Ve Story – Sang Bidadari dan Serigala Malam – Part I

No comment 10481 views

Susu coklat hangat menemani pagiku yang sedang sibuk mereview beberapa proposal yang masuk. Meja kantorku yang agak sedikit berantakan karena belum sempat kubereskan kemarin. Pagi ini aku menolak kopi pahit tawaran Pak Rohman, seorang penjaga kantor berusia sekitar 45 tahun, rambut putih berubah namun memiliki badan yang tinggi dan tegap, tak kalah dengan anak-anak muda di kantorku. Beberapa hari ini aku memiliki masalah dengan asam lambung, apalagi beberapa hari terakhir juga emosi agak sedikit gak stabil.

Kriiiiiinggg, sebuah telpon masuk, sedikit memecah konsentrasiku yang sedang membaca satu persatu tumpukan proposal di mejaku. Adit, hmmm “Ya, halo Dit”, jawabku, “Bro, ntar sore ikutan yuk, ada model nih”, kata Adit. Ya, Adit adalah salah satu teman komunitas fotografer. Bedanya adalah, aku lebih tertarik untuk memotret landscape, alam, hewan, sedangkan adit lebih memilih genre model. “Hmmm, ntar liat deh, gw gak janji ya”, jawabku. Akupun melanjutkan pekerjaanku sebelum menghadap ke bos untuk menyampaikan proposal mana yang lebih cocok untuk dijalankan di bulan ini. Inilah rutinitas yang aku lakukan hampir setiap hari, namun selama ini aku masih menikmatinya karena menurutku tidak terlalu membebaniku.

“Hai Lex, hari ini lo Free gak? Ngopi yuk”, tanya Lida, sekertaris bosku yang memiliki paras begitu cantik, kulit mulus, body? Hmmm, bayangin aja deh, seorang bos memilih gadis berusia 23 tahun untuk menjadi sekretarisnya. Lida adalah salah satu paket lengkap seorang wanita yang diidam-idamkan oleh semua pria di dunia ini. Penampilannya bak seorang model membuat segenap karyawan pria menjadi panas dingin apabila dekat dengannya, namun lagi-lagi, akulah yang paling beruntung di antara mereka, karena Lida paling dekat denganku.

“Hmmm, aku ada janji ama temenku ntar sore”, jawabku, “Yahh, gak seru amat sih lo”, kata Lida meledekku dan kemudian berlalu pergi meninggalkanku, memperlihatkan goyangan bokong yang bahenol namun proporsional. Kanan, kiri, kanan, kiri, ohhh shiiit, aku terpana, gadis secantik itu, “Ahhh udahlah”, akupun tersadar akan lamunanku dan kemudian melanjutkan pekerjaanku.

PUKUL 4 LEWAT 25 SORE

Seharusnya aku sudah pulang sejak 25 menit yang lalu, namun Lida memintaku untuk menemaninya karena dia mendapatkan tugas mendadak dari Pak Bos. “Nih liat, disuruh stempel berkas segunung”, kata Lida sambil menstempel satu persatu lembaran kertas yang tak tau ada berapa banyak. “Udah, jangan ngomel, kerjain deh biar cepet selesai”, kataku gantian meledek Lida, “Bukan gitu, ini seharusnya udah di stempel ama Pak Bos sejak bulan lalu, tapi ditumpuk-tumpuk, jadinya gini deh, huhhh”, kata Lida kembali sambil memanyunkan bibirnya.

Oh My Goodness, bibir macam apa itu, makin manyun makin tampak begitu indah, begitu seksi, begitu imut, begitu lucu. “Heiii awas ada CCTV lo, ntar suara lo kerekam”, kataku memperingatkan Lida, “Ehh iya ya, maaf bos, maaf, hehehe”, kata Lida sambil tersenyum ke arah CCTV. Lida kembali mengambil kertas, lembaran demi lembaran, yang jumlahnya sangat banyak. Ia memberikan stempel perusahaan dan stempel tandatangan Pak Bos satu persatu, hingga tumpukan kertas jadi makin menipis.

