ShanjuStory – Aku dan Sisi Terliarku – Part X

No comment 7119 views

Kutinggalkan mereka berdua di ranjangku, aku bangkit dari tempat tidurku lalu masuk ke kamar mandi. Kunyalakan shower dan kuisi bath up dgn air hangat. Setelah itu kutinggal, kutunggu hingga penuh. Aku kembali ke kamarku dan kulihat Angga sudah berdiri sambil memegang HPnya, sementara itu Reza masih saja menikmati empuknya ranjangku. “Eh, bersihin kamarku donk, aku mau mandi”, kataku menyuruh mereka berdua, “Ntar deh aku bersihin kak, aku ikut mandi ya”, kata Angga, “Aku juga”, Reza pun ikutan. Ahhh dasar cowok mesum, “Emang kalian masih kuat?”, tanyaku kembali. Angga dan Reza memberi tanda kepadaku bahwa mereka berdua masih kuat.

Aku hanya tersenyum sambil menggeleng2kan kepala ke arah mereka. Mereka pun membalas senyumanku. Tubuhku memang terlalu nikmat hingga sayang untuk tidak dinikmati setiap detik, setiap saat. “Ya udah, yuuk mandi”, kataku. Tiba2 mereka berdua berdiri tegak setengah berlari ke arahku dan mengikutiku masuk ke kamar mandi.

Awwwww, Reza menepok pantatku dari belakang, keliaran mereka berdua sudah mulai terasa sebelum kami masuk ke bathup berukuran sedang ini. Awalnya aku duluan masuk, diikuti oleh Angga yg kemudian menyelip di belakangku, lalu Reza masuk yg terakhir dan berada di hadapanku. Baru saja mulai berendam Angga sudah usil, kedua tangannya memainkan puting susuku. Sementara itu Reza mengangkat kaki kananku kemudian mengisap jempol kakiku. Uhhhhhh rasa geli yg menyerang begitu dahsyat. Tak hanya itu saja, kaki kiri Reza begitu nakal menyentuh2 lembut memekku, menggesek2nya dgn perlahan.

“Kak, aku kangen pantat kk, aku jilatin ya”, Kata Angga berbisik padaku. Akupun menarik kakiku hingga isapan Reza terlepas, kemudian aku berdiri dan sedikit menungging di wajah Angga. Ohhhhhh, enaak dik, kataku mulai meracau ketika lidahnya menyentuh anusku secara lembut. Aku menggoyang2kan pantatku mengikuti irama jilatan Angga. Tiba2 Reza berdiri dihadapanku, memegang kepalaku dan mengarahkan kontolnya ke mulutku, ahhh lagi2 aku harus menjilati kontol laki2 ini, sluurppp mmmpphhhh, Reza menggenjot bibirku yg seksi.

Ahhhhh, jilatan Angga benar2 membuatku menjadi gila, walaupun yg disentuh hanyalah lubang anus, tapi sensasi kenikmatannya begitu berbeda dan mampu membuat tubuhku merasa nyaman. Ehhhhhh mmmhhhhh, aku merasakan memekku menjadi target serangan lidah Angga, ohhh kedua lelaki ini begitu lihai memainka nafsuku, begitu pandai membuat birahiku memuncak dan begitu perkasa membuatku klimaks berkali2.

Ahhhhhh, Angga membuatku menggelinjang, jilatannya menyapu bersih sela2 memekku dan juga anusku secara bergantian. Sementara itu Reza berkacak pinggang melihat kontolnya sedang kuisap. Ini hari terakhir mereka dapat menikmatiku dan hari terakhir juga bagiku dipuaskan oleh mereka. Entah berapa minggu lagi aku dapat merasakan hal ini. “Ahhhhh enaak sayaang”, kata Reza sambil menggoyang2kan pinggulnya, menyodok keras mulutku hingga membuatku gelagapan.

