Ve Story – Sang Bidadari dan Serigala Malam – Part III

No comment 8415 views

Malam yang begitu hening, aku melewati jalanan setapak di sebuah taman. Banyak orang duduk namun tidak kuhiraukan. Satu-satunya cahaya yang menuntunku hanyalah cahaya bulan yang begitu indah. Namun langkahku bukanlah menuju datangnya cahaya, melainkan mengikuti seorang bidadari bergaun putih dengan rok terkembang dan berambut panjang sedikit bergelombang di ujungnya. Tanganku menggenggam erat tangannya seolah-olah aku tidak ingin kehilangan dirinya, begitu pula sebaliknya. Jantungku berdegub begitu kencang, ada gejolak hati yang seolah-olah terus berbisik bahwa “inilah cinta”, namun diriku yang lain selalu menepisnya dan berkata “ini terlalu cepat”. Langkahku berusaha mengimbangi langkahnya, agar ia tetap di posisi itu, seolah-olah menarikku, mengajakku ke suatu tempat, hingga akhirnya akupun berkata, “Ve …”, dan ia pun menoleh, Ahhhh, wajah bidadarinya, wajah lembutnya, tatapan sayunya … Ohhh

Kriiiiiingggggg, Ahhhh shiiiiitttt, tiba-tiba semua terbuyar, suara alarm sangat menggangguku. Aku terbangun dan ingin rasanya kubanting HPku. F*ck off, sejak awal aku tau ini hanyalah mimpi, tapi aku benar-benar tak rela kalau ending dari mimpi indahku harus diakhiri dengan suara alarm di HPku.

Udara pagi yang begitu segar menyambut pergantian hari, namun dinginnya AC membuatku malas untuk beranjak dari kasur. Selimut tebal melindungi tubuhku dari udara yang begitu dingin. Kuraih HP yang berada di sampingku namun agak sedikit jauh sehingga tanganku sedikit menjulur keluar dari selimut.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat 20 menit, tapi rasanya semangatku berangsung-angsur meningkat, padahal saat ini adalah hari Sabtu. Hari libur untuk sebagian besar kantor di Jakarta. Kusingkap selimutku kemudian kubuka akun IG.

“Haiiii, coba tebak aku ama siapa?”, kata seseorang di dalam IG Story dengan suara yang cukup familiar dan sangat mengganggu hidupku, ya siapa lagi kalo bukan Ve. Wajah manisnya menghiasi pagiku yang dingin. Kubuka beberapa fotonya yang selama ini sudah sering kulihat, tapi entah kenapa selalu saja ada perasaan berbeda setiap melihat fotonya. Pandangan mata Ve di dalam foto itu seakan-akan menghipnotisku, menggerakkan jari-jariku dengan sendirinya, “Selamat pagi Ve”, sebuah kiriman chat terkirim di pagi ini.

Entah mengapa, padahal mimpi semalam sudah usai, tapi debaran jantungku masih berdetak dengan tempo yang sama saat aku bermimpi. Apakah aku benar-benar jatuh cinta sampai terbawa mimpi?

“Met pagi juga kak, tumben pagi-pagi nge chat nih?”, jawab Ve. Haaahhhh, tiba-tiba kesadaranku pulih 100%, aku tersadar, chat isengku dibalas oleh Ve kurang dari 1 menit. Padahal selama ini, jangankan dibalas, di read pun tidak. Hatiku menggerakkan bibirku untuk tersenyum, dengan penuh semangat aku membalas chat darinya, “Hehee… iseng aja, lagi apa?”, jawabku. Kuperhatikan HPku dengan seksama, hingga akhirnya centang abu-abu berubah menjadi warna biru, “Ohh iseng doank ya? Kirain serius”, isi chat balasan dari Ve. Balasannya secara refleks membuat tubuhku terduduk, membaca berulang kali, mencoba mengartikan makna chat darinya, apakah ia sedang bercanda atau serius?

