. Tangan kiriku menekan kepala Shania. Rasanya pertarungan lidah kami semakin liar. Gerakan lidah kami cepat & saling beradu layaknya bermain pedang. Begitu Shania sesak nafas, kuhentikan pertarungan ini dengan menggigit bibirnya.

 

Ikha yang tadinya tak berani membuka mata, mulai liar meremas dadanya sendiri dari luar kaos putihnya sambil menggigit bibir bawahnya. Aku sengaja membuatnya tanggung, lalu kusergap Yona dari belakang.

“Mhhhhh geliii aaahhhh nakal ihh” Yona protes saat area belakang telinga kanannya kujilat. Tanganku meremas payudaranya juga. Kepalanya mendongak seakan memintaku mencumbu lehernya. Kulatanku menyusur hingga lehernya & kugigit pelan lehernya.

“Oohhhhh teruuuusshhh” Tangannya ikut meremas tanganku, seakan ia benar-benar menginginkannya. Gelagatnya terlihat pasrah dengan perlakuanku.

“Mmhhhh” Desahan Ikha semakin keras. Disusul dengan erangan Yona yang nakal. Dengan tangan kiriku, kubuka kait celananya & berhasil menyusupkannya dalam lubang kenikmatan pria. Perlahan gigitanku menyusuri pundak kanannya & menghirup aroma tubuhnya yang sedikit bercampur parfum.

“Aaahhh geliii” Tubuh mangsa yang kudekap itu menggeliat, bahkan pahanya memberikan perlawanan menjepit tangan kiriku saat kumasukkan & kuurut dinding organ itu. Beberapa saat, tubuhnya melengkung ke depan & menyulitkan remasanku yang kasar.

“Mmhhh mmhhh mmhhhh I’m coming aaahhh” Yona berteriak sesaat kemudian. Tanganku serasa basah & hangat. Sangat cepat bagi Yona untuk mencapai puncak kenikmatan. Kuangkat paksa kaos hitam itu & kubiarkan ia tetap mengenakan celana agar mengacaukan hasratnya, barangkali tak betah dengan celananya yang basah.

 

Shania malah sudah berlapis kulit mulus & memainkan organ intimnya sendiri. Ikha semakin ganas remasan di dadanya sendiri.

“Mending aku bantu” Tanganku mengangkat kaos & melepas kait BH hitam itu. Buah dadanya yang cukup besar itu menggantung dengan puting kecoklatan.

“Mmhhhh gelii aaaaaarrrrhhhh” Bukannya melawan, ia malah larut dalam permainan itu. Tangannya bertumpu di belakang. Puting yang mengeras itu kugigit keduanya.

“Sssshhhhh” Erangannya menandakan rasa nyeri akibat kugigit, atau malah kegelian. Kuvariasi dengan menghisap sambil menjilatinya. Dadanya yang membusung mendesak wajahku. Cukup padat bongkahan dadanya. Belum lagi aroma khas saat wanita terangsang. Nafasnya seperti cepat dengan desahan. Tak puas di dadanya, bibirku kugeser ke perut datarnya & menjilatinya. Kancing celana jeans miliknya kulepas, lalu kutarik celananya hingga menyisakan celana dalam putihnya. Begitu kulepas celana dalamnya, harta tersembunyi berupa mulut vagina yang mulus tanpa bulu.

“Mmhhh pelan dong aaahhh”

“Ye belum aku sodok Kha” Awalnya kuhirup aroma lubang itu meski sedikit aneh. Lidahku mulai menyapu bibir lubang surgawi itu & daging kecil seukuran kacang itu.

“Aahhhhh geliiiii sshhhh” Kakinya mengangkang lebar seakan membolehkanku menjilatinya, tanpa merasa risih. Aroma khas liang yang sedikit becek itu menggodaku. Sapuan lidahku sedikit membuat gadis itu mendesah & menggelinjang.

“Ssshhh teruuuuss mmhhhh” Selangkangannya terangkat sedikit menunjukkan rasa gelinya. Hembusan nafasnya terasa kencang akibat kewalahan denganku.

 

Wajahku semakin terbenam di depan organ intim Ikha. Kurasakan kakinya ia kunci tubuhku, seperti tak ingin kuhentikanya.

“Kak, kocokin dong, masa Kak Yona udah sampe, nanggung nih” Shania menarik tangan kananku & diarahkan ke organ kewanitaan yang hangat itu. Kugunakan 3 jariku untuk mengocoknya. Aku harus bisa membagi konsentrasiku menjilati Ikha & mengocok Shania. Baru sebentar kuobok lubang itu, Shania sudah merintih & ototnya berkontraksi. Lubang lahir Ikha semakin berkedut kencang seakan menjepit lidahku. Liang surgawi itu semakin hangat.