PUKUL 5 LEWAT 40 SORE

“Huhhh, dikit lagi nih”, kata Lida, “Iyaa semangat sayang”, jawabku, kali ini aku benar-benar memberinya semangat dan tak ingin meledeknya. Waktu terus berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam hingga akhirnya, “Ahhhh yessss, beresss”, Lida begitu senang, suaranya bagaikan desahan karena klimaks akibat pekerjaannya beres. Ia pun bersandar pada kursi empuk Pak Bos. Hanya dia yang bisa menikmati segala fasilitas ruangan Pak Bos, yaaa maklumlah. Lida bersandar, kepalanya menengadah ke atas, dan tanpa sadar ia mengangkangkan kedua kakinya yang sedang memakai rok ketat pendek se atas lutut.

“Ehhh, mmmpphhh”, tanpa sadar air liurku hampir saja menetes, mataku terbelalak melihat pemandangan yang begitu indah. Aku melihat celana dalam berwarna putih di sela-sela selangkangan mulusnya itu. “Wowwww, emmmm”, kataku bersuara. “Ehhhh, liat apa lo?”, kata Lida yang tiba-tiba membenarkan posisi duduknya. Akupun terkejut setengah mati, salah tingkah “ehhh, hehehe”, akupun tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala, padahal kepalaku tidak gatal. Akupun mengambil air mineral botolan yang ada di depanku, lalu aku meminumnya, “Ihhh dasar mesum, lo liat ini yaa?”, kata Lida sambil kembali mengangkangkan kedua kakinya. “Ahhh, uhuuukk uhuukkk”, air yang kuminum tiba-tiba tersembur keluar hingga aku terbatuk saat Lida kembali memamerkan cd nya untuk kedua kalinya. “Kampret lo, bikin keselek tau gak”, kataku.

“Mau gak? Kalo mau cepetan sini”, kata Lida sambil terus mengangkangkan kedua kakinya. Tiba-tiba Lida menaikkan sebelah kakinya ke atas meja Pak Bos, lalu mengacungkan jarinya ke arahku, memberi kode memanggilku dengan nakal. Hmmm, tak mungkin kulewatkan gadis secantik ini. Akupun berdiri dan melangkah mendekatinya, aku berdiri tepat di antara selangkangannya, kemudian kudekatkan wajahku dengan wajahnya sambil berbisik, “Are you sure?”, tanyaku, “Let’s get quickie honey”, jawab Lida, “Ahhhhhhh, come on honey”, Lida mendesah saat tanganku menyambar kemaluan yang masih dibungkus cd berwarna putih ini.

Kumainkan jariku dengan nakal di selangkangannya, kugaruk-garuk tepat di bagian lubang senggamanya, namun jariku terhalang oleh kain putih cd yang masih menempel. “Ahhhhh, Lick my pussy  please”, kata Lida sambil menatap tajam ke arahku. Jarak wajahku dan wajahnya sangat dekat, nafas kami saling tercium. Wajah cantik Lida benar-benar kunikmati. Kuturuti permintaan Lida, aku merubah posisiku, kini aku berjongkok dan wajahku tepat berada di selangkangan Lida. Kudekatkan wajahku hingga kini kepalaku terbenam di selangkangan Lida. Kujulurkan lidahku, dankusapu bersih sisi-sisi sekitar vaginanya, “Ohhhhh honey, ahhhhh, yessss, ahhhh”, Lida meracau, mendesah keenakan. Kuputari jilatanku di sekitar vaginanya, sengaja tak kusentuh titik kenikmatannya, aku ingin melihat reaksinya ketika Lida dihadapkan pada kenikmatan yang setengah-setangah, “Ohhhh please honey, pleaseee, ahhh”, kata Lida kembali meracau.