“Ehhh maaf-maaf, aku serius kok, heheee”, balasku, kurang dari 1 menit, balasanpun kuterima, “Heheee, becanda kak, lagi liat video memasak nih”, jawab Ve, “Duh, jadi pingin dimasakin”, balasku, aku mencoba untuk mencairkan suasana yang sebenarnya sudah cair sejak tadi. Harus kuakui, akulah yang grogi, heheheee… Makin lama aku makin yakin kalau Veranda adalah titisan bidadari dari negeri kayangan yang siap memporakporandakan hati siapa saja yang mencoba untuk mencuri cintanya. Senyuman tak pernah pudar dari bibirku, udara pagi yang dingin tidak kurasakan lagi, akibat hangatnya percakapan via chat dari kami di pagi ini.

Kembali kubuka akun IG milik Jessica Veranda, kuperhatikan foto-fotonya, tak butuh fotografer professional untuk memotret seorang bidadari cantik sepertinya. Bahkan jepretan kamera HP dengan resolusi rendah pun tetap mampu memancarkan kecantikan dirinya.

Ehhh, udah 10 menit lebih kok belum dibales ya? Padahal centangnya udah biru. Senyum di bibirku berubah menjadi sedikit murung. Apakah Ve marah atau kesal dengan gombalanku? Apakah Ve merasa permintaanku terlalu lebay? Apakah Ve … Ahhh, tiba-tiba saja otakku berkecamuk, mood ku berubah drastis, padahal beberapa menit lalu aku begitu bahagia. Huuuffftttt, helaan nafas yang panjang sedikit melegakan hatiku.

Bruuukkk, akupun kembali rebahan di kasurku, gairah yang tadi sempat memuncak tiba-tiba menghilang. Berbagai spekulasi muncul di pikiranku, ohh shiiit, sial, apa sih susahnya tinggal bales doank?

PUKUL 7 LEWAT 25 MENIT

Aku sudah terbangun sejak tadi, tapi entah mengapa tak ada gairah dalam hidupku. Tubuhku masih tergeletak di kasur empuk yang menambah kemalasanku. Sejam sudah Ve tak membalas chatku, ingin rasanya ku chat kembali, tapi rasa jaim kembali muncul. Rasa jaim yang sebenarnya sudah berkali-kali membuatku kesal pada diriku sendiri. Ahhhh kampreeeet, “Ve?”, Kukirim kembali sebuah chat yang singkat. Kucoba untuk menghilangkan rasa jaim pada diriku.

Semenit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, ahhhh shiiit, mengapa chatku tak dibaca? Hmmm …. Ya udah deh, toh aku bukan siapa-siapanya.

Kulempar HPku ke samping, kemudian akupun bangun, beranjak dari kasurku menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi yang tak perlu kujelaskan, heheee.

Hanya 5 menit aku di kamar mandi, karena seorang cowok tak butuh waktu lama untuk melakukan ritual. Aku melirik ke arah HPku, ingin rasanya kuambil dan kubuka kembali, tapi pasti akan menambah kesal hatiku saja, karena yang kuharapkan adalah balasan dari Ve.

Kunyalakan TV, kemudian menekan tombol water heater yang terletak di samping TV. Kriiiingggg, hmmm, akhirnya bunyi juga HPku. Aku melangkah begitu pelan, karena tak mungkin Veranda menelponku. Kuraih HPku, Haaahhh, Ve?