“Mmhhh mmhhh kebeleeettt asshhhh” Nafasnya semakin berat disusul erangan. Pahanya mulai menjepit kuat kepalaku.

“Aaaahhhh” Pantatnya terangkat & sedikit cairan dari sekitar organ intim gadis itu menyembur. Hisapanku semakin kuat & menelan cairan gurih itu. Setelah puas menghisapnya, aku kini fokus ke Shania agar ia juga mencapai puncaknya. Tubuhnya yang tengkurap memamerkan pantatnya.

“Sshhhh garuuuk enaak aaahhh” Ia mengubah posisinya menjadi merangkak dengan pantat lebih tinggi. Area sensitifnya mulai kutekan sambil kugesekkan. Lubang anusnya kumainkan dengan jempolku.

“Sshhhhh jangaaaaannn aaahhhh” Pantatnya semakin menungging tajam. Punggung putihnya kuciumi, sesekali kugigit hingga meninggalkan bekas gigitanku. Keringatnya mulai membasahi tubuhnya.

“Mmhhhh kaaakkhhh” Desahannya menandakan dirinya sudah terbawa hasratnya sendiri. Sepertinya ia tak memedulikan lagi jika sisi nakalnya terekspos di sini.

Ikha & Yona terkapar di lantai, sedangkan Shania masih kuberikan pemanasan. Rancauannya semakin nakal serasa ia ingin dinakali dengan alat tempurku. Kami masih di ranjang & mengocok kasar liang itu.

“Aaahhh aahhh ahhh aahhhh” Nafas gadis ini semakin kacau. Lubang itu mulai berkedut, entah kenapa organ intimnya menjadi sempit beberapa detik. Jariku nyaris kaku di dalam.

“Mmhhh kurang keras anjing” Shania semakin liar begitu kugesek kasar vaginanya. Gerakanku seperti menggosok secara kasar dinding yang licin itu. Kehangatannya menggairahkan bagiku. Gerakan tubuhnya semakin tak bisa kukendalikan.

“Ahhh ahhh ahhhhh ssshhh stoooppp” Pantatnya semakin menungging, seakan menginginkan lebih dari ini. Jempolku semakin kasar di lubang duburnya.

“Mmhhhhh aaaahhhhhhh” Shania seperti terkejut sesaat & orgasme setelah itu. Tubuhnya terguling ke kiri & nafasnya tersengal-sengal, padahal baru pemanasan. Tanganku terasa basah akibat lendir itu. Bibir lubang itu agak memerah akibat permainan itu.

Kamu curang Joel” Yona menyergap tubuhku dari belakang & menarik kaosku secara brutal & melemparkannya ke sudut kamar. Nasib celanaku juga. Kuminta Yona menghentikan sejenak untuk mengecek chat dari kedua pacarku, rupanya tak ada notifikasi chat, bahkan telepon pun tak ada. Setelah menyelesaikan hajatku barusan, Yona menarik celanaku & dalamannya. Burung tak bersayap yang sudah menegang mengacung di depannya. Tanpa rasa jijik, ia masukkan dalam mulut lembutnya.

 

Di saat kunikmati kuluman dari Yona, ia menghentikannya. Rasa tanggungku membuat emosiku muncul & kuhentakkan pinggulku hingga ujung alat vitalku menyentuh pangkal mulutnya.

“Mmhhhh” Wajahnya memerah efek menahan rasa sakit sodokanku. Meski hidungnya tak kututupi, nafasnya sesak.

“Aahhhh sakit goblok” Dengan tenaganya, tangannya mendorong pinggulku hingga anuku lepas dari mulutnya. Untungya sudah basah.

“Gimana sih kalo ngisep cuma bentar?”

“Ngaku aja sering gini kan?”

“Nyolot amat Yon, sana ngangkang”

“Gak bisa gitu lah, kita punya cara sendiri” Rupanya Yona punya cara main itu. Shania yang barusan lemas berjalan mendekati kami, Ikha pun juga.

“Jadi pasrah diapa-apain nih Kak Yooonn” Shania terbawa makna lagu ranking 1 Request Hour 2017 itu.

“Emang enak ya? Sorry kalo cuma denger dari temen kampus” Dari omongannya, Ikha sepertinya belum pernah bermain seperti halnya pasutri.