Tangan kanannya kini turun, menyelip di antara sela-sela cd yang digunakannya, lalu menariknya sedikit hingga lubang kemaluannya yang indah kini terpampang jelas di mataku. “Ohhh my …”, aku takjub melihat keindahan vagina Lida yang begitu bersih, nyaris tak ada bulu yang menutupi liang senggamanya. Kujilati Labia Majora miliknya, lidahku berputar ke sana kemari, “Ahhhhh, please sayang, jilatin yang ini”, kata Lida meracau sambil menunjuk lubang vaginanya. Tapi aku masih ingin mempermainkan nafsunya. Jilatanku makin lama makin kasar menyapu bersih labia majora dan sesekali menyentuh labia minora dan klitorisnya.

Desahan Lida sesekali menyentak seiring dengan sentakan tubuhnya ketika lidahku menyentuh klitorisnya, “Ahhhh honeyyy, ahhhh”, Lida terus mendesah sambil jarinya memainkan klitoris miliknya sendiri. “Okeyyy it’s enough”, kataku dalam hati sambil menarik lidahku. Kulihat lubang vagina Lida yang sudah benar-benar basah, akibat cairan pelumas yang keluar secara otomatis karena mendapatkan rangsangan dariku bercampur dengan cairan air liurku. “Mmmphhhhhh”, kembali kudekatkan wajahku, kujulurkan lidahku, dan kusentuh lubang kenikmatannya menggunakan lidahku, “Ahhhhh sayaaang, ahhhhh”, Lida kembali meracau, tubuhnya menegang sambil sesekali menggoyangkan pinggulnya ke depan agar lidahku mampu masuk menyeruak ke dalam lubang kenikmatannya.

“Please wait honey”, kata Lida sambil mendorong kepalaku agar melepaskan jilatanku di vaginanya. Aku sempat bingung melihatnya, dan ternyata Lida berdiri kemudian memelorotkan celana dalamnya. “Hmmm, inilah yang kuinginkan”, kataku dalam hati. Lida kembali duduk di kursi bos, bersandar dan kemudian mengangkat kedua kakinya. Kini kedua tangannya memegangi kedua kakinya yang benar-benar mengangkang. “Lick it please”, kata Lida. Aku kembali mendekatkan wajahku, dan membenamkannya ke selangkangan Lida, “Ahhhhhh shiiit, yessss, ahhhhh”, Lida kembali meracau ketika lidahku kembali menyeruak, berusaha menerobos, liang senggama yang sempit ini. Aroma khas vagina Lida benar-benar menambah nafsuku sampai aku lupa kalau penisku sudah benar-benar tegang dan berontak ingin keluar.

“Wait please”, kataku yang kemudian berdiri, membuka sabuk, membuka resleting dan pengait celana, kemudian memelorotkannya. Kubuka celanaku dengan sempurna hingga penisku tegang dengan bebas tanpa terhalang apapun. Lida sedikit melongo melihat penisku yang benar-benar tegang, ia pun turun dari kursi Pak Bos kemudian berjongkok di depanku, dan “Ahhhhhh shiiit, enaak bangeet sayang”, kataku ketika Lida meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Bibir tipisnya menggesek-gesek lembut dinding penisku menghasilkan getaran-getaran kenikmatan yang tak mampu kugambarkan. “Ahhhhhh”, desahanku makin liar ketika Lida makin mempercepat kocokan bibirnya di batang penisku. Kedua lututku agak sedikit menekuk karena begitu tegang dan sedikit ngilu akibat kenikmatan yang tiada tara ini. Kupegang kepala Lida dan menekannya agar penisku masuk begitu dalam ke rongga mulutnya. “Acchhhhh”, kata Lida ketika penisku masuk terlalu dalam. Kugenjot mulutnya, “Ohhhhh shiiiit, you’re so beautiful honey”, kataku meracau sambil menikmati setiap gesekan di bibirnya.

Setelah beberapa lama mengisap penisku, Lida pun menyudahi sepongannya, kemudian berjalan ke arah sofa, ia menarik batang penisku agar aku mengikutinya. Lida pun tiduran di sofa dan mengangkat kaki kirinya, diletakkan di atas sandaran sofa. “Wowww”, aku memuji keindahan vagina Lida yang membuatnya sedikit tersenyum. Aku mendekat, menindih tubuhnya perlahan, mengarahkan batang kemaluanku, lalu Lida menggenggam penisku dan mengarahkan ke vaginanya. Kugoyang-goyang sambil kugesek-gesek bibir kemaluannya, “Ahhhhh”, desahan keluar dari mulut Lida, dan “Arrghhhhh, mmmphhhh”, kuhentakkan pinggulku hingga penisku masuk secara utuh ke dalam lubang senggamanya.