Aku: Yaa Halooo
Ve: Maaf kak, aku baru selesai mandi
Aku: Ohhh Gpp (sambil menghela nafas karena merasa lega)
Ve: Kk gak marah kan?
Aku: Nggak kok Ve, btw hari ini kesibukannya apa aja?
Ve: Aku pingin belanja kak, pingin masak, kk mau aku masakin apa?
Aku: *terdiam
Ve: Halo kak
Aku: *Masih terdiam, tak menyangka
Ve: Kak? Halo
Aku: Ehh mmm sorry sorry, duh, apa ya? Hmmm apa aja deh, pasti aku makan kok
Ve: Beneran nih apa aja mau?
Aku: I .. ii iyaa, apa aja
Ve: Aku masakin Mie rebus aja deh, heehee
Aku: Apa aja deh, yang penting masakannya Ve …
Ve: Hehehe, becanda kak, ya udah ntar aku belanja dulu ya, tapi yakin nih masakin apa aja mau?
Aku: Mau, sumpah, mau, aku pemakan segala, heheheee
Ve: Oke deh kak, lanjut via WA aja yahh
Aku: Oke sayy.. ehhh mmm… Vee
Ve: hehee… Byeee

*Tuuutttt*

Arrrggghhhhhhhhh, bruk bruk bruk, yessssss, aaaaaaa bruuuukkk, kutendang sofa empuk yang ada di dekatku, kemudian aku melompat ke kasurku. Perasaanku menjadi sangat gembira, sangat sangat bahagia, bahkan 1000 kali kata sangat pun masih belum mampu melukiskan bahagianya hatiku saat ini.

Hmmmm … Aku kembali menghela nafas sambil tersenyum, kemudian kuambil handuk yang tergantung di belakang pintu, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa kunyalakan laptop serta speaker milikku. Aku sudah terbiasa mandi sambil mendengarkan lagu dengan pintu terbuka.

I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found a girl beautiful and sweet 
I never knew you were the someone waiting for me
‘Cause we were just kids when we fell in love

Lagu Ed Sheeran berjudul Perfect sayup-sayup terdengar mengalahkan suara guyuran air yang keluar dari shower di atas kepalaku. Kali ini tak kuikuti setiap bait lagu tersebut, karena cukup hatiku yang bernyanyi menyambut kebahagiaan pagi ini.

Oh Veranda, kau benar-benar mengaduk perasaanku, pagi yang cerah membuatku tersenyum bahagia. Aku membilas tubuhku, hingga mengeringkannya menggunakan handuk. Semua kulakukan dengan penuh semangat dan penuh senyum. Mungkin bidadari lainnya yang masih tertinggal di Kayangan akan tertawa melihat kelakuanku pagi ini, yang terhipnotis oleh salah satu bidadari yang nyasar di bumi.

So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I’m thinking out loud
Maybe we found love right where we are

Kumpulan lagu Ed Sheeran memang sangat cocok menemani pagi. Aku mengenakan baju V Neck berwarna putih dengan celana jogger. Tak lupa kusemprotkan parfum Hugo Boss yang tersisa hanya 1/4 botol, kemudian aku berdiri di pinggir jendela, menatap ke luar, meresapi berbagai aktifitas yang dilakukan oleh orang lain di luar sambil menunggu chat dari Veranda.

Tiing, HPku berbunyi, semesta memang sedang mendukung, baru beberapa detik aku berharap, tiba-tiba sebuah chat masuk. “Kak, lagi sibuk gak?”, isi chat dari Ve. Jari-jariku seolah-olah bergerak dengan sendirinya, mengetik secepat kilat, tak ingin membiarkan Ve menunggu lama balasan dariku, “Nggak Ve, kenapa?”, balasku, “Maaf kak, mau gak anterin aku belanja? Biar sekalian bisa tau kk mau dimasakin apa”, balas Ve kembali. Oh oh oh … Lagi-lagi senyum terkembang, lagi-lagi hatiku merasa adem, ahhhhh, indahnya pagi ini. “Okeee, aku jemput sekarang?”, balasku, “30 menit lagi aku siap. Maaf ya kak ngerepotin, hehee”, balasnya. Jangankan hanya minta dijemput, kalau saja Ve mengajakku ke ujung dunia pun akan kujabanin, hehehe.