“Enak kok, sampe rasanya ngefly gitu Kha” Tatapan Yona dibarengi senyum jahat seakan mengajak Ikha menuju kesenangan dewasa.

“Sumpah enak kak, entar ketagihan lho” Shania menarik lengan Ikha mendekatiku.

“Eits, kita hompimpa dulu gimana?” Yona menawarkan cara menentukan giliran.

“Yuk gas” Mereka pun melakukan hompimpa. 2 kali tangannya kompak semua.

“Hah?” Wajah Ikha terlihat panik saat ia menjulurkan telapak tangan, padahal Yona & Shania menyodorkan punggung tangan.

“Berarti…” Tatapan jahat Shania menatap Ikha.

“Pegangin lah biar gak berontak” Yona segera menarik tubuh Ikha ke ranjang & memegangi tangannya dari atas kepalanya. Shania memegangi betis Ikha & melebarkannya seperti mengangkang.

Tubuhku segera menindih Ikha & mengangkanginya. Tangan kiriku menuntun batang kejantanan yang sudah mengeras dari tadi ke liang vertikal itu.

“Gas lah Joel” Yona menggodaku.

“Entar lah” Kudiamkan Ikha beberapa saat.

“Pelan ya, belum pernah” Ikha meminta untuk tidak menyodok kasar seperti dengan Yona.

“Asal kamunya rileks bisa aja, udah siap?” Ujung penisku sudah menempel di bibir organ yang nikmat itu. Ikha hanya mengangguk pasrah, mungkin saja ia menginginkannya. Batang kemaluanku mulai kutekan ke dalam hingga menyentuh segel kesucian itu. Jika dirasa, sepertinya selaput itu bertipe 2 lubang.

“Mmhhhh” Pinggulnya ia tarik sedikit, tapi tak bisa karena sudah kutindih. Kudorong lagi hingga organ tipis itu berhasil kuterobos.

“Aaaakkkk periihhh” Lenguhannya menandakan rusaknya segel itu. Perlahan benda tumpul ini bisa kutekan lebih dalam setelah rintangan selaput itu kuterobos.

“Sempit Khaaahh” Ujung tombak tumpulku susah menerobos karena terlalu sempit. Maklum saja Ikha baru kali ini bermain seperti ini.

“Mmhhh sakiiitt” Matanya terpejam seakan menahan sakit yang gagal. Untung saja lubangnya licin karena pemanasan barusan. Kelaminku masuk semua dengan mencapai mulut rahimnya. Beberapa waktu setelah kusodok, kumulai permainan dengan tempo sedang. Kutarik hingga menyisakan kepalanya, kemudian kuhentakkan hingga alat vitalku masuk semua, begitu terus dengan lambat hingga ia terbiasa menerima sodokanku.

 

Begitu Ikha pasrah, Yona & Shania melepaskannya. Ranjang ini hanya kami berdua yang bermain panas. Ia tak melawan, justru melemas saat kugenjot. Kepalanya menoleh ke kanan dengan ekspresi pasrah.

“Enghhh engghhhh perih aaahhhh” Lenguhan lemahnya saat tubuhnya mulai terguncang mengikuti iramaku. Memang masih sempit, aku belum bisa memvariasikan permainan. Aku masih fokus melonggarkannya & menggempur mulut rahimnya. Tak peduli lagi dengan status, entah Ikha sekarang punya pacar atau tidak, diam-diam itu merupakan tradisi kelam, beberapa member yang tak jomblo pun disikat teman-temanku.

“Enak kok Kha, Yona aja sampe ketagihan” Kecupanku terasa nikmat saat menjamah lehernya. Efek dari serangan di lehernya, nafasnya menjadi berat. Anehnya, ia tak memberontak minta dicabut, malah menerimanya meski entah apa yang ia pikirkan.

“Mmhhh geli Joel aaahhh” Gadis itu menggelinjang saat ciuman di lehernya berubah menjadi jilatan, bahkan kusapu hingga belakang telinga kirinya. Dadaku serasa terganjal sesuatu yang keras. Ya, puting susunya mengeras karena rangsanganku. Dadanya yang cukup menonjol itu tergencet nikmat. Setelah sedikit longgar, arah hentakan penisku mencari g-spot itu.

“Ngggggg oookkhhhh teruuuuussss” Desakan dadanya akibat nafas dalamnya mendorong tubuhku.

 

Tak puas dengan 1 gaya, Kumiringkan paksa tubuh Ikha dengan posisi tidur miring ke kanan & kaki kirinya kutekuk agar memudahkan senggama.

