Shania, Shania, Shania – Part III

No comment 3236 views

kutempelkan hidungku ke cd shania, kutekan terus hidungku mencoba mendesak ke pintu masuk liang senggamanya, lidahku pun mulai beraksi kujilati cd nya yg basah, ku kecup perlahan, srruupp.. kuhisap, dan ku gigit kecil memek yg masih tertutup cd menggunakan bibirku, shania makin menggelinjang, kakinya mengejang dan posisi tubuhnya kini semakin merebah. Kutambah rangsangan pada vaginanya, kulepas remasanku pada bongkahan bokongnya dan kini proyek ku befokus pada memeknya, kusodokkan jari telunjukku ke cd nya, jariku keluar masuk pada bibir luar vaginanya yg masih tertahan oleh cd. shania berusaha merapatkan pahanya untuk menahanku mengeksplorasi vaginanya, tapi dapat kutahan dengan kedua sikuku, kulebarkan pahanya, kusingkap sedikit cd bagian depanya yg meunutupi langsung bibir vaginanya, hingga dapat kuintip bibir vaginanya yg kemerahan dan sudah becek, akupun tersenyum puas. kujulurkan lidahku untuk menjilati bibir vaginanya, sruuupp.. sruupp, kuhisap semua cairan yg ada di mulut vaginanya seketika, “kk-aakhh Aaahhggg.. sstt-oop..” tiba” shania mendesah dengan cukup keras, kuhentikan jilatanku bersiap menerima omelan darinya. tapi ternyata.. “haruka maaf udah dulu yaa aku mau siap” berangkat latihan nih, udah siang nanti kapan” disambung lagi okee?, dadah haruka “, shania tersenyum manis didepan layar ponselnya kemudian menutup vidcall dari haruka. Senyum manisnya seketika hilang ketika shania menatapku dan berganti dengan tatapan tajam yg siap menerkam. Aku paham apa yg akan terjadi selanjutnya, aku telah membangkitkan si dewi ular yg telah membuatku KO semalam, tapi aku telah bersiap, rudalku telah terisi penuh dan siap kugunakan untuk menggempur dan menaklukan sang dewi ular shania.

Tangan kanan shania meraih daguku mendongakkanku wajahku keatas hingga aku menatap langsung matanya, tatapan tajam tg mampu memmbuat lelaki lemah langsung menyemburkan benihnya seketika jika menatapnya terus menerus. “hhhee-he mma-aaf dek khilaf, ga sengaja keblablasan” jawabku sekenanya, “hoo gitu yaa setelah berbuat ga mau tanggung jawab iyyaa!?, pokoknya ga mau tau sekarang kakak tanggung jawab harus bisa puasin aku sampe aku bener” puas, kalo sampe kayak semalem lagi awas aja, aku ga bakal mau kakak aja ena ena lagi!!” ancam shania, aku hanya tersenyum kemudian bangkit berdiri, “gitu katanya mau jadi suami aku, baru main 2 ronde aja udah loyo mending aku cari cow… eehh ehh hhmmpp..” belum selesai shania menyelesaikan omelanya kuterjang langsung tubuhnya ambruk ke shofa, tubuhku yang telanjang kini menindih tubuh shania yg masih terbalut daster tipis, dengan sedikit bertumpu pada kedua lututku agar berat tubuhku tidak menindih shania terlalu keras, juniorku yg tegang berada diantara paha kakinya, kedua tanganku kulingkarkan dibelakng lehernya menekan kepalanya menuju kearah wajahku kupagut bibirnya dengan ganas, kulumat bibir bawah dan atasnya secara bergantian bibir bawahnya yg sedikit tebal membuatku sangat gemas dan ingin terus melumatnya, shania yg mendapat serangan tiba” pada awalnya gelagapan, kini dia mulai terbiasa dn membalas ciumanku dan kami pun saling berciuman dgn ganas mmmhh.., mmpphh…