But wait, apakah aku jatuh cinta? Apakah aku takluk dengan pesona Veranda? Apakah reputasiku sebagai seorang penakluk wanita selama ini harus runtuh begitu saja akibat seorang bidadari yang berkali-kali kebetulan bertemu denganku? Ahhh bodoamat, aku tidak peduli dengan reputasiku, yang penting hari ini aku bahagia.

Aku baru mengenal Ve, tapi pertemuan yang tidak disengaja di taman beberapa waktu lalu menjadi awal mula segalanya. Dan pagi ini, adalah pertama kalinya aku berhasil meruntuhkan egoku sendiri, mengirim chat padanya yang ternyata hasilnya sangat-sangat memuaskan.

Dengan perasaan yang sangat bahagia aku mengambil kunci mobil kemudian melangkah dengan cepat keluar dari Apartmentku. Kunyalakan mobilku, kupanaskan terlebih dahulu sambil melihat Google Map. Ve sudah mengirimkan lokasi rumahnya yang jaraknya ternyata tak terlalu jauh dari Apartmentku.

Cukup 5 menit kupanaskan mobilku dan akupun masuk, kututup pintu, kunyalakan AC dan kuputar lagu Adelle. Brummmm, akupun menginjak pedal gas dan mengawali perjalanan yang membuatku bahagia ini.

Let me photograph you in this light
In case it is the last time
That we might be exactly like we were
Before we realized
We were sad of getting old
It made us restless
It was just like a movie
It was just like a song

Kupacu mobilku dengan kecepatan penuh, padahal sudah jelas Ve mengatakan sejam lagi ia baru siap, tapi semangatku seolah-olah terus menggebu dan tidak membiarkan tubuhku untuk diam sejenak. Huuuffftttt, mengapa perasaanku menjadi kacau seperti ini. Aku termasuk cowok yang jaim, sulit rasanya mengakui walaupun untuk diriku sendiri bahwa aku sedang jatuh cinta, apalagi dengan seorang cewek yang baru saja kukenal.

Hmmm … wait-wait, sepertinya rumahnya di sini nih. Aku berhenti tepat di seberang sebuah rumah dengan pagar berwarna putih. Hmmm … Ya udah deh, yang penting aku udah berada di area ini, kalaupun salah bisa aja hanya berbeda beberapa rumah saja.

Sengaja tak kuhubungi Ve, karena itu akan mengganggu konsentrasinya dalam merias diri, hehehe. Mesin mobil tetap kubiarkan menyala.

Please don’t see just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me reaching out for someone I can’t see
Take my hand let’s see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I’d be damned Cupid’s demanding back his arrow
So let’s get drunk on our tears and

Kali ini lagu Adam Levine berjudul Lost Stars menemaniku. Aku ikutan bernyanyi, jantungku makin lama makin berdegub kencang, menanti seorang bidadari keluar dari rumahnya. Arrrggghhhhhhhh, aku mencoba berteriak sekencang mungkin, siapa tau hal itu bisa membuat hatiku sedikit rileks.

Entha berapa lagu yang sudah terputar, entah berapa banyak kendaraan yang lalu lalang, namun yang pasti, aku sudah menunggunya hampir satu jam di depan rumahnya. Tapi aku sama sekali tidak mengeluh, karena yang kutunggu adalah seseorang yang akan membuatku bahagia, hmmmm … Preeeetttt… Sadar Lex, bisa aja lo dimanfaatkan. Ohhh shiiit, lagi-lagi pikiran negatifku muncul. Huuussshhhh ..

Tiiinggg, akhirnya, sebuah notifikasi di HPku yang begitu kutunggu-tunggu tiba juga. “Kak aku sudah siap”, isi chat dari Ve, “Heheee.. aku udah di depan kok”, balasku, “Oh yaa?? Wah, oke deh, aku depan sekarang”, balas Ve lagi.