Plak plak plak plak, suara kecipak akibat hantaman selangkanganku dengan selangkangan Lida terdengar begitu indah, bagaikan suara yang khas dan sangat merdu. “Ahhh ahhh ahhhh”, desahan Lida keluar begitu lembut seirama dengan genjotanku di lubang vaginanya. “Ahhhhh shiit, harder honey, pleaseee ahhhhhhh”, kata Lida terus meracau. Lida agak sedikit mengangkat pinggulnya, sedangkan kepalanya agak sedikit membungkuk, melihat apa yang aku lakukan terhadap kemaluannya, “Honeeeyyy, ahhhhh, I’m cumming, ahhhhh”, kata Lida sambil mendesah begitu keras. “Honeyyy, ohhh shittt, ahhhhh fuck me, ahhhh”, desahan yang makin tertahan, suara yang makin mengecil, tubuh Lida begitu tegang, ia berhenti menggoyangkan pinggulnya, “Ahhhhh”, desahan panjang keluar dari mulutnya, rupanya Lida sudah mencapai orgasme pertamanya.

“Ahhhhh”, desahan panjang dari Lida menandakan ia telah mencapai orgasme. Tubuhnya menjadi lemas dan matanya terpejam. Melihat tubuh gadis cantik ini tak berdaya, aku makin semangat menggenjotnya. Kuhujamkan penisku berkali-kali ke liang senggamanya. Tubuh Lida terhentak, bahunya terangkat seperti orang terkejut ketika hentakan penisku masuk begitu dalam menerobos liang senggamanya. “Ahhhhhh ehhhhh”, desahan Lida kembali keluar, rupanya staminanya bersangsur-angsur pulih. “Duduk yuk sayang”, pinta Lida kepadaku. Akhirnya kucabut penisku, dan akupun mengambil posisi duduk sambil bersandar di sofa ini.

Lida pun berdiri, kemudian naik dan jongkok di atas penisku, dan kemudian, blessss, “Ahhhhhh”, kamipun mendesah nikmat ketika penisku masuk secara sempurna di liang kewanitaannya. Kuremas bokongnya sambil menekannya agar penisku makin dalam menerobos lubang vaginanya. Sementara itu Lida memegang wajahku, kemudian kamipun berciuman panas. “Mmmpphhh, mmmmhhhhh ehhhh, mmphhh”, desahan kami berdua tertahan akibat ciuman yang begitu dahsyat.

Plak plak plak, suara kecipak kembali keluar diikuti oleh desahan manja dari Lida. Ciuman kami pun terlepas, Lida begitu bersemangat menggenjot penisku, “Sayaaang, aku mau keluar”, kataku, “Yesss honey, take out please, keluarin sayang, ahhhhh”, kata Lida. Plak plak plak plak, genjotannya makin kuat, kuangkat pinggulku mengikuti irama genjotan Lida, membuatnya terhentak dan berteriak karena keenakan, “Ahhhh sayaang, ahhhh aku juga mau … ahhhhh”, kata Lida mendesah begitu keras, “Sayaaang, ahhhh”, akupun berteriak ketika penisku sudah tak mampu menahan terjangan peju yang sudah berontak dan akan keluar, “Honeyyyy, I’m cummm….”.

Kreeeeeekkkk, pintu terbuka, “Ahhhhhh”, croooot crooott crooottt, kupegang pinggul Lida yang benar-benar tegang, kusemprot liang senggamanya dengan pejuku, sementara itu Lida juga mengalami orgasme untuk kedua kalinya. Tubuh kami berdua benar-benar tegang, menghayati kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuh, sementara itu di ujung pintu, terlihat Kang Rohman begitu fokus melihat apa yang kami lakukan. “Ohhh shiiiit, itu Kang Rohman”, kataku begitu terkejut ketika melihat mata Kang Rohman menatap tajam ke arahku. Kuangkat tubuh Lida yang masih memelukku, “Noooo,”, kata Lida menolaknya, penisku masih tertancap di vagina Lida. “Ehhh itu Kang Rohman”, kataku kembali, benar-benar panik.

