Ve Story – Sang Bidadari dan Serigala Malam – Part II

“Met pagi say”, sapaan hangat dari Lida menyambut pagiku yang begitu sendu. Ya, malamku benar-benar tak bisa kunikmati. Pikiranku melayang tak karuan, perasaan menyesal terus menghantui, padahal selama ini “jaim dan jual mahal”, adalah senjataku untuk memikat para wanita. Tapi entah mengapa, senjataku yang kutembakkan bak pistol yang kuarahkan tepat ke arah target dan mengenai sasaran justru memantulkan pelurunya dan menghujam ke arahku dan melukaiku. Apakah senjataku tidak berlaku untuk Ve? Ataukah pesonanya mampu meluluhkan seorang lelaki sepertiku?

“Heiii sombong banget sih, di ucapin selamat pagi malah diem aja”, Lida kembali menyapaku, dia protes karena sapaannya tidak kujawab, “Ehhh sorry sayang, duhh pikiranku lagi kacau banget”, jawabku yang kemudian berjalan melangkah sedikit cepat mengejar Lida yang berlalu pergi meninggalkanku. Plaaak, “Ihhh genit”, kata Lida saat kutepok pantatnya. “Jangan ngambek donk, masih pagi juga”, kataku dengan melempar senyum ke arah Lida, “Hmmm gak ngambek kok, eh gw ada berita bagus buat lo”, kata Lida kembali, “Berita apaan?”, Akupun bertanya padanya, “Hmmm, but it’s little bit secret okay”, kata Lida. Akupun membentuk tanda lingkaran menggunakan jariku, tanda setuju.

Lida melangkah mendekatiku, kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku, “You’ve got new assignment honey”, bisiknya, “Whaaat? Duh aku lagi pusing nih, masak tu ….”, belum selesai aku bicara, Lida kembali berbisik ke arahku, “I mean you’ve got new position”, kata Lida kembali. Akupun terkejut, aku sempat melongo sambil menatap matanya, aku bingung dengan maksud perkataannya, “Heii, kenapa diem aja? Kamu ntar lagi diangkat jadi Manager Marketing loo”, kata Lida kembali. “Are you sure?”, tanyaku sedikit tak percaya, “Hmmm ini rahasia, bos sempet nanya-nanya ama aku lho, trus aku rekomendasiin kamu”, kata Lida terus meyakinkanku, “Thanks a lot honey, hmmm”, jawabku.

Setelah beberapa saat bercanda dengan Lida, kami pun berpisah ke ruangan masing-masing. Secara seksual, Lida memang menarik, secara fisik, dia nyaris sempurna, namun ketertarikanku padanya hanyalah sebatas pada seksualitas semata, tapi entah kenapa terhadap Veranda, justru yang aku rasakan sungguh beda, padahal aku tidak pernah bertemu ataupun bicara intens dengannya, dan lagi aku …. ahhh sudahlah.

Kriiiingg, bunyi nada dering di HPku memecah lamunanku sesaat, Pak Bos, “Selamat pagi Pak”, kataku menjawab telepon dari Pak Bos, “Lex, ntar makan siang ikut ama gue ya, ada yang mau gue omongin ama lo”, kata Pak Bos. Akupun mau tak mau harus mengiyakan. Setelah menutup telepon entah mengapa jantungku berdegub kencang. Apakah ini berkaitan dengan apa yang dibisikkan oleh Lida tadi? Ataukah jangan-jangan ia akan menanyakan …. Ohh shiiiit, ruangan Pak Bos ada CCTV kan? Ohh nooo, apakah ia melihat rekaman CCTV? Ohhh, bagaimana nasibku? Kuangkat HPku kembali, kutelpon Lida berkali-kali, namun tak ada jawaban darinya.

JAM 12 LEWAT 18 SIANG

Kriiiiing, bunyi telepon memecah lamunanku, lamunan akibat kekhawatiran yang terus kubayangkan sejak tadi. Lagi-lagi dari bos, “Selamat siang Pak”, jawabku, “Lex, lo ke PIM yah, ke Sushi Tei, reservasi buat 3 orang”, kata Pak Bos, belum kujawab ia sudah menutup telponnya. Huhhh, untung aja dia Bos. Akupun bergegas merapihkan meja kerjaku, kumasukkan macbook serta beberapa buku ke dalam tas kemudian aku keluar dari ruanganku menuju tempat parkir. Kunyalakan mobilku, kubuka jendelanya, mengeluarkan hawa panas yang ada di dalam mobil kemudian kunyalakan AC. Beberapa saat kemudian akupun mulai memacu kendaraanku ini, menuju PIM.