Tatapanku terfokus pada pintu gerbang rumah di seberangku, aku harap-harap cemas, aku takut grogi, aku takut tak bisa mengendalikan diri, padahal aku sudah bertemu Ve beberapa kali, tapi entah kenapa aku tetap grogi kalau bertemu dengannya. Hmmmm.. Kok gak keluar-keluar ya?

5 Menit berlalu, ia masih saja belum keluar. 10 Menit, 20 menit, waduh, kok PHP sih? Tiiiinggg, notifikasi HPku kembali berbunyi, “Kak, masih lama ya?”, isi chat dari Ve yang membuatku kebingungan, “Aku udah di depan Ve”, balasku, “Depan mana kak? Aku juga udah di depan dari tadi nih”, balas Ve kembali.

Lohhhh, kuraih HPku, ku cek kembali lokasi yang ada di google map, dan lokasinya memang benar. Kembali ku kirimkan Chat ke Ve, “Coba nyebrang deh, mungkin aku salah rumah”, tiiinggg, semenit kemudian Ve membalas, “aku udah di seberang jalan kak, coba deh cek lokasi yang aku share di chat”. Kucoba scroll up, mencari chat beberapa saat lalu, kubuka kembali lokasi yang telah ia share.

Aaarrrggghhhh, Shiiiiiitttt, aku salah lokasi, dan rumah Ve berjarak sekitar 9Km dari tempatku saat ini, Oh noooo … Penantianku selama hampir dua jam sia-sia.

Ve: Halo Kak
Aku: Ve, maaf banget ya, aku salah lokasi, aku salah buka history google map
Ve: Ooo hehehe, pantesan, maafin ya kak ngerepotin
Aku: Gpp Ve, aku yang minta maaf, aku meluncur kesana sekarang ya
Ve: Gpp nih kak? Kalo kk gak bisa, gpp kok, aku pergi sendiri aja
Aku: Gpp, aku udah jalan nih ke sana, tunggu ya
Ve: Okee kak, ati-ati ya

Tuuuuttttt ***

Kututup telponku … Aku terus mengumpat dalam hati, dan sesekali umpatanku keluar dari mulutku dengan nada yang sangat keras. Aku terus mencaci diriku yang begitu bego. Jangankan menunggu sejam, semenit aja sangat lama bagi orang yang sedang jatuh cinta.

Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi kembali. Tak peduli apa saja yang menghalangiku, klakson berbunyi berkali-kali, seakan-akan aku sedang mengendarai ambulance yang sedang membawa orang sakit.

Brummmm… Brummm.. Suara mesin meraung-raung, berteriak dengan penuh tenaga, mengimbangi injakan kakiku di pedal gas, dan ***** Ciiiiiitttttttt *** Aaahhh shiiiittt, “Woiiii Bego, orang mau nyebrang ni”, teriak seorang bapak tua yang hampir saja kutabrak. Aku hanya tersenyum padanya, karena memang aku yang salah. Beberapa menit kemudian, Bruuummmm … Kembali kuinjak pedal gas.

SEJAM KEMUDIAN

Gairahku memudar, semangatku jadi kendor, kemacetan Kota Jakarta benar-benar membuatku kesal. Aku merasa tak enak hati dengan Veranda. Kesan pertama yang ingin kutunjukkan dengan sempurna pupus sudah akibat mood yang rusak.

Tiiiinggg, segera kuraih HPku, “Kak, maaf ya aku ngerepotin”, isi chat dari Ve. Ia memang makhluk yang begitu sempurna. Hatinya begitu tulus, “Aku yg minta maaf, jadi kelamaan nunggu, sabar ya, agak macet”, balasku, “Ya udah, aku tunggu di dalem rumah ya, ati-ati kak, jangan emosi ya, hehee”, balas Ve kembali.

