Shania, Shania, Shania – Part V

No comment 9831 views

Aku lega karena shania kini sudah tenang dan suasana pun mulai mencair, penisku masih berada dalam vaginanya walaupun tingkat keteganganya sudah menurun. Shania mencari-cari ponselnya yg mungkin terselip di sofa, saat shania sibuk mencari ponselnya di sela2 sofa kutahan tanganya, shania pun menatapku heran, “Dek lanjut ronde berikutnya ya ?”, aku memohon pada shania dengan senyum mengembag diwajahku, “Haa, ronde berikutnya!? tapi kak, aku habis ini ada latian, nanti malam aja yah d lanjutin lagi?” shania mencoba untuk menolak ajakanku, “Sekali mainan aja deh dek, ntar malem aku janji bakal pijitin kamu..” aku terus mendesak shania sambil perlahan memaju mundurkan pantatku, penisku ku pun mulai menggesek dinding vaginanya dengan lembut, “Aaahh.. ehh.. kakak curang pasti gini caranya kalo minta aahh..” perlahan aku mulai berhasil menaikkan libidonya lagi, “Jadi mau ya dek, plisss..?” rengekku seperti anak kecil yg meminta jajan pada ibunya, “Iya-iya pokoknya satu mainan ga lebih, dan nanti malem kakak janji harus pijitin aku sampe aku tidur pules ga ada alesan, deal !?”, “siyap laksanaken captein !!” Merasa mendapat lampu hijau maka dengan penuh semangat kulanjutkan permainanku.

Kucabut penisku dari vagina shania, “Loh kok dicabut.. katanya mau lanjut?”, protes shania kebingungan, Aku hanya tersenyum nakal, kuarahkan penisku yg masih berlumuran campuran antara cairan kewanitaan shania dan spermaku ke wajahnya, ke mulutnya lebih tepatnya, “Eh, eh mau ngapain?” tanya shania kebingungan, “Bersihin dulu dong dek ehehe” Sambil kuarahkan kepala penisku kebibir shania yg mungil, “ah ga mau ah bau, habis masuk situ masa suruh masuk ke mulut aku, emangnya mulut aku mesin pembersih !?” shania menolak dengan ketus, “Ayolah shania sayang, cicipin dulu.. aku aja tadi ga jijik pas jilatin dan minum air kamu, masak kamu sendiri jijik?”.
“ya tapi kan bau kak..”.
“coba dulu sayang..” .
“tapi lengket..”
“Mana tau kalo belum dicoba..” karena proses tawar menawar berjalan alot akhirnya dengan sedikit paksaan kujepit hidung shania dengan dua jariku, memaksanya untuk membuka mulut mungilnya.
“ngg kaaak, hmmpp” Sluup.. akhirnya masuklah seperempat penisku yg berukuran jumbo kedalam mulut mungil shania, shania memejamkan erat matanya, bibirnya yg lembut menjepit erat batang penisku mencoba untuk menahanya agar tidak masuk lebih dalam lagi.

Kuraih tangan shania dan kuarahkan ke batang penisku kubimbing tanganya untuk mengocok penisku secara perlahan, “Ugghh shan, jilatin kontol kakak sampai bersih, hisap yg kuat sayang..” sungguh sensasi yg begitu nikmat kurasakan saat lidah shania yg hangat mulai menari menjilati kepala penisku, tanganya yg lembut mengocok batang penisku perlahan, kini matanya terbuka dan menatapku dengan tajam, “hhmmp kaak kontol kakak hmmpp enak, goyangin dong..” shania semakin ganas menjilati penisku, dikulum, dijilatinya ujung penisku dan dihisapnya kuat seolah ingin menarik nyawaku keluar dari sana. Duh melhat wajah shania yg polos sedang mengulum kontolku dengan nikmat rasanya ingin menggoyang mulutnya dengan lebih keras, akhirnya kutarik tubuh shania dengan kasar, kududukkan dan kudorong tubuhnya hingga sekarang posisinya duduk bersandar senderan sofa, kugeseek-gesekkan kontolku di wajahnya yg mulus, kusodokkan kontolku di pipinya yg lembut, dan juga lubang telinganya tak luput dari sasaran kontolku, setelah puas bermain diluar wajahnya, aku mulai mengarahkan kontolku ke mulutnya,