Untuk menuju ke PIM dibutuhkan usaha yang ekstra, karena di jam makan siang seperti ini, sudah pasti akan sangat macet, tapi apa daya karena Pak Bos yang menyuruhku, jadi aku tak bisa berargumentasi apapun. Tiiiiinnn tiiiinnn, suara klakson saling bersahutan, semua punya kepentingan, tak ada yang mau ngalah, beginilah suasana di jalanan ibu kota saat siang hari.

Waktu terus berlalu, entah berapa lagu yang berputar di sound system mobilku, entah berapa kali umpatan yang keluar dari mulutku akibat banyaknya pengendara motor yang ngawur, dan entah berapa kali aku menghela nafas membuang rasa khawatir sekaligus penasaran, apakah bos tau perbuatanku dengan Lida atau tidak. Ya itu semua aku lalui hingga akhirnya mobilkupun sudah dalam keadaan terparkir di area parkiran PIM. Tak lupa kupotret nomor pada pilar tempat parkir itu agar aku tidak kesulitan mencari posisi mobilku nanti.

Akupun melangkahkan kakiku menuju lobi PIM 2. Baru saja aku masuk ke dalam Mall, tiba-tiba saja HPku berdering, saat kulihat ternyata Bos menelponku kembali. “Selamat siang Pak”, kataku menyapa Pak Bos, “Lex, gw tunggu di Duck King ya”, kata Bos dan kemudian ia menutup telponnya. Hmmm, rupanya aku tak perlu reservasi tempat di Sushi Tei. Okee deh, akupun mempercepat langkahku, mencari tangga eskalator, karena Lift agak penuh. Aku sedikit berlari, menuju lantai 3. Bruuukk, “Awwww”, teriak seorang gadis yang tak sengaja kusenggol hingga gelas plastik yang berada di tangannya terlepas dan terjatuh. “Ehh maaf, maaf banget yaa”, kataku yang mencoba menunduk mengambil gelasnya, “Udah deh, gpp”, kata gadis itu begitu ketus sambil kemudian meninggalkanku. “Heiii”, aku coba memanggilnya kembali. Ia pun menoleh ke arahku, “Maaf yaa”, kataku, “Iyaa gak apa-apa kok”, kata gadis itu kembali sambil melemparkan senyuman, Oh My God, manisnya gadis itu, seolah-olah matanya ikut tersenyum saat ia menoleh ke arahku.

Ohh shiit, Bosku sudah menunggu, aku kembali berlari. Hmmmm, kehidupanku tidak pernah lepas dari wanita-wanita cantik, tapi mereka bisa kudapatkan dengan mudah. Hufftttt, haaahhhh, akhirnya sampe juga. Kumenole kesana dan kemari, kulihat satu persatu, ahh itu dia. Akupun berjalan mendekati bosku, jantungku benar-benar berdegub kencang.

“Pak ….”, sapaku, “Ehh Lex, duduk, lo udah gw pesenin”, kata Pak Bos. Hmmmm, emang sih dia mata keranjang, tapi dia termasuk Bos yang baik banget dan perhatian ama anak buahnya. “Jadi gini Lex …” kata Pak Bos, Deg, jantungku seolah-olah berhenti sesaat. “Ya pak …”, kataku sambil mengeluarkan keringat dingin. “Wah, gw belum ngomong kok udah pucet lo, hahaha”, kata Pak Bos mencoba mencairkan suasana. Akupun mencoba tertawa, walaupun sebenarnya hatiku sangat bergejolak. “Gini Lex, gw promosiin elo jadi Manager Marketing yang baru”, kata Pak Bos. Huuufffttt, tanpa sadar aku menghela nafas, merasa sangat lega dengan apa yang dikatakan oleh Bos. “Makasi Pak sudah mempercayakan posisi itu pada saya”, jawabku. “Ahhh elo, jangan terlalu formal deh kalo ngomong, sante aja”, kata Pak Bos.

30 MENIT KEMUDIAN

Kami berdua melahap makanan dengan sangat rakus, hehehe, maklum lah, kami berdua cowok, jadi tidak ada jaim di antara kita. “Gw mau minta saran nih ama lo”, kata Pak Bos sambil memakan Bebek Peking 1/2 porsi yang dipesannya. Aku menyimaknya dengan seksama, “Sepupunya Lida, mau kerja di kantor kita, wuihh anaknya cantik banget”, kata Pak Bos mulai mengeluarkan sisi mata keranjangnya, “Trus gimana Pak?”, tanyaku sambil mengunyah potongan kulit bebek yang begitu renyah, “Hmmm, gw pinginnya dia jadi sekertaris gw gantiin Lida”, kata Pak Bos, “Trus Lida gimana Pak?”, tanyaku kembali, “Nah itu dia, kalo Lida barengan ama Lo gimana?”, kata Pak Bos, “Yaa gpp sih Pak, Lidanya mau gak?”, Aku bertanya, “Ahhh lupain deh, itu urusanku, yang terpenting aku dapet suasana baru, heehehe”, kata Pak Bos sambil mengedipkan mata padaku. Aku mengerti maksudnya, pasti ia ingin mendekati sepupu Lida yang “belum terjamah” itu, dan menyerahkan Lida yang merupakan “bekas” nya.