“Aahhh kasar ih mmhhh” Ia rupanya protes dengan perlakuanku memiringkan tubuhnya. Kugenjot lagi kelaminnya secara kasar karena lubangnya sudah mulai longgar. Pantatnya kuangkat sedikit sambil kuremas. G-spot yang kukasari membuatnya menggeliat & gelisah.

“Aahh mmhh terruuuss oohh oohhhh ooohhhh” Bibirnya lalu ia gigit & memejamkan matanya. Kelaminku bervariasi mengaduk, menggesek dindingnya, sampai menghantam mulut rahimnya. Batangku semakin terasa panas memacu goa sempit miliknya, tanpa memikirkan lagi nasibnya yang akan datang.

“Aaahh Joeeell periih perutkuuu aaaahhh” Mungkin karena mulut rahimnya kugempur, sensasi sakit perutnya terasa. Tangan kiriku mulai menjamah buah dadanya secara bergantian. Cukup padat untuk seusianya. Puting susunya kucubit & ditarik. Hembusan nafas desahnya semakin deras dengan keringat yang mulai menyulitkan remasanku.

“Yesss Ikhaaa jepitt” Seketika sensasi nikmat bercinta menjadi membara saat otot kewanitaannya berkontraksi, kadang lemas. Pahanya semakin menggodaku untuk menyetubuhinya.

“Aahh aaahh aahhhh mentookk ssssshhh sakiiittt mmhhh” Tubuhnya semakin memberontak, sepertinya ada gejolak dalam dirinya. Tangannya meremas sprei lebih kuat & otot tangannya terbentuk. Tubuhku kembali menindih tubuhnya & menghujamkan alat vitalku dengan kasar. Saking kerasnya kuhentakkan pada mulut rahim & dinding liang itu, ujung batang ini semakin perih, bahkan serasa terbakar.

 

Tanganku kini mencakar dada & pantat Ikha saat menggagahi Ikha. Tangannya memegangi perut bagian bawahnya.

“Ooohhhh ngghhh aaauuu mentook saakiiiiittt” Matanya semakin terpejam seperti menahan sesuatu. Gejolak tubuhnya semakin liar. Rambut pendeknya jadi korban jambak tanganku. Lubang surgawi itu seakan kuaduk cepat tak peduli sakitnya saat menggempur area sensitifnya. Tubuhnya kaku sesaat, lalu pantatnya bergoyang saat sodokanku semakin liar.

“Kyaaaaaaaaaaaa” Ikha menjepit penisku dengan kencang di dalam, kemudian melemah setelah itu. Kesadarannya mulai kacau. Ah sudahlah, kasihan karena ia baru pertama kali. Saat mencabut alat tempurku, ada bercak darah di kasur & mungkin mengalir dari vagina itu. Darah keperawanannya tumpah bukan dengan orang terdekatnya. Aku terpaksa menghentikan permainan dengan Ikha & kuangkut tubuhnya ke sofa panjang. Teringat Shania & Yona yang menganggur, ternyata bermain 69.

“Shan…” Tubuh gadis tinggi itu kugendong ke sudut ruangan.

“Kaaakk kok di sini?”

“Biar seru, tuh kaki kirimu diangkat ke meja situ aja” Kuangkat sedikit kaki kirinya hingga berposisi seperti mengangkang. Tangannya memeluk leherku & bertumpu di pundakku.

“Ready?”

“Masukin dong kaak” Shania sudah tidak sabar untuk merasakan kembali kenikmatan denganku. Leher sebelah kirinya kugigit pelan-pelan. Namanya juga perempuan, pasti pakai parfum, sepertinya parfum mahal.

 

Kemaluanku yang tadinya menggantung bebas kugesekkan mengikuti garis bibir organ intimnya. Nafasnya seketika tak teratur dengan hembusan berat.

“Kaaakk” Shania melenguh berat tak tahan ingin disetubuhi.

“Rileks lah Shan” Sangat mudah baginya untuk kugenjot. Setelah berhasil menerobos bibir organ intimnya, tempo langsung kupacu lebih kasar. Mulut rahimnya kujadikan sasaran permainan.

“Kaaakkhh aaahh aahhhh mentook bangsaaaat” Ia merancau kacau saat lubangnya kueksplor. Tubuhnya tersentak ke atas & kepalanya sedikit terlempar akibat tempoku. Tangan kananku menjamah aset dada wanita. Kecil, tapi cukup di genggaman, tak susah untuk meremasnya.