Mmmmhhhhh, aku merasakan ada benda tumpul yg berusaha masuk ke dalam memekku, dan ternyata Angga sudah dalam posisi berdiri siap menusukku dari belakang, ohhhhhh, cleeppp clepp cleppp suara kecipak akibat pertemuan antara bokongku dan selangkangan Angga berbunyi begitu keras, menggema di kamar mandi ini. Tiba2, ahhhhh, “Kak, kenapa?”, tanya Angga kebingungan melihatku oleng dan hampir saja terjatuh. Kontolnya terlepas dari cengkraman memekku, sementara itu Reza jg kebingungan melihatku. Entah kenapa kepalaku jadi pusing, dunia seakan berputar, “Ntar dek, tiba2 kepala kk pusing”, kataku.

“Istirahat dulu kak, yuuk ke kasur”, kata Angga, “Udah dek, gpp, entot kk lagi”, pintaku sambil kemudian kembali meraih kontol Reza dan mengulumnya. Ehhhhhh, Angga kembali memasukkan rudalnya ke dalam lubang memekku yg sudah becek sejak tadi. Sleppp sleppp sleppp suara genjotannya kembali terdengar. Reza memegang kepalaku sambil terus menggenjot bibirku, sementara itu tanganku melingkar di pinggang Reza, menopang badanku agar tetap seimbang.

Pandanganku nanar, dunia kembali seakan2 berputar, kulepas kulumanku dan Angga pun mencabut kontolnya dari lubang memekku. Aku berdiri, melangkah keluar dari bath up, “Kaaak, kenapa kak?”, tanya Angga, “Oshi, kmu kenapa?”, tanya Reza juga, suara mereka terdengar begitu sayup2 masuk ke telingaku, entah mengapa tubuhku menjadi lunglai begini, “Kaaak”, Angga memanggilku, berusaha memegang tanganku dan Ahhhhhhh, bruuuk, akupun terjatuh.

“Kaaaak, bangun kaaak”, “Oshiii kamu kenapaa, oshii”, “Kaaaaak”, suara2 itu terus memanggilku, pandanganku mulai kabur, kulihat wajah Angga dan Reza begitu khawatir hingga akhirnya semua menjadi gelap. Benar2 gelap, oh tidak, mengapa aku tidak bisa melihat? Dimana suara mereka berdua? Apakah mereka meninggalkanku? Apa yang terjadi pada diriku? Ahhhhh tidaaaak, tolong aku, tolooong, Aaarrrrgggghhhh, toloooooong.

“Nak, sadar nak, bangun nak”, “Dik bangun, dik”, suara itu kembali sayup2 terdengar masuk ke telingaku. Pandanganku masih gelap, terbuka sedikit demi sedikit, ahhhh betapa sakitnya kepalaku ketika melihat sebuah cahaya, pandanganku benar-benar kabur. Aku menoleh melihat ke arah jendela yg ada di sisi kananku, heyyy itu Angga, ia sedang melambaikan tangan padaku, tersenyum hangat ke arahku, kemudian menunjuk ke suatu tempat dan akhirnya berlalu pergi. Tiba-tiba pandanganku menjadi jelas, kesadaranku menjadi pulih, “Kak Bella, Mah, aku dimana?”, tanyaku begitu bingung. “Kamu di rumah sakit Nak”, jawab mamahku.

Kak Bella membelai-belai rambutku, “Skye mana? Udah dikasi makan belum?”, tanyaku kembali mengkhawatirkan anjingku yang lucu. Aku teringat sudah berhari-hari aku tak pernah melihat anjingku itu, karena aku sibuk dengan kepuasan nafsuku, “Ada di rumah, ama bibi, udah kok sayang”, jawab mamahku.

“Ehh Angga kemana tadi”, tanyaku kembali sambil kemudian melihat ke arah jendela, dimana ia berpamitan padaku. Mamahku dan Kak Bella saling toleh, saling melihat, mereka tampak kebingungan, “Angga siapa sayang?”, tanya mamahku, “Loh, bukannya Angga ada di sini tadi?”, tanyaku kembali, “Di sini gak ada orang sayang, cuma kita berdua dari semalem nginep di sini”, jawab Mamahku.

