Ve Story – Sang Bidadari dan Serigala Malam – Prolog

Cekreeek, cekreeek, kupotret beberapa obyek yang menarik perhatianku di tempat ini. Cekreeeekkk, seekor kupu-kupu yang sedang hinggap di ujung selembar daun juga tak luput dari jepretanku. Cekreeeek, seekor lebah yang sedang asyik menghisap madu dan kemudian hinggap di setangkai bunga telah kuabadikan.

Kulihat layar kameraku, kuputar dan kuperhatikan beberapa hasil jepretanku hari ini. Hmmmm, not bad lah, this is not my profession, just my hobby, so I don’t care about the result. Cuit cuit cuit, tiba-tiba saja pandanganku terlepas dari layar kameraku, tertuju pada sebuah suara burung kecil. Wah, itu burung colibri berwarna biru yang sedang ingin menghisap sari dari sekuntum bunga yang jaraknya tak begitu jauh denganku.

Hmmmm, ini adalah obyek yang sangat indah, benar-benar sebuah momen langka. Kuarahkan lensa kameraku ke burung tersebut, kuputar-putar agar fokusnya dapat. Aku menundukkan badanku sedikit agar ujung lensaku sejajar dengan obyek yang akan kujepret. Hmmmm, aku menghela nafas begitu dalam dan kemudian kutahan agar badanku tak bergerak. Kuhitung sampai tiga di dalam hati, satu … dua … hmmmm .. cuit cuit cuit cekreeeek, Oh shiiittt, burungnya terbang.

“Eh maaf, maaf yaaa”, kata seorang gadis yang tak tau kalo aku sedang fokus terhadap burung tadi. Gadis itu melihat ke arahku, tersenyum malu dan kemudian berlalu pergi. Ia sempat merapatkan kedua telapak tangannya dan mengarahkannya padaku, tanda minta maaf. Tak kuhiraukan dirinya, karena aku begitu kesal. Aku telah kehilangan sebuah momen yang begitu berharga. Huuffftttt, entah kenapa, tiba-tiba saja aku badmood. Sebenarnya aku ingin menegurnya, tapi … ya sudahlah, nasi udah jadi bubur. Kumatikan kameraku dan kutaruh ke dalam tas kemudian akupun meninggalkan tempat ini dan kembali ke apartmentku.

3 HARI KEMUDIAN

Pagi hari yang begitu cerah, di sebuah balkon apartment di pusat kota Jakarta. Srrrrrr, kutuang teh panas dari dalam teko ke cangkir yang telah kosong di sebelah kananku. Kuisi kembali dengan teh manis sambil melihat-lihat foto hasil memotret yang kulakukan beberapa hari ini melalui layar Macbook milikku. Dari sekian banyak foto, hanya ada satu yang menarik perhatianku. Foto ini berkali-kali kulihat sejak 3 hari yang lalu. Bukanlah pemandangan yang membuatku takjub, atau bokeh hasil dari kualitas lensa kameraku, melainkan lirikan dari seorang gadis yang tak sengaja lewat saat kumemotret sebuah obyek.

Semakin kuperhatikan, lirikan matanya terlihat begitu menggodaku. Ternyata ia begitu cantik, aku menyesal karena tak sempat berkenalan padanya. Kalau saja waktu itu aku tak kesal kepadanya, mungkin aku sudah mendapatkan kontaknya.

Glek glek glek, kuteguk teh panas yang berubah menjadi hangat ini. Kumatikan macbookku kemudian kututup layarnya lalu akupun berdiri, membawa masuk peralatan kerjaku yang sempat kukeluarkan tadi. Kusegarkan pikiranku beserta tubuhku dengan cara mandi pagi.

SORE HARI
Kuselesaikan pekerjaanku hari ini dengan cepat, semua laporan telah kuselesaikan dan akhirnya kubereskan seluruh perlengkapan kerjaku ke dalam tas. Hmmmmm … Sebelum ini terlalu jauh, baiknya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu, namaku Alex Gunadi Wijaya, panggilanku sudah tentu Alex, aku saat ini menjadi General Affair di sebuah perusahaan swasta. DI usiaku yang menginjak 26 tahun, ini adalah sebuah jabatan yang bisa dikatakan lumayan bergengsi walaupun gak tinggi-tinggi amat. Pekerjaanku dimulai pukul 8 pagi dan selesai pukul 4 sore, tapi karena ada kebijakan baru, maka aku dan beberapa pegawai lainnya bisa masuk mulai pukul 9 pagi.