Kriiiinggg, HP Pak Bos berbunyi, ia pun mengangkatnya, “Hei halo, gw di The Duck King nih, gw tunggu di sini ya”, kata Pak Bos melalui HPnya. “Ntar lo liat deh sepupu si Lida, oke banget”, kata Pak Bos. Hmmm… Akupun jadi penasaran, seperti apa sih cewek yang bisa menggantikan posisi Lida di hati Pak Bos.

Makanan pun sudah habis, pelayan sudah merapikan meja kami, dan menyisakan minuman yang belum habis. Kami pun ngobrol ala-ala lelaki hidung belang. Hehehe, asik juga ngomong ama Pak Bos tentang ginian. “Selamat siang om”, tiba-tiba saja sebuah suara yang sangat lembut dan sepertinya kukenal menyapa Pak Bos dari belakangku, “Heiii”, sapa Pak Bos dan ia pun berdiri sambil menyodorkan tangan. Akupun menaruh gelas yang kupegang dan kemudian berdiri seraya menoleh ke belakang. Ohh My Goodness … Ohh … “Ehhh Kak Alex”, sapa gadis itu, “Ve …”, kataku dengan terbata-bata sambil menyodorkan tangan bersalaman dengannya.

“Eh kalian udah kenal ya?”, tanya Pak Bos. “Iyaa Om, hehee”, jawab Ve dengan suara yang begitu lembut dan dengan senyuman yang begitu indah. Ve pun duduk di sampingku, Ohhh… hmmmm, lagi dan lagi jantungku berdegub kencang. Kebetulan macam apakah ini? Tapi, kebetulan yang trus berulang, itulah pertanda baik. Hufftttt, kuhela nafas begitu dalam, kucoba untuk membuang semua egoku, semua sikap-sikap jaim bullshit yang ada di diriku, kemudian kuubah posisi dudukku hingga akan condong ke arah kanan, menghadap ke Ve.

Ve dan Bos masih mengobrol, aku hanya tertegun melihat wajah sampingnya yang begitu ayu. Lehernya yang jenjang sedikit bergetar saat suara menyeruak keluar, ingin rasanya kujilat, bibirnya, ohhhh … Mengapa ada bidadari di tempat ini .. Ohh My … “Lex …”, rambutnya begitu … “Lex …”, telinganya, ingin rasanya kuisap .. “Kak …”, “Ehhh iya, iyaaa, kenapa?”, Oh shiit, aku melamun, “Yahh payah lo Lex, gw yang manggil lo cuekin, giliran cewek cantik yang manggil langsung nyaut lo”, kata Pak Bos, membuatku menunduk karena malu.

Pembicaraan kami bertiga entah kemana. Mungkin hanya aku yang kurang fokus karena merasa grogi. Entah kenapa sifat liarku sebagai seorang cowok tiba-tiba menjadi takluk seperti ini ketika berada di samping Ve. “Eh, gw balik duluan ya, kalian ngobrol aja di sini, kebetulan gw ada meeting”, kata Pak Bos secara tiba-tiba. “Tapi aku harus balik kantor Pak”, kataku berusaha untuk pencitraan di depan Pak Bos, “Ahh udahlah, lo temenin aja Ve”, kata Pak Bos sambil kemudian berdiri dan berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Dag Dig Dug Serrrr … Ohh My God, tidak pernah aku segugup ini. Padahal aku sejak SMA terkenal sebagai penakluk hati wanita, tapi kenapa ini begitu beda ya?

“Kak .. kk masih marah ya ama aku?”, tanya Ve sambil menoleh ke arahku memasang tampang yang begitu sayu dan sendu dengan mata yang … Ahhhh busyeeet, “Hmmm, aku gak marah kok”, jawabku dengan santai dan sedikit ketus. “Heii fuck you Alex, anjing kau, jangan sok jaim kau”, sebuah bisikan dari diriku yang lain, mencoba mencaci makiku karena berusaha bersikap jaim pada Ve. “Ohh syukur deh, btw aku jujur kok kak, kalo aku mau nelpon kk, tapi lupa namanya siapa”, kata Ve kembali, “Iyaa Ve, udah, lupain deh, btw kamu udah makan?”, tanyaku, “Udah kok, eh aku lagi nungguin temenku nih”, kata Ve, “Siapa?”, tanyaku, “Ada sih, temenku …”, belum sempat Ve menyelesaikan omongannya, tiba-tiba ia mengecek HPnya sambil mengetik sesuatu. Rupanya ia sedang mengirim chat ke teman yang sedang ditunggunya.

