Shania, Shania, Shania – Part IV

No comment 6918 views

Kubenamkan wajahku di lehernya, kucumbui dengan lembut kulitnya yg putih dan mulus, aku berharap dapat mengurangi rasa sakit shania akibat dari ulahku sendiri. Ciumanku turun menuju collarbone shania, kukecup lembut tulang lehernya yg indah. Tubuh shania perlahan kembali tenang, kurenggangkan genggaman tangaku di pergelangan tanganya, kutatap dalam wajahnya yang ayu, sungguh pemandangan yg sangat erotis, tubuh telanjang shania yg kutindih dgn tubuhku, kulitnya yg putih mulus, wajahnya yg jelita menatap pasrah kearahku, dengan cd yg masih menyumpal di mulutnya yg mungil, kontolku yg keras masih menancap didalam memek shania yg berkedut-kedut. Aku perlahan bangkit, kutarik perlahan tangan shania dan kukecup dengan lembut, “Shan, kakak mulai lagi ya?” tanyaku penuh harap, “heemm..” jawab shania sambil mengangguk pelan. Aku lega karena shania tidak marah padaku, kutunjukkan senyum manisku padanya, sambil kukecup lagi kedua tanganya yg masih kugenggam, “makasih ya sayang” ucapku, shania memejamkan matanya ringan, jika tidak sedang kusumpal dengan cd, pasti sekarang shania sudah tersenyum dengan sangat manis..

Shania masih terbaring lemas di sofa, dengan kedua tanganya yg masih kugenggam, aku bertumpu pada lututku, dan penisku masih berkedut-kedut dalam vaginanya. Perlahan kugerakkan penisku dalam vagina shania yg sempit, kutarik secara perlahan dan kuhujamkan sedalam-dalamnya. aku sangat suka memompa vagina shania dengan tempo yang lambat seperti ini, saat lubang vagina shania penuh terisi penuh, dinding vaginanya mengurut dan mengapit dengan rapat, sensasi dari ujung kepala penisku merambat terus menuju otakku dan membuatku gila. “mmmpph… mppphh…” Suara desahanya pun masih terdengar seksi walaupun mulutnya sudah kusumpal cd, dan ekspresi andalanya yg arrhhh sulit dijelaskan dengan kata2, selalu sukses membuatku tergila-gila, matanya seolah-olah berkata “lebih cepat kak, lebih dalam lagi..” Kupercepat tempo genjotan penisku di vagina shania, “aaahh.. ahhh.. shan kamu nikamt sekali sayang ahhhh..” aku meracau menikmati sensasi gila yg kurasakan, tubuh shania tersentak kebelakang setiap kali kuhujamkan penisku kedalam vaginanya, tetap kugenggam kedua tanganya agar tubuh kami tetap dekat dan menjaga agar penisku dapat bergerak dengan leluasa. kusodokkan penisku kesegala arah dalam dinding vagina shania, saat kuhujamkan sanagt dalam, kurasa ujung penisku dapat mencapai mulut rahimnya, shania mulai memejamkam matanya dan pandanganya mendongak keatas, desahan2 kecil lolos keluar dari sela2 mulutnya yg kusumpal, aku merasakan ujung kepala penisku mulai berkedut-kedut dan gatal.

Kugenjot lubang shania lebih kasar lagi, kulepaskan genggamanku pada kedua tanganya, kini kutindih tubuhnya yg tak berdaya dan penuh keringat, dadaku yg bidang menekan payudara shania yg lembut, tanganku sekarang menahan bahunya agar aku bisa melesakkan penisku lebih dalam lagi, terus kucumbui leher jenjangnya, “shaaan akku mau keluar aarrrhh, aku keluarkan di dalam ya..?” , kuhujamkan penisku semakin dalam dan kupeluk erat tubuhnya, “heemmp…heemmmh..hmmp”, shania menggelengkan kepalanya cepat tanda tak setuju, dicobanya untuk mendorong tubuhku, namun aku jauh lebih kuat menindih tubuhnya, kupercepat lagi tempo genjotanku di vagina shania, kupeluk erat tubuhnya yg tersentak-sentak, tak berapa lama kemudian tubuh shania menggelinjang, tanganya mencakar kuat punngungku, dan ssrrrr, kurasakan cairan hangat mengalir membasahi penisku yg masih memompa denga ganas vaigina shania, orgasme shania yg ketiga, tak berapa lama akhirnya aku keluar, kepala penisku memuncratkan bibit sperma yg siap membuahi sel telur shania, 6 kali semburan pejuku ku investasikan ke dalam rahim shania, mungkin 9 bulan lagi baru aku bisa mengambilnya, tapi entah samapai saat itu tiba apakah aku masih hidup aku tak peduli, saat ini yg ada di kepalaku hanyalah melampiaskan hasratku pada gadis yg sangat kucintai, aku sangat siap jika harus bertanggung jawab untuk menikahinya, atau kemungkinan teburuk aku akan mati entah ditangan bapaknya shania yg mengetahui anak kesayanganya hamil diluar nikah, atau ribuan fans nya yg murka karena aku telah menodai dewi mereka dengan kasar berkali-kali hingga menyebabkan dewi yg selalu mereka elu-elukan bunting..