Kang Rohman berjalan mendekatiku, “Oh My … Please Lida, itu Kang Rohman, jangan sampai ….”, belum sempat kuselesaikan perkataanku tiba-tiba Kang Rohman mencubit bokong Lida, “Kirain tadi ama bos”, kata Kang Rohman, sambil kemudian membereskan meja bos.

Akhirnya Lida pun berdiri, ohhhh desiran kenikmatan sempat terasa ketika dinding vaginanya kembali menggesek batang penisku. Dengan buru-buru aku mengambil cd dan celanaku, kukenakan seluruhnya, dan Lida? Heiii, dia terlihat begitu santai, padahal roknya masih terangkat. Pantat mulusnya masih terlihat jelas, namun ia berjalan mendekati Kang Rohman sambil menepuk bahunya, kemudian menunduk dan mengambil celana dalam miliknya. Saat menunduk, Kang Rohman sempat mencolek belahan pantat Lida, “Heiii, mau minta jatah ya?”, kata Lida menggodanya, “Nggak neng, lain kali aja deh”, kata Kang Rohman sambil terus membersihkan ruangan bos.

Aku benar-benar bingung melihat mereka berdua, mengapa tak ada rasa canggung di keduanya. “Jangan bingung bos, aku udah biasa dipake ama neng Lida”, kata Kang Rohman sambil mengangkat bak sampah dan berjalan keluar. “Ehhhh enak aja dipake, lo aja yang sering ngintip gw ngentot ama Pak Bos”, kata Lida sedikit berteriak, “Hehehehe”, kata Kang Rohman tertawa dan kemudian menutup pintu. “Jadi kamu pernah ama Kang Rohman juga?”, tanyaku, “Yaaa, abis si bos udah kontolnya kecil, kalo main cuma semenit doank udah nge crot, untung aja ada Kang Rohman bisa main sampe sejam”, jawab Lida sambil tersenyum nakal ke arahku.

Wowww, ternyata gadis cantik dan seksi ini pernah ngentot dengan Kang Rohman. Kalau dengan bos sih aku gak heran, “Lo pernah ML ama siapa aja di kantor ini?”, tanyaku kembali karena penasaran, “Cuma ama bos, ama Kang Rohman and ama Lho doank”, kata Lida kembali, “Okee honey, aku pulang dulu yaa, pacarku udah jemput tuh”, kata Lida kembali. “Whaaaat??? Pacar???”, aku begitu terkejut mengetahui bahwa Lida sudah punya pacar, “Jangan pura-pura bego deh, ini Jakarta, lo tau sendiri kan”, jawab Lida sambil berlalu pergi. Sebenarnya aku gak seterkejut itu, karena kehidupanku pun 11 12 dengan Lida.

PUKUL 7 LEWAT 12 MENIT

“Busyeeet, gileee, sejam lebih aku main ama Lida”, kataku terkejut ketika melihat jam tangan milikku. Akupun bergegas keluar dari ruangan bos. Tak lupa aku berpamitan dengan Kang Rohman, sebenarnya masih ada perasaan canggung ketika melihatnya, tapi Kang Rohman pun rupanya terbiasa dengan hal itu.

Kriiiiingggg, Adit, “Hmmmm alasan apa yah?”, kataku dalam hati ketika melihat layar HP memunculkan nama Adit.

