Shania, Shania, Shania – Part II

No comment 19686 views

” Shan pokoknya sekarang kakimu milikku, kamu gaboleh protes apapun yg bakal aku lakukan oke ?”.
” ya ah bawel, udah cepetan!” balasnya sedikit berteriak.

” Loh kayaknya udah ga sabar banget, katanya tadi gamau, awas nanti kalo kamu yg malah ketagihan ahaha” candaku mencoba menggodanya. “bodo!” jwabnya dan kembali sibuk dgn ponselnya. aku mulai dengan mengusap lembut betisnya, kemudian kuangkat sebelah kaki kananya, sedangkan kaki kirinya kutempelkan ke juniorku untuk menjaganya tetap hangat. kucium dan kujilati kaki kananya jika dilihat maka aku seperti seorang monster yg akan memakan kaki shania.
terus kucium dan sesekali kujilati mulai mata kaki sampai belakang lutut, kupijat dan kuremas betisnya yg kenyal kubayangkan seolah itu adalah payudara shania yg sintal, sluurp hmmmh srrup, kujilat kuciumi betisnya, dan tanpa sadar kugigit karena saking gemasnya, “aaww eehhh kok digigit sih kak, nanti kalo bekasnya ketahuan sama fans gimana?” protesnya ga terima. “sttt diem aja udah” balasku. kuletakkan kaki kananya ke pangkuanku, dan kuangkat kaki kirinya, kutekuk lututnya hingga telapak kakinya mengarah ke mulutku, kupegang dengan erat dan kujilat telapak kakinya, sluupp, shania menggelinjang ” aahhhh kak jangan telapak kaki, geli aaahh”, dia meronta dgn hebat mencoba menarik kakinya , aku tak tinggal diam, kupiting kakinya dengan kedua kakiku dan terus menjilati telapak kakinya, ” aaahhah kaak.. pliss jangan dijilat pliss..” desahnya sexy memohon padaku untu berhenti menjilati telapak kakinya, yang malah membuatku semakin bersemangat.

Tubuhnya memiring kekiri dan kekanan menahan geli, aku sangat puas melihatnya tersiksa karena geli. kuakhiri jilatan ku di telapak kakinya dan sekarang beralih di jempol kakinya, kucium secera lembut, kujilat dan kuhisap dengan perlahan, shania mulai tempak gelisah dia menggenggam erat ponselnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananya dia gunakan menutupi muulutnya, bibirnya menutup rapat dan matanya terus terpejam. “sshh.. kka-kk stop pliss..ahhh”. Kuhentikan sejenak hisapanku di jempol kakinya. Dia menatapku dengan tatapan yg tk dapat kujelaskan antara marah atau memelas agar aku tidak bertindak lebih lanjut lagi, namun aku menjadi semakin gila karena tatapanya tersebut, membuatku ingin merangsangnya lebih dalam lagi hingga dia yang akan memohon-mohon kepadaku untuk memuaskanya. Shania kembali fokus ke ponselnya, sementara juniorku sedari tadi diam masih belum terpuaskan. Akhirnya aku mendapatkan ide, kurapatkan kedua betis shania, lalu aku membasahinya dengan ludahku, akupun juga membahasahi juniorku dgn ludah, kulihat shania kembali melototiku, aku hanya tersenyum, bagiku apapun ekspresi yg shania lakukan selalu membuatku bernafsu, gadis ini sudah benar” menjadi candu bagiku. aku menyelipkan juniorku yg sudah berdiri tegak ke sela” betis shania, terasa hangat lembut dan kenyal. akupun mulai menggesekkanya secara perlahan naik dan turun. “aaahhk.. shan oohh.. nikmat sekali sekali ahh..” , aku mencoba menarik perhatian shania dgn suara ku, semakin lama semakin kupercepat tempo genjotanku, kubayangkan sekarang juniorku sedang menggempur vagina shania.

kaki shania pun naik turun mengikuti irama goyangan pinggulku, kulirik shania kuperhatikan air mukanya, aku tahu betul gadis ini sudah mulai terangsang tapi dia menyembunyikan wajahnya dibalik layar ponselnya dan sok pura” tidak bergeming, sekilas kulihat shania beberapa kali memejamkan matanya dang menggigit bibir bawahnya, nafasnya pun mulai tidak teratur dadanya naik turun semakin cepat , jemari kakinya mengejang, aku berani bertaruh bahwa sekarang cd nya pasti sudah basah, aku tersenyum puas, i got you shan hahaha. Masalahnya sekarang adalah juniorku tidak mungkin bisa muntah kecuali oleh jepitan vagina ataupun kuluman lembut lidah shania. aku pun berpikir keras bagaimana caranya agar juniorku bisa masuk ke dalam lubang surga shania.