Oke, sudah cukup perkenalan hari ini, kali ini aku ingin fokus menyetir mobil Honda Brio Matic berwarna putih yang kubeli beberapa bulan lalu dari hasil gajiku dan penghasilan dari hobby ku. Ya, hobbyku adalah fotografi, selain karena kesenangan, ternyata hobbyku juga bisa menghasilkan uang.

Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Waktu masih menunjukkan pukul 5 lewat 12 sore. Cuaca begitu cerah, cahaya jingga dari sinar matahari mulai sedikit nampak dan sangat sayang apabila dilewatkan begitu saja. Akupun memutuskan untuk menuju ke sebuah taman yang banyak ditumbuhi oleh bunga-bunga. Aku berbelok ke arah Kebayoran Baru, kupacu mobil kesayanganku ini dengan kecepatan sedang hingga akhirnya akupun tiba di Taman Ayodya. Sebuah taman yang begitu indah. Kuparkirkan mobilku di tempat parkir yang tak jauh dari taman. Akupun keluar dari mobil dengan tangan kosong, tanpa membawa kamera yang biasanya memang selalu kubawa.

Aku ingin menghabiskan waktu dengan menikmati suasana senja, kali ini tanpa harus terganggu dengan obyek-obyek indah yang menggodaku untuk memotretnya. Aku berjalan dan kemudian mencari tempat asik untuk duduk. Akhirnya aku menemukan sebuah bangku kosong dengan sandaran yang terbuat dari beton namun cukup nyaman untuk menghabiskan waktu. Kupandangi sebuah danau buatan yang cukup menyegarkan mata dan juga pikiran. Aku mengenakan kemeja berwarna krem dengan celana kain panjang berwarna hitam, setelan yang cukup membuatku terlihat seperti seorang eksmud.

“Hai, sendiri?”, sapa seorang wanita yang tiba-tiba duduk di sampingku sambil menyodorkan tangannya. Kuraih tangannya, “Nely”, kata wanita itu, “Alex, ya sendiri”, jawabku, “Gak sama pacarnya?”, tanya Nely kembali. Hmmm .. kalau kulihat Nely ini lebih cocok kupanggil dengan sebutan tante Nelly karena dari wajahnya terlihat ia setengah baya. “Lebih asik sendiri”, jawabku sambil tersenyum. Ia terus memperkenalkan diri, mendeskripsikan dirinya dan menjelaskan bahwa ia adalah seorang manager di perusahaan swasta dengan gaji yang besar, daaaan, coba tebak, apa yang terjadi setelahnya? Seperti dugaanku, ia tertarik kepadaku dan langsung saja mengajakku kencan, Wowww, aku hanya tersenyum mendengarnya, menolaknya secara halus.

Namun tolakanku ternyata tak membuatnya bergeming, ia terus bicara, menggodaku, merayuku, tapi tenang saja, ia bukanlah wanita pertama yang melakukan itu, ada banyak wanita lain yang coba menggodaku namun tak mampu membuatku luluh. “Lo nge Gym?”, tanya Tante Nelly, kujawab dengan anggukan, “Gini deh, gw bayarin lo nge Gym tiap bulan, tapi lo kencan ama gw, gmana?”, rayu Tante Nelly kembali, “Jangan deh, makasi ya”, jawabku sambil tersenyum ke arahnya, “Apa gw terlihat jelek ya?”, tanya Tante Nelly dengan wajah yang berubah menjadi muram, “Nggak kok, aku cuma ….”, Tiba-tiba kata-kataku terhenti saat aku ingin menjelaskan padanya, pandanganku teralih pada seseorang yang sedang berjalan dengan langkah yang begitu lambat dengan kepala tertunduk fokus ke smartphone yang ia pegang.

“Cuma apa?”, tanya Tante Nelly sedikit terdengar di telingaku, namun tak sempat kujawab, karena pikiranku kini fokus pada gadis yang baru saja lewat, “Yaa, itu pasti dia ..” aku bergumam dalam hati. Itu gadis yang mengganggu obyek fotografiku beberapa hari yang lalu, dan juga mengganggu pikiranku. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini. Aku berpegang pada lutut kakiku, kuhentakkan sedikit dan akupun berdiri, mulai melangkah mengejar gadis itu, “Heiii Alex, mau kemana?”, Tante Nelly coba memanggilku, tapi tak kuhiraukan.

Bruk bruk bruk, aku berlari dan kemudian berjalan pelan berusaha menyesuaikan dengan langkah gadis ini. Akupun melangkah tepat di sampingnya. “Ehm ..” sapaku, ia sempat melihat ke arahku dengan wajah bingung, kemudian kembali fokus pada layar smartphone miliknya, “Sendiri?”, tanyaku. Ia kembali menoleh ke arahku, membuang senyum sinis sambil mengangguk. Hmmmmm, aku menghela nafas terlebih dahulu. She looks very indifferent, she’s my type. Aku mengatur langkah kembali ketika ia mencoba mempercepat langkahnya. Ia mulai tampak risih, dan aku tak ingin membuatnya khawatir dengan keberadaanku.