“Kak, suasana kerja di kantornya gimana sih?”, tanya Ve padaku, “Hmmm asik kok, btw kamu sepupunya Lida ya?”, aku balik bertanya, “Iyaa, kok tau? Pasti Om Bos yang ngasi tau ya?”, kata Ve. Akupun mengangguk mengiyakan. Suasanapun menjadi cair, kamipun ngobrol seperti biasa, bahagia sekali rasanya aku bisa bercengkerama dengan gadis yang kupuja selama ini tanpa harus jaim lagi. “Heiii kak Veee”, tiba sebuah suara mengagetkanku. Suara dari seorang gadis yang secara tiba-tiba memeluk Ve dari belakang. Suara itu menyita perhatianku sesaat hingga membuatku menoleh, “Haaah, kamu …?”, kataku sambil melihat ke arah gadis itu, “Ehhh kk ..?”, kata Gadis itu, “Lohhh, kalian udah kenal ya?”, tanya Ve kepada kami berdua, “Mmmm belum sih, cuma tadi …”, belum sempat kuselesaikan omonganku, tiba-tiba gadis itu menyodorkan tangannya, akupun membalas dan bersalaman dengannya, “Shania”, kata gadis itu, “Alex”, jawabku.

PUKUL 2 LEWAT 40 MENIT SORE

“Dulu kak Ve ini paling banyak fansnya di JKT48 lohhh”, kata Shania, kemudian dibalas dengan pukulan yang begitu pelan di pahanya dari Ve. Rupanya Ve malu ketika dipuji oleh Shania. OMG, kini aku berada di antara 2 bidadari cantik, yang satu adalah personil JKT48, yang satu lagi adalah mantan personil JKT48, betapa beruntungnya aku. Kami bertiga menghabiskan waktu mengobrol di sofa Restaurant The Duck King hingga akhirnya kamipun tersadar bahwa sudah beberapa jam kami hanya mengobrol di tempat ini tanpa memesan makanan tambahan.

“Ehh, kita pindah yuk, dari tadi diliatin terus tuh”, kata Shania sambil melirik ke arah meja kasir. Kamipun berdiri sambil sedikit tersenyum dan kemudian melangkah keluar dari Restaurant ini. Ve dan Shania berjalan di depanku, sementara itu aku hanya mengikutinya dari belakang.

Entah apa yang mereka obrolkan, namun tampaknya sangat seru. Kanan kiri kanan kiri, hmmmm mataku hanya tertuju pada bongkahan bokong yang terbungkus dress berwarna hitam ketat. Kanan Kiri Kanan Kiri, akupun tersenyum, yang aku senyumi adalah pikiranku yang begitu mesum. “Heii kak, sini donk”, sebuah ajakan yang benar-benar mengejutkanku. Untung saja aku refleks menatap mata Ve saat ia bicara denganku, kalau tidak, bisa ketauan kalo aku sedang memperhatikan pantat Shania, “Iya kak, ngapain di belakang kita, mau liatin pantat?”, kata Shania, haaah … mmmm … ehhh, waduh, aku jadi gugup, gleeeg, aku menelan ludah. Mereka pun berhenti berjalan, menungguku agar kami berjalan secara beriringan bertiga.

Kami pun berjalan beriringan bertiga, entah kemana, namun arahnya sih menuju Lobby PIM. “Kak, abis ini mau kemana?”, tanya Shania, “Mmm gak ada sih, paling balik ke kantor bentar buat absen, trus pulang, kenapa?”, tanyaku, “Gak ada sih”, jawab Shania, “Mungkin lain kali kita jalan bareng lagi”, kata Ve. Yahhh, padahal harapanku, aku diajak oleh mereka, “Kalian mau kemana emang?”, tanyaku, “Aku ama Shania mau ke Fx, kebetulan aku udah lama gak ke sana”, jawab Ve, akupun hanya mengangguk. “Gpp kan kak?”, tanya Ve kembali, “Emang kenapa?”, tanyaku, “Takutnya kk marah lagi ama aku”, kata Ve, Ohh .. ternyata ia benar-benar ingin menjaga perasaanku, ahhh begitu romantisnya bidadari ini. Akupun tersenyum ke arah mereka berdua, sambil menyodorkan tangan. Aku bersalaman dengan Shania dan Veranda, “Ya udah, kapan-kapan kita jalan bareng lagi ya”, kataku pada mereka. Akupun berbalik arah kemudian memasukkan kedua tanganku ke saku celana dan berjalan meninggalkan mereka berdua dengan langkah tegap yang begitu jaim.

Hmmmmm … Ohhhh … Shania … Ohhh Veranda ….

BERSAMBUNG

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!