Haaah, dari semalem? Aku menjadi bingung, kepalaku makin sakit karena berpikir terlalu keras, “Maksudnya mah? kok semalem? Emang kapan aku masuk rumah sakitnya?”, tanyaku kembali, “Lho, kamu kan udah opname sejak seminggu, tiba-tiba aja 3 hari terakhir kamu koma, makanya kami bergantian jagain kamu”, jawab Mamahku, “Udah dek, jangan mikir terlalu keras, kamu udah siuman aja kami udah lega banget”, kata Kak Bella.

Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan pikiranku, “Angga, Reza, kampret kalian berdua, aku dientot berkali-kali sampe koma”, pikirku dalam hati. “Sayang, tadi yang kamu maksud Angga siapa sih?”, tanya Mamahku kembali, “Itu mah si Angga, sepupu, adik sepupu tuh loo”, jawabku. Mamahku dan Kak Bella kembali saling menoleh, “Ada apaan sih? Tadi Angga ada di sini kan?”, tanyaku kembali. Jantungku berdegup kencang, jangan-jangan Angga bercerita yang aneh-aneh tentangku. Atau jangan-jangan aku ditemukan di kamar mandi dalam keadaan pingsan dan masih banyak cairan sperma di tubuhku, Aaaarrrgghhhh, awas kalian berdua.

“Maksud kamu Angga Surya Lesmana? Yang di Bekasi?”, tanya Mamahku kembali, “Iya mah, aku liat tadi dia di luar”, jawabku sambil menunjuk ke arah jendela. Lagi dan lagi Mamahku saling toleh dengan kak Bella, “Ihhh apaan sih kalian, jawab donk, dia ada di sini gak”, tanyaku mulai sedikit kesal, “Udah sayang, kamu tiduran gih, atau mau makan buah?”, tanya mamahku. Aku menjadi bingung, jangan-jangan benar dugaanku, bahwa Angga berkata yang aneh-aneh, atau mungkin ia mengatakan bahwa ia mencintaiku, ohh noooo. Wajahku benar-benar cemberut, aku begitu penasaran.

“Dek, Angga siapa sih yang kamu maksud? Angga Surya Lesmana, adik sepupu kita?”, tanya Kak Bella, “Iyaaa ihhh, dari tadi udah dikasi tau”, jawabku, kali ini aku benar-benar kesal dengan Ibu dan Kakakku. “Dik, kalo Angga yang itu kan udah lama meninggal, sejak kamu masih SMP”, kata Kak Bella.

Ahhhhhh, tiba-tiba mataku melotot, melihat ke arah kakakku, “Jangan becanda kak”, tanyaku lagi dengan nada yang sedikit tegas, “Iya sayang, dulu kan sempet heboh ada anak hilang di Pantai Selatan, itu si Angga, adik sepupu kamu”, kata Mamahku kembali. “Trus, lantas, ehhh, arrrghhhh …..”, tiba-tiba aku berteriak, otakku tak mampu menerima perkataan mereka, aku berusaha menyadarkan diriku, “Dek, kamu ngeliat Angga ya? Udah deh dek, bisa jadi itu karena pengaruh obat, jadi kamu berhalusinasi, udah jangan mikir yang keras-keras, itu hal biasa kok”, kata Kak Bella.

Tidaaak, tidaaaak, bukan halusinasi atau pengaruh obat yang kupikirkan. Tapi Angga begitu nyata hadir dalam hidupku, “Kak, tolong ambilin HPku”, kataku kepada Kak Bella. Ia berjalan menuju rak tempat dimana HPku berada, kemudian menyerahkannya padaku. Kunyalakan HPku, kubuka aplikasi Line dan kucari history chat milikku, Haaaah, mana diaa? Kok gak ada? Aku begitu heran ketika melihat ternyata tidak ada nama Angga di friendlist Line ku dan tidak ada history chatku dengannya. Apa-apaan ini? Lalu siapa yang melambaikan tangan padaku tadi di jendela? Kalau Angga sudah meninggal sejak aku SMP, mengapa yang menemuiku adalah pria tampan yang sudah remaja? “Aaaarrrgghhhhhhh …. Maaaaahhhhhh”, entah kenapa tiba-tiba aku berteriak begitu kencang.