“Sshhhh remaas kaaakkk enaak kaaaakkhhh” Nafasnya semakin kacau & mendesah keenakan. Ciumanku berpindah ke pundak kirinya. Aroma parfumnya menggodaku untuk menggagahinya. Ia memang paling menggoda dari sisi ekspresi tiap perform. Aku fokus untuk mengaduk vaginanya.

“Kaaakk aaahhhh” Desahannya menandakan rasa nikmat & perihnya organ dalam yang terletak di bawah perut itu. Sodokan yang kuarahkan menekan dinding yang dekat dengan saluran kencingnya. Aku tahu dari beberapa teman jika teknik seperti itu membuat tubuh wanita mangsa itu semakin tersiksa bercampur nikmat.

Sodokanku berulang kali menekan saluran kencing Shania. Ia pun sepertinya merasakan gejolak yang aneh.

“Ookhhh oookkhh periihhh oohhhh” Tangannya yang semula memeluk pundakku kini memukul punggungku. Sepertinya efek siksaan itu mulai bekerja. Aku membayangkan saluran kencingnya seperti ditekan paksa & diurut keras saat ingin kencing, rasanya tersiksa. Tapi bagiku menyiksa seperti itu untuk Shania malah menjadi kenikmatan tersendiri.

“Kaaaakkhh entot teruss kaaakk” Tubuhnya terpental akibat hentakan alat kelaminku yang terlalu kasar. Tak hanya menekan saluran kencingnya, ujung batang penyiksa wanita itu kugesekkan pada area sensitifnya. Area itu seperti korek nafsu baginya. Kaki kirinya nyaris kehilangan tenaga tumpuan. Tangan kirinya kuangkat & mengigit kecil ketiak kirinya. Memang sedikit sulit posisi ini di saat batangku mengeksplor liang kenikmatan itu.

“Kaaakk aaaaaahhh” Tubuhnya sedikit melorot. Genjotanku seakan tak memberi ampun baginya, tapi suka jika Shania tersiksa seperti ini. Kuhentikan sesaat ketika ia gerah.

“Kamu berdiri di deket meja aja” Tangannya kuarahkan berpegangan pada meja bercermin. Penisku kembali menghajat vagina Shania dari belakang sambil menampar pantatnya.

“Aahh aahh aahhh kaaaakkk” Lenguhannya menggema di kamar, tanpa menghiraukan Yona & Ikha. Hentakanku seakan merobek mulut rahimnya karena kurasa ujungku hampir masuk ke rahim. Tak lupa juga menekan dinding yang dekat dengan saluran kencingnya.

“Aaahh kaaaaakk mmmgghhhhhh” Efek siksaan saluran kencingnya mulai bekerja. Kepalanya menggeleng kuat.

 

Tempoku semakin kencang. Dada Shania yang kecil itu kuremas kencang juga. Remasanku tak terkontrol. Begitu dengan putingnya yang kupencet kuat. Tubuhnya semakin miring karena ia bertumpu dengan sikunya. Pantat yang padat itu kadang kutampar keras.

“Aaahh aahhh kaaak sodok yang dalem kaaak”

“Tuh gak dalem gimana” Mulut rahimnya menjadi sasaran sodokanku secara brutal. Saking kasarnya, meja tempat kami bertempur juga ikut bergoyang, bahkan menghantam dinding kamar. Sesekali klitorisnya yang sedikit bengkak kugesekkan kasar dengan jempolku.

“Aaakkkkk kaaaakkkhhh jangan crot di dalam kaaakkh” Gelagat aneh tubuhnya timbul saat sodokan semakin intens menghujam tiap sisi vaginanya. Barangkali ia akan orgasme, tapi aku tak mau tahu.

“Ayo jepit Shaaann” Aku lebih suka jika lubang senggamanya sempit. Shania kewalahan melayaniku, bahkan nyaris kalah dalam permainan ini.

“Kaaak kaaaaakkhh aaahhhh” Benar saja, otot kewanitaannya berkontraksi, tapi hanya sesaat. Kukira ia ingin melawanku, ternyata hanya sebentar. Genjotanku semakin kasar & tanpa kuberi ampun. Gerakan sodokan segala sisi seakan menggaruk lubangnya. Tubuhku kurapatkan dengan dadanya & mendekapnya sambil meremas payudara Shania.

“Kaaakk kasarin dong kaaakkk mmhhh” Kepalanya semakin merunduk seperti menyerah mengimbangiku. Ia sebenarnya pasrah, tapi sering terbawa nafsunya sendiri. Lubangnya semakin becek & menimbulkan bunyi yang keras. Suhunya juga semakin hangat sehingga betah untuk kugenjot.