Ohhh chat ini, kubaca berkali-kali, rupanya Ve tau saat ini aku sedang emosi. Emosi yang teramat sangat terhadap diriku sendiri. Rupanya Ve sejak tadi menungguku di luar rumah, oh tidaaaak, ini makin membuatku merasa bersalah. Tapi alur kata-kata dari balasan chatnya mampu mendinginkan hatiku, berkali-kali kubaca chatnya, karena itu bagaikan oase di tengah gersangnya padang pasir saat ini. Scroll Up, Scroll Down, rasanya tak bosan-bosan kubaca dan kuulangi chat dari Ve, rasanya sungguh, Ciiiiittttt, Arrrggghhhhh Braaaakkkk … Oh Nooooooo … Cobaan apa lagi ini?

“Heiii turun lo, turun”, teriak beberapa pejalan kaki dan pengendara motor saat tanpa sengaja aku menabrak Ojek Online yang sedang membonceng ibu-ibu. Keduanya jatuh tersungkur, tanpa pikir panjang kuhentikan mobilku dan aku pun turun.

Tiiiinnnn Tiiiinnnn … Bunyi klakson dari kendaraan di belakangku saling bersahutan, namun tak kuhiraukan, yang ada dalam benakku adalah membangunkan kedua orang yang kutabrak itu. Banyak orang yang membantu mereka, seketika ada 2 orang Polisi yang menghampiriku, meminta kunci mobilku untuk dipindahkan. Kuberi kunci itu dan aku mengikuti ibu-ibu tadi yang digotong oleh banyak orang. Rupanya ia pingsan.

“Lu punya mata gak sih? Semua udah diem kok lu nyelonong aja”, kata pengemudi ojek online yang sepertinya adalah teman dari orang yang kutabrak. Berkali-kali aku minta maaf, mobilku entah dibawa kemana oleh Polisi tadi, banyak orang berkerumun, ada yang mencoba membawakan air putih, ada yang mencoba mengipas-ngipasi ibu-ibu tadi, hingga akhirnya ia tersadar.

“Ayoo Bu ke Rumah Sakit”, kata salah seorang pejalan kaki, “Iya, aku anter ke Rumah Sakit ya”, kataku membalasnya. Ibu itu hanya mengangguk, kemudian ia mulai berjalan dibopong oleh beberapa orang menuju mobilku yang ternyata di parkir sekitar 50 meter dari lokasi kecelakaan ini. Kami terus berjalan, hingga akhirnya Ibu tadi masuk ke dalam mobilku diikuti oleh seorang Polisi.

DUA JAM SUDAH VE MENUNGGU

Tiiinggg, notifikasi kembali masuk ke HPku, “Kak, masih lama ya? Aku kasian ama Kk, gara-gara aku jadi merepotkan banget”, isi chat dari Ve, “Gpp Ve, sumpah aku juga seneng banget kok bisa jemput kamu, sabar ya”, jawabku. Aku mencoba berbohong, tak ingin kukatakan kalau aku mengalami musibah, karena aku tau itu pasti akan membuatnya makin tak enak hati.

Di satu sisi aku menunjukkan rasa tanggung jawabku kepada ibu-ibu tadi, tapi di sisi lain, aku terus mengumpat kepada pihak Rumah Sakit, mengapa mereka begitu lama. Huuufffttt … Kepalaku tiba-tiba menjadi berat, begitu pening, aku coba bersandar pada kursi sofa yang terletak di ruang tunggu sambil memejamkan mata. Mencoba untuk menghilangkan pening di kepalaku.

“Hai kak, emang kakak pingin makan apa sih?”, tanya Ve kepadaku, “Sudah kubilang, apapun asalkan masakanmu pasti akan kumakan”, jawabku, lalu ia pun tersenyum manis. Ohhh … Sebuah senyuman yang membentuk garis pipi, sebuah ciri khas yang menambah kecantikan dirinya.