Aku: Halo bro, ehh maaf banget, aku ada tugas mendadak, lembur sampe jam segini
Adit: Nevermind bro, lo masih sibuk gak? Gw abis sesi photoshoot, sekarang mau makan malam nih, sekalian ama modelnya, cantik gile bro, sumpah
Aku: Yahhh, kan emang biasanya model-model lo cantik-cantik kan
Adit: Yang ini beda, sumpah, lo pasti bakalan kesengsem kalo ngeliat dia, ayoo lah ikutan bro
Aku: Ya udah, share loc yahh, ntar gw nyusul ke sana
Adit: Langsung aja ke Kerang Kiloan Fatmawati bro
Aku: Oke deh, lo dimana nih?
Adit: Gw deket situ kok, paling 15 menit sampe
Aku: Ya udah, gw jalan sekarang

Tuuuuuttt … Telpon pun dimatikan, aku masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan AC, kemudian mengambil tissue lalu mengelap wajahku yang penuh dengan peluh akibat pergumulan nikmat dengan seorang wanita cantik dan seksi tadi. Kunyalakan sound system mobilku kemudian kuputar radio, srrrtttt srrrtttt, kucari-cari acara radio … “Izinkan aku per …. ssrrrtttt srrttt”, kembali kutekan tombol search “Hello para pendengar sekalian kembali lagi bersama saya, Mr Jack, kali ini saya akan ngobrol dengan Shania Juniana ….. srrrtttt srrrtttt”, kembali kutekan tombol search.

Matamu melemahkanku
saat pertama kali kulihatmu
dan jujur ku tak pernah merasa

Brummm, setelah menemukan lagu yang cocok di radio, akupun mulai tancap gas, keluar dari gerbang kantor menuju daerah Fatmawati. Suasana malam dengan cahaya lampu berderet menerangi jalanan, ditambah dengan cahaya lampu dari kendaraan bermotor lainnya yang menemaniku melalui jalanan ini. Ahhh beginilah seorang jomblo yang kemana-mana harus sendiri. Namun aku sangat menikmatinya, karena aku bisa bebas bertemu dengan siapa saja, bebas ngegombalin siapa saja dan yang paling penting, bebas bercinta dengan siapa saja.

PUKUL 8 LEWAT 5 MENIT

Priiiittt, bunyi peluit yang ditiup oleh tukang parkir pertanda mobilku sudah berada di posisi yang tepat. Cuit cuit, kutekan remote kunci mobilku, lalu aku pun berjalan masuk ke dalam rumah makan ini. Aku berjalan, melihat ke sana kemari, mencari Adit, “Hmmm, mana yaa”, tanyaku dalam hati. Kemudian akupun mengeluarkan HPku, ingin kucoba menelponnya, mencari tau posisinya dimana.

Tuuuuuttttt, “Heii brooo”, belum sempat Adit mengangkat telponku ternyata ia sudah berteriak sambil berdiri dan melambaikan tangan. Ohhh rupanya dia duduk di kursi paling pojok, bersama .. hmmm, satu dua tiga orang cowok dan satu orang … Haaaah??? Ohhh shiiiit, itu kaaan? “Hooiii sini”, Adit kembali berteriak memanggilku.

Ahhh bodoamat, akupun melangkah, mendekatinya, “Heiii apa kabar”, kata Ruli dan Ais, akupun bersalaman dengan mereka, “Heiiiii, kamuuu?”, kata seorang gadis cantik yang sempat membuat tidurku tak nyenyak belakangan ini, “Hmmm yaaa”, kataku begitu cuek sambil bersalaman padanya. Akupun duduk tanpa melemparkan senyum sama sekali ke arahnya. “Ehhh maaf banget yaaa, kemarin aku lupa simpen nomernya, aku mau kontak tapi banyak telpon yang masuk, jadi aku lupa nomernya yang mana”, kata gadis itu lagi, “Ahhh bodoamat lah, lo mau alasan apapun juga gak ngaruh”, kataku dalam hati.

Akupun memesan makanan, kemudian mendengarkan mereka bercengkerama. Kulihat gadis itu sesekali tersenyum mendengar candaan teman-temanku. Hanya aku yang terdiam, karena dari awal aku sudah badmood melihat gadis ini. Setelah makanan datang pun aku tanpa ekspresi menghabiskan makananku, aku tak menghiraukan apa yang mereka bahas.