 

Nafas gadis yang sering dijadikan bahan fantasi itu terputus-putus. Gelombang kejut tubuhnya sering terjadi & terasa di tubuhku. Tak ingin kuakhiri permainannya yang kasar agar ia mencapai puncaknya.

“Ngghhh kaaaakkk enak kaaaakkhhh” Keringatnya mulai bercucuran di bawah AC yang dingin. Kontraksi dinding otot kewanitaan Shania kembali menjepit organ kerasku.

“Kaaaakkhhh” Orgasme Shania akhirnya datang. Ia nyaris kehilangan topangan kakinya. Untung saja tubuhnya masih bisa kutahan meski dengan alat vitalku yang masih menancap. Kukecup sebentar pipi kirinya saat ia mulai mengatur nafasnya. Brnda tumpulku harus kucabut karena terasa perih.

“Aahhhh” Lenguhannya menandakan ia kelelahan. Sedikit keberatan, kugendong Shania ke sofa panjang & kutaruh di sebelah Ikha. Kini tinggal Yona yang belum kuajak bercinta.

“Mahyon, yuk lah”

“Heheheh tumbenan manggil gitu Joel”

“Ah biar beda aja, ngentot yuk”

“Tapi anumu keliatan perih tuh”

“Dah, entar enakan kok, dah kamu nungging gih”

“Iya iya, ih gak sabaran” Yona membalikkan posisi tubuhnya & menonjolkan pantatnya. 2 lubang siap kugempur. Posisi kepalanya agak rendah dari pantatnya. Kujilati dulu vaginanya secara kasar.

“Sshhh aaahhh geli aaahh” Pantatnya bergoyang menandakan kegeliannya. Sesekali kuludahi liang yang akan kugunakan itu. Lenguhannya kadang membuat berisik satu kamar. Lekukan tubuh gadis itu yang indah membuatku ketagihan. Keseksiannya sedahsyat Nat meski Yona lebih kurus.

 

Masih tegang, batang kejantananku kutenggelamkan dalam lubang yang seharusnya hanya boleh dimasukkan suaminya kelak. Ah, peresetan dengan jodoh orang, aku sudah menyetubuhi Yona hingga menyentuh mulut rahimnya.

“Nghhh aaahhhh” Desahannya membuat semangatku membara untuk menggagahinya secara kasar. Seperti biasanya, bermain dengannya harus dengan kasar. Tempoku semakin cepat dengan sodokan bervariasi, termasuk mengasari area sensitifnya. Penisku yang semakin mengeras di organ intimnya dijepit kuat.

“Kyoonnn” Pantatnya kuremas kuat, bahkan kuku pendekku bisa menancap mencengkram pantatnya. Semakin memberontak untuk kuhentakkan kasar mulut rahimnya.

“Sshhhhhhh perih anjing aahh aahhh ahhhh” Sprei yang sudah berantakan itu ia remas kuat. Pantatnya menungging sedikit, kadang ia majukan lagi. Dinding liang senggamanya kutekan kasar dengan kemaluanku hingga menekan saluran kencingnya.

“Mhhh aahhh ahhhh aahhh jadi kebelet nih mmgghhh” Ia merasa tersiksa seperti tidak bisa kencing akibat kasarnya permainanku.

“Nanti juga kencing kok Yon, bacot mulu nih cewek” Tangan kiriku beralih dari meremas pantat, kini menjambak rambut sepanjang menyentuh bahu.

“Ssshhhh sakit aaahhhh” Yona semakin merintih saat sodokanku semakin mendorong mulut rahimnya & rambutnya kutarik kuat. Sesekali kugempur sisi dinding liang kenikmatan pria itu. Aku sendiri tak menghitung seberapa sering batangku bergesekan dengan g-spot pacar orang itu.

“Aaakkkhhh terus dong, enak njing di situ sshhhhh” Kepalanya menoleh kanan ke arahku. Sementara tangan kanannya memainkan klitorisnya sendiri agar ia mencapai puncaknya.

AC yang mendinginkan kamar & suasana malam yang memang dingin seakan tak mempan menusuk tubuhku & Yona. Keringatku semakin membuatku gerah karena terlalu intens menggagahi perempuan agak kurus itu.

“Aahhh aahhh sshhhh mentokin terus dong Joeell aaahhh” Kepalanya mendongak & menggeleng tak jelas. Saraf penisku seakan mati karena gesekan yang terlalu kuat. Kuarahkan batangnya entah ke mana saja asal tidak tercabut. Bongkahan payudaranya yang menganggur itu kuremas kasar. Ah, kurasa semakin besar buah dadanya.