Shania menggenggam erat kontolku dan dikocoknya secara perlahan, dia menjulurkan lidahnya keluar dan mulai menjilati kepala penisku, rasa ngilu yg nikmat pun mulai menjalar di penisku, dijilatinya kontolku mulai dari lubang kencing, kemudian jilatanya merambat dibagian bawah batang penisku, jilatanya menyapu batang penisku dari atas kebawah, shania benar2 ahli dalam oral sex, lirikan matanya kearahku seolah terus menggodaku, dan semakin meningkatkan nafsuku “Aaarhhh.. dekk, enakk.. assshh.. kamu emang jago banget, siapasih yg ngajarin Ooohh.. terruuss..jilatin biji kakak juga dek..” shania tak menjawab, karena mulutnya sibuk menjilat dan menghisap kontolku, dijilati dan dikulum buah zakarku, sedangkan jarinya yg lentik mengocok kontolku perlahan, nafsuku semakin tak terbendung, kudorong shania mundur hingga sekarang kepala shania tersandar lagi di sandaran sofa, kudekatkan selangkanganku ke wajahnya dan kumasukkan lagi kontolku ke mulutnya yg seksi, aku berdiri diatas sofa dengan kaki yg sedikit mengkangkang agar penisku bisa sejajar dengan mulut shania.

Kumaju mundurkan pinggangku dengan perlahan, kunikmati setiap sentuhan bibirnya yg lembut di batang penisku, sedangkan kepala penisku dimanjakan oleh lidahnya yg lihai menari-nari menjilati kontolku dalam mulutnya, semakin lama kupercepat sodokan kontolku di mulutnya, shania sekarang sudah benar2 pasrah, tanganya dengan lemas berusaha menahan pahaku agar kontolku tidak terlalu kencang menggenjot mulutnya, “arh arh ahh.. maaf dek kakak entotin mulut kamu.. uughh”, sungguh kenikmatan luar biasa yg kurasakan, sensasi yg berbeda karena saat oral sex dgn shania aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yg manis, sedang pasrah menerima sodokan penisku yg brutal menggenjot mulutnya. semakin lama sodokan ku makin keras dan tak terarah, kusodokkan penisku ke segala sisi dalam mulutnya, di pipi bagian dalam mulut shania, sehingga jika aku menekan penisku dari dalam, maka dari luar akan terlihat pipi shania yg mengembung sebelah, “hmmmpp.. hah hmmmppp..” shania tak sempat berkata-kata atau protes karena memang tak kuberi kesempatan mulutnya kosong..