Sejenak kulepas pagutanku pada bibirnya yg seksi, kutatap tajam matanya, shania menatapku dgn pandangan sayu seolah sudah benar” pasrah akan apapun yg akan kulakukan, bibirnya sedikit terbuka, kukecup kembali dgn lembut bibir merah mudanya, “mmmh kaak..” lenguhan yg lolos dari bibir shania, Shania menyambut bibirku dengan ganas, dihisap bibir bawahku dengan kuat akupun tak mau kalah kugigit ringan bibir atasnya, lidahku masuk menerobos kedalam rongga mulutnya lidah kami bertemu dan saling melilit dan menari, kutekan semakin kuat kedua tanganku di tengkuknya agar ciuman kami semakin dalam “mmmh.. shann.. bibir kamu manis sekali..” terus kulumat dan kuhisap dgn kuat bibirnya, mungkin setelah ini akan bengkak pikirku. Kami mulai kehabisan nafas, dan akhirnya kulepaskan ciumanku pada bibirnya, nafas kami semakin menggebu, kulepaskan pelukan tanganku pada lehernya kini kedua tanganku menangkup wajahnya menyentuh kulit pipinya yg lembut , kupandangi wajahnya yg polos dengan penuh nafsu, awalnya kukecup lembut hidungnya yg mancung, kemudain kujilati dan kuhisap hidungnya, jilatanku semakin liar naik ke matanya yg terpejam, ke dahinya , turun menuju pipinya, kujilat dan kuhisap tai lalatnya, kusapu kulit wajahnya yg lembut dengan lidahku, wajah shania kini basah oleh air ludahku.

Tidak berhenti sampai disitu kini jilatanku pindah di telinganya, kujilat bagian belakng telinganya, “Agghh kaakk, yaah jilatin teruss, uughh” jilatanku turun menuju lehernya yg putih jenjang “Oohh shan.. lehermu benar2 nikmat Hhmmp”, kuhisap dan kucium perlahan berusaha untuk tidak meninggalkan bekas disana. Tanganku mulai beraksi, tangan kananku mulai turun degn liar meremas payudara kananya yg masih tertutup daster, daan.. ternyata shania tidak mengenakan bra, terus kuremas bongkahan payudaranya yg sekal kumainkan puting susunya yg menonjol dari balik kain tipis dengan jari telunjuk dan jempolku, “Aagghhh.. kk-aak enaak kaak teruss.. uughh..” shania yg sudah dikuasai oleh birahi mendesah dgn indah, payudara yg sangat ideal menurutku tidak terlalu besar/kecil, padat, kencang dan lembut. sedangkan tangan kiriku turun mengelus dan meremas pahanya yg mulus. Shania menggelinjang hebat dibahwah tubuhku “Arrghh terr-uus kaak ugghh yg ker-ass, jja-ngan berhenti..” shania meracau degan seksinya.

Aku sudah tidak tahan lagi, juniorku yg sedari tadi bergesekan dgn paha shania benar” sudah keras, bahkan sudah mengeluarkan cairan pelumas diujung kepalanya. “Shan buka ya dasternya? pintaku, “yaa kak, bukain dong..”jawabnya dgn suara yg sangat manja, aku seperti sedang terhipnotis kucoba untuk menelanjanginya dgn kasar melepas dasternya, “Eeehh.. sabar dong kak, pelan2 aku ga kemana2 kook, aku seutuhnya milik kakak sekarang..” tak kugubris protesnya, dgn sedikit usaha dan bantuan shania akhirnya aku berhasil melucuti semua kain yg menempel di kulit putihnya, kubuang jauh2 dasternya entah kemana, sedangkan cd nya kusisihkan untuk permainan nanti. Kami berdua akhirnya sama2 telanjang tanpa sehelai kainpun yg menutupi tubuh kami.