Ketika aku Sedang sibuk berpikir tiba” ponsel shania bergetar, shania pun terlihat kaget gugup dan panik, sejenak kuhentikan kegiatan ku dan mengamati kira” siapakah yg menghubungi shania, ” hallo, iyaa ada apa harukaa, tumben pagi” udah nelpon kangen aku yaa?” shania memberi isyarat padaku untk tidak berisik dengan meletakkan jari telunjuk dibibirnya, aku pun memberi isyarat dengan hormat dan bibirku lirih berkata siyap captain. ” ihh haruka voice call aja, ngapain sih vidcall segala, sinyalnya lagi ga bagus tau dirumah..” kudengar percakapanya dengan haruka, shania mencoba menolak ajakan haruka untuk vidcall dgn alasan sinyal nya jelek, padahal aku tau sebenarnya shania ga pengin kenikmatanya terganggu hehe. Aku menutup mulutku menahan suara tawa yg keluar melihat polahnya dgn haruka yg sgt lucu, walaupun haruka jauh lebih tua, justru shania yg bersikap seolah-olah menjadi kakaknya. Shania pun melihatku sambil melotot mengancamku dgn mengacungkan tanganya yg menggenggam, aku hanya bisa meringis. Akhirnya juniorku pun merunduk layu, karena tidak mendapatkan rangsangan yg cukup. tapi nafsuku belumlah padam, jiwaku masih bergolak ingin segera menggauli shania. Setelah bertengkar ala” anak kecil akhirnya shania mengalah dan menerima vidcall dari haruka, nafasnya pun kembali normal karena aku telah menghentikan kegitanku di kakinya cukup lama.

Shania memuulai obrolanya dengan haruka via vidcall, badanya sekarang agak tegak dan tubuhnya ditopang oleh senderan pinggir sofa sedangkan kedua kakinya kembali menapak lantai. saat itulah tiba” ide ku muncul untuk menjahili shania, ini sekaligus menjadi kesempatan yg bagus bagiku untuk melancarkan serangan gelombang ke-2.
Saat sedang asyik mengobrol dgn haruka kulancarkan serangan ku pada shania, kuelus dan kupijit kedua pahanya yang menggoda itu secara perlahan, sangat mulus dan kencang itulah yg kurasakan. shania sekilas melihatku dan mengerenyitkan alisnya heran, kuberi isyarat pada shania untuk ttp diam, shania pun tak punya pilihan dan akhirnya melanjutkan obrolanya dgn haruka. Perlahan kuangkat bagian bawah dasternya sedikit keatas, hingga akhirnya tampak jelas pahanya yg mulus didepanku, paha sempurna yang hanya bisa dinikmati sebagian besar lelaki lewat imajinasi mereka ketika shania begoyang dengan enerjiknya diatas panggung hingga roknya tanpa sadar tersingkap dan memperlihatkan sedikit keindahan dunia pada para lelaki tuna asmara.

Tanpa berlama-lama kuubah posisiku, aku berjongkok dgn bertumpu pada lututku di lantai, kepalaku sekarang menunuduk dihadapan paha shania, kujilati kedua pahanya bergantian, kucumbui dengan buas, kedua tanganku terus menggerayangi dan meremas kedua pahanya, aku seperti orang yg kesetanan, nafas shania pun mulai terpacu lagi, suara obrolanya dgn haruka pun semakin tidak jelas dn jarang, yg kudengar hanya balasan dari pertanyaan haruka, “iiy-ya, ngg-gak kk-ok, ahh.. ssud-aah ttadd-ii, hh-eemm” berulang kali kulihat dia memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, pemandangan yg snagat erotis. “aaww aaahhh, tiba” shania tanpa sadar melenguh panjang dengan seksinya saat pahanya kugigit, dia pun gelagapan, “ga kok tadi ada semut nakal banget yg gigit”, jelasnya pada haruka di vidcall, tiba” tangan kiri shania meraih telingaku dan menjewernya, “aduuh”, teiakku tanpa suara aku pun menunjukkan ekspresi tanpa bersalah. Shania kembali menodongkan genggaman tanganya padaku, “iyaa ini tadi habis pitis semutnya biar ga bandel gigit” lagi” lapornya pada haruka. tak kuhiraukan ancamanya, kembali ku gerayangi paha mulusnya dengan tanganku semakin naik dan naik, kini kedua tanganku sudah mencapai bongkahan pantatnya yg seksi, rasanya kenyal dan hangat, kuselipkan kedua tanganku dibawah bokongnya yg masih tertutup cd, kuremas-remas bokongnya dengan gemas, shania hanya terpejam dn mendongakkan kepalanya, menengok ke kanan dan ke kiri membiarkan haruka ngobrol sendiri di vidcall sesekali shania meracau “iyy-aa harr.., ttee-rruss, yya-aah.., ohh-yyaashh.., jjang-aan, eehh…

Merasa tidak mendapat larangan,langsung kusingkap dasternya lebih keatas lagi hingga akhirnya tampaklah yg sedari pagi kucari-cari, gundukan daging tembem seperti kue apem yang masih terbungkus cd

Kusapu paha shania dari bawah sampai ke ujung selangkanganya dgn lidahku, aku sudah tak peduli lagi jika shania marah sekalipun, nafsuku benar” sudah tak terbendung. Jilatanku berhenti tepat didepan vaginanya, haahaa ternyata benar dugaan ku cd shania memang sudah basah pada bagian depanya, mungkin shania bisa menyembunyikan nafsunya, tapi tubuhnya sangat jujur, bahkan vaginanya sudah mengeluarkan cairan pelumas agar rudalku yang masuk kedalamnya bisa menggenjotnya dengan mudah. Kudekatkan hidungku ke ke miliknya yg masih terbalut cd, kucium wanginya yg sangat khas dan membuat ‘adikku’ semakin kejang segera ingin menerobos masuk, kutahan dgn sekuat tenaga nafsuku sendiri, aku tidak mau terburu” aku masih ingin mengerjai gadis sombong ini.

Silahkan Rate Cerita ini

I have a hopeless crush on someone I have no chance with

author
Author: 
I have a hopeless crush on someone I have no chance with