“Kak, aku ada rahasia lohh”, kata Ve membuatku penasaran, “Rahasia apa? Cerita donk”, tanyaku, “Yeee namanya juga rahasia, yaa gak boleh donk, heheee”, jawab Ve kembali menyodorkan senyum manisnya, “Ahhh bikin penasaran aja, cerita pliiisss”, bujukku, lalu Ve pun berlari. Rupanya ia memberi sinyal bahwa ia ingin dikejar. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengerti apa maksudnya. Kukejar Ve, ia pun tertawa terbahak-bahak karena menghindariku. Terus ku berlari, hingga akhirnya kuraih gaun putihnya dari belakang, membuat roknya sedikit tersingkap dan memperlihatkan paha belakangnya yang begitu mulus.

“Paaak, Paaak”, sebuah sentuhan hangat kurasakan, “Paaak”, sebuah goncangan di tubuhku hingga akhirnya, “Haaahhh, ehh iyaa, maaf”, hmmmm … Shiiiittt, rupanya aku lagi-lagi bermimpi. Kali ini mimpi di siang bolong, perasaan macam apa ini.

Kamipun berdikusi panjang, dengan seorang Polisi dan Ibu-ibu tadi serta pengendara Ojek Online yang memboncengnya. Terjadi negosiasi mengenai nominal ganti rugi, hingga akhirnya sepakat di sebuah angka yang menurutku cukup banyak namun masuk akal. Tanpa berpikir panjang kutarik uang dari ATM yang terletak di samping Apotek Rumah Sakit ini dan kuserahkan kepada Ibu-Ibu tadi dan Pengendara Ojek Online. Okeee Masalah clear, kami pun bersalaman, aku kembali minta maaf pada mereka, hingga semuanya bubar.

“Whaaaaatttttttt”, tanpa tersadar aku berteriak, hingga banyak pengunjung Rumah Sakit menatapku keheranan. Aku berteriak karena melihat jam tangan yang kukenakan sudah menunjukkan pukul 5 lewat 13 menit. Kuambil HP dari kantong celanaku, 5 panggilan tak terjawab dan 7 unread message. Jantungku benar-benar berdegub kencang, kesan pertama yang ingin kuberikan pada Ve benar-benar kacau sudah. “Kak, mending ditunda besok aja gimana?”, “Kak”, “Kaak, masih lama gak?”, “Kk udah nyampe mana?”, “Kak, aku khawatir, kk Gpp kan?”, “Maaf ya kak, besok aja aku masakin ya, udah sore”, “Kaak?”.  Ya, itulah deretan chat dari Veranda, aku benar-benar bingung mau menjawabnya.

Hatiku berkecamuk, jantung berdegub sangat kencang, aku tak ingin kehilangan Ve, kutelpon ia. Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuuttt, berkali-kali telponku terputus. Berapa kali percobaan namun selalu gagal. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi untung saja akal sehatku masih berfungsi dan mengingatkanku bahwa ini di rumah sakit.

Tak kupedulikan apa yang akan terjadi, aku kembali bergegas ke mobil, aku berlari sekencang-kencangnya. Kubuka pintu mobil dan aku melompat ke dalamnya, braaaakkk, kututup pintu mobilku begitu kencang dan aku keluar dari parkiran Rumah Sakit ini, melanjutkan perjalanan ke rumah Ve.

Langit senja mulai nampak, awan putih yang bergulung itu seharusnya menjadi lukisan indah di langit berwarna jingga, namun suasana hati merusak semuanya. Aku menginjak gas begitu dalam, berusaha untuk menemui Ve.

Kali ini aku fokus, walaupun hatiku tak henti-hentinya mengumpat, belok kanan, belok kiri, lampu merah, semua kulalui hingga akhirnya akupun tiba di depan rumah Jessica Veranda, seorang gadis cantik yang sudah membuat akal sehatku menjadi tak sehat lagi. Kembali ku telpon Ve, ku chat namun tak ada jawaban. Aku terus terdiam, termenung di dalam mobil, menunggu balasan darinya. Apakah ia marah? Ataukah ada laki-laki lain yang menjemputnya? Laki-laki yang lebih berkomitmen ketimbang diriku? Ahhh sudahlah …

Seharusnya sebagai seorang cowok aku harus berani, turun dari mobil dan mengetok pintu rumahnya, tapi entah mengapa, tubuhku seakan-akan kaku oleh rasa bersalah yang terus menghantuiku. Rasanya aku sudah putus asa, apalagi senja mulai menghilang, sebagai pertanda pergantian hari.