Mamahku dan Kak Bella memelukku, “Udah sayang, udah, ada mamah dan kakakmu di sini”, kata Mamahku berusaha menenangkanku. Berarti kenikmatan yang kuraih selama ini hanyalah semu? Sosok pria tampan yang menjijikkan dan mesum itu juga adalah semu? Lalu Reza? Kembali kubuka HPku hingga Mamahku dan Kak Bella melepaskan pelukannya, “Sayang, kamu kenapa?”, tanya Mamahku, namun tak kupedulikan, kubuka IG dan Twitterku, kucari nama Reza, ada sangat banyak nama Reza tapi tak satupun yang sesuai dengan orang yang pernah menyemprotkan spermanya ke dalam mulutku ini. Ahhh sudahlah, aku nyerah, akupun memejamkan mata kembali, berusaha melupakan semuanya.

1 Bulan Kemudian

Aku berjalan menyusuri jalan setapak, sebuah trotoar yang biasanya dilewati oleh banyak orang, namun kini sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku baru saja pulang latihan untuk setlist baru Tim J. Aku sengaja mengambil jalan memutar karena aku ada keperluan sebentar di Plaza Senayan. Langkahku agak sedikit cepat hingga akhirnya akupun tiba di Shelter Bus Fx Sudirman.

Ada beberapa orang di situ, ada beberapa wota juga yang sedang duduk sambil ngopi. Aku hanya menundukkan kepalaku, berjalan, masuk ke dalam shelter dan duduk. Aku menunggu taksi online yang kupesan tadi. Entah mengapa tiba-tiba aku kembali memikirkan adik sepupuku yang mesum itu. Sudah satu bulan ini aku benar-benar memikirkannya. Mengapa aku rindu dengannya? Hingga saat ini aku masih yakin bahwa ia benar-benar nyata, walaupun Mamah dan Kakakku sudah membuktikan kalau Angga, adik sepupuku yang dimaksud sudah lama meninggal.

Aku hidup di antara dua dunia, entah mana yang benar, apakah diriku yang sedang duduk di shelter saat ini? Atau diriku yang sedang dinikmati oleh dua orang pria yang berkali-kali berhasil membuatku klimaks? Otak kadang mempunyai caranya sendiri untuk menyadarkan jati diri kita yang sebenarnya.

“Ehm, permisi, maaf, boleh duduk di sini?”, kata seorang pria berjaket hitam, berambut klimis dan berwajah tampan. Aku hanya mengangguk, tapi pandanganku begitu fokus menatap wajahnya. “Eh maaf, aku Rio”, kata pria itu sambil menyodorkan tangannya, ehhhh mmmm tiba-tiba konsentrasiku buyar, aku tak sadar sudah memperhatikannya, duhhh jadi salah tingkah aku, “Mmm aku Shania, ehh maaf ya”, kataku benar-benar malu karena memandanginya sejak tadi.

Tiiiin, tiba-tiba taksi online pesananku tiba, “Aku duluan ya”, kataku kepada Rio. Akupun berjalan, masuk ke dalam mobil, kututup pintunya dan mataku kembali tertuju padanya. Wajahnya mirip sekali dengan Angga. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, lalu tersenyum dan mobilku pun berlalu pergi.

Terkadang, kita menjadi lupa diri. Dunia mengubah kita, namun hati kecil tiada yang mampu mengubahnya. Inilah aku, seorang Idol, seorang wanita terhormat, seorang perempuan yang dipuja oleh banyak lelaki, seseorang yang selalu berbohong pada diri sendiri, selalu menampakkan sisi kuat, sisi sempurna, sisi bahagia. Namun di balik itu semua, tiada yang tau, siapa diriku yang sebenarnya.

Inilah aku, dan sisi terliarku, akan tetap tersembunyi, kini, nanti dan selamanya.

SEKIAN

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!