Kunikmati sisa2 orgasme ku yg pertama, kubiarkan penisku tetap menancap dalam vagina shania yg masih berdenyut, nafas kami masih memburu, dapat kurasakan dadaku menyentuh payudara shania yg naik turun seirama dengan nafasnya yg cepat, shania memalingkan wajahnya kesamping saat kutatap matanya, dan entah mulai kapan pipi shania basah, linangan air mata merembes keluar dari matanya yg terpejam, Shania menangis. Aku menyesali apa yg telah kuperbuat, memang selama ini shania selalu melarangku untuk mengeluarkan pejuku di dalam, dia tidak mau mengambil resiko untuk hamil yg tentu saja bisa merusak segalanya, karirnya dan juga kehidupan pribadinya, tapi aku merasa ini bukan salahku sepenuhnya shania memang sangat menggoda, dan suka sekali menggodaku, ekspresi dan gerak tubuhnya saat sedang bercinta seolah memintaku untuk memuncratkan seluruh jutaan persediaan spermaku ke dalam rahimnya, ya sejujurnya aku ingin shania hamil, aku ingin shania menjadi milikku seorang seutuhnya, tidak akan kubiarkan orang lain bisa mencintai dan menikmati shania selain aku. “Maaf, dek.. maaf, apapun yg terjadi aku akan bertanggung jawab, aku akan tetap disini, tidak akan lari ataupun kabur, walaupun papahmu akan membunuhku aku akan tetap berdiri disini tidak akan bergeming sedikitpun..” kubisikkan kata maaf dan janjiku lirih ditelinga shania, kata yg benar2 tulus dari hatiku paling dalam.. Shania perlahan mulai menoleh kearahku, matanya sembab karena menangis, pandangan sayu yg sungguh meluluhkan hati dan masih dengan mulutnya yg tersumpal cd.

Perlahan kubuka sumpalan cd yg menutup lubang mulutnya, shania terengah lega saat cd itu akhirnya lepas dari mulutnya, melihat bibir shania yg terengah-engah membuat libido ku naik lagi, entah hilang kemana perasaan bersalah karena membuatnya menangis tadi, belum sempat shania mulai berkata-kata, kuterjang bibirnya yg seksi, kulumat dengan ganas bibirnya, huhisap bibir bawahnya yg sensual, kusapu mulutnya dengan lidahku, kumasukkan lidahku dan mengabsen giginya satu-persatu, shania hanya melongo kaget menerima perlakuanku, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka membiarkan lidahku memperkosa mulutnya. tanganku mulai meremas dan memilin puting susunya, shania akhirnya memejamkan mata, dan tanpa kusadari kedua tanganya kini memeluk erat tengkukku, dan lidahnya perlahan mulai membalas ciumanku, kamipun bercumbu lagi dengan panas, Kujilati hidung dan pipinya yg basah karena air mata, kusapu air matanya yg asin dengan lidahku, kukecup kedua matanya yg masih terpejam, lenguhan dan desahan kecil mulai keluar dari mulutnya, “asshh ahh kaak..”, kuhentikan jilatanku pada wajahnya, kutunggu sampai shania membuka matanya kembali. Shania perlahan membuka matanya lalu menatapku tajam, pandangan kami bertemu, tak ada sepatah katapun yg terucap dari bibir ku maupun bibir shania, seolah mata kami yg berbicara kali ini,
Mataku menatapnya dalam mencoba meyakinkan akan ketulusan kata2 ku, sedangkan shania menatapku tajam mencoba mencari kebenaran dibalik mataku’, cukup lama kami saling beratatapan, hingga akhirnya shania tersenyum, senyum yg sangat manis, senyum termanis yg pernah kulihat selama ini, “Shan, i do love you..” ucapku sepenuh hati, “I do love you too kakakku yg bandel, yg udah d bilangin berkali-kali jangan d keluarin di dalem, tapi tetep nekat, uuuhhh.., ntar kalo aku beneran hamil awas aja kabur, aku bakal gerakin ribuan fans ku buat ngejar n bunuh kakak, aku bakal bilang ke mereka kalo aku udah d perkosa hingga hamil!!” balas shania sambil mencubit hidungku dengan sekuat tenaga, “aauuw, shaang ngsakiitt” shania akhirnya melepaskan hidungku yg berubah jadi merah karena cubitanya, “hahaha sukurin” ledek shania ketika puas membuat hidungku tampak seperti tomat sekarang, “Iya-iya aku janji bakal tanggung jawab kok, lagian mana ada pria di dunia ini yg nolak jadi suami kamu, bisa ena ena tiap hari dengan Shania junianatha adalah impian setiap lelaki dek, kamu harus tau itu..” , “ish awalnya aja gombalnya manis, akhir-akhirnya tetep mesum juga, cih”, “tapi kamu suka kan..?” godaku, “Ga” jawabnya singkat sambil membuang muka dan menahan tawa, uuhh manis sekali gadis ini ketika tersipu malu..

BERSAMBUNG

I have a hopeless crush on someone I have no chance with

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
I have a hopeless crush on someone I have no chance with