“Heii broo, lu diem aja, oh iyaa, lo udah kenal ama …..”, belum selesai Adit berbicara, kupotong omongannya, “Jessica Veranda, yes I know her, but I don’t know does she remember me or not”, kataku sedikit menyindir Ve. “Ohhh kalian udah kenal yaa”, kata Adit kembali. Kulihat Ve melirik ke arahku, mata sayunya menunjukkan bahwa ia sedang salah tingkah dan tak enak hati menerima sindiranku. Senyum tipis terkembang di bibirnya, seakan-akan ingin kembali mengucapkan maaf. “Tuh kan, dia lupa ama gw”, kataku kembali menyindir. “Udah-udah, kan bisa kenalan lagi”, kata Ruli, ia merasa tak enak melihat Ve salah tingkah karena terus-terusan kusindir.

Yaa, sejak terakhir aku bertemu dengannya, ia sempat menyimpan nomorku dan berjanji akan mengontakku, namun nyatanya, jangankan dikontak, menyimpan nomorku aja tidak, ehhh jangankan nomor, namaku aja dilupain. “Ehhh kenalan lagi donk”, kata Adit, lalu kulihat Ve menoleh ke arahku sambil mengembangkan senyuman yang begitu manis. Oh My Goodness, senyumannya, apalagi pipinya, Ohhh my …. Lagi dan lagi hatiku luluh melihat bidadari ini, “Heiii”, tiba-tiba Adit menepuk pundakku karena Ve sudah menjulurkan tangannya ingin bersalaman padaku, namun aku hanya melamun. Hmmmm, aku sempat menghela nafas yang begitu dalam lalu berpura-pura mengangkat HPku, “Heii haloo, yaa gimana ???”, aku ngomong sendiri di telpon sambil berlalu pergi.

Entah ada angin apa kenapa aku tiba-tiba bersikap seperti ini. Rasanya aku ingin bersikap jaim pada Ve. Aku kembali berpura-pura menutup telponku, kemudian mendekati mereka, “Bro, sorry ya semua, gw mendadak harus balik ke kantor, thanks ya traktirannya”, kataku dan kemudian berlalu pergi, “Wooiii ahhh gak seru loo”, kata Adit, “Ati-ati brooo”, kata Ruli. Aku sempat melambaikan tangan namun tak menoleh ke arah mereka.

Saat aku akan melangkah keluar dari tempat ini, tepat di perbatasan pintu masuk dan keluar, aku menoleh, dan, srrrrr, entah mengapa, seolah-olah ada angin yang begitu sejuk mendesir tipis menerpa leherku membuat bulu kudukku merinding. Sepersekian detik aku berpikir, ternyata yang membuatku merinding bukanlah terpaan angin melainkan tatapan Veranda yang tepat menuju ke mataku. Tatapan sayunya serta mimik wajah yang seolah-olah memperlihatkan penyesalan, seolah-olah ia ingin memberitahuku bahwa ia tak enak hati dan ingin minta maaf, Ohhhh, tatapan itu, pipi itu, “Arrrggghhhhh, bodoamat”, aku kembali menoleh, berpaling dan kemudian melangkah, kembali ke mobilku.

PUKUL 9 MALAM

Brummmm, kuinjak pedal gas dengan kencang, aku tak peduli keadaan sekitar, “Arrrgghhhhh aaaarrgghhhh”, berkali-kali aku berteriak di dalam mobil, “Anjiiiiinggg, babiiiiii, bangsaaaaatttt”, “Arrrgghhhhh”, “Gobloooookk kauuuuu, toloooooollll kau bangsaaaaatttt”, berkali-kali aku berteriak, mengumpat, mencaci maki diriku sendiri yang sok jaim, sok jual mahal dan akhirnya saat ini merasa menyesal, padahal Veranda sudah menunjukkan tatapan menyesalnya.

Shiiiittt, padahal soreku begitu indah, melampiaskan nafsu bersama dengan seorang wanita cantik, putih, mulus dan seksi, namun seolah-olah kenikmatan dan kepuasan itu terhapus oleh wajah cantik seorang bidadari yang memiliki kekuatan magis.

Ia begitu beda. Ohhhh Jessica Veranda, hmmmm

BERSAMBUNG

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!