“Mantap Yon, toketmu tambah gede” Remasan dadanya seperti memijat agar ia nyaman. Tapi yang namanya sudah dikuasai nafsu menggagahinya secara brutal, remasanku seperti mencengkram.

“Aaaahhhhh aahh aahhh sakit mmhhh” Erangannya semakin keras, tak peduli dengan Ikha & Shania yang teler di sofa. Tempoku kini kuubah menjadi kacau, tarik perlahan, hentak kuat menggaruk liang lahirnya.

“Aaahhh sakiiitt” Yona mengerang saat organ intimnya bergetar akibat permainanku. Putingnya yang mengeras itu kupencet kuat. Rintihan member idol itu semakin menjadi-jadi setelah menerima perlakuanku. Tempoku semakin kupercepat dengan variasi gerakan. Saat menghentak organ intimnya, tubuh gadis itu kutarik agar lebih dalam.

“Ookkkhhh sakit brengsek ssshhh” Sprei ranjang Shania ia remas kuat lagi hingga kusut. Saking kerasnya, pahaku & pantatnya menimbulkan bunyi seperti tamparan, bahkan alat tempur kami menghasilkan suara becek.

 

Yona yang semula menungging pun lama kelamaan lemas. Padahal aku hanya menghentakkan alat vitalku ke dalam liang kewanitaannya, malah tubuhnya ambruk ke samping.

“Mmhh aaahhh lemes bangsat” Tubuhnya menjadi rebahan ke samping kiri. Torpedoku kucabut paksa dari goa sucinya & membaringkan tubuhnya hingga terlentang pasrah. Tubuhnya memerah dengan bekas cakaran di dadanya. Yona tak memedulikan luka itu, toh tak ia pamerkan selama theater, lagian lukanya dekat area ujungnya. Kami bermain lepas, tak terpikirkan seberapa kasarnya kami bermain, terlupa bagaimana Adit baginya. Aku tak peduli, yang penting Yona kupuaskan seperti halnya dengan Nadila & Nat.

“Jepit Yoooonnn aaahhh” Gejolak hasrat semakin mengacaukan akal sehatku. Entah berapa kali area sensitifnya kugaruk dengan benda yang disenangi wanita ini.

“Mmhhh sakit bangsat, mentok mulu ssssshhhh” Ia protes dengan permainan kasarku, padahal ia suka dikasari. Gejolak tubuhku merangsang organ reproduksiku untuk berejakulasi.

“Aahh aahh aahhh ssshhh aku hampir sampee nih mmhhh” Beberapa saat lagi, Yona akan mencapai puncaknya. Tempoku sengaja pelan & tetap mengasari liang senggamanya. Sensasi geli bercampur nikmat terasa kencang.

“Ayo dong lanjutin, hampir keluar tau” Ia mulai protes dengan lambatnya permainanku. Perlahan kuhentikan dengan batang kelamin masih menancap di dalam sambil mengecup lehernya. 1 menit 2 menit mungkin Yona masih beranggapan aku sudah sampai.

“Oi lanjut gih, nanggung mau keluar ini” Nada manjanya membuatku masih keenakan mendiamkan penisku. Ciumanku berubah menjadi jilatan.

 

Hampir 5 menit diam, ekspresi Yona semakin terlihat marah. Kulanjutkan senggama kami dengan tempo sedang.

“Mmhhh kurang cepet kampret, loyo?” Ocehannya tak kugubris. Hentakanku hanya menempelkan mulut rahimnya saja, tak menyodok kasar.

“Mmhh terus dong, yang kasar kayak tadi dong” Kedua tangannya menjambak pelan rambutku. Rudalku yang tak bertulang itu mengaduk isi dalam liang yang membuat pria mabuk berat. Saat tubuhnya terlihat berontaknya. Kuhentikan paksa genjotanku. Bukannya aku tak kuat, memang sengaja kuhentikan agar memberikan sensasi berbeda dalam bercinta.

“Woi goblok kalo gak kuat ngentot mending gak usah minta jatah lagi bangsat!” Emosi Yona memuncak saat ia gagal mencapai puncak.

“Bacot kau lonte!” Lengannya kucakar kuat & sodokan alat vitalku lebih kencang dengan tempo kasar.

“Aaahhhhhh” Dadanya yang banyak bekas luka cakarku itu membusung dengan kepala mendongak ke atas. Tubuhnya terguncang, bahkan ranjang yang kami gunakan bergoyang juga. Mulut rahimnya kudorong lebih keras lagi hingga ujung lubang kencingku terasa nyeri yang hebat.