“Eh maaf, aku yang beberapa hari lalu mau foto seekor burung, tapi kamu sempet lewat dan burung itu terbang”, kataku agak sedikit keras karena takut ia tak mendengar. Dan tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya, kemudian menatap ke arahku, lalu tersenyum dengan wajah tersipu malu, “Oooo, ehhh maaf banget yaa, aku lagi buru-buru waktu itu, trus aku liat ada burung bagus banget, aku coba gangguin, maaf yaa”, kata gadis tersebut. What kind of girl is this? She looks very beautiful, Oh my God, I think I’m falling in love at first sight. Suaranya yang begitu lembut masuk ke dalam telingaku dan mampu menusuk jantungku seketika, “Eh mmm.. aku Alex”, sambil kusodorkan tanganku. Iapun meraihnya “Aku Ve”, kata gadis itu sambil tersenyum ke arahku, “Just Ve?”, tanyaku kembali, “No, my fullname is Jessica Veranda, but you can call me Ve”, kata dia sambil terus tersenyum ke arahku.

Entah berapa lama aku menggenggam tangannya, namun … hmmm … aku tak dapat mengungkapkan kekagumanku terhadap sosok gadis bernama Jessica Veranda ini. “Ehmm …”, Ve mencoba memecah konsentrasiku, dan … “Ehh sorry-sorry”, kataku kemudian melepas tangannya. Hehehe, aku jadi malu, entah berapa lama aku bersalaman dengannya, “Btw maaf banget yah, aku lagi buru-buru nih, kapan-kapan kita ketemu lagi ya”, kata Ve kepadaku dengan wajah yang sedikit cemberut. Oh my God, dia pandai memainkan wajahnya, memasang tampang sedih, aku yakin, kau bukan manusia Ve, apakah kau seorang Bidadari yang sedang kesasar di Bumi? “Sorry, can I … go … now?”, kata Ve terbata-bata, Oh shiiit, rupanya aku kembali bengong, “Ehh mmm, can I .. mmm your number or maybe .. mmmm Line ID or .. anything?”, tanyaku.

“Mmmm, sebutin deh nomernya, ntar aku add ya”, jawab Ve sambil kemudian memegang IPhone miliknya dengan kedua tangan sambil menoleh ke arahku. Ia standby menunggu nomor yang akan kuberikan padanya. “Kosong delapan satu .. bla bla bla …”, jawabku. Ve mengulangi nomor yang kusebut kemudian menyimpannya. Entah ia benar-benar menyimpannya atau hanya akting saja karena tak ingin mengecewakanku. “Okee thanks yaa, ntar aku hubungi deh, once again, Sorry about what happened a few days ago”, kata Ve sambil tersenyum dan melangkah meninggalkanku. Ia melambaikan tangannya dan kubalas lambaian tangan darinya.

Aku sempat tertegun, berdiri melihat langkah gadis itu, sungguh perfect, wajah yang cantik, body yang proporsional, dan .. ahhh sudahlah, rasanya pandanganku tak ingin terlepas walaupun sedetik saja. Bahkan untuk berkedip saja aku tak mampu. “Hey, kamu suka dia? Love at first sight?”, tanya Tante Nelly yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingku. “Ehhh maaf-maaf”, kataku, karena merasa tak enak meninggalkannya secara tiba-tiba, “It’s okey, perjuangin deh, udah hampir malam, aku pergi dulu ya, byee”, kata Tante Nelly yang kemudian berlalu pergi.

Akupun kembali melangkah, melihat layar IPhone milikku, menunggu sebuah SMS, atau WA atau Line yang masuk dari Ve. Hmmm, apakah ia hanya berakting meminta nomorku? Tapi aku terus berharap ia akan menghubungiku.

Cahaya senja di sore hari, berangsur-angsur menghilang, berubah kemerahan hingga akhirnya memudar dan berganti menjadi malam. Lampu taman menyala, suasana menjadi begitu tenang. Banyak orang berlalu lalang, ada yang bersama pasangan, ada yang bersama keluarga, ada juga yang sendiri, seperti diriku yang sedang menanti kontak dari seorang bidadari yang tadi sempat tersenyum di hadapanku.

“Hmmm, Jessica Veranda”

Silahkan Rate Cerita ini

Reach what you love, and love what you reach!

author
Author: 
    Reach what you love, and love what you reach!