Aah sial pikirku aku sudah mau keluar, aku tak ingin keluar dimulutnya, rencanaku pagi ini adalah menumpahkan seluruh pejuku di rahimnya. “Aaahh udah dek aku udah ga tahan, kakak lanjutin di memek kamu aja ya..”, kemudian kucabut kontaloku dari mulutnya, shania hanya mengangguk setuju, sambil tanganya membersihkan sisa air liur yg meluber dimulutnya saat kontolku kucabut tadi. Kubalikkan tubuh shania dgn kasar, saat tubuhnya sudah membelakngiku kudorong tubuhnya hingga terjerembab kesandaran sofa, “Eehh, ehhh.. aaww kak, pelan2 bisa ga sih!?” protes shania, tapi tak kupedulikan protesnya, kutarik pinggang shania kebelakang dengan kasasar, hingga membuat posisi shania menungging memperlihatkan bokong dan memeknya yg sangat menggoda, kuremas dengan gemas bokongnya yg putih mulus dan kenyal, dan ku gesekkan batang kontolku disela-sela bokongnya, “Oouuhh.. kaakk geli cepat masukin aku udah ga tahan..”, kumasukkan kontolku ke memeknya dan dengan sedikit hentakan kontolku amblas ditelan oleh vaginanya, posisi seperti ini membuat penetrasi kontolku bisa lebih dalam menembus vaginanya. “UUghh shan.., kakak mulai ya..”, “ahh ya kakk goyang yang keras..”, kupompa langsung vagina shania dengan tempo yg cepat, genjotanku kasar dan tak berirama, ingin segera kutumpahkan pejuku sebanyak-banyaknya di rahim shania, plaak, plaak, plaak, kutampar pantat shania berulang ulang dengan cukup keras, hingga pantatnya yg putih berubah menjadi kemerahan akibat tamparanku, “ayyo dek goyangin panatat kamu juga, goyang yg keras..”, “iiyya kakk ahhh , tampar terus bokong aku kak, tampar yg keras.. terus kak jangan berhenti..” kami berdua sama2 meracau tidak karuan merasakan sensasi gila yg kami alami, kupaksa masuk seluruh kontolku ke lubang memek shania dan kusodok denagn cepat dan kasar, “Ouuuh kakk sakiit.. aahhh..” rintih shania, tak kupedulikan rintihanya, kupeluk tubuh shania dari belakang, tangan kiriku kugunakan untuk merangsang klitorisnya, sedangkan tiga jari tangan kananku mengubek-ubek mulutnya, kubuka paksa mulutnya dan kutarik lidahnya dengan jariku, terus kupermainkan lidah dan mulutnya, sedangkan lehernya yg putih jenjang kucumbui dengan kasar aku sudah tak peduli lagi jika akan ada tanda yg berbekas disana, kuciumi lehernya kugigit dan kujilat dengan kasar.. “Ehhh.. kaakkk, aaah akuu mau keluar… ahhh..” shania sudah tak tahan menerima rangsangan d sekuhur tubuhnya