kupandangi tubuh shania yg sungguh menggoda, kulitnya yg putih bersih, payudaranya yg sintal dgn putingnya yg berwarna coklat kemerahan, perutnya yg rata, belum lagi bagian kewanitaanya yg sangat terawat dn meskipun telah kupandangi berkali-kali tetap saja membuatku takjub. Kurebahkan kembali shania yg sempat terduduk karena membantuku melepaskan dasternya tadi, kamipun berciuman kembali dengan ganas, “hhmmp ahh, kkaak aku sudah ga taa-haan cepet masukin..” rengek shania yg memohon padaku untuk segera memompa vaginanya dgn juniorku, tangan kirinya meraih juniorku dan mengocoknya dengan kasar, “Aghh pelan” shann.. entar ya sayang sabar dulu..” jawabku, ntah kenapa sekarang aku yg terus mengulur-ngulur waktu. Kuraih tangan shania yg sedang mengocok juniorku, dia pun sempat mengerenyitkan dahinya heran, Kuangkat kedua tangan shania keatas kepalanya, dan kutahan disana dgn tangan kiriku, kini ketiak shania yg putih mulus terpampang jelas dan sangat menggoda, “hhhmmp.. hhmm, srruupp, ahhh.. shhaan.. sedapp sekali ketiakmu” kuhajar habis ketiaknya dengan mulutku kuciumi, kujilat dan kuhisap kuat, sedangkan tangan kananku meremas dengan kuat susu kirinya kuremas dan kumainkan putingnya kupilin dan kutekan, kegesekkan juniorku di mulut vaginanya dgn lembut, “Uughhh.. kk-aak pliiss.. masukin sekarang akk-ku sudah ga kku-aat aahh.. emmhh..”, Shania terus meracau menerima rangsangan yg kuberikan di daerah sensitifnya, matanya terpejam dia menggigit kuku ibujari tanganya sambil menggeleng kekanan dan kekiri, tubuhnya menngelinjang namun kutahan dengan tubuhku sungguh erotis ekspresi shania saat ini, pernah terbesit di benakku untuk merekam adegan kami secara diam2 tapi kuurungkan karena aku tidak ingin hal tersebut menjadi bom waktu yg kelak dapat menghancurkan hubungan ku denganya.
Setelah puas menghajar ketiak shania yg lembut, kini mulutku berpindah melumat payudaranya sebelah kiri, kujilati dari dasar lembah gunungnya hingga kepuncak putingnya, kujilati putingnya dgn kasar, kuhisap dengan kuat dan sesekali kugigit dengan bibirku, hisapan2 ku pada payudaranya mungkin akan meninggalkan bekas merah dikulit putihnya namun aku tak peduli toh shania pasti bisa menutupi nya. Kulepaskan tangan kiriku yg menahan kedua tangan shania, kini tangan kiriku meremas-remas payudara kananya, sedangkan tangan kanan ku mulai turun bermain dengan vaginanya, kumasukkan jari tengahku ke lubang surganya yg sudah sangat licin, kukorek-korek lubangnya, shania semakin menggelinjang dibawah tubuhku, kini kutambahkan jari telunjukku masuk membantu jari tengahku menjelajahi lubang shania, ku rangsang daerah G-spotnya dengan 2 jariku seprti gerakan sedang memanggil, “Aaaghh.. kkkaak yyassh.. disitu kak mmmhh yangg cepp-att uughh, aak-kku mma-uu keluar ahhhh..” kepercepat tempo gerakan jariku, srr..srrr..srr “Aaahh.. aahh.. Ahhh kkakk akku kell-uaar aaagghh..”, orgasme pertama shania dipagi ini, desahanya menggema di seisi ruang, vaginanya berkedut-kedut menjepit jariku, tubuhnya meggelinjang dengan hebat. Shania masih menikmati sisa2 kenikmatan orgasmenya, matanya terpejam dan bibirnya sedikit terbuka, aku yg tak tahan melihat bibirnya yg begitu menggoda langsung melumatnya dengan ganas “mmmhhp.. mhmp.. Shann.. kamu manis sekali.. mmhhmp”, Shania hanya tepejam pasrah, lumatanku pada bibirnya tidak belangsung lama karena shania belum mampu membalas lumatan bibirku. Ciumanku akhirnya terus turun mencumbui dagu dan leher nya yg putih, turun k belahan payudaranya kugigit dan kutarik putingnya menggunakan bibirku,”Eeehhh.. kkaak pelan2.. nanti merah semua susu aku” tak kupedulikan protesnya, cumbuanku turun ke perutnya yg rata dn sedikit brrmain di pusarnya, terus turun hingga sampai di bibir liang vaginanya.