“Kyooonnnn” Aku sedikit berteriak lantaran Yona melawanku dengan kontraksi otot intimnya. Tangannya menjambak kasar rambut pendekku.

 

Kami sama-sama menggelinjang & penuh keringat. Mata Yona semakin terbelalak sesaat, menahan gejolak tubuhnya akibat sodokan kasarku. Alat vitalku menggaruk seluruh sisi organ kewanitaannya.

“Aahh aahhhh mau nyampeee awas kalo stop njing” Jambakan rambutnya semakin kuat. Pahanya bergetar hebat sesaat disertai tubuhnya yang mengejang.

“Ssshh Kyoooonn hampir sampeeeeehhh” Anuku berkedut kencang & kupaksa menabrakkan ujungnya dengan pangkal kemaluannya.

“Engghhh ssshh kyaaaaaaaaaahhh” Yona sesaat berteriak & tubuhnya melengkung ke atas. Kedutan otot intimnya mencengkram kuat rudalku yang menggempur goa itu. Cairan hangatnya membasahi selangkanganku. Cengkraman ototnya seakan memaksa batangku mengeluarkan isinya di dalam.

“Kyoooonnn aaahhhhh” Hentakanku hingga nyaris menerobos mulut rahimnya. Benar saja aku menyemburkan spermaku dengan kencang akibat kedutan otot intimnya, mungkin 7 semburan kencang menyasar rahimnya. Wajahku kuturunkan hingga menempel wajahnya, lalu kukecup bibirnya dengan penuh hasrat. Tarian lidahnya yang liar kubalas dengan geliat lidahku yang mengikuti nafsuku. Tubuh kami merapat hingga dada kami saling merasakan detak jantung satu sama lain.

“Mmhhh” Seketika Yona merintih dalam pergumulan lidah. Nafasnya masih memburu, sepertinya ia masih menikmati puncak dari permainan ini.

 

Malam yang semakin larut, Ikha & Shania tidur dengan posisi berpelukan di sofa. Kelihatannya pulas sekali. Kuingin mencabut penisku dari vagina Yona karena usai permainannya.

“Mmhh Joel, jangan dicabut dong, aku pengen tidur kayak gini” Yona semakin merapatkan tubuhnya & memelukku.

“Yon, coba sadar dikit, nanti cowokmu kepikiran kamu gimana?”

“Bodo amat lah, aku pengen sama kamu” Ia tampak seperti setelah menenggak 2 botol vodka. Kucari HP milikku & ingin mengecek notifikasi chat 2 gadis itu. Betapa kagetnya saat membuka chat dari Nat mengirimkan pesan selamat tidur dengan cara yang berbeda, ia berciuman bibir dengan Acha. Kuakui Nat memang liar, baik dengan pria maupun dengan sesama wanita. Belum lagi Nadila mengirinkan foto area kewanitaannya yang ia buka lebar. Kebetulan, HP Yona berdering, sepertinya display nama pacarnya.

“Yon angkat lah”

“Gak ah, biar dia kira aku udah tidur heheheh”

“Yon, kalo dia kangen kamu gimana?”

“Bodo amat lah, tapi aku kangen kamu gimana?”

“Maksudmu Yon?”

“Boleh kan aku minta kamu jadi pelarianku?”

“Selingkuh sama aku?”

“He’eh, emang kenapa?” Tanyanya sinis.

“Jadi resikonya kamu jadi pacar ketiga”

“Gapapa kok Joel, asal kamunya bisa bagi hati sama aku, lagian kamu mainnya gila, Adit aja kalah, sumpah”

“Tapi gitu itu dia sayang kamu”

“Aku sayang dia kok, tapi aku sange terus sama kamu”

“Halah Yon Yon”

“Ngomong apaan tadi?” Yona menamparku akibat aku bilang begitu.

“Heheh lupain aja deh, yuk tidur, kamunya tepar berat lho” Pipi kanannya kucium pelan, sedangkan ia telah menutup matanya.

“Love you, kapan-kapan aku pengen sama kamu” Rancaunya saat kami mulai tertidur di bawah temaram lampu tidur, untung saja saklarnya dekat. Pelukan kami hangat sampai kami terlelap. Maafkan aku jika jebakanku membuatmu tak bisa lepas dariku, Yona.

Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    Satu-satunya Clan Tokuda yang tersisa di muka bumi setelah mengalami pembantaian hebat di tahun 1880 SM.