Hmmmmm …. Aku menghela nafas begitu dalam, memejamkan mata, coba menenangkan hatiku yang begitu kacau, Kreeeeeekkkk … Pintu gerbang terbuka, refleks aku menoleh, tiba-tiba jantungku menjadi begitu adem, begitu tenang, Veranda akhirnya menemuiku, ia berlari kecil, menyeberang dan kemudian membuka pintu mobil sebelah kiri dan masuk ke dalam. “Kaaaakk, maaf banget, tadi aku ketiduran, udah lama ya nunggunya? Maaf ya”, kata Ve. Gadis ini begitu luar biasa, wajahnya cantik, tutur katanya halus, dia memiliki attitude yang sempurna, bahkan ketika aku yang salah pun tetap ia yang meminta maaf. Aku terpana, “Kaak, marah ya?”, tanya Ve sambil cemberut, “Ehhh mmm … gak gak .. aku yang minta maaf, tadi aku nabrak orang”, jawabku, “Haaahh?? Trus Gimana kak? Kk luka gak? Trus gimana donk? Duhh, maafin aku kaak, maaf banget”, kata Ve dengan wajah yang manyun dan menunjukkan raut muka khawatir. Duhhh, ingin rasanya kulumat bibir manyunnya itu, “Ehhh, gpp, udah beres kok, udah gpp, kita jadi belanja kan? Aku belum makan nih”, kataku, “Yaampun, kasian banget kk, sebenarnya aku ada janji malem ini, tapi wait ya”, jawab Ve yang membuat aku mengernyitkan dahi, sedikit kecewa.

Ve meraih HPnya kemudian menelpon … “Haloo saayyy, ehh maaf banget yahhh, ketemunya besok aja ya, aku ada kegiatan mendadak”, “Maaf banget yaa say ..”, “Byeee …”, “Okee kaak, kita belanja dulu yahh, aku masakin yang enak sekarang”, kata Ve kepadaku. Kupacu mobilku namun raut wajahku tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Aku begitu murung.

Hampir 20 menit berada di jalanan aku hanya menjawab seadanya jika di tanya Ve, aku terus-terusan murung, “Kk marah ya?”, tanya Ve, aku hanya menggelengkan kepala kemudian kami pun terdiam. 10 Menit kemudian Ve kembali bertanya, “Kak, kok kayak orang bete? Cerita donk kak, aku jadi gak enak”, tanya Ve kembali, kali ini ia sedikit meningkatkan nada bicaranya. Hmmmm, akupun menghela nafas, “Yang tadi ditelpon … hmmm … cowoknya ya? Kok pake Say segala?”, tanyaku, “Ooooo,, hehehe, itu Shania kak, masih inget Shania kan? Kita biasa kok saling panggil Say, Beb, Sayang, hehehe, aku belum punya cowok kalee”, jawab Ve sambil tersenyum.

Duhhhh .. aku jadi salah tingkah, aku malu, walaupun aku lega banget, tapi aku malu, “Jangan-jangan kk yang ntar dimarah ama ceweknya karna jalan ama aku”, kata Ve, “Ihhh aku belum punya cewek kok”, jawabku. Suasana pun kembali mencair.

Ohhhhh … Sebuah perjuangan, sejak pagi, hingga malam hari. Benar-benar sebuah perjalanan yang begitu melelahkan, namun membahagiakan. Kini, Jessica Veranda, bidadari itu ada di sampingku, sedang tersenyum padaku. Semoga ini adalah awal yang baik untuk hubungan kami.

BERSAMBUNG

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!