Kujilati sisa cairan orgasme di bibir vaginanya, kuisap dalam” semua cairan yg tersisa “Arrrhh.. kak.. gelli… teruss kkaak uughh..”, rupanya shania sudah on kembali, jilatan lidahku ku alihkan ke klitorisnya, kujilat dg kasar, kuhisap dan kugigit, “Uughhh.. kk-aakk jja-ngan dig-ggigit, eehhh” shania mendesah tak karuan, dia melebarkan pahanya dan menekan kepalaku dengan kedua tanganya hingga kepalaku amblas di selangkanganya semakin dalam, “mmmhhp, srruupp, sruupp” kulumat habis vaginanya, kembali kumasukkan 2 jariku kedalam lubangnya kusodok dan kukocok dengan kasar, sementara lidahku tetap bermain dengan klitorisnya, entah sensasi seperti apa yg dirasakan shania saat ini, rambutku di jambakinya, dan kedua kakinya kini memeluk erat tengkukku, “kkaakk.. ahhhh, jgn curangg aku mau keluar laagii.. uughh”, aku semakin gila di selangkangan shania, kupercepat gerakan jariku di lubang vaginanya, dan kuhisap dgn kasar klitorisnya dgn mulutku. “sleep, sleep, sleep” semakin cepat tempoku, “Agghhhhh kk-aakk aku udah saam-pee..” srrrr, orgasme kedua shania, kutadahkan mulutku dan kutelan semua cairan yg keluar dari dalam vaginanya.

Tak kuberi shania waktu untuk beristirahat, ini adalah balas dendam untuk semalam hehe. Shania masih terpejam menikmati sisa” orgasmenya, bibirnya mengatup dan dadanya naik turun seirama dengan nafasnya. kugesekkan juniorku yg jumbo di bibir kemaluanya membasahinya dengan sisa cairan kewanitaan shania, untuk bersiap menggempur lubangnya, “hhmmm aahhh shan enak sekali memek kamu, sekarang giliran kakak ya?” aku sudah tidak sabar untuk memompa memeknya dengan kasar “Kak istirahat sebentar ya, 5 menit, aku mas-.. arrghhh kk-aak ssa-aakiit..” , tanpa aba2 aku lengsung menghujam memeknya dengan keras, Sleeeb.. kontolku berhasil masuk karena lubang shania sudah benar2 licin”, “aaaahhh shan maaf, ini nikmat banget kk udah ga tahan dari tadi ahhh”, kontolku hanya muat 3/4 bagian dalam lubangnya, “kkakk.. perihh.. istirahat dulu ugghh.. sakiitt..” shania memohon padaku dengan wajahnya yg memelas, aku yg sudah dikuasai nafsu seolah-olah tk peduli dgn rintihan shania yg menahan perih, erangan shania yg terdengar otakku bagaikan teriakan semangat, “Maaf dek kakak udah ga kuat nahan dari tadi, sabar ya bentar lagi enak kok kayak biasanya..” kucoba untuk menenangkan shania. Kutarik kontolku perlahan hingga tinggal kepalanya yg berada dalam memek shania, bless.. kusodok lagi dengan sekuat tenaga, “Aaarggh..Ga mau kak sakiit, cabut dulu, aku belum aarrrrhh-siaap..” shania terus meracau kesakitan, aku semakin gila oleh rintihan dan ekspresi sendunya, terus kupompa memeknya yg sempit dengan tempo yg lambat, kucabut perlahan, dan kuhujamkan lagi dengan keras dan dalam, tubuh shania yg seksi penuh keringat tersentak-sentak kebelakang seiring dengan genjotan kontolku di memeknya, “Ooohh shaann, memek mu sempit sekali aahh.. aahh..” kurasakan memek shania yg hangat mengurut batang kemaluanku dgn kuat, berdenyut-denyut seolah ingin menghisap batangku semakin dalam, shania terus meronta ingin melepaskan kontolku di memeknya, tanganya mendorong pahaku menjauh, tapi sia2 karena tenaganya tak cukup kuat, Entah ide gila darimana yg merasuki otakku, aku mengambil cd shania yg tadi kusisihkan di sofa, kuremat dengan tangan kananku, tanpa sepengatahuan shania tangan kiriku mencangap mulut mungilnya, dan kujejalkan masuk cd shania yg sudah kuremat kedalam mulutnya, shania terbelalak dan mencoba untuk meronta sejadi2nya. Kini kutindih badanya dengan badanku untuk mengurangi ruang geraknya, kontolku masih menancap dalam liang kewanitaanya, kutahan kedua tanganya disamping kepalanya, “hhmmmp.. hhmmp hhhmmmpp..” hanya suara itu kini yg dapat keluar dari mulut shania yg sudah kusumpal cd, kulihat sekilas wajahnya, matanya terpejam rapat menahan sakit, bulir air mata lolos merembes keluar dari sudut matanya, hatiku sedikit iba melihat gadis yg sangat kucintai kuperlakukan seperti ini.

BERSAMBUNG

I have a hopeless crush on someone I have no chance with

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
    I have a hopeless crush on someone I have no chance with