“tunggu bentar sayang kakak juga mau keluar, kita keluar barengan..” aku pun semakin gila memompa vagina shania, “ahhh ahhh ahh kaaak aku keluarrr.. ahhh..”, “shaan akk-kku juga keluaar aahhhh…” tubuh ku dan shania menggelinjang dengan hebat kupeluk erat tubuh shania, srrrr,srrrr cooot crooot..Kami orgasme bersamaan.. aku dan shania sudah benar-benar lemas, akhirnya aku ambruk ke sofa, shania pun membalikkan badanya dan menyusulku ambruk ke sofa dan menimpa badanku, tubuh shania benar-benar sudah lemas seluruh berat tubuhnya ditimpakan ke tubuhku, dan pipinya yg lembut menempel di dadaku, sambil terpejam shania berkata “Kak itirahat dulu ya.. pliss.. aku benar2 capek, kalo kakak lanjutin lagi aku bisa mati..”, “hahaha ya caniya sayang, kakak juga pengin istirahat dulu, terimakasih ya, dan maaf kalo kakak mainya agak kasar tadi..” kubelai lembut rambut indah shania, “hhmm iyaa..” jawab shania lemas. kamipun beristirahat hampir 30 menit.. sambil sesekali mengobrol dan bercanda,
“Dek, waktu kemarin kakak sibuk banget ga kesini lebih dari seminggu kamu kangen ga?” tanyaku, “Ga” jawabnya sok cuek, “halah boong, pasti kalo kangenya diukur 1-10 pasti kamu kangenya sampe 100 ya kan? godaku, “cuma 2,5” jawabnya singkat sambil mencoba menahan tawa. “Oooh.. gitu ya..” jawabku dengan memasang wajah kecewa. “Soalnya yang 7,5 kangenya sama ini..” jawab shania dengan sedikit desahan, jarinya yg lentik menggengam juniorku dan mengocoknya perlahan, sambil mengigit bibir bawahnya yg sangat menggoda dan matanya melirikku dengan genit. Deg.. seolah ada energi baru yg merasuk kedalam tubuhku, membuat juniorku ku meronta ingin memompa selangkangan shania lagi. “Sudah siap lanjut ronde berikutnya?” tanyaku, “he’emm” jawabnya dengan anggukan kepala dan senyum yang sangat manis..”. Aku bangkit dari sofa, kubantu shania berdiri, “gimana mau latian, berdiri aja susah gini..?” ledekku, “yee, emangnya salah siapa sampe aku susah berdiri kayak gini?, aku minta istirahat bentar aja ga mau, malah kakak entotin aku kasar banget lagi, sakit tau!”, protes shania sambil mencubit pinggangku, “aduduh.. sakit deek” aku meringis kesakitan, “Tapi kamu suka kan, dikasarin kayak tadi?” godaku sambil menaik turunkan alisku, “issh suka apaan, nih ya aku kasih tau, semua cewe itu suka kalo dilembutin, disayang-sayang, lah kaka kalo udah nafsu ama aku mainya kasar bgt, seneng banget kayaknya nyiksa aku..”, Shania terus protes dengan mimik yg sangat lucu.. “ya maap dek, habis kamu nafsuin bgt sih jadi cewe, kamu senyum kaka nafsu, kamu sedih cemberut kk juga nafsu, bahkan kamu diem merem aja adik kkak langsung bangun liatnya”, jawabku mencoba membela diri,
“itu tandanya kakak sakit, sakit mesum akut” jawab shania dengan nada mengejek. Tak ingin membuang waktu, kurengkuh tubuh polos shania erat kedalam pelukanku, tubuh kami berdua polos tanpa sehelai benangpun yg menutupi, kulingkarkan tangan kiriku di pinggangnya sedangkan tangan kanaku membelai lembut rambut hitamnya yg halus, Tangan shania memeluk erat punggungku, sedangkan wajahnya dibenamkan dalam dadaku yg bidang, kuciumi rambutnya yg wangi dngan penuh kasih sayang, aahh.. perasaan damai ini aku ingin terus memeluknya dan saling bebagi kehangatan seperti ini. Kuangkat tubuh shania dan ku gendong di depan seperti seekor koala, tanganku berada di pahanya untuk menyangga tubuhnya, perlahan kuarahkan penisku yg sudah tegak masuk kedalam liang senggamanya dan dengan bantuan shania akhirnya ujung penisku berhasil menyeruak masuk vaginanya, kubiarkan tubuh shania turun secara perlahan, sehingga penisku masuk semakin dalam vaginanya, setiap centi batang penisku yg masuk memberikan sensasi nikmat yg tiada tara, “Aaahhh.. kak nikmat sekali rasanya..” desah shania nikmat, kepalanya mendongak keatas, kemudian kuciumi leher shania yg putih jenjang, kakinya melingkar erat di pinggulku dan tanganya memeluk leherku. Aku mulai melangkah menuju kamar mandi, berniat menghbiskan sisa tenagaku di sana untuk bermain dengan shania, setiap langkah yg kulakukan memberikan sensasi yg sangat nikmat kepada kami berdua, shania tak hentinya mendesah dan meracau nikmat selama di perjalanan ke kamar mandi, shania berinisiatif untuk memaju mundurkan pinggulnya, mencoba memberikan rangsangan yg lebih besar lagi, “kk-aakk aakuu Aaahh.. keluar lagi ah ah ah..” Srrrr.. Orgasme kelima shania. Mungkin setelah ini semua berakhir shania akan berjalan sedikit mengangkang..

# FIN #

I have a hopeless crush on someone I have no chance with

Silahkan Rate Cerita ini

author
Author: 
I have a hopeless crush on someone I have no chance with